Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 229 Arya berubah jadi dingin?


__ADS_3

“Saya gak mau ikut-ikutan lagi Pak. Bapak sudah keterlaluan. Ini sudah melewati batas. Kita semua bisa dipenjara gara - gara ini, Pak.”


“Asal kamu ga ngomong - ngomong, siapa yang akan tahu? Secerdas apapun si Arya itu, dia gak bakal tahu kalau yang mencelekai Teddy itu kita. Lagian salah sendiri si Teddy, kita ajak dia untuk bersekongkol, kenapa dia malah membelot.” 


“Harusnya, yang berdarah - darah malam itu adalah si Arya. Gara - gara Teddy rencanaku kacau semua.” 


“Eh, siapa disana?”


“Hah…hah…hah…hah…” 


“Woi.. kejar….kalau sampai ada yang tahu.. Bisa habis kita..”


“Hah.. hah…hah…hah..”, Dinda tersadar dari tidurnya yang panjang.


Seharusnya paling lama dia bangun adalah jam 5 sore ini, tetapi hingga jam 9 malam lewat, Dinda tak juga kunjung siuman. Arya sudah bolak balik menanyai dokter. Entah apa yang membuat Dinda bisa tidak sadarkan diri begitu lama.


“Hah,,, bikin jantungan aja. Kamu gapapa, Din?”, Ibas yang tertidur di sofa langsung terbangun karena kaget.


“Hm?”, Dinda kebingungan melihat suasana yang asing untuknya. Ditambah lagi, tidak ada Arya disana, hanya ada Ibas yang baru saja beranjak dari sofa itu mendekat.


“Kamu gapapa? Kamu di rumah sakit. Gak usah khawatir. Kamu baik - baik saja, kok.”, jelas Ibas.


“Mau minum?”, tanyanya langsung inisiatif mengambil gelas dan menuangkan air mineral botol yang tadi dia beli ke dalam gelas.


Ibas menyodorkan gelas itu pada Dinda.


Dinda meminumnya pelan. Sedikit. Hanya sedikit. Kemudian dia menyerahkan gelas itu kembali pada Ibas.


“Mas Arya mana?”, tanya suara serak Dinda yang terdengar masih lemah.


“Dia sedang mencari udara segar di luar. Kamu istirahat lagi aja, Din.”, ujar Ibas meletakkan kembali gelas.


Dia bermaksud untuk menyeka keringat Dinda yang mengalir di pelipisnya. Tapi, Ibas tidak enak. Dia juga tidak mungkin hanya menyerahkan handuk itu pada Dinda dan memintanya menyekanya sendiri.


Dinda kembali melihat ke sekeliling. Lampu ruangan sengaja dimatikan dan hanya tersisa sedikit penerangan saja.


“Ah..kamu mau lampunya dinyalakan?”, Ibas langsung berinisiatif untuk menghidupkan kembali lampu tersebut.


Arya memintanya mematikan lampu itu tadi agar Dinda bisa beristirahat dengan nyenyak.


“Kamu dibawa ke rumah sakit tadi siang. Mungkin sekitar jam 2-an. Aku dengar dari mas Arya kamu pingsan di kantor terus langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.”, mendengar penjelasan Ibas barusan, Dinda baru teringat tentang hal itu. Dia langsung refleks memegang perutnya. Dinda terlihat sangat khawatir.


“Tenang aja Din.Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu pada bayi kamu. Bayi kamu sehat, kok.”, jelas Ibas lagi saat melihat wajah Dinda yang cemas.


“Mas Arya masih lama?”, tanya Dinda.


Sebenarnya dia merasa sangat takut. Meskipun ada Ibas disana. Hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah memeluk suaminya dan menangis.

__ADS_1


Ibas peka melihat Dinda yang seperti mencari - cari. Menunggu lebih tepatnya. Ibas beberapa kali juga melihat ke belakang, menanti kalau - kalau mas Arya masuk.


“Mau aku panggilkan. Tadi sih dia keluar. Masih baru banget, kok. Mungkin cari kopi, soalnya dari tadi dia juga belum istirahat. “, jelas Ibas pada Dinda yang ekspresinya seperti bingung dan asing berada di tempat ini.


“Kalau begitu, aku telepon orangnya sebentar ya.”, kata Ibas.


“Hm?”, Arya langsung mengangkatnya begitu panggilan telepon dari Ibas tersambung.


Dari nada suaranya, Ibas tahu kalau kakaknya sepertinya sedang keluar untuk merokok.


‘Ah lagi - lagi. Bukannya dia sudah berhenti merokok.’, kata Ibas dalam hati.


“Mas, Dinda sudah sadar. Barusan banget. Kayanya dia mencari mas Arya.”, ujar Ibas langsung to the point. Lupakan kalau dia tahu Arya sedang merokok. Urusan itu nanti saja.


“Hn.”, jawab Arya singkat.


‘Apa - apaan dia.Kenapa jawabannya hanya ‘hn’ saja.’, pikir Ibas dalam hati.


‘By the way, kenapa nada bicara mas Arya jadi dingin begitu. Tadi waktu aku dia meneleponku, nada suaranya masih baik - baik saja. Ah.. aku jadi merinding walaupun dia kakakku sendiri.’, ujar Ibas.


“Mas Arya bilang apa?”, tanya Dinda yang sedari tadi hanya bisa mengamati.


“Uhmmm…’Hn’ doang. Haha..mungkin mas Arya akan segera kemari.”, jawab Ibas malah jadi salah tingkah dibuatnya.


Dinda menelan ludahnya.


“He-he.. Tadi dia baik - baik saja kok. Hm.. mungkin karena sudah malam. Dingin.”, kata Ibas yang langsung salah tingkah. Bingung harus menjawab apa.


Disatu sisi dia kasihan melihat kondisi Dinda saat ini. Disisi lain dia juga tidak paham dengan perubahan mood kakaknya yang tiba - tiba.


“Din, kamu butuh sesuatu? Mau pakai hijabnya? Itu aku tadi ehmm disuruh mas Arya untuk bawakan. Atau kedinginan, perlu ambil selimut tambahan, atau mau pakai jaket?”, tanya Ibas langsung mencoba mengalihkan perhatian Dinda.


Dinda hanya menggeleng. Sejujurnya dia masih lemas. Dan tidak punya niat untuk melakukan apapun saat ini.


“Ah iya lupa, seharusnya aku bertanya dari tadi. Makan? Kamu pasti belum makan malam. Wah.. sudah jam berapa sekarang.Sudah hampir larut malam. Kamu harus makan sesuatu. Buah? Aku juga beli buah tadi. Sup tadi aku juga sudah bawakan. Bi Rumi yang bungkuskan. Mama tadi mendadak bikin sop iga kambing. Enak deh. Perlu aku panaskan dulu?”, tanya Ibas lagi menawarkan apapun yang bisa dia tawarkan.


“Maaf ya Ibas, jadi merepotkan kamu. Kamu pulang saja. Besok masih hari kerja kan? Kasihan kalau terlalu larut pulangnya.”, ujar Dinda.


“Hm.. aku rencananya mau menginap disini, kok. Lagian kamarnya kan luas. Sofanya ada dua. Aku bisa tidur disini, dan mas Arya tidurdisana.”, ujar Ibas.


Sreeekkkkk. Bunyi pintu digeser. DInda langsung melihat ke samping. Dia menanti kehadiran pria itu.


“Kamu pulang saja. Dari tadi mas suruh pulang, kok”, ujar Arya.


Tadinya, Dinda ingin segera memeluk pria itu dan menangis di pelukannya. Tapi, ada yang berbeda dengan tatapannya. Suaranya. Nada bicaranya. Dinda hanya bisa terdiam melihat Arya yang masih berdiri di depan pintu.Tercengang. Apa Arya marah padanya? Soal?


Dinda tidak begitu ingat apa yang terjadi tadi siang. Lebih tepatnya belum begitu ingat. Sebenarnya, saat kejadian tarik - tarikan dengan istri Dika, Dinda tidak fokus kesana. Kepalanya tidak sedang disana. Dia masih memikirkan apa yang dia lihat di basement, di parkiran saat itu.

__ADS_1


Tapi sekarang, bahkan Dinda tak begitu ingat pada kedua kejadian itu. Belum. Dia bisa merasakan bagaimana tidak nyaman dan sesak hatinya. Tapi dia belum ngeh apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya.


“Pelit banget. Ini kanada dua sofanya. Ya sudah, Ibas keluar dulu cari udara segar sambil membeli kopi.”, ujar Ibas.


“Bas, pulang aja. Nanti mama cari - cari kamu. Mas kan bilang mama jangan sampai tahu dulu.”, kali ini nada bicara Arya serius.


Ibas tak menemukan celah untuk bisa menyanggahnya lagi. Dia tahu, kakaknya sedang mengusirnya dari sini karena dia ingin berbicara berdua dengan istrinya.


“Hah… baiklah - baiklah.. Padahal aku sudah membawa baju untukku. Aku menginap di hotel saja. Lumayan staycation.”, ucap Ibas setengah bercanda. Entahlah dia benar - benar ingin menginap di hotel atau tidak.


********


Sepeninggal Ibas yang sudah pulang sejak 10 menit yang lalu, suasana di kamar itu hening. Arya memang memeriksa keadaan Dinda, seperti apakah dia ada gejala demam atau tidak. Memeriksa cairan infusnya apakah lancar (Dulu Arya sempat akan masuk fakultas kedokteran,sebelum akhirnya membelot ke bisnis di fakultas ekonomi.)


“Mas Arya.,”, Dinda mengeluarkan suaranya.


“Hn?”, balas Arya dingin. Pria itu duduk di samping Dinda. Menatap sendu ke arahnya. Meminta penjelasan padahal Dinda juga bingung apa yang harus dia jelaskan.


Arya sudah membalas dengan memberikan isyarat untuk Dinda berbicara. Namun, gadis itu tak kunjung mengeluarkan suaranya lagi.


“Sekarang kamu tahukan, apa akibatnya dengan keputusan kamu menyembunyikan hubungan kita lebih lama? Aku sudah mengatakan untuk segera mengatakan saja perihal hubungan kita. Tapi kamu menolaknya. Lihat sekarang apa yang terjadi.”, ujar Arya. Suaranya masih sama dinginnya dengan yang awal.


“Seseorang melabrak kamu mengatakan bahwa kamu selingkuh dengan suaminya. Di kantor, entah narasi apa yang sudah muncul di kepala orang - orang. Huh…”, tutur Arya dengan nafas berat.


“Kamu tahu? Betapa takutnya saya kalau terjadi apa - apa dengan kamu? Saya sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi. Hanya kamu. Harus Din kamu bikin saya khawatir terus seperti ini?”, lanjut Arya lagi.


“Mas Arya, aku minta maaf. Aku benar - benar minta maaf. Aku tidak tahu kenapa semuanya bisa jadi seperti ini.”, perlahan nafas Dinda mulai berat. Air matanya jatuh. Wajahnya menunjukkan penyesalan yang luar biasa.


Dia sadar, untuk kesekian kalinya, Dinda sudah membahayakan dirinya sendiri. Membuat khawatir orang lain.


“Mas Arya…aku minta maaf.”, ujar Dinda menangis. Suaranya bergetar. Tangannya sesekali menyeka tangis yang turun.


Arya berdiri,dia mengecup kening Dinda pelan.Sembari Arya mengecup keningnya, Dinda menutup matanya sebentar dan menyelesaikan tangisnya. Saat Dinda akan meraih tangan Arya, pria itu berjalan ke arah meja.


Saat itu Dinda sadar, Arya masih marah padanya.


Arya berjalan mengambil kotak makanan di meja dan sebuah jus serta salad.


“Kamu belum makan dari sore tadi. Makan dulu kemudian baru tidur lagi.”, ujar Arya mengangkat meja yang terhubung langsung dari tempat tidur dan meletakkan makanan itu di atas.


“Ini sup dari mamah. Ini kotak nasi yang isinya ada beberapa sayur-sayuran. Setelah makan, jangan lupa jus dan saladnya juga dihabiskan.Setelah itu kamu tidur. Susunya nanti aku buatkan setelah ini.”, ujar Arya dengan nada datar pada Dinda.


“Mas Arya, tapi aku belum nafsu makan.”, kata Dinda pelan.


“Makan yang mana saja, tidak perlu semuanya. Setidaknya kamu memasukkan sesuatu ke mulut kamu. Bayi kita juga perlu makan.Kalau ibunya tidak makan, dari mana dia bisa dapat asupan makanan.”, Dinda melihat ke arah Arya sebentar. Bagaimana mungkin dia mengatakannya seperti itu.


Sementara Arya mengutuk dirinya sendiri karena mengatakan kalimat itu. Dia tidak bermaksud apapun. Dia hanya ingin Dinda makan karena sejak tadi dia terus tidak sadarkan diri dan belum makan apapun kecuali hanya cairan infus saja.

__ADS_1


__ADS_2