Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 246 Yang Disembunyikan


__ADS_3

“Hm… pesanan masih banyak?”, tanya Dimas pada Erin, karyawannya yang sedang berjaga di kasir.


“Engga Pak, hanya tersisa dua lagi dan sudah selesai, baru mau diantar, Pak.


“Oke.. sepertinya jam makan siang sudah lama lewat ya. Kita briefing dulu 10 menit, bisa?”, tanya Dimas pada karyawannya di meja kasir.


“Baik, Pak. Tumben, biasanya briefingnya malam atau pagi, Pak.”, tanya Erin.


Dia sudah 6 bulan bekerja di Cafe milik Dimas. Cafe ini memang memiliki Manager untuk mengatur karyawan lain saat Dimas tidak di cafenya. Karena Dimas memiliki 6 cabang Cafe bahkan menuju 7 jika Cafe yang berada di Rumah Sakit Ibu dan Anak berhasil di launching. Meski begitu, Dimas memilih sendiri karyawan yang bekerja di Cafe tersebut.


Jadi, untuk proses rekrutmen tetap melalui dirinya dan karyawan itu tidak berada di bawah satu Cafe tetapi satu entiti brand secara langsung. Dimas bisa saja memindahkan satu karyawan ke Cafe lain untuk alasan tertentu.


Meski Dimas adalah owner Cafe, tetapi dia menjaga hubungan erat dengan para karyawannya termasuk yang ada di base. Yakni di kantor yang dia dirikan di garasi rumahnya.


“Saya kelupaan pagi ini, trus malam nanti saya sudah terlanjur ada acara. “, jawab Dimas santai.


“Iqbal mana?”, tanya nya pada Erin.


“Lagi di gudang Pak, sedang cek barang. Saya panggilkan ya, Pak.”, balas Erin.


“Oke, sekalian panggil Candra kalau sudah selesai antar ya.”


“Baik, Pak.”, jawab Erin.


Dimas lantas langsung duduk di salah satu meja yang akan dia gunakan untuk briefing nanti. Dia membuka catatan di ponselnya. Intinya dia ingin memberikan awareness kalau bulan depan mereka akan memulai konsep baru untuk pengemasan kopi mereka. Namun, Dimas juga tidak ingin membuang stok yang ada. Karena itu dia meminta Iqbal untuk memeriksa stoknya terlebih dahulu.


Selanjutnya, mereka akan mulai re-branding pengemasan sebagai langkah untuk mengurangi emisi karbon. Saat dia sedang menambahkan beberapa poin yang ingin dia sampaikan, seseorang menghubunginya.


“Ya… halo.”, jawab Dimas.


“Aku mau bicara sama kamu.”, siapa lagi yang meneleponnya di jam - jam random seperti ini kalau bukan Sarah.


“Apa lagi, Sar? Aku sedang meeting. Kita bicara sore ini saja, ya?”, kata Dimas pelan.


“Aku sudah di depan Cafe kamu.”, kata Sarah yang sedang menatap punggung Dimas dari kejauhan.


“Selamat Datang.”, sapa Erin yang sudah mengetahui siapa wanita yang berdiri di depannya.


Erin tidak selalu berada di Cafe ini. Untuk menjaga agar karyawannya mendapatkan suasana baru, Dimas akan melakukan shuffle karyawan khusus untuk pramusaji setiap kuartal. Erin sudah sering bertemu dengan wanita ini di cabang lain Cafe milik Dimas.


Sarah lebih sering menemuinya disana jika dia tidak ingin bertemu dengan orang - orang di kantor ini.


“Hah.. aku sudah mengatakan padamu, jangan menemuiku di jam - jam kerja dan tanpa pemberitahuan.”, kata Dimas menghela nafasnya.


Sarah, wanita itu selalu saja seenaknya. Datang tak diundang tetapi pulang harus diantarkan.


“Kenapa gak hire sekretaris saja, biar kedepannya aku bisa menghubunginya untuk mengatur jadwal bertemu denganmu.”, kata Sarah yang sangat ahli bermain kata - kata.


“Baiklah. Kamu mau apa? Bicara? Bisa tunggu aku selesai meeting dengan karyawanku dulu? Hanya sekitar 10 menit saja.”, ujar Dimas yang akhirnya menyerah.


“Hm. Baiklah.”, ujarnya mengambil tempat duduk di bagian sudut belakang dimana tidak terlalu banyak orang yang lalu lalang.


“Kamu mau minum apa? Erin akan buatkan.”, kata Dimas menawarkan.


“Tidak perlu. Aku kesini tidak untuk mendapatkan minuman gratis.”, balas Sarah.


“Kenapa kamu harus mengatakannya seperti itu. Baiklah kalau begitu.”, ujar Dimas membiarkan Sarah mengambil duduk sesukanya.


Meeting berlangsung sekitar 30 menit. Lebih lama dari yang diperkirakan. Namun, setidaknya semua poin bisa tersampaikan dengan baik. Lebih lama juga karena di tengah - tengah meeting ada satu dua orang karyawan yang memesan kopi. Untungnya mereka memesan untuk takeaway.


“Bukannya itu Bu Sarah?”, tanya seorang wanita yang di sela - sela meeting Dimas, memesan kopi bersama rekan kerjanya, seorang pria.


“Hm? Bu Sarah?”, tanya pria itu bingung.


“Kamu.. ah.. Iya, kamu baru 3 tahun ya join di perusahaan kita. Bu Sarah itu adalah istrinya, eh salah mantan istrinya Pak Arya. Setahun sebelum kamu join, mereka resmi bercerai. Aku sering melihatnya beberapa kali di kantor. Bahkan waktu outing karyawan dia juga pernah ikutan.”, jelas rekannya.

__ADS_1


“Terima kasih, mba.”, ujar salah satunya ketika pesanan kopi mereka datang.


“Hm.. classy sassy banget dia.”, komentar pria di sampingnya.


“Hn.. beda sama istri pak Arya yang sekarang. Yah.. lebih cantik sih, tapi auranya lebih clean. Hahaha..”, komentarnya sambil tertawa lalu pergi.


Dimas, pria itu langsung melangkah ke meja tempat Sarah duduk.


“Jadi, kamu mau bicara apa?”, tanya Dimas langsung to the point.


“Siapa wanita itu?”, tanya Sarah. Dia tak kalah to the point dibandingkan dengan Dimas.


“Wanita?”, Dimas tentu saja bingung, dia tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh Sarah.


“Wanita yang sedang kau kencani sekarang.”, kata Sarah memperjelas pertanyaannya.


“Aku tidak sedang mengencani siapapun. Lagipula, kalaupun ada, untuk apa kamu bertanya? Kamu tidak bekerja? Kenapa bisa berkeliaran di jam - jam seperti ini.”, ujar Dimas mengalihkan pembicaraannya ke yang lain.


Dia tahu bagaimana sifat Sarah. Mereka sudah saling kenal sejak lama. Sejauh Arya mengenalnya, Dimas yakin dia jauh lebih mengenal Sarah. Dimas belum siap jika Sarah mengetahui keberadaan dr. Rima.


Mereka pernah bertemu, tapi Sarah belum tahu kalau wanita yang sekarang dekat dengannya adalah dr. Rima, wanita yang sama yang dia temui di club beberapa waktu lalu.


“Aku tidak tahu apakah aku ingin bekerja atau ingin bermain. Apakah aku ingin bermain atau aku ingin bekerja. Beberapa waktu ini aku kehilangan semua mainanku.”, ujarnya.


Dimas tahu benar apa maksudnya.


“Kamu tidak bertemu dengan istri Dika, pria yang kamu temui itu kan?”, tanya Dimas hati - hati.


“Dika? Siapa dia? Pria itu sudah tidak menganggapku lagi. Untuk apa aku bertemu dengannya atau dengan istrinya. Apa untungnya untukku.”, kata Sarah.


“Aku harap kamu tidak ada hubungannya dengan insiden yang beberapa waktu ini menimpa Dinda.”, kata Dimas, kali ini dia lebih tegas.


“Dinda? Siapa? Ah.. istri baru Arya? Ha-ha sekarang aku bahkan menyebutnya wanita itu istri Arya. Tidak.. Aku tidak melakukan apa - apa.”, kata Sarah pada Dimas.


“Aku harap kamu benar - benar mengatakan yang sebenarnya.”


“Syukurlah kalau itu bukan kamu. Oiya, ada dokter dari Rumah Sakit Ibu dan Anak yang menghubungiku. Maaf, aku baru menanyakannya sekarang. Dia bilang kamu tidak mau menerima treatment dari Rumah Sakit. Kamu sakit apa? Aku bertanya padanya tapi dia tidak menjelaskan karena aku bukan siapa - siapa kamu secara hukum.”, jelas Dimas.


“Maaf, dia memaksaku untuk memberikan nomor seseorang yang bisa dihubungi. Aku malas memperpanjangnya dan memberikan nomormu.”, ungkap Sarah.


“Dia memintaku untuk membujukmu menerima treatment. Treatment apa maksudnya? Kamu sakit apa?”, tanya Dimas. Dia terdengar tulus mengkhawatirkan Sarah.


“Bukan urusanmu.”, kata Sarah malah bersikap defensif.


“Kenapa bukan urusanku? Jelas - jelas kamu memberikan nomor ponselku padanya, berarti kamu ingin aku mengetahui kondisimu.”, ujar Dimas mencoba menggali lebih dalam.


“Aku hanya terpaksa memberikan nomorku karena dokter itu terus memaksa. Dia kira hanya karena dia pernah menyelamatkanku, dia bisa berbuat sesukanya.”, Sarah malah berkomentar sinis.


“Tidak mungkin. Kalau begitu, kenapa tidak kamu berikan saja nomor orang lain.”, ujar Dimas dengan nada pelan.


“Memangnya siapa lagi ayah dari bayi yang aku kandung beberapa tahun lalu. Karena itu dia meminta nomor itu.”, Sarah tiba - tiba saja meledak. Padahal Dimas berbicara dengan sangat pelan dan lembut padanya.


Beruntung kondisi Cafe sudah tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang kemungkinan bukan karyawan duduk di meja bagian depan. Mereka sempat melirik sebentar karena terkejut, namun kembali melanjutkan aktivitasnya.


Erin, wanita itu juga terkejut dengan bentakan Sarah. Selama ini, dia tidak pernah melihat interaksi mereka seperti itu sebelumnya.


‘Apa tadi? Ayah dari bayi? Hah? Pak Dimas menghamili Bu Sarah?’, Erin menutup mulutnya.


Dia terkejut tetapi dia berkali - kali berkata pada dirinya untuk tidak boleh ikut campur urusan orang lain. Terserah apapun, aku harus melupakan apa yang aku dengar barusan. Begitulah kira - kira pikiran Erin.


“Lebih baik kamu mengatakannya atau aku akan menemui dokter itu di Rumah Sakit dan mendengar langsung darinya. Apa ini berhubungan dengan insiden keguguran kamu saat kita di US?”, ujar Dimas mencoba membujuk Sarah untuk bercerita.


“Bukan urusanmu. Aku kesini hanya ingin tahu wanita yang kamu kencani, kenapa kamu malah balik mengintrogasiku. Tidak perlu mengantarku, aku bawa mobil sendiri”, Sarah berdiri dari tempat duduknya dan segera pergi dari sana.


Dimas ingin menyusul tapi dia berpikir itu bukanlah tindakan yang tepat. Dia akan coba bertanya lagi nanti. Bertanya pada Sarah sekarang hanya akan membuat wanita itu membuat keributan.

__ADS_1


‘Kenapa Sarah belakangan seperti terus kehilangan dirinya?’, ujar Dimas dalam hati melihat punggung Sarah yang pergi keluar dari Cafe miliknya.


***********


“Mas Arya kadang - kadang bisa sweet juga.”, puji Dinda yang baru saja turun dari mobil.


“Hn.”, respon Arya sangat singkat.


Sepertinya dia sudah menghabiskan stok ‘kejinakan’ dan ‘keromantisan’ nya hari ini. Dia kembali pada mode es batu 7 lapis.


“Kenapa ga bilang kalau mau beliin. Sampai aku harus memohon - mohon dulu di depan restoran. Sampai mba restonya liatin. Sampai aku menawarkan semua yang aku punya, baru mas Arya mengabulkan.”, kata Dinda sambil berpangku tangan di depan badan mobil menunggu Arya yang masih ribet di dalam mobil.


“Saya mau tahu, berapa harga es krim itu. Ternyata mahal juga sampai kamu mau kasih kiss unlimited.”, kata Arya dengan nada datarnya.


Dinda hanya memanyunkan bibirnya sadar kalau dirinya kalah.


“Tapi, semua yang kamu tawarkan di depan resto itu berlaku mulai sekarang ya.”, kata Arya bahkan mengeluarkan kepalanya sebentar dari dalam mobil untuk memastikan perjanjiannya dengan istrinya.


“Hm.. kita belum sempat membicarakan tentang periode. Setiap perjanjian itu kan harus ada periodenya. Misal setahun, seminggu, sebulan. Satu menit. Bisa aja perjanjian tadi berlakunya cuma sedetik.”, kata Dinda tersenyum mendapatkan kelemahan dari perjanjian mereka.


“Kamu curang namanya.”, kata Arya menutup pintu mobil dan menekan tombol untuk menguncinya.


Dinda langsung berdiri dan berjalan di samping Arya menuju lift.


“Salah sendiri, saking fokus mau ngerjain istrinya, Mas Arya ga fokus sama poin yang lebih penting.”, kata Dinda.


Cup…


“Mas Arya….. Ini tuh masih di kantor…”, teriak Dinda saat pria itu secara tiba - tiba langsung mengecup pipinya singkat.


“Kenapa? Nanti kalau di rumah, kamu pasti bilang waktu perjanjiannya sudah lewat. Padahal kalau mengikuti perjanjian kita, aku boleh cium kamu sampai puas loh.”, kata Arya.


‘Hm.. giliran bagian cium - cium aja, ngomongnya bisa satu paragraf.’, kata Dinda dalam hati.


“Apa? Kamu pasti ngomong sesuatu dalam hati, kan?”, tanya Arya berhasil menangkap basah istrinya.


“Apa? Aku gak ngomong apa - apa.”, ujar Dinda.


Muachhhh.


“Mmmmhhhh mas Aryaa… kalau ada orang tiba - tiba lewat bagaimana?”, Dinda langsung panik mengamati dan memeriksa apakah ada orang di sekitarnya atau tidak.


Arya hanya tersenyum licik.


“Lebih baik kamu pastikan periode perjanjian tadi, atau aku akan cium kamu lebih dalam lagi disini.”, kata Arya.


“Apa - apaan sih, mas Arya.. di rumah, ga disini.”, balas Dinda lagi sambil berusaha menghindar dari Arya.


“Gak.”, Arya malah mendekat ke arah istrinya.


“Ih.. mas Arya serius ya? Ga boleh.. Masa berlakunya sudah habis. Salah sendiri kenapa tadi nggak cium duluan di mobil. Sekarang sudah jam kantor, Pak Arya. Saya permisi dulu.”, kata Dinda nyelonong karena layar informasi lift sudah menunjukkan lift sebentar lagi akan terbuka.


“Hm.. Hm..”, kata Arya semakin mendekat ke istrinya.


Pria itu sudah berhasil menarik pinggang Dinda namun istrinya masih berusaha menghindar. Kalau di rumah, Dinda sudah membiarkan Arya melakukan apa yang diinginkannya. Tapi, ini di kantor. D-I-K-A-N-T-O-R.


“Pak Arya, saya teriak loh.”, ancam Dinda sambil terus berusaha menekan dada suaminya agar tidak lebih dekat.


Arya tidak peduli.


“Liftnya sebentar lagi terbuka, kalau ada orang di dalamnya bagaimana.”, tanya Dinda panik karena lift sudah turun ke basement dan sebentar lagi akan terbuka.


“1 Minggu. Gimana? Perjanjiannya satu minggu.”, kata Dinda akhirnya menyerah karena dia tidak ingin tertangkap basah oleh siapapun.


Ting.

__ADS_1


Terlambat. Pintu lift sudah terlanjur terbuka dan Arya belum juga melepaskan pegangannya pada pinggang Dinda. Hanya ada satu orang di dalam lift itu. SARAH.


__ADS_2