
“Pak Arya, hari ini meetingnya cuma satu di jam 3-4 ya, Pak. Tapi saya mau heads-up aja kalau besok meetingnya akan ada di beberapa slot. Minggu depan kemungkinan akan ada perjalanan bisnis. Ini bukan mendadak ya, Pak tapi sudah diberitahukan sekitar beberapa bulan yang lalu. Hanya saja final datenya baru diinformasikan kemarin. Untuk tiket, Pak Arya mau dipesankan seperti biasa? Untuk hotelnya akan langsung diakomodir dan diatur oleh tim kita yang ada di Sydney ya Pak. Sama besok ada dua yang clash juga, ini mau diapain ya, Pak? Tim 3 dan tim 5 invite meeting berbarengan untuk dua project berbeda.”, Siska sudah masuk ke ruangan Pak Arya dan seperti biasa memberikan update terkait jadwal beliau.
Panjang sekali yang dia sampaikan bahkan mungkin hingga setengah halaman A4 kalau semua digabungkan menjadi satu.
“Pak Arya?”, panggil Siska lagi.
Sayangnya, entah pria itu fokus mendengarkan sekretarisnya atau tidak. Pandangannya memang lurus ke arah buku dan tablet yang dipegang oleh Siska tetapi pandangannya kosong.
“Pak? Pak Arya~”, panggil Siska lagi sambil mengayunkan telapak tangannya di depan Pak Arya.
“Oh? Kamu disini?”, tanya Arya yang ternyata dari tadi melamun.
‘Hah? Gilaaa…. Pak Arya baginda raja paling mempesona… saya sudah berdiri disini sejak 10 menit yang lalu dan dia cuma bilang ‘kamu disini?’, maksudnya apaaaa????’, teriak Siska di dalam hati.
Namun di luar dia hanya mengeluarkan senyum simpulnya saja.
“Ha….ha…. Iya Pak Arya, saya sudah disini. Apa perlu saya ulang yang tadi saya informasikan?”, kata Siska dengan senyum terpaksa.
“Menurut kamu, Dinda akan baik - baik saja? Para karyawan wanita di divisi Business and Partners tidak semengerikan yang dia bayangkan, kan? Hm.. dia sampai masih takut loh tadi ketika baru masuk.”, ujar Arya sambil menyandarkan dagunya di tangannya dan berpikir serius.
‘Hah? Dari tadi dia melamun cuma memikirkan istrinya? Seorang Pak Arya, di kantor melamun memikirkan wanita? Kalau ada yang bilang Dinda pakai mantra, aku percaya deh.. Masalahnya ini batu es bisa meleleh, bagaimana ceritanya? Bahkan dia tidak memperhatikan aku bicara sama sekali.’, Siska hanya bisa bergumam dalam hati.
Dia tidak ingin diomeli oleh bosnya pagi - pagi. Meskipun Arya mana mungkin memarahinya. Justru dia yang harus memarahi dirinya sendiri karena sudah tidak fokus pagi - pagi.
“Kira - kira si James itu akan berbicara apa ya? Kalau saya bicara ke Gerald menurut kamu bagaimana?”, tanya Arya yang langsung loncat ke topik soal per-HRD-an.
“Bapak tahu sendiri hubungan Gerald dan James tidak terlalu baik belakangan ini. Tapi memangnya James akan memilih untuk cut Dinda, Pak? Saya rasa tidak.”, Siska mengutarakan pendapatnya.
“Menurut kamu begitu ya? Kenapa saya berpikir sebaliknya. Apa berlebihan kalau saya mendampingi Dinda saat bertemu dengan James?”, tanya Arya.
‘Tumben banget Pak Arya tanya pendapat aku. Biasanya dicuekin terus.’, pikir Siska dalam hati.
“Iya Pak, sepertinya akan terlihat berlebihan.”, balas Siska.
“Hm.. ya sudah.. Lanjutkan tadi kamu bicara apa?”, kata Arya tidak tertarik menanyakan pendapat Siska lagi karena jawaban yang dia berikan selalu berlawanan.
“Jadi hari ini saya pastikan Pak Arya meeting…..”, Siska mengulangi informasinya kembali.
Namun, belum lagi Siska selesai berbicara, Arya sudah memotongnya.
“Hah… sepertinya saya harus bicara dengan Gerald tentang ini.”, kata Arya kembali membahas soal Dinda.
‘Pak Aryaaaaaaa…….’, teriak Siska dalam hati.
“Saya belum ada meeting, kan? Saya mau ke lantai HRD dulu ya. Kamu siapkan semua laporan terkait proyek tim 3 dan 5. Nanti dari sana saya putuskan mana yang perlu diskusi lebih lanjut dan mana yang tidak. Untuk penerbangan minggu depan, tolong pesankan tiket seperti biasanya.”, ujar Arya berdiri dari kursinya dan keluar.
Tak lama terdengar suara pintu tertutup.
“Hah? Doi dengan apa yang aku bicarakan? Terus kenapa pandangannya melamun seperti tadi?”, tanya Siska kebingungan.
*************
“Halo…?”, Dinda mengangkat telepon dari staff HRD bernama Doni.
“Dinda, kamu ada meeting siang ini? Kalau tidak ada Pak James mau ketemu sebentar.”, ujar Doni menyampaikan pesannya.
“Tidak. Baik.”, ucap Dinda menerima perintah.
“Okay, kalau begitu ditunggu, ya.”, ujar Doni menutup teleponnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Harusnya pembicaraan ini tidak akan memakan waktu hingga satu jam dan dia masih bisa menemui Arya untuk makan siang bersama. Jadi, dia juga tidak perlu mengirimkan pesan pada suaminya.
“Mau kemana Din?”, tanya Delina.
“Pergi menemui Pak James, mba.”, jawab Dinda.
Delina yang mendengarnya hanya mengangguk paham. Dinda berjalan ke arah meja Rini untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum keluar menuju lift.
Sembari menunggu lift datang, tiba - tiba Dika muncul. Pria itu memang belum nampak di kantor sejak Dinda datang tadi. Suasana mendadak sedikit canggung. Beberapa orang yang menaiki lift bersama dengan Dika, mayoritas adalah karyawan Divisi Business and Partners, mereka saling berbisik saat sadar siapa yang mereka lihat barusan Dika dan Dinda yang terlibat insiden beberapa hari lalu.
“Siang Pak.”, sapa Dinda sekedar formalitas karena melihat bosnya lewat.
“Oh, kamu sudah masuk? Mau kemana?”, tanya Dika to the point.
“Menemui Pak James, Pak.”, jawab Dinda singkat.
“Hm.. setelah makan siang bisa ketemu saya sebentar?”, ujar Dika.
“Ee….. baik, Pak.”, jawab Dinda.
Ting.
Lift satu lagi nampak sudah terbuka. Dinda segera pamit dan menaikinya.
Tok tok tok tok
“Oh.. Dinda. Silahkan masuk.”, ujar James mempersilahkan Dinda yang sudah berdiri di depan ruangannya.
“Silahkan duduk. Gimana kabar kamu? Sudah baikan? Saya dengar kamu masuk rumah sakit dan cuti beberapa hari.”, tanya Pak James selaku HRD para intern menyapa dengan ramah.
Di perjalanan menuju ke ruang HRD, Dinda sudah parno kalau - kalau respon beliau kurang bersahabat. Namun semua berkebalikan. Beliau tetap menjaga keramahannya.
“Alhamdulillah baik, Pak.”, jawab Dinda singkat.
“Baik. Saya yakin kamu sudah tahu kenapa saya mengajak kamu untuk bertemu.”
__ADS_1
“Iya, Pak.”, respon Dinda seolah memberikan tanda bahwa dia menyimak perkataan James.
“Pertama, saya menyayangkan adanya insiden di lobi beberapa hari yang lalu dimana non-pegawai datang ke kantor dan menyerang secara sepihak pegawai di perusahaan ini. Tidak hanya bagi non-pegawai, bagi siapapun seharusnya hal - hal seperti itu tidak boleh terjadi terutama di lingkungan kantor. Pihak manajemen sudah memberikan himbauan kepada pihak keamanan untuk bisa memperketat penjagaan mereka terhadap karyawan yang masuk.”, ujar Pak James menjelaskan dengan runut.
“Kedua, terkait dengan informasi yang kami terima dan juga sudah kami konfirmasi dengan Bapak Arya Pradana bahwa kamu dan beliau sudah terikat dalam status pernikahan yang sah secara hukum sejak lebih kurang 7 bulan yang lalu. Bersamaan dengan itu, tim HRD secara terpisah juga sudah meminta keterangan pada Pak Arya. Kami juga sudah memvalidasi bahwa proses rekrutmen kamu sebagai intern di perusahaan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pak Arya karena saat itu kalian belum saling mengenal atau terlibat hubungan dalam bentuk apapun.”, jelas Pak James merunutkan kembali poin - poin penting yang ditangkap oleh pihak HRD.
“Meski urusan ini adalah persoalan pribadi, namun untuk menghilangkan kecurigaan karyawan terhadap profesionalitas HRD, maka kami akan mengirimkan email pemberitahuan untuk mengklarifikasi point tersebut.”
“Selanjutnya, terkait masa intern kamu saat Pak Arya menjabat sebagai Kepala Divisi sementara untuk Digital and Development sedang dalam proses pemeriksaan. Tadinya saya ingin memanggil kamu setelah proses selesai namun menurut saya itu kurang efektif. Oleh karena itu saya panggil kamu sekarang, sekaligus untuk menanyakan kepada kamu sebagai bagian dari proses.”
“Selama bekerja di bawah kepemimpinan Pak Arya, apa kamu pernah mendapatkan perlakukan istimewa dari beliau dalam hal pekerjaan?”, tanya Pak James.
Kali ini nadanya lebih serius dari sebelumnya. Dinda tidak menyangka pertemuan ini langsung menuju pada proses pemeriksaan HRD dimana dia belum siap. Walaupun pertanyaannya sangat standar dan simpel.
“Tidak, Pak. Tidak sama sekali.”, jawab Dinda mantap meski dalam keadaan gugup.
Terkadang orang yang tidak bersalahpun bisa gugup saat ditanya di situasi seperti ini.
“Apa selama bekerja di bawah kepemimpinan Pak Arya, beliau memberitahukan perkara internal divisi Business and Partners yang ada kaitannya dengan Digital and Development pada kamu di luar konteks pekerjaan?”, tanya Pak James kembali.
“Tidak, Pak. Pak Arya tidak pernah membahas tentang pekerjaan di rumah.”, jawab Dinda. Kali ini dia mulai percaya diri untuk menjawab pertanyaan dari James.
“Apakah kamu bisa memberikan alasan mengapa hubungan kalian tidak diberitahukan sebelumnya? Jika tidak ada kejadian beberapa hari yang lalu, apakah tidak ada rencana untuk memberitahukan? Maaf saya harus menanyakan ini.”, ujar Pak James.
Dinda diam sebentar. Dia bingung harus menjawab apa karena ada unsur personal didalam jawaban yang sedang dia pikirkan sekarang.
Tidak mungkin dia menjawab kalau mereka dijodohkan, mereka tidak tahu kalau pernikahan mereka bisa sampai sejauh ini, mereka tidak menyangka hubungan mereka berkembang dari hanya sekedar strangers yang menikah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Itu terlalu personal dan privasi.
“Kalau kamu merasa tidak ingin memberitahukan alasannya, It’s okay. Tidak masalah.”, ujar James mengerti bahwa Dinda kesulitan untuk memberikan respon pada pertanyaannya.
“Saya khawatir kalau saya akan diberhentikan jika saya memiliki status pernikahan dengan Pak Arya. Saat itu Pak Arya masih menjabat sebagai Kepala Divisi sementara untuk Digital and Development, Pak.”, ujar Dinda berkata jujur.
“Hm.. I see.. Maaf kalau saya mengatakan ini. Namun, saat itu atau sekarang, secara proses, hasilnya akan tetap sama. Tapi, saya akan berusaha untuk memberikan kamu pilihan yang terbaik. Satu hal lagi. Saya minta maaf kalau untuk sementara tawaran convert kamu sebagai karyawan permanen untuk divisi IT akan di hold sementara sampai ada keputusan dari HRD mengenai status internship kamu.”, ujar HRD itu mengatakannya dengan pelan dan runut.
Dia tahu sebagai karyawan intern, Dinda mencari pengalaman dan portfolio karir di perusahaan ini agar karirnya kedepan bisa lebih bagus. Karena itu James selaku HRD juga menghadapi pilihan yang sulit. Apalagi, dia juga harus berdiskusi dengan Gerald.
“Kalau begitu kita cukupkan diskusi hari ini. Terima kasih untuk waktu kamu. Kamu bisa lanjut makan siang.”, ujar James mempersilahkan Dinda untuk undur diri.
“Baik. Terima kasih, Pak.”, balas Dinda kemudian beringsut melangkah ke luar.
Di samping pintu HRD, Arya ternyata sudah berdiri sambil bersandar di salah satu dingin yang ada disana. Saking kepikiran dengan kata - kata HRD tadi, Dinda bahkan tidak memperhatikan kalau suaminya ada disitu.
“Ehem.. gimana hasilnya?”, tanya Arya langsung mengejutkan.
“Astaghfirullah.. Pak Arya. Mengagetkan saja.”, respon Dinda sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
Kebiasaannya yang masih mengamati suasana sekitar tiap berinteraksi dengan Arya di kantor masih belum hilang. Beruntung saat itu sudah masuk jam makan siang dan orang - orang di lobi kantor HRD juga sudah kosong.
“Sini…”, kata Dinda memanggil Arya untuk melipir keluar dari area HRD itu sambil berbisik.
Arya hanya tersenyum simpul. Dia sudah lebih dulu menemui Gerald tadi pagi sekitar 2 jam sebelum Dinda menemui James. Dia sudah tahu apa yang mungkin dibicarakan oleh James barusan pada Dinda.
Hatinya merasa bersalah namun dia tak ingin menunjukkannya. Pikiran bahwa kalau saja Dinda tidak menikah dengannya, pasti gadis itu bisa melewati masa internshipnya dengan baik dan mendapatkan karir yang cemerlang.
Tapi, begitu Arya langsung membuang pikiran itu. Ya, dia tak bisa menahan dirinya untuk egois bahkan hanya sekedar memikirkannya saja. Jika dia tidak menikah dengan Dinda, mungkin Arya masih menghabiskan hampir setiap malam di bar dan klub.
Didekati oleh sekian wanita yang silih berganti. Pulang dengan kekosongan. Buta pada kenyataan bahwa Sarah sudah tak sama.
Flashback saat Arya berada di ruangan Gerald.
“I’m afraid the result would be the same. Saya mengerti kalau kamu sangat profesional bahkan karir kamu sekarang membuktikannya. Kamu tidak memberikan perlakuan istimewa apapun pada Dinda. Lagipula gadis itu juga seorang intern yang memiliki interaksi sangat minim dengan senior level seperti kamu. Tapi Arya, merujuk pada proses yang kita punya, sampai saat ini kesimpulannya masih sama. Dinda harus berhenti dari posisinya sebagai intern.”, kata Gerald menjelaskan.
“Tapi sekarang saya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan divisi Digital and Development. Bukankah jelas kalau saya tidak menerima posisi yang ditawarkan sebelumnya karena saya tidak ingin ada keberpihakan pada intern di divisi tersebut. It wasn't even 6 months. Less than 6 months.”, kata Arya memberikan pembelaannya.
“I understand. Saya sedang berusaha karena status saudari Dinda adalah intern, bukan permanent staff. Tapi, kamu perlu tahu, satu - satunya keputusan terbaik yang bisa kami ambil adalah membiarkan Dinda menyelesaikan masa internnya. Terkait dengan tawaran sebelumnya, kami harus membatalkannya.”, ujar Gerald.
Arya menghela nafas.
Flashback selesai
“Makan siangnya jadi?”, tanya Dinda.
“Hn.. jadi dong. Makanya saya kesini.”, balas Arya.
“Ya sudah, kita bicara di mobil saja, boleh Pak?”, tanya Dinda.
“Hn.”, jawab Arya menekan tombol lift turun ke bawah.
“Tapi saya gak bawa dompet.”, kata Dinda.
“Buat apa? Kan saya yang bayar.”, kata Arya heran.
“Bukan begitu, gak enak aja Pak kalau tidak bawa dompet dan ponsel. Sebentar saya ambil dulu ya.”, kata Dinda menekan lantai divisi Digital and Development yang sekaligus juga lantai Business and Partners untuk mengambil dompet dan ponselnya.
Arya ikut keluar, namun dia menunggu sambil bersandar di dinding dekat pintu menunggu. Dia membuka ponselnya dan membalas beberapa pesan.
“Din, tadi suami kamu nyariin.”, ujar seseorang bersemangat memberitahu Dinda.
“Ah.. haha iya mba. Sudah ketemu. Makasih ya mba.”, balas Dinda.
“Gak makan siang?”, tanya Dinda pada wanita tadi.
“Gak, lagi puasa.”, jawabnya.
“Oh.. puasa Senin Kamis ya? Semoga lancar sampai berbuka ya, mba.”, balas Dinda sebelum akhirnya mengambil dompet dan ponselnya lalu permisi keluar.
__ADS_1
“Pak Arya sedang apa disini? Sedang menunggu seseorang?”, Susan baru saja datang dari arah pintu yang biasa digunakan oleh Business and Partners karena lebih dekat ke area mereka.
Dia bersama dengan beberapa rekan satu tim nya. Sepertinya mereka mau makan siang bersama.
“Hn.. nah ini dia.”, ujar Arya saat bersamaan Dinda muncul dari pintu di sebelahnya.
Dinda yang ditunjuk pun kaget dan menghentikan langkahnya. Tadi, dia menunduk ke bawah karena fokus mencari sesuatu di dalam dompetnya sehingga dia tak melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Aduh..”, karena terkejut, Dinda tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu dari dompetnya.
Dinda sedang mencari sebuah struk makanan untuk ditunjukkan pada Arya. Dia pernah makan disana bersama dengan tim Digital and Development dan menunya enak - enak. Dinda mencoba menemukan struk itu untuk mengetahui menu apa yang waktu itu dia pesan.
Saat berusaha mengeluarkan struknya, Dinda malah ikut menjatuhkan foto pernikahan yang dia salipkan di belakang foto 4 x 6 miliknya. Foto yang saat itu dia gunakan untuk mendaftar form pernikahan ke KUA.
Sementara, foto pernikahan yang terjatuh adalah foto pernikahan favoritnya saat Arya menciumnya tiba - tiba. Padahal Dito tidak pernah memberikan instruksi itu. Dinda langsung buru - buru mengambilnya, namun dia sedikit kesulitan karena perutnya juga sudah menunjukkan baby bump.
“No worries, I’ll take it.”, kata Arya melihat wajah panik istrinya.
Arya mengambil foto tersebut, dari kejauhan, dia sudah mengetahui foto tersebut. Tentu saja, dia adalah pemeran pria dalam foto tersebut. Saat mengambilnya, Arya langsung mengantongi foto itu dan tersenyum penuh arti pada Dinda.
Mereka yang juga sedang menunggu lift disana hanya bisa melihat penuh tanya. Foto itu terlalu kecil untuk bisa mereka lihat. Tapi, berbeda dengan Susan yang saat itu berada di jarak yang dekat dengan Arya. Dia sempat melihat sedikit foto itu dan bisa mengartikan itu foto apa.
“Siang Bu Susan.”, sapa Dinda sopan.
“Siang.”, jawab Susan singkat sambil memberikan senyum tipisnya.
Tanpa ada yang mengatakan apapun, Susan sudah bisa mengetahui kalau keduanya punya rencana makan siang bersama.
Ting.
Pintu lift terbuka. Semua masuk. Beruntung sudah tidak banyak orang yang turun naik sehingga lift lumayan kosong. Semua hanya bisa hening di dalam tanpa berbicara sepatah katapun.
“Enjoy the lunch.”, kata Arya saat Susan memberikan ekspresi pamit untuk menuju tujuan masing - masing.
Arya dan Dinda lanjut ke lift berikutnya menuju basement. Tempat makan yang akan mereka kunjungi membutuhkan bantuan mobil untuk bisa sampai kesana.
“Tadi kamu mau membicarakan sesuatu setelah bertemu HRD. Apa?”, tanya Arya.
Dinda baru saja teringat kembali pertemuannya dengan HRD tadi. Gadis itu langsung memeluk Arya dari kursi penumpang.
“Hm.. dari reaksi kamu, pembicaraannya tidak berjalan lancar?”, tanya Arya, meski dia sudah tahu bagaimana hasilnya.
“Aku sudah bisa menduga bagaimana keputusan mereka. Tetapi, tetap saja aku merasa sedih. Maaf ya mas Arya, bukan berarti aku menyesal dengan pernikahan kita. Hanya saja…”, Dinda menangis terisak.
“Hn.. aku mengerti. Tidak apa - apa. Wajar kalau kamu kecewa. But It’s definitely not the end for you, babe.”, ujar Arya menenangkan istrinya.
“Maaf ya, aku jadi mengacaukan rencana makan siangnya.”, kata Dinda saat dirinya sudah mulai tenang.
Arya hanya tersenyum simpul.
“Sudah tenang sekarang? Oiya, kamu gak lupa sesuatu?”, tanya Arya sebelum melajukan mobilnya.
“Hm?”, Dinda memasang wajah bingung.
“Ini. Aku tidak tahu kamu mencetak ulang foto ini untuk disimpan sendiri.”, kata Arya mengeluarkan foto milik Dinda yang tadi terjatuh.
“A-ah… mas Arya.. sini.”, respon Dinda sambil masih sesekali terisak karena bekas tangis yang tadi. Tapi tawanya sudah pecah karena malu.
“Jadi diantara banyak foto, kamu memilih foto yang ini?”, tanya Arya menarik kembali foto itu saat Dinda mencoba mengambilnya.
“I-ih.. mas Arya, kesiniin fotonya.”, kata Dinda menyerah karena tangannya terlalu pegal itu menjangkau tangan Arya.
“Eh eh hati - hati, nanti perut kamu kena ini.”, kata Arya menahan tangan istrinya supaya tidak berusaha menjangkau terlalu jauh.
“Habis mas Arya usil banget…”, ujar Dinda masih menghapus air matanya.
“Padahal waktu foto ini diambil, ekspresi kamu langsung.”, kata Arya.
“Siniin mas Arya fotonya. Sudah jam segini, mas Arya memangnya tidak ada meeting.”, kata Dinda.
“Haha iya iya,, nih.. Disimpan baik - baik ya.. Jangan sampai jatuh lagi, nanti yang lain pada ngiri.”, ujar Arya menstarter mobilnya.
“Ge-er.”, kata Dinda membersihkan wajahnya yang sudah berantakan karena air mata.
“Mood kamu bisa seperti roller coaster gitu ya. Naik turun berubah - ubah.”, ungkap Arya.
“Salah siapa.”, kata Dinda memberikan respon.
Gadis itu sedang membongkar - bongkar tas yang biasa diletakkan di mobil, berharap dia menyimpan beberapa bedak disini untuk mencerahkan lagi wajahnya.
***********
“Pak Arya kalau sama istrinya beda banget, ya.”, ujar seorang karyawan yang tadi bertemu Arya di lift.
“Ya iyalah, masa sama istrinya mau seperti batu es juga.”
“Ya.. kali aja, doi tetep lempeng gitu sama kaya kalo lagi di kantor. Tanpa ekspresi dan auranya bikin merinding.”
“Kamu kira dia jin bikin merinding.”
“Benarkan? Coba deh kalau lagi presentasi trus tiba - tiba dia nunjuk kamu. Walaupun kamu tahu jawabannya, tetep aja kalau doi yang tanya bawaannya bikin gugup.”
“Masih gak nyangka ternyata Pak Arya sudah menikah.”
“Mau sampai berapa kali kamu ngomong seperti itu.”
__ADS_1
“Kenapa kita tidak sadar ya, belakangan Pak Arya kaya beda aja gitu. Pro banget doi di kantor sampai gak ketahuan kalau sudah menikah.”