
Suasana bandara terlihat sibuk dengan hiruk pikuk lalu lintas orang - orang yang pergi dan pulang. Suara deru pesawat yang take off maupun landing serta pengumuman dari bagian informasi menjadi ciri khas bandara.
Orang - orang mendorong koper. Para calon penumpang kembali memastikan tiket mereka dan para petugas memastikan keamanan dengan menjalankan semua protokol yang ada. Taksi - taksi, bus, dan mode transportasi lainnya siap mengantarkan para penumpang yang sudah tiba ke tujuan mereka masing - masing.
Diantara mobil - mobil yang terparkir ada mobil Pak Cecep yang sebelumnya sudah menurunkan Dinda di pintu kedatangan terminal untuk wilayah Indonesia bagian timur. Dinda meminta Pak Cecep untuk menurunkannya di sana sambil menunggu kedatangan suaminya.
Nanti jika Arya sudah datang dan mereka sudah siap pulang, Dinda akan menghubungi Pak Cecep. Sehingga, Pak Cecep bisa lebih leluasa beristirahat atau tidur di mobil di parkiran yang tersedia.
Waktu kedatangan Arya kira - kira masih sekitar 15 menit lagi. Dinda memanfaatkan waktu itu untuk mengantri ice cream di sebuah restoran dan menghabiskan waktu tunggunya untuk duduk di sana.
Es krim disini terkenal enak. Dinda sudah beberapa kali melihatnya tetapi belum juga kesampaian untuk mencicipinya. Pertama kali dia melihat es krim ini adalah saat menjemput Arya dulu, saat mereka baru saja menikah dan Arya sudah harus terbang ke luar negeri.
Kalau kembali sekilas ke masa - masa itu, Dinda kembali merasakan bagaimana gugupnya, deg - deg-annya untuk bertemu dengan orang yang sudah menjadi suaminya. Setelah menikah, hanya sekitar 2 harian saja mereka bersama. Kemudian, Arya sudah berangkat ke luar negeri.
Mungkin itu juga tidak bisa dikatakan sebagai kebersamaan karena hal yang dilakukan Arya setelah dia menikah adalah duduk di dalam ruang kerjanya. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Melihat itu sekarang, ternyata Dinda sudah melewati banyak hal.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Bianca rupanya. Gadis itu tak henti - hentinya mengirimkan pesan pada Dinda dan memaksanya untuk menemaninya ke mall. Meski Dinda menolak berkali - kali, Bianca masih tak kehilangan akal.
Sepertinya dia memang benar - benar sedang kesepian.
Bianca
Mas Arya kan sudah besar, lagian dia juga sering pergi ke luar kota bahkan luar negeri. Kenapa masih di jemput - jemput saja. Emoticon ‘bete’
**Dinda **
Kalau mas Reza ke luar kota, memangnya kamu tidak antar dan jemput. Bahkan sepertinya kamu yang lebih ‘lebay’ daripada aku.
Bianca
Hm.. benarkah? Iya juga sih. Habisny mau bagaimana, aku bosan di rumah. Mas Reza hanya ingin tidur seharian karena dia lelah bekerja diforsir seperti romusha (begitulah yang diungkapkan Reza pada Bianca). Heh.. ternyata omongan tentang pria hanya romantis di tiga bulan pertama saja itu benar. Sekarang, lihatlah aku. Emoticon ‘sedih’.
Berbeda dengan teman kita satu ini, Dinda Lestari. Mas Arya sepertinya belum bosan dengan introvertnya kamu.
**Dinda **
Mungkin dia benar - benar lelah. Biarkan saja dulu. Nanti dia juga akan mengajak kamu jalan - jalan. Kamu kan melihat mas Arya hanya di depannya saja. Kamu tidak tahu kalau dia itu juga kadang bisa menjadi kulkas 11 pintu.
**Bianca **
Ya ya ya .. kamu sudah mengatakannya berkali - kali.
Aku kan tidak sesabar kamu, yang kalau diajak jalan ‘ayok’, enggak juga ‘ya udah’.
Aku bosan di rumah. Arghhh siapapun tolonglah aku
‘Hm… aku harus mengartikan ini sebagai pujian atau tidak, ya.’, pikir Dinda dalam hati.
Dinda
Ya sudah, kamu jalan - jalan saja sendiri. Memangnya kalau sudah menikah tidak boleh jalan sendiri? Kamu bilang kan mau lihat - lihat tren - tren di luar sana.
Bianca
Hah.. benar juga yang kamu katakan. Apa aku jalan sendirian saja, ya. Toh aku bisa bawa mobil. Mandiri kalu mau kesana kemari. Sudah besar. Biar tahu rasa mas Reza, begitu bangun, bingung istrinya ada dimana.
Dinda
Ha-ha.. ga boleh begitu Bi. Aku baca di buku - buku nih ya,kita harus menghargai suami yang bekerja keras. Dia kan lelah bekerja, bukan bermalas - malasan. Biarkan dia re-charge energinya. Nanti juga kamu akan disayang lagi.
__ADS_1
Bianca
Iyaaa... Dinda... yang pengertian, yang sabar banget menghadapi suaminya yang workaholics. Ya udah.. kalau kamu lebih memilih mas Arya yang tampan itu, dibandingkan teman kamu yang cantik ini. Aku mau cau sekarang. Bye Bye...
Dinda
Assalamu'alaikum. Hati - hati, Bi.
Sekarang sudah waktunya antrian Dinda. Ternyata, ada manfaatnya juga menerima telepon dari Bianca. Tanpa terasa sekarang sudah gilirannya untuk mengambil es krim. Dia sudah bisa melakukan pemesanan tadi.
Dinda memilih dua jenis es krim berbeda dan melakukan pembayaran. Gadis itu dengan sabar menunggu sekitar 5-6 menit sampai es krimnya selesai. Sebenarnya waktu tunggu yang diperlukan bisa sekitar 15-20 menit. Namun 10 menitan sudah dia gunakan untuk bercakap - cakap dengan temannya.
Dinda menjadi lebih dekat dari sebelumnya dengan Bianca karena mereka sama - sama sudah menikah. Plus, mereka ternyata juga menikah dengan pria yang masih sepupuan. Frekuensi pertemuan Dinda dan Bianca lebih sering dibandingkan dengan teman - teman yang lain.
Mereka juga jadi sering mengobrol masalah pribadi sehingga kedekatan semakin lama semakin erat. Apalagi, Reza juga ternyata sering mengunjungi Arya di rumahnya untuk berdiskusi masalah bisnis.
Dinda melirik ke arah tempat duduk yang sekarang sudah penuh.
“Permisi, mau di sebelah sana, mba?”, tanya seorang petugas restoran mempersilahkan Dinda untuk mengambil duduk di bangku yang masih kosong.
Dinda tidak melihat tempat itu sebelumnya karena letaknya yang memang tidak di area yang mudah untuk dilihat.
“Ohiya, terima kasih ya, mas.”, balas Dinda.
Akhirnya dia bisa menikmati es krimnya dengan tenang sambil menunggu Arya tiba. Lumayan juga untuk membunuh waktu. Daripada sekedar menunggu dan bermain game, lebih baik mencoba es krim ini.
Sementara itu di sisi lain.
Pesawat Arya sudah mendarat dengan sempurna. Pada perjalanan ini, karena Arya meminta agar waktu perjalanan bisnisnya dipercepat, hanya dia yang sudah pulang. Sementara karyawan yang lain harus tinggal selama kurang lebih 3 hari.
Semua pekerjaan yang membutuhkan delegasinya, sudah Arya selesaikan dengan sempurna dan tepat waktu. Hanya saja, dia meminta maaf karena tidak bisa menghadiri jamuan - jamuan makan malam karena alasan pribadi.
Ya, biasanya ada jamuan makan malam, acara bebas di luar jam kerja sekedar untuk memperkuat hubungan bisnis, dan beberapa acara lainnya seperti menghadiri pertemuan dan konferensi internal perusahaan.
“Halo, sayang. Kamu dimana? Barusan aku telpon Pak Cecep dan beliau bilang kamu jadi jemput ke bandara.”, ternyata Arya landing lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
Barang - barang milik Arya juga tidak banyak dan semuanya dia taruh di kabin pesawat. Sehingga, tidak butuh waktu lama untuk nya bisa keluar dari pintu kedatangan.
Arya sudah terlihat keren dengan polo t-shirt yang memperlihatkan tubuh kekarnya dan celana jeans panjang. Tadinya, Arya mengenakan kacamata hitam. Namun, dia sudah melepaskannya.
“Aku di restoran ‘XYZ’. Aku kira mas Arya masih lama. Jadi aku makan es krim terlebih dulu.”, balas Dinda merasa bersalah.
Padahal, dalam skenario yang sudah dia pikirkan di kepalanya, dia ingin menghampiri Arya di depan pintu kedatangan seperti yang dia lihat di film - film. Tetapi rencananya malah ‘zonk’ dan Arya sekarang yang malah harus menghampirinya.
Sayang juga kalau harus meninggalkan dua mangkok es krim yang baru satu dua suap dia makan. Kali ini Dinda lebih milih es krim nya dibandingkan Arya.
Berbekal keterangan dari Dinda, hanya butuh waktu yang singkat untuk pria itu menemukan dimana restoran yang dimaksud oleh istrinya. Berhubung Arya juga sering bolak - balik bandara, jadi mudah untuk dia tahu dimana restoran itu berada.
Ekspresi senyum menggoda, itulah ekspresi yang dilihat oleh Dinda pertama kali saat melihat suaminya sudah menghampirinya disana. Dinda langsung menghentikan aktivitas makan es krimnya dan memeluk Arya.
Ini kedua kalinya Dinda tidak memikirkan orang disekitarnya. Beberapa pasangan muda - mudi yang sepertinya baru akan berangkat liburan mencuri - curi pandang ke arah Dinda dan membicarakan mereka.
Untuk saat ini, Dinda memutuskan untuk tidak peduli.
“Kalau kamu memeluk seperti ini, bisa - bisa aku menciummu sekarang. Tapi, aku harus menahannya.”, bisik Arya sedikit membungkuk di telinga Dinda.
“Kenapa tidak bilang kalau penerbangan mas Arya dipercepat?”, protes Dinda sambil memukul bahu pria itu karena sudah menggodanya.
“Sudah terlambat untuk mengatakannya. Siska tiba - tiba menelepon untuk mendiskusikan sesuatu dan pihak maskapai sudah memanggil. Jadi aku tidak sempat memberitahu. Lagipula kalau aku bilang, nanti kamu jadi terburu - buru. Kasian baby kecil”, jawab Arya sambil mendorong kopernya mendekati meja dan meletakkan jaket, kacamata hitam, ponsel, dan juga dompetnya disana.
“Kamu makan segini banyak es krim?”, tanya Arya melongo saat melihat di hadapannya sudah ada dua mangkok es krim berukuran besar.
__ADS_1
“Mas Arya, tidak usah berlebihan. Ini hanya dua saja, kok.”, Dinda sedikit salah tingkah.
Dia sadar porsi makannya bertambah seiring dengan bertambahnya usia kandungannya. Tapi Dinda masih dalam fase ‘Denial’ untuk mengakuinya. Kalau dulu porsi makannya hanya sepiring, sekarang Dinda bisa makan dua. Termasuk es krim ini.
Dulu dia mungkin cuma bisa makan satu cone, atau satu cup kecil es krim. Sekarang dia malah memesan porsi besar. Dua mangkok dimana satu mangkoknya terdiri dari 3 scoop es krim dengan rasa berbeda. Belum lagi topping seperti biskuit, waffle, dan coklat di atasnya.
Arya hanya tertawa simpul. Jujur, dia benar - benar kaget. Arya kira tadi istrinya hanya membeli satu cup es krim berukuran kecil.
“Iya, iya.. Gapapa.. masih cantik kok. Masih seksi. By the way, aku jadi lapar. Mumpung lagi disini, aku pesan makan saja.”, kata Arya mengambil dompetnya dan bergerak menuju kasir.
“Mas Arya, kalau begitu aku juga deh. Aku boleh minta ayamnya gak?”, tanya Dinda ragu - ragu.
Dia mengawasi reaksi Arya. Awas saja kalau pria itu mengata - ngatainya lagi. Ini bukan kemauannya sendiri. Ini adalah kemauan bayinya. Dinda selalu mengatakannya begitu.
“Dobel?”, tanya Arya tersenyum jahil.
Disini, Arya bermaksud untuk menjahili Dinda. Arya pikir, Dinda hanya ingin memesan satu ayam saja. Dia menanyakan dobel dan berharap reaksi Dinda seperti saat dia mengatai tentang es krimnya.
“Satu basket?”, jawab Dinda ragu dan pelan. Dia bahkan mengangkat tangannya untuk menunjukkan 1 basket yang dia inginkan
“Eh?”, tanya Arya heran.
Arya yang tadinya ingin mengerjai malah merasa dikerjai. Dia tahu nafsu makan Dinda meningkat semenjak hamil, tapi dia tidak menyangka kalau sebesar ini.
“Ehm.. enggak deh, dobel aja.”, melihat ekspresi Arya yang terkejut, Dinda jadi merasa malu dan menurunkan porsinya.
Arya tersenyum dan tidak mengatakan apa - apa lagi. Begitu pesanan datang, pria itu memesan satu basket ayam sesuai dengan permintaan istrinya.
“Ini terakhir kali kamu makan ayam seperti ini ya. Aku baca di buku kehamilan, katanya fast food tidak baik untuk ibu yang sedang hamil. Kalau mau makan lagi, nanti setelah kamu melahirkan.”, ucap Arya saat meletakkan satu basket ayam di hadapan istrinya.
Dinda tersenyum. Bukan karena satu basket ayam yang diletakkan Arya di hadapannya. Tetapi, pada perhatian kecil yang diberikan pria itu. Arya benar - benar memperhatikan kehamilannya meski kadang kelihatannya Arya selalu sibuk dan tidak punya waktu untuknya.
“Aku mau mencium mas Arya, tapi aku tahan.”, kali ini Dinda yang mengatakannya pada Arya sambil berbisik.
Arya langsung terkejut sekaligus tergoda dengan perkataan istrinya.
“Ya sudah, bagaimana kalau kita tinggalkan ini dan langsung pulang. Tidak, boleh kita cari hotel terdekat?”, kata Arya lagi - lagi ingin menjahili istrinya.
Dinda membulatkan matanya memberikan respon pada kata - kata Arya. Dia juga memberikan pukulan lembut di tangan suaminya.
“Dasar mesum.”, kata Dinda menajamkan pandangan matanya.
Yang menggoda hanya bisa senyum - senyum saja dan langsung menikmati makanannya.
*******
Sebuah restoran privat terkenal di kota besar menjadi tempat pertemuan yang dipilih oleh Sarah dan Dika. Meski Dika sempat berkali - kali menolak, akhirnya dia mengiyakan permintaan Sarah untuk bertemu. Baginya, dia sudah cukup jelas untuk memutuskan hubungannya dengan Sarah beberapa waktu lalu.
“Aku tahu kenapa beberapa waktu belakangan kamu tidak mau menemuiku lagi.”, ujar Sarah memecah keheningan mereka.
“Sarah, bukankah hubungan kita tidak didasari cinta? We’re only friends for benefit, aren’t we? Siapa yang pertama kali mengatakan jika tidak boleh ada perasaan diantara hubungan kita. Kamu kan? Bukan aku. Atau mungkin karena saat itu kamu sedang dikejar - kejar oleh dua pria makanya kamu sok jual mahal padaku?”, balas Dika.
Sarah merasa tertohok dengan kata - kata Dika barusan. Dia merasa tersinggung. Dia berada di posisi yang dia sadar hal itu tetapi dia hanya tidak ingin mengakuinya.
“Bicaralah setelah aku selesai berbicara. Tunggu, aku yakin apa yang aku bawa padamu sekarang, mungkin bisa membuatmu tak lagi bisa berbicara seperti tadi padaku.”, ancam Sarah.
Sarah mengambil sebuah tas kulit yang dia letakkan di kursi samping kirinya. Dia mengambil sebuah amplop coklat disana. Dika bingung melihat amplop tersebut.
‘Apalagi permainan wanita ini.’, begitu kira - kira yang dipikirkan oleh Dika.
“Lihat ini.”, Sarah mengeluarkan isi amplop coklat itu yang ternyata berisi foto - foto. Ya, itu adalah foto - foto Dika dan dr. Rima yang tempo hari dijepret oleh Sarah. Tidak hanya pada saat pertama kali Sarah melihat mereka berdua. Tetapi, Sarah beberapa kali sengaja mengikuti Dika dan berhasil mendapatkan foto - foto lainnya.
__ADS_1
Termasuk saat dia berhasil mendapatkan foto dr. Rima berpegangan tangan dengan Dika di parkiran apartemen yang dulu menjadi apartemen Arya dan Sarah. Sarah lumayan kaget saat pertama kali mengikuti Dika dan justru berakhir di apartemen yang menyimpan kenangan dirinya bersama Arya.