
Meski belum masuk akhir pekan, tetapi hawa - hawa liburan biasanya sudah terasa. Apalagi untuk karyawan yang sedang cuti seperti Arya dan Dinda hari ini. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi Arya yang masih harus mengerjakan beberapa laporan sementara Dinda melakukan bagiannya di dapur hari ini.
Arya sudah memaksa agar langsung makan di resto saja karena tadi perut Dinda juga sedang tidak enak. Tapi Dinda memaksa. Dia ingin memasak hari ini berhubung mereka sedang di apartemen.
Kalau di rumah, biasanya Inggit jarang sekali mengizinkan Dinda ke daput karena sudah ada Bi Rumi. Dia tidak ingin mengganggu akhir pekan menantunya yang sudah sibuk bekerja. Meski sesekali Dinda memaksa, tapi hal itu tidak terlalu sering dia lakukan.
Dinda sudah hampir selesai dan sedang menuangkan sayur ke dalam mangkok. Menurut Inggit, ini adalah sayur kesukaan Arya. Tapi dia tidak tahu jika sayur hasil karyanya ini cocok dengan lidah suaminya.
“Hm… aromanya lumayan seperti makanan.”, kata Arya sambil memeluk Dinda dari belakang.
'Namanya juga makanan. Ya iyalah aromanya seperti makanan. Mas Arya tuh kadang - kadang, ya.', ujar Dinda dalam hati.
"Namanya juga makanan, mas. Ya iyalah aroma makanan. Bisa lebih sweet dikit ga komentarnya?", protes Dinda.
"Romantis tuh kaya gini?", ujar Arya mencium pipi Dinda.
Karena perbedaan tinggi diantara keduanya, Arya bisa dengan mudah menenggalamkan Dinda dalam dekapannya.
“Geser dulu mas Arya. Ini panas loh. Nanti tumpah.”, kata Dinda memperingatkan.
Arya yang mendekapnya dari belakang tentu saja membuat pergerakannya melambat. Apalagi sekarang dekapannya berganti dengan ciuman - ciuman kecil di rambut dan leher Dinda.
“Nanti lukanya robek lagi loh mas Arya. Di kasih plester ga mau, nanti kalau infeksi bagaimana?”, ujar Dinda.
Dini hari tadi.
Arya menarik Dinda masuk ke dekapannya dini hari tadi selepas dia pulang dari luar. Lampu yang dia gunakan tidak terlalu terang sehingga Dinda tidak melihat luka di bibir Arya yang sebenarnya masih mengeluarkan darah meski sangat sedikit.
“Arghhh…”, saat Arya mendaratkan ciumannya dan Dinda membalas sedikit, barulah Arya meringis kesakitan.
“Kenapa.. Kenapa mas?”, tanya Dinda panik karena ringisan suaminya.
“Ah… gapapa… kamu sudah pintar sekarang ciumannya.”, alih - alih mengatakan bibirnya luka, Arya malah menggoda Dinda.
Tentu saja gadis itu memberikan sorotan mata yang tajam sebagai balasan dari godaan pria itu.
“Tunggu…hm?”, Dinda bisa merasakan rasa aneh di bibirnya.
Dinda menyalakan lampu agar lebih terang dan melihat lebih dekat bibir Arya.
“Bibir nya kenapa? Mas Arya berantem?”, tanya Dinda panik.
“Gapapa kok…cuma kaget aja tadi.. Besok juga sembuh.”, kata Arya mencoba menghentikan Dinda yang sedang mencari - cari obat luka.
“Gapapa gimana, orang aku masih ngerasain darahnya tadi.”, ujar Dinda.
“Dikit doang. Lagian kamu ciumnya semangat banget.”
“Apaan sih mas Arya.. aku bersihin dulu lukanya ya.”, ujar Dinda mengambil kapas.
Lukanya memang sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Mungkin tadi hanya sedikit saja, pikir Dinda.
“Gapapa.. Ga usah dikasih obat luka. Nanti aku gimana cium kamu kalo di kasih obat luka. Berasa dong obat lukanya.”, kata Arya sambil memainkan rambut Dinda dan menyekanya ke belakang telinganya.
“Udah luka masih aja mikirin ciuman. Mas Arya keluar ngapain tadi? Berantem? Sama siapa?”
“Bukan siapa - siapa. Udah kita lanjutin ya..”, ujar Arya.
“Ga..Sebelum mas Arya menjelaskan dari mana luka itu, aku ga mau. “
“Yakin?”, kata Arya setengah menggoda.
“Mas Arya, aku serius. Beberapa jam yang lalu aku bingung mas Arya kemana tanpa penjelasan. Sekarang mas Arya ga mau kasih tahu ke aku?”, ucap Dinda sambil menatap Arya yang lebih tinggi darinya.
“Jelaskan sebelum leher aku sakit melihat mas Arya seperti ini.”, ujar Dinda.
“Aku menemui Dimas. Urusan laki - laki. Kamu ga perlu tahu detailnya.”, kata Arya yang masih menolak menjelaskan.
__ADS_1
“Karena tadi malam? Aku … dia cuma memberikan teh dan dia hanya menjelaskannya saja. Aku tidak melakukan apapun.”
“Hm.. tapi mungkin tidak begitu dengan Dimas.”, jawab Arya.
“Maaf, aku hanya tertarik dengan penjelasannya tentang teh itu. Aku minta maaf.”
“Aku yang salah tidak menegaskan ke kamu. Sudahlah. Aku tidak tertarik membicarakannya. Aku hanya berharap kamu menjaga jarak darinya. Jadi, bisa kita lanjut yang tadi…”
Dinda mengangguk. Arya kira, Dinda mengangguk sebagai respon kalimatnya yang terakhir. Padahal Dinda mengangguk pada kalimat sebelumnya.
Arya sudah ingin mencium Dinda, tapi gadis itu menutup bibir Arya.
"Mas Arya janji dulu tidak akan bersikap seperti kemarin? Aku takut.", kata Dinda dengan suara pelan sambil menatap Arya dalam.
"Hn", jawab Arya.
"Mas Arya juga janji gak akan berantem lagi dan membiarkan mas Arya terluka seperti ini.", ucap Dinda dengan nada lembut sambil mengusap bibir Arya.
"Hn"
Di dapur.
Arya tidak menghiraukan kata - kata Dinda. Dia masih saja mencium gadis itu. Hanya ciuman - ciuman singkat saja tapi sukses membuat Dinda kesulitan melanjutkan pekerjaan dapurnya.
“Mas Arya..”
“Kenapa? Bahas luka lagi? Udah sembuh kok. Buktinya tadi pagi masih bisa cium - cium.,”, kata Arya tersenyum.
“Ciuman terus yang dibahas. Mesum. Pekerjaannya sudah selesai belum? Awas dulu… biar kita bisa segera makan.”, ujar Dinda hampir putus asa meminta suaminya untuk tidak mengganggunya dulu.
Sudah puas bermain - main, Arya akhirnya minggir dan kembali ke meja kerjanya.
“Oiya.. koper mas Arya buat besok sudah di siapkan belum? Penerbangannya malam ya?”, tanya Dinda.
“Sudah. Aku sudah meminta Bi Rumi untuk menyiapkan. Besok pagi kita ke rumah, malamnya aku ke airport.”, terang Arya.
“Enggak. Aku masih mau kamu.”
“Ih.. kesana mulu deh omongannya kalo sama mas Arya.”
“Hm? Emang aku ngomongin apa?”
“Udah ah mas Arya jangan usil terus.”
“Kamu yang pikirannya mesum, kok nuduh aku sih.”, ucap Arya tersenyum puas.
“Besok pagi aja. Penerbangannya juga masih malam.”
“Kamu ga mau ikut ke Bangkok?”, tanya Arya menawarkan.
“Pasti mas Arya akan sangat sibuk disana. Aku cuma akan mengganggu mas Arya. Lagian, minggu depan sudah pernikahan Bianca. Dia pasti akan banyak membutuhkan bantuan.”, jelas Dinda.
“Hm.. baiklah.”, ujar Arya singkat.
“Mas Arya mau menyelesaikan pekerjaannya dulu, atau mau makan dulu? Sudah siap.”
“Hm.. aku makan dulu aja.”, Arya kembali meninggalkan mejanya dan menikmati hidangan yang sudah disiapkan istrinya di meja.
******
“Arya, kamu yakin gak bawa Dinda ke Bangkok?”, tanya Inggit pada Arya yang sudah di rumah sejak pagi tadi.
Arya sedang memeriksa beberapa barang - barangnya yang sudah disiapkan oleh Bi Rumi. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Dinda sedang di bawah membantu Bi Rumi menyiapkan snack ringan untuk Arya serta kopi dan buahnya.
“Engga ma. Arya akan sangat sibuk di Bangkok dan takutnya tidak bisa menemani Dinda. Yang ada dia malah bosan di hotel sendirian. Lagi pula minggu depan nikahan Bianca, mereka kan sahabat. Mungkin Dinda akan banyak bertemu teman - temannya. Dan, cuti Dinda juga sudah habis. Dia gak enak sama Erick kalau mau ambil cuti panjang dadakan.”, ujar Arya menjelaskan.
“Hm.. sayang sekali, ya. Padahal bisa jadi liburan. Bikin cucu.”, kata Inggit bercanda.
__ADS_1
“Bikin cucu gak harus di Bangkok kali ma. Udah ah jangan bahas itu terus. Kasihan Dinda, dia merasa tertekan ditanyakan hal seperti itu terus.”
“Tapi kamu sudah tidak mempercayai ucapan mantan istri kamu itu kan? Atau kamu mau mama set jadwal check-up ke dokter.”
“Engga perlu ma. We’ll take it slowly. Let’s talk about it later.”
“Hm.. kamu ini. Setiap membicarakan itu, pasti ngomongnya nanti, nanti, nanti terus.”, kata Inggit berdecak ringan.
“Terus, bagaimana di kantor? Kalian masih harus menyembunyikan status pernikahan kalian?”, tanya Inggit.
“Untuk sementara waktu. Tapi Arya lihat sudah ada beberapa kandidat untuk divisi Digital and Development yang Arya pegang sementara. Semoga ada kabar baik.”, terang Arya.
Inggit tak bisa menuntut banyak tentang ini karena di awal pernikahanpun Arya sudah pernah mengatakannya dengan jelas. Jika ingin meneruskan pernikahan sekarang, maka itu sudah menjadi konsekuensi bersama.
“Mas Arya mau kemana?”, tanya Ibas yang baru saja tiba di rumah setelah ada pekerrjaan freelance di luar kota. Dia menaiki tangga dan melihat kamar Arya terbuka.
“Bangkok.”, Inggit membantu menjawab karena Arya masih sibuk mendata dokumen - dokumen yang harus dia bawa.
“Berapa hari?”, tanya Ibas lagi. Bocah ini masih menyandang tas dan membawa sebuah laptop di tangannya.
“Jum’at depan pulang.”, kali ini Arya yang menjawab.
“Hm… kalau begitu aku boleh ajak Dinda jalan ga mas?”, ucap Ibas.
“Mba… Ibas… panggil Mba.. gak enak kalau didengar orang. Dia itu istri kakak kamu.”, ujar Inggit menegur Ibas.
“Ah.. iya maaf ma keceplosan.”, Ibas memang tidak memanggil ‘Mba’ jika hanya ada Arya di sana. Ibas lupa kalau ada mamanya.
“Kalau ke bioskop lagi ga boleh. Lagian kamu cari pacar sana. Masa ngajak kakak ipar terus. Ga enak tahu dilihat orang, Bas.”, balas Arya.
“Iya… iyaa…”, jawab Ibas kesal dan berlalu dari kamar Arya.
‘Bilang aja cemburu. Memangnya cari pacar bisa langsung dapat pacar? Lagian kalo jalan sendiri ke Mall, trus ketemu mantan yang udah jalan sama orang lain rasanya sakit.. Kalo bawa Dinda kan lumayan bisa bikin dia cemburu.’, gerutu Ibas dalam hati.
******
Arya sudah siap dengan kopernya. Dinda memaksa ingin ikut mengantar ke airport tapi karena sudah terlalu malam, Arya melarangnya. Didna hanya bisa cemberut kecewa karena tidak bisa mengantar suaminya ke bandara.
‘Tadi perasaan biasa aja. Kenapa sekarang aku mendadak jadi sedih mas Arya mau ke Bangkok?’, ucap Dinda dalam hati.
‘Kenapa mood swing aku bisa berlebihan seperti ini sih beberapa hari ini.’
“Mas Arya baik - baik ya.. Jangan lupa telpon.”, kata Dinda sambil memeluk Arya erat.
Ibas yang melihatnya merasa geli menyaksikan interaksi mereka berdua yang jauh berbeda dari beberapa waktu lalu.
‘Mereka lagi syuting drakor apa gimana. Mau ke Bangkok 5 hari aja lebay banget. Perasaan aku sebulan ke luar kota gak pernah ditanyain.’, protes Ibas dalam hati.
Muachhh…
Arya mencium Dinda di bibir dan membuat Ibas membulatkan matanya. Inggit dan Kuswan sedikit terkejut tapi mereka sudah mengerti bahwa hal itu wajar. Jadi, keduanya bersikap biasa aja.
“Jangan mau diajak Ibas nonton horor, ya. Enggak, jangan mau diajak jalan sama dia.”, ujar Arya sambil tersenyum jahil ke arah Ibas.
Dinda hanya tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Arya sudah berlalu bersama mobil yang dikemudikan oleh pak Cecep. Jam sudah menunjukkan tengah malam. Semuanya langsung masuk dan kembali ke kamar masing - masing.
Penerbangan Arya dini hari. Karena itu, dia berangkat hampir tengah malam. Dinda juga kembali ke kamarnya dan menutup pintu. Melihat ranjang yang biasanya mereka tiduri berdua kosong, Dinda tiba - tiba merasa sedih.
“Aku kenapa sih? Padahal sebelum - sebelumnya mas Arya juga sering keluar kota tapi biasa aja. Kenapa sekarang malah jadi sedih begini. Aduh… kenapa keluar air mata segala sih?”, Dinda bertanya - tanya dalam hati.
Begitu dia menjatuhkan dirinya di kasur, air matanya keluar tanpa ia sadari.
“Aku nonton drakor aja, biar lupa. Huhhuhuhuhu… mas Arya pulangnya masih lama.. Aku di kamar sendiri dong. Apa aku pulang ke rumah bunda aja ya dulu.”, tangis Dinda malah semakin menjadi - jadi. Dia sendiri merasa aneh dan terus bertanya - tanya dalam hati kenapa moodnya bisa berubah drastis seperti ini.
Tak lama, Dinda akhirnya tertidur.
__ADS_1