
“Terus pembicaraan yang ringan apa? Kemarin kan sudah yang berat.”, tanya Dinda.
Gadis itu membuka pintu beranda dan menarik gorden agar udara segar di luar bisa masuk ke dalam. Suaminya, Arya masih setia dengan bantal, selimut, dan kasurnya. Dinda naik lagi ka atas kasur dan berusaha untuk membangunkannya.
“Mas Arya, jadi pembicaraan yang ringan apa?”, Dinda terus menagihnya.
Arya tidak bergeming sama sekali.
“Tuhkan, kalau sudah dapat yang diinginkan, pasti lupa pembicaraan sebelumnya.”, ujar Dinda sambil pura - pura kesal dan beringsut turun dari kasur.
“Hn?”, Arya langsung menarik lengan Dinda untuk kembali naik dan duduk di sampingnya.
Mata pria itu masih tertutup. Sepertinya dia masih mengantuk.
“Iya kan? Mas Arya seperti itu.”, ujar Dinda.
“Siapa bilang? Hari ini kan libur. Tidur sebentar lagi saja.”, kata Arya menarik Dinda kembali masuk dalam pelukannya.
“Aku udah bangun, jangan ditarik lagi, mas. Aku mau mandi.”, ujar Dinda menolak pelukan Arya.
Arya menggeleng.
“Enggak, kamu masuk lagi.”, ujar Arya.
“Ya udah ini pake guling aja.”, balas Dinda.
“Ga mau. Maunya kamu.”, kata Arya yang bahkan mengambil gulingnya dan membuangnya entah kemana.
“Ih.. kenapa dibuang.”
“Sini.”, kata Arya yang akhirnya diikuti oleh Dinda.
“Manja.”, kata Dinda memainkan pipi suaminya.
Arya, pria itu sudah menutup matanya lagi dan menarik Dinda dalam pelukannya. Sepertinya dia akan meneruskan tidurnya setidaknya satu sampai dua jam kedepan. Arya memang begitu. Saat hari kerja, dia bisa bangun dengan cepat. Tapi saat libur, diseret ke kamar mandi pun, dia tidak akan sadar.
“Aku ga mau tidur lagi. Sudah saatnya ke bawah, bantu maa siapin sarapan. Ini kan hari libur. Cuma hari - hari seperti ini aku bisa bantu mama.”, ujar Dinda masih terus membujuk suaminya untuk bangun.
“Udah.. libur sehari. Mama kan juga bilang, kamu lagi hamil ga boleh bekerja terlalu berat.”, kata Arya menimpali.
Omongannya mulai tidak jelas karena dia sudah mulai masuk lagi ke alam mimpi.
“Terus kapan mau ngomongin topik ringannya?”, tanya Dinda.
Sekarang, gadis itu sudah memindahkan tangannya untuk memainkan rambut Arya yang sudah acak - acakkan. Disisirnya dengan tangan ke belakang. Kemudian, dengan iseng dia menarik satu rambut agar Arya merasakan gatal.
“Aww… jangan dicabut nanti gantengnya berkurang.”, respon Arya membalikkan tubuhnya menghadap Dinda dan memeluk gadis itu lebih erat lagi.
“Jangan kuat - kuat, kasihan baby nya mas.”, kata Dinda.
“Oiya iya maaf ya sayang.”, ujar Arya melonggarkan sedikit.
Tok tok tok tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Iya.. ma..”, Dinda berusaha menjawab namun Arya menghalanginya dengan tangan.
“Itu mama manggil, mas.”, kata Dinda panik dan ingin bangun tapi Arya menghalanginya.
“Gapapa.. Paling mama cuma bangunin doang. Ini masih pagi.”, kata Arya.
“Gimana kalau mama butuh bantuan?”, kata Dinda merasa tidak enak.
“Ada Ibas, Bi Rumi, dan Pak Asep. Mereka pasti sudah standby.”, kata Arya mengeratkan kembali pelukannya, tapi tetap memperhatikan baby bump Dinda.
“Iseng.”, respon Dinda.
Dinda mendengar Inggit mengetuk setidaknya dua sampai tiga kali. Namun akhirnya berhenti.
Mungkin memang bukan hal yang urgent pikir Dinda. Karena Inggit juga mengetuknya pelan sekali.
“Harum.”, ujar Arya mencium rambut Dinda yang saat itu masih tergerai bergelombang.
“Ya udah.. Tidur sana yang puas. Hati - hati loh, nanti badannya gak sixpack lagi.”, kata Dinda menoel - noel pipi suaminya.
Tidak ada respon dari Arya. Sepertinya dia benar - benar sudah kembali tenggelam di alam mimpinya. Dinda menggerakkan jarinya di sepanjang tekstur wajah Arya.
“Hehehe… ganteng.”, kata Dinda setelah berhasil menelusuri setiap sudut suaminya.
Muach.
Dinda kemudian beringsut maju dan mencium kening, pipi, dan bibir Arya. Pria yang dicium tidak bergeming sama sekali. Dia sudah terlelap lagi.
***********
“Oh.. papa.”, Putera berlari dari kamarnya saat melihat mobil papanya berhenti di depan rumah.
“Den, jangan lari - lari.”, kata pengasuh Putera yang sedang mempersiapkan baju - bajunya untuk kembali ke asrama.
“Papaa….”, Putera berlari masuk dalam pelukan papanya begitu sampai di depan pintu.
“Oh… anak papa sudah di rumah?”, tanya Dika sambil menggendong Putera.
“Hn. Sudah seminggu yang lalu. Papa tidak pulang - pulang.”, ujar Putera menginterogasi papanya.
“Oh maaf - maaf, papa ada urusan di kantor jadi tidak bisa pulang dulu.”, kata Dika memberikan alasan palsu.
Padahal dia semenjak insiden memalukan yang dilakukan istrinya di kantor, Dika menginap di hotel terdekat. Dia sempat berusaha menyelesaikannya baik - baik dengan Rianti namun wanita itu tetap keras kepala.
Kali ini dia pulang karena Rianti menghubunginya dan mengatakan kalau Putera ingin menghabiskan waktu bersamanya. Awalnya Dika menolak, namun Rianti akhirnya berjanji akan meminta maaf pada anak intern yang dia labrak tempo hari.
Tidak hanya karena agar Dika pulang, Rianti berpikir kembali tidak ada hal baik yang akan keluar jika papanya tahu kalau seseorang telah melaporkannya ke kantor polisi. Meskipun ini dia harus menelan harga dirinya, setidaknya meminta maaf akan menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan dia harus kehilangan aset dari papanya.
“Hai… “, yang baru keluar dari kamarnya.
Sebenarnya, Dika tak senang memilih hari ini karena ini adalah hari libur. Rianti pasti ada di rumah dan dia harus terpaksa berakting dengan wanita itu agar Putera tidak merasa orang tuanya bertengkar.
Hari ini adalah hari terakhir Putera libur. Besok dia sudah harus kembali ke asrama. Pengasuhnya sedang merapikan pakaian dan keperluannya di asrama.
__ADS_1
Seperti saat ini, Dika harus menerima saat Rianti mencium pipinya meski kekesalannya pada kejadian itu masih memuncak. Dia masih tidak habis pikir kenapa istrinya menampar orang tanpa bertanya terlebih dahulu.
Siapa yang kiranya memberitahu dan memanas - manasinya. Sampai sekarang pun, dirinya masih berpikir kalau orang itu adalah Sarah. Tetapi, setiap kali Dika membahas hal tersebut, Sarah selalu menyangkal. Ini bukanlah tipenya.
Sepanjang yang dia kenal, wanita itu adalah wanita paling kuat diantara semua wanita yang pernah ditemui termasuk Rianti. Jika dia benar - benar melakukannya, dia tidak akan berputar kata dan langsung mengakuinya. Tetapi, sudah dua kali dia menghubungi Sarah dan wanita itu selalu menyangkalnya.
“Tuhkan, benar kata mama. Papa kamu pasti pulang.”, ujar Rianti merapikan rambut puteranya.
“Aku mau ajak Putera keluar.”, kata Dika pada Rianti.
“Hn.”, jawab Rianti.
“Bi, tolong ya.”, kata Dika yang meminta pengasuhnya untuk membantu Putera bersiap - siap.
Dika juga perlu berganti baju. Beberapa hari ini dia hanya memakai baju yang terbatas karena hanya membawa beberapa helai saja kemarin.
“Terima kasih sudah datang untuk Putera.”, ujar Rianti saat Dika mengambil pakaiannya di lemari.
“Jangan lupa pada janjimu. Aku akan mengatur waktu dengan suaminya agar kita bisa membereskan semua masalah ini secara kekeluargaan.”, ujar Dika sambil mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kamu benar - benar tidak ingin pulang? Ayolah.. Aku sudah mau menelan rasa maluku dan meminta maaf.”, ujar Rianti.
“Shut.. pelankan suaramu atau Putera akan mendengarnya. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu hari ini. Setelah kamu meminta maaf dan permasalahan selesai, baru aku akan pulang. Ingat, aku bukan sedang menjadi anak ABG yang kabur dari rumah. Aku juga membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiranku agar setiap bertemu kita tidak perlu bertengkar hebat.”, ujar Dika memperjelas alasannya.
“Terserah kamu saja. Aku sudah memintamu pulang dua kali.”, ujar Rianti malas padahal sebenarnya dalam hati dia merasa sedih. Kenapa semuanya bisa jadi seperti ini.
“Aku bertanya padamu sekali lagi. Siapa yang mengatakan padamu kalau wanita itu dan aku berselingkuh?”, tanya Dika dengan penuh penekanan.
Rianti masih belum menjawab.
“Kamu tidak mau mengatakannya? Aku harus tahu siapa yang bisa - bisanya memberikan berita tidak benar.”, ujar Dika.
Rianti masih mencoba untuk diam membisu.
‘Kalau aku mengatakannya. Maka habislah aku. Lebih baik aku diam saja.’, ujar Rianti dalam hati.
“Baiklah. Aku memberikanmu waktu untuk mencerna pertanyaanku baik - baik. Aku hanya ingin tahu, siapa yang bisa - bisanya memberikan kamu informasi berbahaya seperti itu. Kamu sadar, kalau saja terjadi sesuatu pada kehamilan wanita itu, kamu mendekam di penjara. Mengerti? Beruntung, dia baik - baik saja.”, ujar Dika memperjelas kembali duduk permasalahannya.
“Kamu mengkhawatirkanku?”, Rianti selalu punya sudut yang berbeda pada setiap perkataan Dika.
“Didalam mimpimu.”, ujarnya lalu pergi membawa tas itu ke mobil.
Dia tidak ingin Putera melihatnya. Mereka berbohong bahwa Dika sudah tidak menginap lagi di luar untuk membuat anaknya percaya bahwa tidak terjadi apa - apa diantara mereka.
‘Haruskah dia mengatakannya dengan kejam seperti itu?’, pikir Rianti dalam hati.
“Pa, aku sudah siapp.”, teriak Putera sekitar 10 menit setelahnya.
Dia sudah siap dengan baju bertema sporty. Tak lupa sebuah topi dan tas waistbag sebagai pelengkap.
“Mama gak ikutan?”, tanya Putera yang masih melihat mamanya dengan pakaian rumah.
Dia berpikir mereka akan jalan - jalan bertiga hari ini.
“Maaf, tidak sayang. Mama masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”, ujar Dika.
“Iya sayang. Mama masih banyak kerjaan. Maaf ya. Nanti setelah bermain dengan papa, kapan - kapan kita cari lagi waktu untuk main sama mama. Mungkin di liburan kamu bulan depan.”, Rianti terpaksa untuk mengeluarkan senyumnya dan bermain akting bersama dengan Dika.
Mereka berdua seolah sedang bermain rumah - rumahan.
“Masa mainnya pisah - pisah.”, kata Putera sedikit kecewa.
“Ya sudah, kamu sekarang naik ke dalam mobil. Papa sebentar lagi akan menyusul.”, ujar Dika meminta pengasuhnya untuk membantu Putera naik ke dalam mobil.
“Jangan malam - malam pulangnya. Kamu tahu Putera tidak kuat dengan angin malam.”, kata Rianti memberikan pesan.
“Heh, sejak kapan kamu mulai peduli seperti itu. Aku juga tahu itu. Tenang saja.”, kata Dika.
“Aku tidak pulang malam ini. Aku hanya akan mengantar Putera pulang kemudian pergi lagi. Aku mengatakannya agar kamu tidak drama dan bisa bekerja sama.”, ujar Dika kemudian.
“Terserah.”, Rianti sudah tidak peduli lagi.
Lama - lama dia juga muak harus terus menurunkan ego dan harga dirinya di depan pria ini. Tidak bisakah dia bersikap sedikit lembut padanya. 10 tahun, mereka sudah menikah selama 10 tahun tetapi kenapa setiap hari rasanya sama saja.
***********
Drrrrrtttttt Drrrrrrtttt Drrrrttttttt
Arya baru selesai mengerjakan pekerjaannya yang masih saja ada padahal hari ini adalah hari libur. Dia mendengar ponsel berbunyi di kamar meskipun kedua ponselnya berada dalam jangkauannya. Berarti ponsel Dinda.
Arya tidak melihat keberadaan istrinya sejak pagi tadi setelah mereka siap beraktivitas untuk hari ini. Arya memutuskan untuk melihat siapa yang menghubungi ponselnya.
Tertulis nama Bunda (emoticon love) di layar ponsel Dinda. Arya dengan santai mengangkatnya.
“Halo, Bun.”, sapa Arya lebih dulu.
“Oh… Assalamu’alaikum nak Arya.”, sapa Bunda Ratna terkejut karena yang mengangkat telepon justru menantunya. Dia mendadak langsung gugup dan kikuk.
“Waalaikumsalam, Bunda.”, Arya merasa sedikit malu karena dia tidak mengawali sapaannya dengan ucapan salam. Padahal dia sedang mengangkat telepon bunda.
“Kamu apa kabar?”, tanya Ratna mengawali dengan basa - basi.
Sudah sekitar sebulan sejak terakhir Arya dan Dinda main ke rumahnya. Itupun hanya mengantar beberapa paket makanan kemudian malamnya mereka kembali pulang.
“Baik, Bun. Bunda dan Arga apa kabar?”, tanya Arya juga berbasa - basi menanyakan kabar keduanya.
“Alhamdulillah kami baik. Arga juga. Dia sedang bersiap - siap untuk masuk kuliah.”, jawab Ratna penuh semangat.
Arga sudah mengatakan padanya bahwa Arya membantunya untuk memilih kampus dan jurusan yang tepat. Berkat Arya, Arga yang awalnya masih bingung harus mengambil apa, sekarang memiliki tujuan yang jelas setidaknya untuk 5 tahun ke depan.
Dia bahkan menunjukkannya education dan career path serta beberapa kondimen spesialisasi yang ingin diambil selama kuliah dan satu tahun awal karirnya. Sejak diskusi intens dan seriusnya dengan Arya, Arga langsung menjadikan kakak iparnya itu sebagai role model.
“Terima kasih loh nak Arya. Bunda dulu suka bingung, kok Arga ga pernah cerita apa - apa soal sekolahnya. Mungkin karena Bunda juga gak ngerti jadi dia juga bingung mau cerita. Mau cerita ke kakaknya juga Dinda dulu sibuk kuliah setelah itu langsung kerja. Terima kasih ya.”, ujar Ratna merasa senang sudah mengutarakan rasa terima kasihnya.
“Haha.. bukan apa - apa kok bunda. Sudah sepatutnya. Beruntung Arga itu tipenya seperti saya. Untuk hal - hal begini dia sangat antusias. Beda sama adik saja. Antusias tapi kalau ada hadiahnya saja. Ha-ha.”, ujar Arya tertawa.
Ibas itu memang cerdas mirip seperti Arya. Tetapi dia seperti hamster. Jika tidak ada penggerak, dia tidak akan bergerak. Dan dia juga terlalu rebel anaknya. Semakin Kuswan menekannya, semakin dia tidak ingin ikut kata - kata papanya.
Karena itu juga dia harus membuang waktunya satu tahun di sekolah kedokteran meski dia tak menginginkannya. Dia sulit berprinsip dulu. Sekarang, Arya sudah cukup terkejut karena dia mau lebih tegas pada karirnya.
__ADS_1
“Dindanya kemana nak Arya?”, tanya Ratna.
Dia sudah bingung mau membicarakan apa lagi. Akhirnya dia mencari Dinda karena apa yang akan dia sampaikan menurutnya adalah hal urgent.
“Hm.. ponselnya tertinggal di kamar. Coba Arya cari dulu ke bawah ya, Bun. Mungkin lagi sibuk sama Mama.”, ujar Arya yang sedari tadi belum keluar - keluar kamar.
Bahkan untuk sarapan, Dinda harus meminta bantuan Bi Rumi untuk membawakannya ke atas. Jam 9 tadi tiba - tiba Siska menghubungi Arya karena ada hal urgent yang harus diselesaikan. Akhirnya pria itu duduk di ruang kerjanya hingga sekarang.
“Din, Dinda..”, panggil Arya dari atas.
“Iyaa mas..?”, Dinda menyahut dari bawah. Dia mendongakkan lehernya ke atas.
“Ya udah gapap, aku yang ke bawah.”, ujar Arya langsung turun tangga begitu menemukan istrinya.
“Bunda..”, kata Arya menyerahkan ponsel itu.
“Oh.. “, Dinda langsung menyeka kotoran di tangannya dengan celemek yang dia pakai dan menerima ponsel itu dari Arya.
Tidak ada Bi Rumi atau mama di dapur. Hanya ada Dinda saja. Terlihat belum banyak yang harus dilakukan.
Arya mendekat pada Dinda dan memeluknya dari belakang.
“Nanti ada yang lihat, malu.”, bisik Dinda pada Arya yang sudah menempel lagi padanya.
“Di rumah kenapa malu.”, protes Arya.
“Assalamu’alaikum, halo Bunda.”, sapa Dinda segera setelahnya.
Dia tak bisa menghindari pelukan Arya dan membiarkan pria itu melakukan apa saja yang dia suka. Dia sudah tidak bisa dilarang lagi.
“Eh..”, respon Dinda terkejut saat Arya malah mencium lehernya.
“Kenapa sayang?”, tanya Ratna mendengar suara Dinda.
“Aha… enggak Bunda..”, jawab Dinda tertawa kikuk.
“Mas Arya!”, teriak Dinda tanpa suara dan memukul tangan pria itu.
Arya hanya tersenyum simpul puas telah menjahili istrinya.
“Oh..Gimana dong Din, mertua kamu mengundang mama datang arisan di rumahnya. Lah itu kan teman - teman arisannya yang level atas semua. Bunda malu lah sayang. Bunda sudah bilang ke mba Inggit bunda ga bisa tapi tetap disuruh datang.”, kata Ratna curhat pada anaknya.
“Gapapa, ma. Mereka bukan yang kaya di sinetron - sinetron, kok. Kadang gosipnya suka pedes tapi bukan yang menilai orang dari materi juga kok, ma atau dari penampilan. Gapapa, ma. Kan ada Dinda. Kalau mama gak nyaman nanti tinggal main ke kamar Dinda.”, ujar Dinda menenangkan bundanya.
Sejak dulu, Ratna adalah tipe yang paling jarang ikut acara - acara kumpul seperti ini. Dia trauma sejak ditinggal oleh suaminya dan dibicarakan oleh orang banyak. Sekarang, dia sudah mulai nyaman karena banyak tetangga lama yang sudah pindah sehingga orang yang mengungkit - ungkit lagi cerita lama sudah tidak ada disana.
“Bunda harus pakai apa dong. Takut berlebihan, terlalu biasa juga takut jomplang.”, kata Ratna.
Dinda tersenyum mendengar respon bundanya. Persis sekali seperti dia.
“Baju yang waktu itu mas Arya kasih ke bunda? Itu bagus kok, Bun.”, kata Dinda memberikan saran.
Arya melihat ke arahnya seolah bertanya karena namanya disebut - sebut.
“Ohiya… betul - betul.. Ihh kok bunda lupa ya.. betul .. bunda pernah iseng coba. Bagus banget. Arya pinter loh pilihnya.”, puji Ratna.
Dinda tersenyum dalam hati. Dibalik layar proses membeli baju itu sebenarnya ada drama dimana Arya terus saja menelepon Dinda berulang - ulang menanyakan apakah ini cocok, apakah itu cocok, nanti gimana kalau bunda ga suka, warnanya gimana, lalalala sampai berkali - kali.
Arya membeli itu di salah satu butik saat dia tugaskan bekerja di luar kota. Ternyata selain membelikan untuk Dinda, Arya diam - diam juga membelikan untuk Ratna dan mama Inggit.
Dinda tidak mau mengatakan kalau itu hasil tanya - tanya padanya agar level senang bundanya semakin meningkat.
“Nanti bunda berangkat sama siapa?”, tanya Dinda.
“Mba Inggit bilang nanti mama dijemput sama Pak Asep, setelah Pak Asep antar papa mertua kamu ketemuan sama teman - temannya.”, ujar Ratna.
“Syukurlah. Aku kira tadi bunda belum tahu mau kesini sama siapa. Arga gak diajak? Nanti biar main sama Ibas, ma.”, kata Dinda.
“Gapapa? Nanti ganggu Ibas. Arga kan anaknya sungkan. Gapapa. Nanti itu ada Dito juga Bun, sepupu mas Arya. Mereka bisa main bareng di kamar Ibas. Kasihan dia di rumah sendirian kalau ga ada janji main sama temannya.”, ujar Dinda.
“Ya sudah, nanti bunda beritahukan ke Arga. Ya sudah, kamu lanjut aja. Nanti ketemu di sana ya. Assalamu’alaikum.”, ujar Ratna menutup teleponnya
“Iya, Bun. Waalaikumsalam.”, jawab Dinda.
“Ada apa sayang? Kok kaya tanda - tanda bakal rame - rame?”, tanya Arya.
“Mas Arya.. nanya-nya biasa aja dong, ga usah pake sedekat ini. Terus tangannya ngapain lagi itu peluk - peluk, pegang - pegang. Ini area umum loh, mas.”, kata Dinda saat Arya sudah membalik tubuhnya dan mendekat sambil menatap wajahnya, dekat sekali.
Tangannya sudah memeluk bahu Dinda plus memainkan rambutnya.
“Biarin. Jadi ada apa?”, tanya Arya tidak peduli.
Dinda hanya bisa geleng - geleng kepala dibuatnya.
“Tuan rumah arisan kali ini adalah mama. Jadi nanti teman - teman arisan mama pada kesini. Terus bunda juga diajak.”, ujar Dinda seperti melemparkan bom pada Arya.
“Eh? Arisan? Disini?”, tanya Arya tidak percaya.
“Hn. Tadi mama baru info. Katanya mama skip, dia baru tahu kemarin. Makanya sekarang sibuk. Tadi pagi - pagi mama sudah ke pasar sama Bi Rumi. Cuma masih ada yang kurang, karena sudah siang jadi sekarang mereka ke supermarket.”, ujar Dinda bingung melihat reaksi suaminya.
“Hah… si mama. Kenapa gak bilang. Tau gitu kemarin aku ajak kamu nginep di apartemen, Din.”, kata Arya.
“Hm? Kenapa?”, tanya Dinda bingung.
“Pasti nanti mama memajang kita kaya mannequin depan teman - teman arisannya.”, ujar Arya tampak lesu.
“Kenapa? Mas Arya malu ya kalau teman - teman mama tahu istri mas Arya sekarang aku?”
“Eh? Kenapa kamu mikir kesitu?”, tanya Arya benar - benar speechless.
“Ya sudah, kalau mas Arya malu nanti aku tidak akan keluar - keluar dari kamar.”, ujar Dinda menghindar dari jangkauan Arya.
Arya langsung membulatkan matanya tidak percaya. Kenapa istrinya malah berpikir begitu? Jangan - jangan ini karena hormon yang berhubungan dengan wanita hamil lagi. Ah… hamil itu luar biasa memang, pikir Arya dalam hati.
“Sayang, sayang, sayang. Kamu kenapa bisa berpikir begitu. Dengarkan, aku aja ngebet banget untuk menunjukkan kamu sebagai istri kamu di kantor, mana mungkin aku gak bangga kalau mau menunjukkan kamu sebagai istri aku di depan ibu - ibu PKK eh salah arisan…”, kata Dinda langsung mendekati istrinya lagi dan memberikan penjelasan.
Dia harus segera menghilangkan kesalahpahaman istrinya. Kalau tidak akan berbahaya, pikir Arya.
“Sayang.. Sayang… Din… dengerin aku, ya.”, panggil Arya sambil terus memberikan penjelasan.
__ADS_1