Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 131 Wisata Pantai Bagian 2


__ADS_3

Tim Arya sudah masuk ke dalam bus yang mereka pesan sendiri. Masing - masing mengambil tempat duduk. Suci segera bergegas agar bisa mengambil tempat duduk di samping Arya, namun begitu dia naik, Bryan sudah lebih dulu mengambil tempat duduk disamping bos mereka.


Arya mengeluarkan ekspresi bingung melihat Suci dan Bryan namun dia tak ambil pusing. Arya segera mengeluarkan ponselnya ketika kenek menutup pintu bus dan supir mulai mengemudikan bus menuju destinasi pantai pertama mereka.


Terima kasih untuk ketidakberuntungan ketua tim yang membuat mereka kehilangan setidaknya 30 menit waktu dan tertinggal dari tim yang lain. Begitu bus mulai berangkat, Arya mengeluarkan ponselnya.


Awalnya dia hanya sekedar memeriksa email untuk memastikan tidak ada pekerjaan urgent yang harus dia selesaikan dari manajemen atau isu lainnya. Melihat wallpaper yang dia pasang, Arya jadi ingin mengirimkan pesan chat pada Dinda.


Arya sudah mengganti wallpaper ponsel pribadinya dengan foto dua buah angsa yang pernah dia gambar di leher Dinda saat gadis itu tidur. Gambar itu dia lukis menggunakan spidol permanen menyerupai tato di bekas ciumannya. Setiap melihat foto itu, dia tersenyum karena dia merasa menjadi pemilik Dinda seutuhnya.


Arya langsung membuka aplikasi WhatsApp dan mengetik pesan pertamanya.


Arya: Sayang, kamu udah dimana?


Dinda: Rahasia. Pak Arya dengan saya kan beda tim.


Arya: ‘Pak?’, siap - siap harus bayar hutang, ya.


Dinda: Kan lagi urusan kantor, berarti benar dong panggil ‘Pak’


Arya: Memangnya ini obrolan kantor? Pokoknya nanti saya minta bayaran.


Dinda: 😓


Arya: Kalau ada karyawan yang macam - macam di tim kamu, langsung lapor saya.


Dinda: 👌🏻


Arya: Apalagi kalo ada yang godain kamu. Langsung bilang ya.


Dinda: Gak mau.


Arya: Eh?


Dinda: (emoticon genit)


Arya: Udah berani, ya. Kamu, nakalnya cuma boleh sama saya. Gak boleh sama yang lain.


Dinda: Siap bos!


Arya: Hati - hati ya, Din. Lihat - lihat kalo jalan, nanti jatuh. Jangan terlalu dekat pantai. Kamu kan ga bisa berenang.


Dinda: Iyaa… 😘


Arya: Emoticon ‘love’ yang dibuang (bercanda)


Dinda tersenyum dengan balasan Arya barusan. Saking asyiknya dengan ponselnya, Dinda sampai lupa kalau dia sedang di bus bersama orang lain.


“Wah.. kamu sudah punya pacar Din? Senyum - senyum terus dari tadi.”, kata Wawan yang memang duduk berdekatan dengan Dinda tetapi tidak di sebelahnya.


“Ahh… hehe.”, Dinda hanya tersenyum simpul.


“Hm.. kamu tidak menyanggahnya, berarti benar dong kamu sudah punya pacar. Siapa, Din?”, tanya Wawan penasaran.


Dinda memilih untuk tidak menjawab.


“Mau tahu aja kamu, Wawan. Dasar modus. Kalaupun sekarang dia lagi single, memangnya dia mau sama kamu?”, celetuk seorang karyawan yang sudah berumur di kursi belakang.


“Ya.. setidaknya kalo saya masih ada kesempatan. Kalo Bapak kan udah uzur, ga usah ikutan.”, kata Wawan melontarkan candaan yang membuat setengah isi bus tertawa.


Di bus yang lain di tempat Arya.


“Kenapa kamu?”, kata Arya menoleh ke arah Bryan yang memperhatikannya.


“Eng-gak, Pak.”, jawab Bryan gugup.


Arya tahu dari tadi Bryan bisa melihat ponselnya. Entah pria itu membaca chattingnya dengan Dinda atau tidak. Arya tidak peduli.


“Kamu sudah tahu kan? Heh, saya tahu kamu yang sudah mengirimkan saya foto Dinda di parkiran.”, tembak Arya langsung pada Bryan namun dengan suara pelan agar yang lain tidak mendengar.


Mendengar penuturan itu, Bryan langsung terkejut. Keringat mulai bermunculan meskipun mereka sedang berada di dalam bus ber-AC.


‘Bagaimana bisa? Aku kan tidak pernah menggunakan nomor itu pada yang lain. Kenapa Pak Arya bisa tahu? Habislah aku.’


“Kamu tidak perlu kaget. Saya juga tidak akan mempermasalahkan itu. Setidaknya untuk saat ini. Tapi saya hanya penasaran kenapa kamu harus mengirimkan foto itu?...”, Arya masih ingin berbicara namun pembicaraannya terpotong karena Suci menghampiri kursi mereka.


“Bryan, kamu dipanggil Andra di belakang, mungkin bisa pindah sebentar?”, kata Suci pada Bryan.


Bryan langsung melihat Suci dengan tatapan bingung.

__ADS_1


“Hah?”, respon Bryan bingung dan mengkerutkan alisnya.


'Si Suci ngapain sih? Usaha banget kayanya mau di samping Pak Arya. Dia kira aku tidak tahu maksudnya. Ahh.. aku kira Suci bisa bermain cerdas, tapi kalau begini apa bedanya dia dengan wanita - wanita di luar sana.', kata Bryan dalam hati.


“Sudah sana. Andra panggil. Mungkin ada yang mau dibicarakan. Aku juga cepat mual duduk di belakang.”, kata Suci menarik - narik lengan baju Bryan agar rekannya itu pindah ke belakang dan dia bisa duduk di samping Arya.


Tiba - tiba supir menginjak rem karena ada hewan yang sedang melintas di depannya. Akibat injakan rem yang tiba - tiba, Suci yang sedang berdiripun terdorong dan hampir terjatuh ke bagian depan bus. Beruntung, Bryan langsung menarik lengannya dan mencegah temannya itu terjatuh. Meski begitu, dorongan yang lumayan kuat membuat Suci jatuh berlutut disamping Bryan.


“Eh Ci.. kamu gapapa?”, tanya Bryan langsung memeriksa Suci yang masih meringis karena lututnya beradu hantam dengan bagian lantai bus.


“Maaf - maaf Pak, ada hewan yang tiba - tiba melintas di depan, jadi saya harus rem mendadak.”, kata sang supir langsung memberikan penjelasan.


“Iya gapapa, Pak. Anak buah saya yang salah berdiri saat bus sedang melaju.”, kata Arya menjawab keterangan supir.


“Kamu gapapa Ci?”, tanya Arya juga ikut memeriksa keadaan Suci. Tapi, hanya dari tempat duduknya.


Sebenarnya, lutut Suci tidak begitu sakit. Meski beradu hantam dengan lantai, tetapi masih dalam batas sakit yang wajar dan hanya ia rasakan sebentar. Namun, karena mendengar Arya bertanya, timbul ide di kepalanya.


“Arghh… aduh…sakit.. Apa merah ya? Aduh…”, Suci berpura - pura meringis sambil di bantu oleh Bryan.


Arya bangun setengah berdiri dari tempat duduknya. Dia mengedarkan pandangannya ke belakang.


“Sis? Ada kotak P3K?”


Semua panita berpencar ke masing - masing tim dan Siska kebagian untuk stay di Tim Arya.


“Oh.. ada Pak.”, jawab Siska cepat.


“Hm.. Bryan, kamu bantu Suci untuk pindah ke bangku kosong yang di tengah. Di tengah harusnya tidak terlalu mual. Sis, tolong ya, cek itu lututnya Suci cedera atau tidak.”, perintah Arya.


Dia pun kembali duduk di kursinya dan memperhatikan ponselnya lagi. Dengan sekali perintah, dia bisa mengusir dua orang sekaligus dari teritorinya.


‘Sial! Aku kan berpura - pura meringis agar Pak Arya khawatir, menghampiri, dan menolongku. Tapi kenapa dia malah meminta Bryan dan Siska. Apa dia harus sedingin itu padaku? Hanya karena aku terang - terangan bilang suka padanya waktu itu? Dia langsung memasang garis aman.’, gerutu Suci kesal sambil berdiri dibantu oleh Bryan menuju bangku yang dimaksud Arya.


Hari itu berlangsung dengan cepat. Mayoritas tim hanya bisa mengunjungi satu pantai saja. Begitu mereka tiba di pantai, mereka terhipnotis dengan pemandangan pantai yang begitu indah dan langsung berfoto - foto ria.


Mereka juga langsung melakukan berbagai aktivitas seru yang tadinya dijadikan sebagai bahan kompetisi dan justru melupakan misi yang sesungguhnya. Tim Dinda tiba duluan karena mereka menggunakan Bus, disusul dengan tim yang menggunakan mobil.


Mereka menikmati waktu disana. Untuk para karyawan yang aktif dan bersemangat, mereka langsung berpencar mencari aktivitas seru. Untuk karyawan yang mager terutama karyawan wanita langsung membaur satu sama lain dan berfoto.


Dinda akhirnya bertemu dengan Delina dan beberapa karyawan wanita di divisinya yang dia kenal. Mereka pun saling berkenalan satu sama lain dengan karyawan divisi lain yang ada di tim mereka.


“Iya… lagian pantai yang ini juga sudah bagus kok. Kayanya yang lain juga sudah pada lupa dengan misinya.”, ujar karyawan yang lain sambil tertawa.


“Wahh… Gila.. si Egi pakai buka baju segala. Dia kira dia seksi apa?”, ujar karyawan wanita tim Business Partners yang satu tim dengan Delina.


"Memangnya dia Pak Arya? Kalo Pak Arya, iya seksi."


"Memangnya kamu pernah lihat?"


"Ya enggak, tapi kamu kan lihat sendiri badannya pas pake kaos aja sudah keliatan. Aduh aduh aku kenapa jadi mikir kesana."


"Yah.. gak heran sih.. Pak Arya memang bikin kita mikir kemana - mana. Kecuali di ruang meeting. Dia bisa bikin siapa aja nangis. "


"Wah aku gak bisa percaya ada orang yang setampan dan se-killer itu dalam waktu bersamaan."


"Liat aja Pak Gilbert, belum balik - balik lagi kan, sejak projectnya di handle Pak Arya karna dia gak bisa handle dengan baik."


"Liat tuh si Egi mulai dia. Dia ganteng sih, gapi yaa itu, otaknya aja kurang. Mulutnya juga kadang kaya cewek."


"Si Egi termasuk yang paling getol gosipin Pak Arya yang waktu di Bangkok. Ada dendam pribadi apa kali dia."


“Si Egi paling mau sok - sok an tebar pesona ke Dinda kali. Dia dari tadi di Bus aktif banget tebar pesona dan SKSD.”, kata karyawan wanita Business Partners yang satu tim dengan Dinda.


“Wah.. iya Din?”, tanya Delina kaget.


“Ah enggak.. Gak mungkin lah.. Cuma bercanda aja kayanya.”, kata Dinda membantah.


“Kamu nya aja yang gak sadar kali Din. Itu dia aja dari tadi liatin kamu terus. 11 12 itu sama si Wawan. Baru ketemu sekali dengan Dinda waktu kemaren itu langsung dia sok - sok rival berdua.”, yang lain terus sahut - menyahut tentang beberapa karyawan pria di divisinya yang satu tim dengan Dinda.


Dinda hanya tersenyum dan tidak terlalu mengikuti pembicaraan mereka. Dia pikir tidak mungkin. Wawan dan Egi juga pasti hanya bercanda saja.


“Din, kamu mau coba berenang - berenang di pinggir - pinggi pantainya ga? Katanya ombaknya gak kuat kok. Cuma bergelombang dikit aja.”, ajak Delina yang tertarik karena beberapa orang disana sudah terlihat bermain ombak. Beberapa karyawan laki - laki juga bahkan berinisiatif untuk meminjam papan selancar.


Hanya ada satu orang yang bisa bermain papan selancar kalau dilihat - lihat dan yang lain mencoba untuk belajar dadakan.


Dinda menggeleng merespon ajakan Delina.


“Enggak mba Del, aku lihat - lihat disini saja.”, jawab Dinda.

__ADS_1


“Eh.. jangan begitu. Sudah keburu kesini harus dinikmati dong. Kita coba main - main pasir di pinggirnya saja. Basah juga nanti sampai hotel kan bisa ganti baju.”, ajak Delina lagi.


“Hei kalian…!”, dari kejauhan Andra nambah menyahut.


Ternyata tim Arya juga sudah tiba menggunakan bus mereka. Terlihat wajah Delina dan Dinda kaget melihat Andra dan Bryan muncul di belakang kemudian disusul dengan Suci.


“Pak Arya, Pak Arya..”, beberapa karyawan wanita di dekat Delina dan Dinda mulai heboh berbisik - bisik saat Arya keluar dari bus.


“Wah.. jarang - jarang lihat Pak Arya menggunakan pakaian casual seperti itu. Ganteng banget. Aseliii”, setidaknya ada beberapa karyawan wanita yang berbisik - bisik mengomentari Arya.


“Boleh ga tim buildingnya tiap hari aja. Segar lihat Pak Arya di luar kantor. Kalau di dalam kantor dia seperti Grim Reaper, menakutkan.”


“Tapi di kantor kan di Hot juga.”


“Hot tapi serem bikin jantungan. Kalau sekarang bikin adem.”


“Kita buka fanclub Pak Arya aja apa?”


“Ganteng banget. Beruntung yang jadi istrinya bisa lihat yang begini setiap hari.”


“Hm..Iyaaa bisa lihat dia topless tiap hari. Waaa…”


"Tapi kan Pak Arya udah cerai."


"Cerai bukan berarti single. Siapa tahu dia udah punya pacar."


"Wah siapa ya pacarnya pak Arya. Jadi penasaran..beruntung banget."


Mereka sudah membuat heboh di dunia mereka sendiri. Dinda mendengarkan itu semua sambil tersenyum dan menghela nafas.


‘Ia bener mba. Pak Arya emang se-hot itu. Tapi buat aku aja ya, mba. Pak Arya udah gak single by the way..’, respon Dinda dalam hati mendengar obrolan para karyawan wanita itu sambil tersenyum.


“Kamu ngapain ikutan senyum - senyum, Din? Kamu suka sama Pak Arya juga?”, kata Delina sambil menyenggol siku Dinda yang juga ikut tersenyum melihat Arya sampai dia tak melihat sekelilingnya.


"Oh? Aah enggak lucu aja denger komentar mba mba di Divisi BP. Ternyata mereka tidak se-kaku yang kita kira.", jawab Dinda sambil berbisik di telinga Delina.


“Ah…”, Suci melemaskan kakinya dan hampir terjatuh.


Wanita itu berharap Arya yang berada di belakangnya akan bertanya apakah dia baik - baik saja dan memapahnya.


“Kamu baik - baik saja?”


Sayangnya, semua tidak seperti yang dia bayangkan. Dia tidak tahu kalau Arya baru saja berbalik arah untuk menemui Siska karena ada yang ingin dia bicarakan.


Karyawan pria lain dari divisi Business and Partners yang sekarang berada di belakang Suci yang bertanya padanya.


“Heh, Suci kenapa?”, tanya Delina pada Andra yang sudah berada di hadapannya.


“Dia terjatuh di bus.”, jawab Andra.


“Oiya, kalian kok bisa naik bus, bukannya naik sepeda?”, tanya Dinda.


“Ya kali Din naik sepeda. Bus nya di sewa pake duit Pak Arya.”, jawab Bryan.


“Hah? Kok bisa begitu? Curang namanya.”, protes Delina mendengar penjelasan dari Bryan.


“Ya enggaklah. Emangnya Siska pernah bilang gak boleh cari kendaraan sendiri? Yang penting sampai. Kalopun kita mau sewa helikopter juga boleh. Ga ada di peraturan.”, terang Andra.


“Bry, mo coba main papan selancar ga? Aku bisa.”, ajak Andra.


“Boleh.. Aku juga bisa main papan selancar. Mau bertaruh? Yang menang boleh ditraktir makan sama Dinda,”


“Loh kok jadi aku?”


“Hm… ga disana ga disini semuanya terhipnotis oleh kamu, Din. Kayanya awal - awal masuk cowok - cowok pada biasa aja. Kenapa sekarang jadi mulai kepincut sama kamu. Kata orang, kalo perempuan itu akan lebih keluar auranya setelah menikah dan nanti saat hamil juga. Tapi kamu kan belum menikah. Apalagi hamil."


"Eh?"


"Iya.. katanya perempuan itu akan lebih memikat lagi setelah mereka itu taken (menikah). Hm, apa karna sekarang kamu punya pacar? Atau.... jangan - jangan sebenarnya kamu sudah menikah ya Dinda??", kata Delina sambil tertawa dengan candaannya sendiri.


"Eh? Hehe.... hehe...", Dinda hanya bisa tertawa canggung karena semua perkataan Delina memang benar. Dia sudah menikah dan bahkan sekarang sedang hamil.


“Mereka hanya bercanda kok, mba. Gak mungkinlah mereka suka sama aku yang cuma intern.", kata Dinda.


“Kamu ya Din, gak bisa bedain mana bercanda dan serius. Hati - hati loh… pacar kamu nanti cemburu kalau kamu ga peka seperti ini. Ya sudah kalau kamu masih mau disini. Aku kesana ya, mau main ombak.”, ujar Delina sambil menyusul Andra dan Bryan karena dari tadi dia memang sangat ingin merasakan ombak di pantai.


Mendengar ucapan Delina, Dinda langsung menoleh ke belakang mencari keberadaan Arya.


‘Pak Arya kemana, ya?’

__ADS_1


__ADS_2