
“Nah itu dia Dinda.”, ujar Andra yang sudah melihat Dinda dari kejauhan.
“Kamu mau pesan apa. Suci traktir semua.”, kata Andra.
“Dalam rangka apa mba?”, tanya Dinda heran.
“Engga. Aneh aja kalau traktir Andra doang. Jadi, aku traktir semuanya aja.
“Eh. Gapapa, mba?”, tanya Dinda kembali memastikan.
“Sudah, pesan saja.”, ujar Suci.
“Green Tea satu ya.”, ucap Dinda pada salah seorang pelayan.
“Jadi gimana?”, tanya Suci langsung membuka topik pembicaraan sambil menunggu minuman mereka datang.
“Wah.. sudah ada yang tidak sabaran rupanya.”, Andra senang menggoda Suci karena saat ini dia yang memegang kartu AS nya.
“Sudah, jangan kebanyakan intro. Langsung saja katakan.”, ucap Suci yang sudah tidak sabar.
“Aku mendapat kabar ini dari informan terpercaya yang tidak boleh disebutkan namanya.”, ujar Andra. Ekspresi Suci sudah merah padam karena harus sabar mendengar intro dari Andra.
“Pak Arya sudah memiliki kekasih.”, kata Andra dengan penuh semangat melayangkan satu kalimat berbahaya.
Semuanya membulatkan mata termasuk Dinda.
‘Apalagi ini!’, Dinda hanya bisa berbicara di dalam hati.
“Siapa? Buktinya?”, tanya Suci langsung blak - blakan.
“Sabar. Minuman belum sampai. Haus.”, keusilan Andra tidak berhenti.
Gayung bersambut, seseorang mengantarkan minuman mereka. Dimas. Pria itu hari ini ada di Cafenya dan melayani pengunjung meski dia adalah pemilik dari Cafe tersebut sekaligus semua cabangnya. Tak lupa, Dimas melayangkan senyum pada Dinda. Dinda membalasnya dengan canggung.
Sementara yang lain sibuk dengan minuman mereka masing - masing. Mereka tidak menyadari interaksi antara Dinda dan Dimas barusan.
“Jadi, ada yang mendengar pak Arya berbicara dengan seseorang melalui telepon dan memanggil orang itu dengan sebutan ‘Sayang’.”, Andra melanjutkan gosipnya.
“Yang benar kamu?”, Suci memastikan. Delina dan Fas sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pembahasan ini. Tetapi, mereka tak bisa melewatkan traktiran Suci.
__ADS_1
“Tentu saja. Dan itu tidak hanya sekali dua kali saja. Informan aku ini menyaksikannya beberapa kali. Bukan itu saja, pak Arya tersenyum saat mengucapkan kata itu. Gak mungkin dong kalau bukan kekasihnya.”, lanjut Andra.
Bryan yang sedari tadi diam melirik ke arah Dinda sebentar. Dinda menyadarinya. Namun, saat Dinda sadar, Bryan kembali memalingkan wajahnya seolah tadi dia tidak melirik sama sekali.
‘Bryan kenapa ya, dari tadi melihatku seperti itu.’, tanya Dinda dalam hati.
“Beberapa waktu lalu, ada yang melihat seorang wanita di dalam mobil pak Arya. Tapi bukan di kantor. Dimana ya dia mengatakannya. Oh ya! Di sebuah pusat perbelanjaan, Mall. Ada yang melihat seorang wanita masuk ke dalam mobil Pak Arya.”, tutur Arya dengan gaya berceritanya yang seperti pembawa acara berita gosip.
“Siapa?”, Suci sudah frustasi. Dia ingin sekali tahu siapa wanita itu.
‘Apa? Sebenarnya siapa sih yang dimaksud oleh Andra. Kalau itu aku, gak mungkin mereka mengajakku kesini. Tapi, kalau panggilan ‘Sayang’. Sepertinya mas Arya pernah sesekali mengucapkannya di telepon.’
“Identitasnya belum ketahuan. Tapi, sudah ada ciri - cirinya.”, ujar Andra.
Bryan kembali melirik ke arah Dinda. Kali ini Dinda langsung menyadarinya dan menangkap basah Bryan sedang melihat ke arahnya.
“Bagaimana ciri - cirinya.”, tanya Suci.
“Tinggi, putih, langsing, seksi, dan berambut panjang.”, kata Arya memberikan deskripsi.
“Hah?”, Dinda yang sedari tadi tidak menunjukkan ketertarikannya terhadap pembahasan mereka justru keceplosan. Jujur dia kaget dengan deskripsi yang disebutkan Andra. Kalau begitu, berarti mas Arya pernah bertemu dan memasukkan wanita lain ke dalam mobilnya.
‘Apa mas Arya masih bertemu mantannya lagi?’, raut wajah Dinda mendadak berubah.
“Ah.. ah.. Ahhaha.. Ga mungkin haha.. Aku hanya terkejut. Iya.. hanya terkejut.”, ujar Dinda berusaha lolos dari kecurigaan Suci.
“Kamu beberapa kali masuk ruangan pak Arya, benar kamu tidak tertarik dengannya?”, tanya Suci. Dinda kira dia bisa dengan cepat lolos dari interogasi Suci tetapi dia salah.
“Itu.. itu.. Cuma buat project Smart Report kemaren kok, mba.”
“Ci, kamu aneh - aneh aja. Ya kali pak Arya mau mendekati Dinda. Dia masih anak kecil.”, ujar Andra.
“Ah iya juga.”, jawab Suci tersenyum menang karena Andra yang notabene menyukai Dinda saja menilai Dinda seperti itu.
‘Memangnya aku kenapa?’, Dinda merasa sedikit kesal. Padahal dia seharusnya senang karena tidak dicurigai.
“Pokoknya begitu, Ci. Nanti, kalau ada informasi mengenai siapa wanita itu, akan aku infokan.”, ujar Andra tersenyum licik.
“Jangan percaya dengan Andra. Kamu tahu sendiri 50% yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan. Kamu kira sekali dua kali saja pak Arya terlihat jalan dengan wanita seksi? Dengan jabatannya yang sekarang, dia bisa meeting dengan Asisten Pribadi CEO yang memang cantik dan seksi.”, Bryan yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
Dimas, sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan sedikit - sedikit pembicaraan mereka, namun bersikap seolah - olah dia hanya duduk dan melihat komputernya.
Suci menatap curiga pada Andra.
“Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Ini mirip dengan cerita kamu soal Dinda yang tidur dengan pria dewasa.”, Andra yang merasa kesal karena omongan Bryan tak sengaja keceplosan. Dia lupa jika di meja itu juga ada Dinda karena beberapa hari ini mereka sering nongkrong tanpa Dinda.
“Apa kamu bilang?”, tanya Dinda syok dengan perkataan Andra.
Andra segera menutup mulutnya. Dia sadar telah melakukan kesalahan besar.
“Apa maksud kamu?”, tanya Dinda lagi.
“Oke. Karena ada orangnya, langsung saja kita tanya. Aku pernah lihat kamu Dinda di hotel dengan pria dewasa. Lebih tepatnya Hotel Y. Kamu tidur dengan dia, kan?”, tanya Suci blak - blakan.
“Apa ke hotel dengan pria dewasa berarti tidur dengannya?”, balas Dinda.
“Memangnya apa lagi yang akan dilakukan oleh seorang wanita dengan pria dewasa di hotel?”, tanya Suci dengan nada tinggi.
Beberapa orang yang ada di sekitar mereka melihat. Delina, Andra, Fas, dan Bryan bergidik. Ini kali pertama mereka melihat Suci menaikkan nada bicaranya pada Dinda.
“Ci, udah Ci. Din, kamu juga sebaiknya tidak melanjutkan lagi.”, ujar Delina.
“Kenapa? Kamu gak mau dicap sebagai wanita yang tidur dengan pria di dalam hotel?”, meski yang lain mencoba menenangkan, tetapi seperti Suci tetap ingin lanjut mengkonfrontasi Dinda.
“Terserah mba Suci.”, ujar Dinda.
Dia seperti orang yang tertangkap basah telah melakukan sesuatu yang buruk padahal sama sekali tidak. Dinda bingung apakah dia harus berbohong atau mengakuinya. Akhirnya, Dinda memilih bangun dan pergi dari kursinya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Jujur dia sangat bingung.
‘Apa aku bilang saja kalau aku sudah menikah? Ah tidak.. Mereka pasti akan terus bertanya siapa, dimana, kapan dan lama kelamaan semua akan tahu kalau aku menikah dengan pak Arya. Setelahnya? Aku pasti harus berhenti dari pekerjaanku.’
‘Aah kenapa semuanya jadi rumit. Apa aku berhenti saja? Tapi ini impianku. Tinggal satu semester lagi, aku harus bisa menyelesaikan masa intern disini. Kalaupun gak bisa jadi pegawai tetap disini, setidaknya pengalaman intern disini menjadi modal terbaik untuk mendapatkan posisi bagus di perusahaan lain. Kamu harus bertahan.’, batin Dinda dalam hati. Dia termenung di depan lift setelah pergi begitu saja dari tongkrongan teman - teman kantornya.
“Kenapa tidak mengaku saja?”, ujar seseorang tiba - tiba di belakang Dinda.
Pagi tadi di parkiran gedung yang biasa digunakan oleh Arya untuk menurunkan Dinda.
“Kamu gak mau aku turunkan di halte depan kantor aja?”, ujar Arya pada Dinda yang sudah turun dari mobilnya. Arya menurunkan kaca mobil untuk kembali memastikan apakah Dinda tidak ingin diantar sampai depan kantor.
“Gak usah mas. Nanti takut ada yang lihat. Mas Arya duluan saja. Aku bisa lari, kok.”, ujar Dinda sambil melambaikan tangannya pada Arya.
__ADS_1
“Ya sudah. Hati - hati, ya. Kamu gak perlu lari. Aku gak akan memarahi yang terlambat hari ini.”, ujar Arya sambil menutup kaca mobil dan meneruskan perjalanannya.
Dinda berjalan cepat menuju area keluar parkiran agar bisa segera sampai ke kantor. Keduanya tidak sadar bahwa ada seseorang yang tanpa sengaja melihat interaksi mereka.