
Beberapa pasang mata yang ada di Cafe langsung melihat kemana arah bos mereka berjalan. Tidak sampai beberapa detik mengikuti, dan melihat siapa yang menanti di depannya, barulah mereka sadar kalau Pak Arya ingin menghampiri istrinya.
“Oh, itu kan pemilik Cafe. Dia juga mengenal istrinya Pak Arya?”, tanya mereka.
Meski masih terdengar canggung bagi sebagian orang, namun kata - kata seperti itu sudah menjadi hal yang wajar sekarang. Ya, Dinda memang istri Pak Arya dan mayoritas para karyawan laki - laki disana sudah menerimanya.
Jika ada yang tidak menerima, biasanya mereka adalah karyawan perempuan. Tidak menerima karena fans Pak Arya, tertarik dengannya, merasa Pak Arya adalah spek tinggi dan tak sembarang wanita bisa mendapatkannya, sampai yang hanya sesimpel iri saja.
“Din, sudah dibawa ponselnya?”, tanya Arya langsung mengambil lengan Dinda dan tidak mempedulikan Dimas sama sekali.
“Hai, ada orang disini. Bukankah terlalu kejam rasanya kalau kamu berpura - pura tak melihatku.”, kata Dimas sebelum Arya menarik Dinda pergi.
Arya tak menjawabnya, dia hanya berhenti sebentar mendengarkan pria itu berbicara, kemudian pergi lagi menarik Dinda. Dinda tersenyum tipis pada Dimas berharap pria itu memaklumi Arya.
“Hah… setidaknya dia sudah mau masuk ke dalam Cafeku,”, ujar Dimas pelan saat dia melihat Arya membawa Dinda menuju ke arah Cafe miliknya. Bawahan Arya juga terlihat duduk disana.
Dimas sudah hapal sedikit - sedikit siapa saja bawahan Arya. Jika dia melihat salah satu diantara mereka, dia sudah bisa menyimpulkan kalau semua yang ada disana adalah bawahan rekannya.
“Ini mas ponselnya. Kok bisa ketuker, sih?”, Dinda mengeluarkan dan menyerahkan ponsel itu ke Arya.
“Kamu ganti foto di wallpaper yang sama denganku, ya?”, tanya Arya.
“Oh? Foto yang mana. Aaaah.”, Dinda langsung menyadari dia memang mengganti foto wallpaper ponselnya kemarin. Mungkin karena itu Arya mengira ponsel itu adalah miliknya.
Dinda jadi sedikit malu.
“Kenapa? Sekarang kamu sudah mengakui aku sebagai suamimu di sini?”, tanya Arya dengan nada menggoda.
“Tidak. Bukan begitu. Tidak tahu, aku hanya tiba - tiba ingin menggantinya saja supaya di kantor aku jadi lebih percaya diri. Aku tidak mengambil keuntungan dari sini. Aku hanya ingin membuat diriku yakin dan tidak merasa rendah diri seperti yang mas Arya nasehati beberapa waktu lalu.”, Dinda dengan panik mencoba menjelaskan.
Gestur tubuhnya seperti orang kebakaran jenggot. Namun, begitu sadar kalau dia berada di keramaian, Dinda langsung memperbaiki sikapnya.
“Aku juga tidak masalah, kok kalau kamu mengambil keuntungan dari foto itu. Justru aku menunggu - nunggu kapan kamu mengambil keuntungan dari foto itu.”, tanya Arya.
Tatapan mata Arya seperti di rumah dna Dinda segera menangkap hal yang tidak baik disini.
__ADS_1
‘Pria ini tidak lupa kan kalau kita tidak sedang berada di rumah, tetapi di kantor?’, tanya Dinda.
“Mas Arya kenapa menatapku begitu?”, tanya Dinda langsung waspada.
Arya tidak menjawab.
“Meetingnya kapan? Sudah mana ponselku. Nanti mas Arya bisa terlambat meetingnya.”, ucap Dinda.
“Kamu memanggilku ‘Mas’ meski aku sedang berada di kantor.”, ungkap Arya tersenyum jahil.
“Oh? Kan belum masuk kantor, masih di lobi.”, Dinda berdalih.
“Bukannya lobi sudah termasuk kantor? Hm… kamu juga boleh loh tetap memanggilku ‘mas’ saat di kantor.”, goda Arya.
Dia tahu benar Dinda tidak akan menyetujui ide itu.
“Enggak.. Yang ada aku pasti di demo oleh tim Business and Partners. Udah ah… balikin ponselnya Pak Arya. Saya mau lanjut bekerja, nanti ditanya oleh Pak Erick.”, ujar Dinda.
“Yakin nih, ga mau panggil ‘mas’ di kantor?”, Arya kembali menggoda.
“Kamu sudah dengan dari James?”, Bingo, tebakan Arya benar.
Dinda mengangguk. Kalau dia mau, dia ingin memeluk Arya dan meringkuk dalam dadanya selama yang dia mau hingga air matanya tak lagi turun. Sayangnya, masih di kantor.
“Aku ingin membicarakan itu denganmu. Tapi aku masih ada meeting. Nanti, sepulang meeting kita mampir ke restoran dulu, ya. Aku ada rekomendasi tempat makan enak. Nanti kita coba bicarakan disana, bagaimana?”, tanya Arya.
Dinda mengangguk. Arya mengeluarkan ponsel istrinya dan mengembalikannya.
“Mas Arya ga buka - buka, kan?”, tanya Dinda.
“Aku juga gak tahu passwordnya.”
“Bukankah waktu itu aku memberitahukannya?”, tanya Dinda.
“Kapan? Aku merasa tak pernah menerima informasi itu.”, Arya kebingungan.
__ADS_1
“Hm.. ya sudah kalau Pak Arya gak ingat.”, ujar Dinda menepuk jas Arya pelan seolah ada debu di sana sebelum berlalu.
***************
“Teddy sudah bangun.”, ujar seorang pria dari balik telepon genggamnya di sebuah minimarket terdekat dari kantor.
“Hah.. yang benar? Tahu dari mana?”, tanya pria lain di seberangnya sangat terkejut.
Dia yang sedang menyetir langsung menghentikan laju mobilnya dan mengambil tempat dipinggir.
“Kamu yang benar kalau berbicara.”, dia adalah Gilbert, mantan Leader Tim 5 yang sempat bermasalah dengan Arya.
Sejak kejadian di parkiran tempo hari, dia tidak lagi wara - wiri di sekitar kantor untuk melakukan pembalasan pada Arya. Lebih baik dia mundur teratur untuk saat ini sebelum dia justru yang akan dijebloskan ke penjara oleh Arya. Pria itu bisa melakukan apapun. Gilbert sudah berpengalaman untuk hal itu.
Tidak seperti perawakannya yang tenang, Arya jauh lebih berbahaya dan bukan lawan yang mudah baginya. Buktinya, pria itu dulu menjadi bawahannya, sekarang dia malah sudah menjadi atasannya.
“Aku sudah memeriksa ke Rumah Sakit. Dan benar, Teddy sudah sadar. Tetapi, sepertinya orang kantor belum ada yang mengetahuinya.”, ucap pria tadi. Dia bekerja sama dengan Gilbert.
Pria itu juga tidak menyukai Arya yang selalu memandang remeh dirinya. Perkataan - perkataan Arya di kantor tidak mengenakkan hatinya. Pria itu juga tidak pernah sekalipun mengapresiasi pekerjaannya.
Gilbert datang mengomporinya dan mereka bekerja sama dengan Teddy. Menurut mereka, Teddy bersikap setengah - setengah. Karena itulah terjadi hal seperti ini. Kalau saja Teddy waktu itu menurut saja dengan rencana ini, maka rencana mereka sekarang tidak akan maju mundur.
“Lalu, bagaimana dengan wanita yang waktu itu melihat kita?”, tanya Gilbert.
“Maksudnya istri Arya?”, tanya pria itu.
“Hn.. aku juga pernah melihatnya di hotel tempo hari saat tim Business and Partners tim building. Beruntung, saat itu Arya langsung datang. Aku juga tidak menyangka Arya akan mengatakan pada yang lain tentang istrinya secepat ini. Padahal aku baru ingin menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan karirnya.”, ungkap Gilbert.
“Aku juga sudah susah - susah memotretnya agar satu tim menyalahkan Arya, tapi tetap saja, rumor itu tidak lama. Aku juga sudah mendengar keputusan HRD untuk hanya mengeluarkan Dinda saja, tetapi tidak untuk Arya. Jadi, meskipun kenyataan itu muncul dari mulut kita, HRD tetap pasti akan melindungi pria itu.”, ujar pria yang berbicara dengan Gilbert di seberang telepon.
“Kalau begitu, sekalian saja sama istrinya. Tidak usah setengah - setengah. Aku sudah muak melihat masa jayanya di kantor. Kalau ingat lagi masa - masa dia pertama ke kantor, aku ingin muntah. Pria itu, dia kira semua bisa berjalan sesuai keinginannya? Tidak, setidaknya aku tidak akan membiarkannya.”, ujar Gilbert.
Nadanya tegas, tekatnya kuat, dendam yang dia rasakan bukannya semakin menipis, tetapi justru semakin menguat. Dia seolah tak peduli lagi pada apa yang ada di depannya.
Sebaliknya, pria yang sedang mengobrol dengannya justru merasa sedikit takut dan ragu.
__ADS_1