
Inggit dan Bi Rumi saling bersinergi untuk mempersiapkan acara nanti malam. Untuk membantu mereka, Inggit juga sudah mengerahkan Andin, Tante Indah, Tante Meri, dan beberapa sepupu. Memang, lebih mudah untuk memesan catering disaat - saat seperti ini. Tetapi, Inggit ingin memberikan sesuatu yang khas setelah lebih dari dua tahun absen menjadi tuan rumah arisan.
Ratna juga sudah datang. Awalnya, Ratna berpikir, Inggit akan memesan catering untuk acara ini. Betapa kagetnya dia saat Inggit mengatakan kalau dia memutuskan untuk memasak sendiri. Ratna yang seharusnya tadi datang sekitar pukul 4 sore memutuskan untuk bersiap - siap karena dia juga ingin membantu.
Inggit tidak enak, tapi apa daya, Ratna memaksa plus dia juga masih membutuhkan orang. Ditambah lagi, Inggit berpikir momen - momen seperti ini sangat langka. Dengan begini, silaturahmi mereka semakin terjalin antara dua keluarga.
Arga belum ikut dan memutuskan untuk menyusul nanti sore karena dia masih ada acara. Dia akan mengendarai sepeda motor saja. Lagipula, Ibas juga masih tepar di kamarnya setelah nge-game semalaman.
Dinda ikut membantu meski Inggit melarangnya. Sehingga dia hanya ditugaskan untuk melakukan pekerjaan - pekerjaan kecil saja. Jadilah sekarang Dinda bersama dengan Fam ditugaskan untuk membuat puding. Supaya lebih mudah, mereka membawa peralatannya ke bagian luar dapur di area belakang dekat kebun.
Dinda tetap duduk memasak sementara Fams bertugas apabila ada sesuatu yang diperlukan seperti mengangkat puding ke atas meja, mengambil wajan, dan lain - lain yang intinya memerlukan mobilisasi.
“Tante Inggit ada - ada aja. Jadi tuan rumah arisan kok bisa lupa.”, ujar Fams tertawa sambil memandangi kebun di belakang rumah.
“Haha.. iya.. Mama memang kadang - kadang suka random. Kamu tahu ga betapa ngamuknya mas Arya waktu tahu rumah mau jadi basecamp arisan.”, kata Dinda.
“Oooh iyaaa… mas Arya pasti marah besar tuh tahu last minute. Sekarang mas Arya dimana, mba? Dari tadi aku belum lihat.”, tanya Fams.
“Dia nge-gym. Kesal katanya. Haha”, ujar Dinda tertawa.
“Oh.. karena rumah jadi tempat arisan?”, tanya Fams.
“Bukan, karena rencananya gagal.”, jawab Dinda sepotong - sepotong.
“Hm? Rencana apa memangnya mba?”, Fams terus menggali - gali informasi. Padahal Dinda malu untuk mengatakannya.
“Mas Arya berencana untuk ngajak mba jalan hari ini. Tapi karena di rumah lagi repot, mba ga mungkin jalan. Terus mas Arya ngambek dan pergi nge-gym.”, jawab Dinda malu.
“Cie - ciee… mas Arya lama - lama makin so sweet aja. Ibarat pepatah, diam - diam menghanyutkan. Tapi, gapapa lagi mba jalan berdua sama mas Arya. Disini biar aku yang ngerjain aja.”, ujar Fams menawarkan diri.
Padahal dia tahu, endingnya pasti dia akan minta bantuan orang lain juga.
“Eh… jangan.. Gapapa kok. Lagian pasti lelah kalau siang jalan dan malamnya masih harus ikut acara arisan mama. Biarin aja, mas Arya kalau untuk hal yang seperti itu marahnya gak bakal lama, kok.”, ujar Dinda.
“Hem.. wanita - wanita di gym itu cantik - cantik dan seksi - seksi loh, mba. Bagaimana kalau nanti ada yang menggoda mas Arya?”, Fams datang menyebarkan pancingan.
“Hm.. “, Dinda jadi sedikit khawatir. Hal itu tidak terpikirkan sama sekali olehnya.
“Iya mba. Bagaimana kalau misalnya mas Arya selingkuh?”, kata Fams malah melayangkan rudal lagi padanya.
“Jangan gitu dong, Fams. Kan aku juga jadi khawatir.”, ujar Dinda.
“Siapa yang kamu bilang selingkuh?”, tanya Arya dari belakang.
“Eh? Mas Arya? Bukannya di tempat gym? Kok balik lagi?”, tanya Dinda.
“Gak jadi.”, jawabnya singkat dengan nada bete.
“Hm? Bisa begitu ya.”, tanya Fams yang sebenarnya sedari tadi sudah tahu kalau Arya sedang berjalan dari belakang.
“Ya bisalah. Daripada ngedate di luar, aku pikir mau nge-date di rumah aja.”, ujar Arya kemudian.
“Waaa…. Apaan si mas Arya, beda banget. Aku jadi kaget. Biasanya ga pernah bicara begitu.”, respon Fams sangat berlebihan. Dinda langsung melayangkan tatapan penuh arti padanya.
__ADS_1
“Fams, kamu dipanggil mama. Disuruh ke supermarket lagi katanya. Bangunin Ibas untuk antar.”, ujar Arya pada Fams.
“Hah? Supermarket lagi? Memangnya mau berapa kali sih tante Inggit ke supermarket. Tahu begini mah catering aja.”, komentar Fams.
“Sudah sana, gak usah banyak komentar.”, ujar Arya mengusir Fams.
“Bilang aja mau berduaan. Jangan - jangan sebenarnya yang disuruh mama Inggit tuh mas Arya, kan? Bukan aku.”, kata Fams langsung memberikan tebakan yang persis benar.
“Sudah sana. Kamu juga kan lagi gabut.”, kata Arya mendorong pelan Fams untuk segera naik dan membangunkan Ibas di atas.
“Mas Arya curang. Dia kira membangunkan Ibas itu mudah apa. Ibas sama Dito itu ga beda jauh. Mau ada suara nuklir melayang juga dia ga akan bergerak. Aaah…”, protes Fams sepanjang jalan.
“Emang susah meladeni orang bucin macam mas Arya. Dia salah makan apa gimana ya? Bisa langsung beda banget semenjak mba Dinda hamil. Semoga aja mba Bianca juga.”, kata Fams yang meski sedang mengomel tetapi tetap memperhatikan kayak iparnya.
Hubungan Reza dan Bianca sepertinya tak baik - baik saja belakangan ini. Dan ‘Kehamilan’ kemungkinan menjadi pemicu utamanya.
“Mas Arya… kirain tadi lagi marah.”, tanya Dinda sambil mematikan kompor elektrik yang dia gunakan.
Dinda kemudian dengan telaten menuangkan isinya ke dalam sebuah mangkuk yang sudah tersedia. Ini masih lapisan puding yang pertama. Dia harus membuat 4 lapisan puding lainnya dan pekerjaan ini akan berulang terus.
“Sini, biar aku saja.”, ujar Arya yang mengangkat kembali wajan puding itu di atas meja.
“Jangan lupa di tutup ya mas.”, ujar Dinda.
“Ah.. untuk adonan hijaunya aku lupa.”, celetuk Dinda.
Tadi masih adonan paling bawah yakni susu. Sedangkan untuk adonan selanjutnya, Dinda harus mengambil nuansa hijau yang bisa diperoleh dengan mudah dari green tea. Tadinya mau memilih pandan tetapi Mama Inggit sudah mencari ke segala arah tetapi tidak menemukannya. Padahal dulu pernah punya di kebun belakang rumah.
“Kamu tunggu disini, biar aku saja yang ambil. Green tea, kan? Ada di lemari pendingin?”, tanya Arya.
“Ehehehehe… siapa ini.. Arya? Katanya tadi mau nge-gym.”, ujar mama Inggit yang melihat Arya mencari - cari sesuatu di dapur.
“Badan kamu sudah kekar begini masih nge-gym terus.”, komentar Tante Meri.
“Ya.. memang harus begitu Tan.”, jawab Arya sambil berlalu saat sudah menemukan bubuk green tea yang dia cari.
“Oh? Tumben dia balas omongan aku. Biasanya dicuekin.”, komentar Tante Meri pada Tante Indah dan juga Inggit.
“Lihat saja di belakang. Biasanya mana pernah itu anak muncul di dapur. Dia pasti sudah lama minggat ke apartemen dan tidak pernah muncul di rumah.”, komentar Inggit.
Ratna yang diam - diam melihatnya tiba - tiba merasa adem mendengar komentar tadi. Meski setiap kali datang ke rumah, Arya selalu bersikap baik, Ratna masih tetap khawatir apakah dia benar - benar memperlakukan Dinda dengan baik. Terlebih ada luka yang takkan pernah sembuh yang diberikan oleh papanya pada Dinda. Sulit bagi anak itu untuk mempercayai pria.
Semoga apa yang dia lihat hari ini bisa membuat hatinya lebih tenang.
“Jadi Ratna, aku tu mau bikin nasi kuning tadinya. Tapi aku pikir kok kayaknya biasa aja. Jadi aku ganti konsep jadi nasi daun jeruk yang mengeluarkan aroma wangi dan warnanya hijau karena tema arisan kali ini adalah hijau.”, terang Inggit.
“Aman, mba. Tidak perlu khawatir. Saya sudah biasa juga bikin nasi daun jeruk.”, ujar Ratna.
Ratna secara otomatis langsung menjadi PIC nasi daun jeruk.
“Oh.. iya,, saya hampir lupa kalau besan kita ini ahlinya Catering, ya.”, kata Tante Indah memuji dengan semangat.
“Ha-ha-ha.. Tidak.. Selain memasak, saya tidak punya keahlian lain.”, ujar Ratna berusaha merendah.
__ADS_1
“Benar berarti ahlinya.. Biasanya di acara keluarga kita juga ada training memasak. Jadi yang kasih training dari keluarga untuk peserta keluarga juga. Terlebih sepupu - sepupu dan ponakan yang baru menikah dan belum ahli memasak di rumah. Bisa dong kita ajak - ajak Ratna, ya.”, kata Tante Meri.
“Ooh.. bagus sekali acaranya. Saya tentu sangat senang sekali bisa membantu. Saya belum pernah ada di keluarga sebesar ini, jadi bersyukur sekali, mba Inggit keluarganya luar biasa besar.”, kata Ratna.
“Hahaha.. Iya.. langsung kelihatan waktu pernikahan Dinda Arya dan Bianca Reza ya, Ratna. Saking banyaknya, kalau sekali kumpul memang tumpah - tumpah. Makanya kalau kita bangun rumah, itu pasti banyak kamar plus minim perabotan. Karena kalo ngumpul, takut ga muat.”, ujar Inggit.
“Benar - benar. Makanya kalau lagi ga ada orang, bingung ya, rumah kok perabotannya sedikit sekali, apalagi di lantai atas rumah Inggit.”, ujar Tante Meri.
Mereka terus mengobrol tanpa henti sambil tangannya tetap bergerak cepat. Bi Rumi juga nampak sibuk memastikan menu yang dipilih oleh Inggit sudah memiliki PIC.
“Sayang, green tea yang ini, kan?”, tanya Arya mengambil duduk di lantai di samping istrinya.
“Hm.. pinter.”, komentar Dinda sambil tersenyum.
“Den, ini satu lagi kompor portablenya bisa dipakai.”, kata Bi Rumi yang membawa pesanan Arya.
“Ohiya, bagus - bagus.”, ujar Arya.
“Mas Arya mau coba bikin juga?”, tanya Dinda heran.
“Iya non, tadi katanya kasian kalo non Dinda capek bikin kebanyakan.”, kata Bi Rumi.
“Apaan sih Bi Rumi, ngarang. Itu mama panggil.”, ujar Arya.
“Iyaaaa Bu….”, teriak Bi Rumi langsung berlari lagi ke dalam.
“Mas Arya mulai lagi dari yang susu, ya. Nanti bisa isi wajan yang satunya. Kayanya wajannya masih kurang, ya.”, pikir Dinda.
“Ohiya? Ada dimana wajan-nya? Biar aku yang ambil.”, ujar Arya.
“Itu di lemari sana. Mama selalu simpan di sana setelah digunakan.”, ujar Dinda.
Di belakang rumah, mereka memiliki ruangan lagi dimana Inggit menyimpan semua perkakasnya disana dengan rapi. Bahkan sekali sebulan, dia membayar orang untuk bertugas merapikan dan memastikan perkakas tetap bersih dan rapi.
“Hm… bentuknya yang mirip dengan ini, kan?”, tanya Arya.
“Iya mas.”, jawab Dinda.
Dinda tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Apakah yang dia lihat sekarang benar - benar Arya?
Kenapa dia terlihat sangat berbeda? Tentu saja perbedaan ke arah yang positif.
“Ini?”, tanya Arya mengambil 4 buah wajan yang sama.
“Hah… kulkas 9 pintu ternyata bisa juga cari wajan puding.”, goda Dinda.
“Ehem..”, Arya berdehem dan langsung kembali lagi ke settingan cool-nya.
Dinda mengambil puding dengan warna plain dan susu.
“Jadi, untuk yang lapisan paling pertama, mas Arya bisa masukkan puding yang warna ini. Ini plain alias tidak berwarna. Kemudian mas Arya tambahkan gula dulu, hm sekitar satu cup ini. Setelah itu sambil diaduk, mas Arya masukkan susunya. Terus aduk sampai merata. Setelah mendidih, mas Arya matikan apinya. Kemudian tuang deh ke wajan yang tadi. Gampang, kan?”, ucap Dinda.
“Hm.. gampang kok. Saya kan cerdas, jadi perkara seperti ini mudah.”, ujar Arya masih dengan mode cool-nya.
__ADS_1
Dinda menatap suaminya tidak percaya. Lalu tersenyum.