Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 122 Akhirnya Mereka Tahu


__ADS_3

Perjalanan yang paling ditunggu - tunggu oleh seantero kantor akhirnya datang juga. Mereka sudah menunggu hari H ini sejak tahun lalu. Mereka sangat senang karena akhirnya tahun ini bisa berlibur di Lombok yang notabene kaya akan pemandangan yang indah dan aktivitas laut  yang seru serta memacu adrenalin.


Biasanya, tim building perusahaan tempat Arya dan Dinda bekerja selalu mengambil negara luar sebagai tempat tim building. Setidaknya selama tiga tahun terakhir begitu. Untuk Indonesia sendiri, mungkin mereka baru mengeksplor Bangka Belitung, Palembang, Kepulauan Seribu, Bandung, dan Semarang.


Setelah ada pergantian management, entah mengapa luar negeri selalu menjadi tempat untuk tim building. Barulah tahun ini, pilihan kembali jatuh ke Indonesia yakni Lombok.


Dinda, dengan segala dramanya yang mulai mirip Inggit akhirnya dia berhasil juga ikut tim building. Arya tidak memperbolehkannya karena proyeksi karirnya belum juga dia serahkan dengan sempurna.


Sebenarnya, Arya hanya iseng saja pada Dinda. Tidak mungkin dia tidak memperbolehkan gadis itu. Jika Dinda tidak ikut, dia adalah orang pertama yang paling tidak menikmati perjalanan ini. Padahal, Arya tidak sadar jika kehadirannya justru membuat yang lain merasa tidak nyaman.


“Heh, gadis itu. Bisa - bisanya dia tertawa lepas bersama teman - temannya setelah tadi malam menolakku. Padahal aku sudah memberikan kesan yang baik untuk teman - temannya di acara pernikahan Bianca.”, ucap Arya sambil menatap Dinda yang sedang bersenda gurau bersama teman - temannya di airport keberangkatan menuju Lombok.


Minggu lalu di pernikahan Bianca. 


“Din, kamu kok tega sih datang telat ke pernikahan aku? Aku gak datang ke pernikahan kamu karena aku gak diundang. Tapi ini kan bedda. Aku ngundang kamu, Din.”, Bianca sudah emngomel - ngomel sejak beberapa jam yang lalu karena sampai satu jam sebelum akad dimulaipun, Dinda tidak juga datang. 


“Bi, maafin. Mas Arya tiba - tiba susah banget bangun. Luka - lukanya juga bikin dia gak nyaman sampai harus diobatin lagi. Maaf, ya.”, Dinda sangat menyesal. Dia sudah mengusahakan untuk datang pagi ke pernikahan Bianca. Tapi apa daya, badan Arya tiba - tiba panas karena efek luka saat insiden di Bangkok. 


Arya juga mengalaminya di Bangkok, tetapi biasanya setelah satu jam, panasnya akan turun. Hanya saja hari ini, mereka sudah menunggu hingga 2.5 jam tetapi badan Arya tetap panas. 


Akhirnya, setelah dikompres dan diganti kembali perbannya, perlahan panas Arya sudah turun. Arya lantas memaksa untuk pergi karena dia sudah lelah mendengar omelan Bianca yang terdengar jelas meski Dinda tidak mengaktifkan mode speaker. 


“Mas Arya yakin gapapa?”, kata Dinda memastikan begitu mereka tiba di venue. 


“Enggak. Perasaan kamu deh yang dari tadi agak lemas begitu. Masuk angin?”, Arya menyadari jika sejak tadi di mobil, Dinda terus memegang perutnya dan meminum banyak air hangat. 


“Iya.. sepertinya kelamaan berdiri di balkon.”, jawab Dinda bohong. 


Dia tahu benar kenapa perutnya tidak enak belakangan ini. Dinda sudah meminum obat dokter tetapi tetap saja mual. Dinda sudah konsultasi dengan dr. Rima via telpon dan WhatsApp, dia mengatakan jika Dinda terlalu kelelahan. 


“Dindaaaa……..”, satu jam kemudian mereka berhasil sampai dan Bianca langsung berteriak saat Dinda memasuki ruang rias. 


 Bisa - bisanya gadis itu tiba 1 jam setelah akad selesai. Di dalam sudah ada Rara dan Sekar yang menemani. 


“Dian ga bisa ikut. Kamu ngurusin suami sampai datang telat… kan aku jadi foto cuma berdua mereka doang. Sekarang sudah ganti baju lagi.”, Bianca terus saja mencerocos sampai - sampai dia tidak menyadari apa yang dia katakan. 


“Suami? Kamu sudah punya pacar Din?”, tanya Sekar. 


“Tuh kan… aku tuh udah feeling deh kalo Dinda sudah punya pacar. Siapa Din, siapa? Kenalin dong.”


“Ups…”, Bianca menutup mulutnya. 

__ADS_1


Perias disana melihat ke arah Dinda. Mereka mencoba berkonsentraasi dengan tugas mereka mesti ekspresi mereka menunjukkan ketertarikan pada apa yang inign dibicarakan oleh para sahabat pengantin wanita. 


Dinda menggigit bibir bawanya. Lagi - lagi dia lupa kalau belum mengatakannya. Urusan di rumah, mas Arya, drama - drama sehari - harinya di kantor, dan lainnya membuat otaknya penuh dan melupakan hal - hal penting. 


“Coba jelasin ke kita, sekarang.”, tegas Sekar dan Rara.


Tak lama seseorang membuka pintu dan mengintip ke dalam. 


“Mba, pakaiannya sudah ready di sebelah ya.. Tinggal di bawa aja.”, ujar wanita tersebut. 


“Ya ampuuuuun…. Dinda, sudah di tunggu loh sama Bianca dari tadi. Kamu kemana aja?”, ujar wanita tadi yang ternyata adalah tante Meri. 


“Arya mana?”, tanya Tante Meri tak lama setelahnya. 


“Lagi di kamar mas Reza mungkin tante, tadi bilangnya mau kesana dan kumpul dengan sepupu cowo yang lain. Jalan sama Dito, tadi. Mungkin cari makan.” 


“Oh.. oke.. Kenapa lama banget datangnya?”, tanya Tante Meri seolah tak ingin menghentikan obrolan mereka. 


“Mas Arya, tiba - tiba badannya panas tante.”, Ceritanya panjang. Tapi Dinda berusaha membuatnya sesingkat mungkin. 


“Oh tante kira kenapa. Tenang, dia itu tipe cowo yang meski demam tetap nge-gym, kok. Ya sudah tante urus yang lain dulu, ya.”, Tante Meri pamit. 


Satu hal yang Dinda lupa saat berinteraksi dengan tante Meri barusan. 


“Din, bisa kamu jelasin itu?”, dua orang temannya sudah membeku dan haus akan penjelasan. 


Siapa ‘mas Arya?’, perasaan Dinda hanya memiliki adik laki - laki sehingga tak mungkin dipanggil mas. Kemudian, namanya adalah Arga, bukan Arya. Telinga mereka masih berfungsi dengan baik untuk sekedar membedakan antara Arga dan Arya. 


Dinda menghela nafasnya. Bianca sudah berpura - pura fokus dengan riasannya. Padahal sedari tadi dia masih aktif berbicara. 


Belum sempat Dinda bercerita seseorang kembali mengetuk pintu dan masuk. 


“Permisi, boleh masuk? Disuruh tante Meri untuk foto proses make-up nya.”, kata seseorang di luar. Suaranya sudah jelas laki - laki. 


Dinda sudah sangat hapal dengan suara itu. Pasti itu adalah Dito. 


“Iya… masuk.”, kata Bianca mempersilahkan Dito masuk. 


“Eh ada Dinda. Dicariin mas Arya tuh.”, kalimat Dito barusan tentu saja memberikan alarm khusus bagi Rara dan Sekar yang daritadi sudah kepo. 


Namun mereka agak sungkan untuk menunjukkannya di depan Dito. 

__ADS_1


“Eh? Ada apa nih? Aku salah ngomong, ya?”, menyadari hal itu, Dito langsung bertanya. 


“Din…”, panggil Rara lagi. 


“Oke… oke… eeeehh kadang - kadang ya Din, kamu itu bikin gregetan. Jadi guys, Dinda itu sudah menikah. Jangan melihatku seperti itu karena aku juga baru tahu. Dan lebih tepatnya jadi tahu karena pernikahanku dengan mas Reza….. “, akhirnya Bianca yang menjelaskan semuanya. 


Mata Rara dan Sekar langsung membulat dan mulutnya menganga disertai dengan telapak tangan untuk menutupinya. 


“Bisa - bisanya kamu menyembunyikan hal seperti ini, Din?”, mereka tidak bertanya dengan nada marah. Hanya lebih tepatnya dengan nada yang tidak percaya. 


Mereka kira, ‘mas Arya’ adalah pacar Dinda. Spekulasi ini saja sudah membuat mereka kaget karena Dinda yang notabene sangat introvert akhirnya bisa punya pacar ‘Mas - Mas’, yang berarti lebih tua darinya. Ketemu dimana? Begitu lah pikiran mereka. 


Sekarang, kenyataannya malah lebih tinggi dari spekulasi itu. Tentu saja mereka kaget bukan main. 


“Maaf ya, tempo hari waktu kita bertemu, Bianca sudah minta aku ngomong ke kalian, tapi aku juga bingung gimana mulainya ditambah waktu itu sedang banyak hal yang aku pikirkan.”, kata Dinda akhirnya dengan ekspresi menunduk. Dia merasa bersalah menyembunyikan ini terlalu lama dari sahabatnya. 


“Hm.. apakah aku harus memotret, nanti?”, Dito merasa seperti berada di tempat yang salah.


Berbeda dengang MUA yang juga ada disana, Dito adalah keluarga. Jadi, dia merasa sedikit tidak enak berada di tengah - tengah pembicaraan ini. 


Bianca tidak bersuara tetapi memberi kode pada Dito untuk tidak ambil pusing dan meneruskan apa yang harus dia lakukan. 


“Selooo Din. Kita cuma kaget aja. Kita ga marah, kok. Tapi ga tahu Dian. Dia kan paling ga ingin jadi yang tahu belakangan. Kamu tahu kan.”, kata Sekar. 


“Tenang, Dian biar aku yang ngomong. Next week, aku ketemu dia kok di conference kampus. Jadi bisa ngobrol sekalian.”, lanjut Rara. 


“Jadi, kapan nih kamu mau kenalin mas Arya ke kita?”, Sekar langsung menimpali dengan pertanyaan yang sudah mengisi kepalanya sedari tadi. Dia benar - benar sangat penasaran. 


“Hm.. nanti aku ngomong ya ke Mas Arya. Makasih ya… kalian ga marah. Aku takut banget kalian marah. Nanti detailnya, kapan - kapan aku ceritain. Karena bintang hari ini adalah Bianca.”, kata Dinda melanjutkan. 


“Oiya Din, kamu sudah makan? Kok kaya pucet begitu? Yaa ga pucet sih, tapi kaya orang lelah aja.”, tanya Rara yang notabene adalah dokter residen untuk spesialis Obgyn. 


“Hm.. engga kok. Mungkin iya, lelah aja.”, kata Dinda mengusap keningnya padahal tidak ada keringat. 


“Ya… lelah lah, mengurus cowo setampan Mas Arya… ngapain aja kamu semalem? Jangan - jangan tadi pagi gak bisa datang bukan karena mas Arya demam tapi karena yang lain, ya?” 


“Biii…”, Dinda merasa sangat malu dengan candaan itu terlebih ada MUA dan juga Dito disana. 


Bianca sadar dan menutup mulutnya. 


“Jadi makin ga sabar nih ketemu dengan suami kamu.”, kata Sekar dan Rara.

__ADS_1


__ADS_2