
From: 0812xxxxxxxxxxx
Halo, maaf kalau saya tiba - tiba chat kamu.
Suami kamu sudah selingkuh dengan istri saya.
Saya gak mau ada keributan besar.
Jadi, saya minta tolong, kamu suruh suami kamu untuk berhenti berhubungan dengan istri saya.
DEG.
“Din, kamu masih di dalam?”, Delina menghampiri Dinda ke toilet karena gadis itu tak kunjung muncul. Sementara yang lain sudah menunggu.
“Oh? Ah.. Iya mba, aku sudah selesai.”, ujar Dinda mengabaikan pesan yang sudah dia baca di ponselnya dan menghampiri Delina.
“Yuk, nanti kalau kelamaan, kita antri lama.”, ujar Delina.
“Iya.. yang lain sudah duluan?”, tanya Dinda.
“Hm.. mereka tunggu di bawah. Soalnya takut liftnya penuh jadi mereka turun duluan.”
Dinda dan Delina langsung mendapatkan lift. Begitu sampai di bawah, mereka justru kesulitan menemukan yang lain. Awalnya, mereka mengira yang lain sudah duluan, ternyata mereka tersangkut di Cafe milik Dimas.
“Aku kira kalian sudah berangkat duluan.”, ujar Delina.
“Kamu ngapain di kamar mandi, Din? Beranak? Lama banget.”, kata Fas dengan nada bercanda.
‘Seram sekali kata - katanya.’, ujar Dinda.
Kalau dia tidak sedang hamil, dia mungkin akan menerima candaan itu begitu saja. Tapi sekarang beda cerita.
“Wah pada mau kemana nih?”, tanya Dimas yang menghampiri meja kasir.
Meskipun pertanyaan itu ditujukan ke arah semua orang yang ada di sana, tapi sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk Dinda.
“Kita mau cobain restoran ramen yang baru buka di mall depan. Mau ikutan?”, ajak Suci iseng.
“Wah.. maunya sih begitu. Tapi masih banyak customer, lain kali ya.”, ujar Dimas.
Dinda yang tanpa sengaja beradu pandang dengan Dimas hanya bisa membalas senyuman pria itu tipis. Belakangan mereka sudah jarang bertemu. Tentu saja Dinda lenbih nyaman seperti itu karena setiap kali mereka bertemu, pasti ada saja masalah yang muncul.
Tanpa mereka sadari, Bryan juga menyadari kecanggungan antara Dimas dan Dinda. Lebih tepatnya arah pandang Dimas yang lebih banyak fokus pada Dinda.
“Jadi kita mau jalan atau mau naik mobil Bry dan Andra, nih?”, ujar Delina membuka suara.
Dia memang yang paling inisiatif kalau soal makan di luar.
“Hm… mau jalan kejauhan, tapi naik mobil juga tanggung.”
“Iya, takutnya nanti macet juga. Jalan aja yuk.”
“Ya sudah kalau begitu kita jalan saja.”
Mereka memutuskan untuk mengambil alternatif jalan karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh tetapi juga tidak terlalu dekat. Daripada harus mengambil resiko terkena macet. Mereka berjalan saling beriringan.
Secara kebetulan, Fas yang tadinya berjalan menempel pada Bryan, sekarang berjalan di samping Delina. Suci sudah di depan bersama Andra. Dan Bryan melambatkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Dinda.
“Apa hubunganmu dengan Dimas?”, tanya Bryan pelan. Pelan sekali karena dia ingin memastikan hanya mereka berdua yang mendengarnya.
“Maksud kamu? Memangnya aku pernah ada hubungan apa dengan orang itu?”, tanya Dinda heran. Kenapa Bryan bisa berpikir seperti itu.
“Hm.. hanya perasaanku saja atau Dimas sedang berusaha mendekatimu?”
“Iya. Hanya perasaan kamu saja. Aku tidak terlalu mengenalnya.”, jawab Dinda.
“Sama Pak Arya masih?”, tanya Bryan.
Drrrrrt Drrrrrtttt
Di tengah pembicaraannya dengan Bryan, ponsel Dinda berbunyi. Tertulis nomor ponsel yang tidak dia kenal disana. Dinda menyadari kalau nomor terakhinya sama dengan nomor orang yang mengiriminya pesan tadi.
__ADS_1
‘Apa jangan - jangan yang tadi?’, tanya Dinda dalam hati.
Dinda memutuskan untuk tidak menghiraukannya. Dia mengganti setting ponselnya ke mode getar agar panggilan orang itu tidak menganggunya.
“Ada yang telpon, kenapa tidak diangkat?”, kata Bryan.
“Aku tidak kenal, jadi tidak perlu diangkat.”, jawab Dinda.
“Orang iseng? Mama minta pulsa?”, kata Bryan setengah bercanda.
“Emang masih ada yang begitu?”, kata Dinda menimpali candaan Bryan.
********
Suasana bandara hari ini lumayan sepi. Lebih awal dari prediksi, Arya ternyata bisa kembali sebelum weekend datang. Semua berjalan lancar dan mereka sudah berada di bandara kedatangan sekarang.
“Pak Arya langsung pulang?”, tanya Siska.
“Hm.. kamu sudah ada yang jemput? Kalau tidak sekalian sama saya saja.”, ajak Arya.
“Sudah ada, pak. Tapi masih di jalan. Pak Arya duluan saja.”, ujar Siska saat sudah melihat sebuah mobil yang kemungkinan adalah mobil Pak Arya. Siska bisa melihat seorang pria paruh baya keluar dari mobil itu dan membantu Arya membawa kopernya masuk.
“Ya sudah, saya duluan, ya. Guys, saya duluan. Besok kalau mau ambil 1 day off, silahkan saja.”, teriak Arya dari tempatnya berdiri.
Para karyawan itu langsung tersenyum saat Arya mengizinkan mereka untuk mengambil 1 hari libur besok. Kebetulan hari ini hari Kamis, besok Jum’at. Mereka bisa bablas hingga weekend selesai.
“Dinda sudah pulang, Pak?”, tanya Arya begitu masuk di dalam mobil.
“Wah kurang tahu, Den. Saya kesini sih masih sore dan non Dinda belum pulang. Tapi kalau sekarang mungkin sudah. Sudah malam juga.”, jawab Pak Cecep.
“Hm…”, balas Arya.
Drrrrttttt drrrrtttt drrrttt
Ponsel Arya berbunyi tanda pesan masuk. Begitu melihat layar, Arya langsung malas. Dari kemarin, wanita ini terus saja mengganggunya.
From: Jessica
Pak Arya, apa kabar?
Ingin rasanya Arya memblock nomornya tapi dia masih menyimpan rencana itu jika Jessica sudah sangat menganggu. Untuk saat ini, dia cukup mengabaikannya saja.
********
Setelah melewati beberapa titik kemacetan, Arya akhirnya sampai di rumah. Hujan lebat menyambut Arya begitu tiba di rumah. Dia bahkan kesulitan untuk keluar dari mobil. Beruntung ada persediaan jas hujan di dalam mobil.
Hujan yang sangat lebat juga membuat Pak Cecep memutuskan untuk menginap saja. Biasanya Pak Cecep lebih sering pulang ke rumah dan kembali pagi hari. Karena rumah Pak Cecep dekat, dengan begitu dia masih bisa berkumpul dengan keluarganya.
Arya membiarkan koper di dalam mobil dan akan mengambilnya besok pagi. Dia meletakkan jas hujan di teras dan segera bergegas ke atas. Hari sudah larut, lampu bawah, tengah, dan atas sudah tidak menyala dan meninggalkan beberapa lampu redup.
“Sepertinya semua orang sudah tidur.”, ujar Arya pada Pak Cecep yang sudah berjalan menuju dapur karena ingin membuat minuman hangat.
Sedangkan Arya, dia sudah naik ke lantai dua karena sudah tidak sabar bertemu istrinya. Yah, meskipun jam segini Dinda mungkin sudah tidur. Tapi, memeluknya dalam tidur juga sudah membuat Arya senang.
Dibukanya pintu perlahan, diliriknya ke arah ranjang, nihil. Tak ada Dinda disana.
‘Apa Dinda pulang ke rumah bunda? Ah jangan.. Aku sudah bersemangat, kalau dia disana, aku bagaimana? Mana hujan lebat begini, bagaimana aku bisa menyusulnya saat ini juga?’, ujar Arya dalam hati.
Dia menutup pintu perlahan, berjalan maju sambil melepaskan jaketnya.
“Oh?”, Arya bernafas lega karena melihat istrinya ternyata tertidur di sofa.
Arya menghampiri Dinda yang bisa - bisanya tidur tanpa selimut disini padahal hujan lebat. Arya mendekati istrinya dan berjongkok agar wajahnya bisa berhadapan langsung dengan wajah Dinda. Arya menyeka beberapa helai rambut yang menutupi rambut istrinya dan memberikan kecupan hangat dan singkat di kening gadis itu.
‘Maaf ya, sayang.’, ujar Arya dalam hati.
Arya bangun dan mengulurkan tangannya ke badan Dinda untuk mengangkat gadis itu ke atas ranjang. Sofa di kamarnya memang punya tekstur yang lembut dan lebih besar, tapi tetap saja, tidur di ranjang akan membuatnya lebih hangat dan nyaman.
‘Oh, kamu masih ringan saja. Apa dia tidak makan banyak?’, kata Arya dalam hati.
Goncangan akibat gendongan Arya, membuat Dinda terbangun. Awalnya dia kaget dan meronta karena dikira sedang diculik orang tak dikenal. Setidaknya begitu yang terjadi dalam mimpinya.
__ADS_1
“Sayang, sayang, ini aku. Arya, suami kamu.”, ujar Arya cepat karena Dinda meronta hebat dan hampir membuatnya terjatuh.
“Mas Arya?”, kata Dinda memastikan.
Dinda membuka pelan matanya dan memastikan kalau yang ada dihadapannya adalah benar suaminya.
“Ah.. mas Arya bikin kaget saja. Aku kira aku diculik.”, jawab Dinda polos.
“Huh…siapa yang berani menculik kamu di dalam rumah dan hujan lebat begini?”, kata Arya bercanda.
“Lain kali, jangan tidur di sofa, ya. Tidur di ranjang, nanti kamu sakit.”, ucap Arya menurunkan Dinda di ranjang mereka.
“Mas Arya bilang pulang hari ini, aku kira sore. Ternyata malah malam.”
“Iya, jalanannya macet plus hujannya lebat sekali. Ada beberapa titik banjir jadi Pak Cecep harus mencari jalan memutar.”
“Mas Arya sudah makan?”, tanya Dinda.
Meski dia sudah diturunkan di ranjang, Dinda tak melanjutkan tidurnya. Ia malah bangun dan mengambil posisi duduk.
“Sudah tadi di bandara. Besok lagi saja. Kalau aku makan sekarang, nanti perut six packs nya hilang.”, jawab Arya sambil membuka kaosnya dan menunjukkan perutnya.
“Ih… maluuu.. Mas Arya ih..”, kata Dinda menutup wajahnya.
“Heh… masa kaya gini aja masih malu sih Din? Memangnya ada yang belum kamu lihat”
“Apa - apaan sih mas Arya, udah sana mandi kalau mau mandi.”, teriak Dinda sambil melempar bantalnya ke arah Arya.
Pria itu hanya tersenyum. Tadinya dia sudah berjalan menuju kamar mandi, kemudian dia memutuskan kembali berbelok ke arah ranjang dimana Dinda duduk. Tanpa aba - aba, dia langsung melayangkan ciumannya pada gadis itu. Lembut.
Dinda tentu saja menerimanya. Meski dia masih kaget kalau pria di depannya ini tiba - tiba shirtless, tapi dia sudah terbiasa dengan ciumannya. Dinda sudah tidak kaget lagi. Dia bahkan lupa kalau beberapa hari yang lalu sebelum di parkiran kantor, dia masih marah pada Arya.
Setelah melepaskan ciumannya, Arya duduk berlutut di samping ranjang. Target ciuman selanjutnya adalah anaknya yang ada di perut Dinda.
“Maaf ya, papa gak temanin mama kamu periksa.”, kata Arya.
Perlakuan Arya seperti ini membuat Dinda tersentuh. Meski pria itu tidak menemaninya saat periksa, tidak selalu bersamanya beberapa hari ini, tapi Dinda sudah melupakan itu. Dinda tersenyum dan mencium bagian atas kepala Arya.
*******
Pagi sudah datang, sinar matahari sudah dari tadi masuk lewat beranda ke kamar Dinda dan Arya. Seperti akhir pekan biasanya, Dinda selalu menghabiskan waktu bersama Inggit di taman belakang untuk sekedar menyiram, menanam kembali, dan merawat tanaman di belakang.
Apalagi, sekarang Dinda sudah punya petakannya sendiri yang dia isi dengan sayuran hidroponik, tomat, dan jambu air. Sudah hampir 2 bulan tanamannya ia rawat dengan baik. Untuk sayuran, beberapa kali gagal karena terkena hama tanaman. Namun, baru sekitar dua minggu yang lalu mulai baik. Sepertinya akan segera panen.
Untuk tomat, masih batang saja. Begitu juga dengan jambu air.
“Arya masih tidur, sayang?”, tanya Inggit.
“Iya ma. Sepertinya mas Arya capek sekali. Tadi malam setelah mandi, dia langsung tidur. Semalam badannya sedikit panas. Mungkin efek lelah dan hujan. Tapi shubuh Dinda cek sudah turun panasnya.”, ujar Dinda.
Dia sempat terkejut karena saat dia bangun untuk ke kamar mandi, badan Arya sudah berkeringkat dan panas. Beruntung Dinda tahu cepat dan segera turun mengambil kompresan dan memaksanya minum obat. Pria itu paling malas kalau di suruh minum obat.
Sementara itu di kamar.
Ponsel Dinda terus berbunyi. Awalnya Arya pikir itu alarm, dia menggesernya beberapa kali tapi suaranya tidak kunjung berhenti. Akhirnya dia memaksakan matanya untuk terbuka sekedar memeriksa ponsel itu.
“Siapa sih yang menelepon pagi - pagi begini? Mana weekend lagi.”, kata Arya setengah sadar.
Saat dia periksa, nomor yang tertera berasal dari nomor tidak dikenal. Tanpa pikir panjang, Arya langsung mengangkat ponsel itu.
“Halo…?”, jawab Arya dengan suara bariton khas pagi hari nya yang serak - serak basah.
“....”, hening. Tak ada jawaban dari seberang sana.
“Halo? Dengan siapa ini?”, kata Arya lagi. Kepalanya masih berat dan dia ingin segera tidur.
Bukannya menjawab, orang di seberang sana justru menutup ponselnya. Kemudian tak lama, notifikasi muncul WhatsApp muncul dari atas. Mungkin WA yang dikirimkan sebelum Arya menerima telepon.
Awalnya Arya tak ingin menghiraukannya, tapi begitu membaca satu dua baris yang muncul, ekspresi wajah Arya langsung berubah.
“Shit. Apa - apaan ini?”, ujar Arya emosi.
__ADS_1
Kemudian layar ponsel Dinda non-aktif karena tidak ada interaksi. Baik Dinda maupun Arya, tidak mengetahui password ponsel masing - masing. Mereka juga tidak pernah menanyakan atau mencampuri hal - hal seperti itu.
Dinda mungkin pernah tahu password ponsel kantor Arya karena waktu awal pernikahan, mereka pernah terjebak macet dan Dinda harus membantu Arya memesan kamar hotel. Namun, sepertinya Dinda juga sudah tidak ingat.