
“Arya, dimana?”, ujar Erick yang masih mencari - cari posisi Arya.
Seharusnya Erick sudah berada di tempat yang benar, tetapi dia tidak melihat Arya sama sekali.
“Mini Market X, yang ada banner warna biru.”, ujar Arya.
Kepalanya sudah sakit, pandangannya sudah sedikit berat. Meski dia bisa memaksakan untuk berdiri normal, tetapi pikirannya sudah tidak bisa berpikir. Dia hanya ingin segera pulang.
“Ohiya iya.. Aku lihat. Sebentar, aku harus putar balik dulu.”, ujar Erick setelah berhasil menemukan Arya terduduk di bangku - bangku depan sebuah mini market.
Erick membutuhkan waktu sekitar 15 menit sebelum akhirnya bisa sampai di tempat Arya berada karena dia harus berputar arah. Dia tidak yakin bisa membopong Arya yang lebih tinggi dan lebih atletis darinya menyebrangi jalan.
“Wah.. jika aku tidak meminta tanda tangan, mungkin kamu akan berakhir di ranjang seseorang malam ini.”
“Heh. Bullshit. Meski aku mabuk. Aku tidak akan tidur dengan sembarang wanita.”, ujar Arya tertawa kecil.
“Dokumen apa yang harus aku tanda tangani.”, ujar Arya to the point.
“Ah iya, sebentar. Karena melihat kondisimu, aku lupa membawa dokumen itu kesini.”, Erick segera berlari ke mobilnya dan mengambil dokumen titipan Rini tadi.
“Aku harus scan kembali dokumen dan submit segera malam ini.”, ujar Erick.
“Kamu harus mengantarku pulang dulu.”, kata Arya sambil menandatangani dokumen tersebut.
Tentu saja, Arya tetap membacanya terlebih dahulu. Bahkan dia memberikan tiga pertanyaan untuk memperjelas informasi dokumen tersebut.
“Kamu memang sesuatu Arya. Tak heran kamu mendapatkan promosi dengan cepat. Bahkan dalam kondisi mabuk pun, kamu masih bisa membaca dokumen seperti ini.
Arya hanya mengangguk - angguk seolah menyombongkan dirinya (bersikap seolah sangat cool).
“Sebentar, aku simpan dulu dokumennya, baru memapahmu ke dalam mobil.”, ujar Erick.
“Tenang saja. Aku masih bisa jalan.”, ujar Arya.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi. Kamu kan bisa menyeberang sendiri. Aku tidak perlu memutar balik dan menghabiskan 15 menit waktuku yang berharga.
Arya tidak membalas dan hanya tersenyum senang. Dia segera masuk ke dalam mobil Erick sambil membawa tasnya. Arya memijat kepalanya sejenak.
Erick segera melajukan mobilnya menuju kediaman Arya.
“Apa aku hanya perlu mengantar sampai gang depan? Kenapa aku tidak boleh mengantar sampai ke depan rumah.”
“Kamu ingin membangunkan seisi rumah dan membuat kehebohan. Aku sudah berhenti minum sejak beberapa bulan yang lalu. Jika papa tahu aku pulang dalam keadaan mabuk, dia akan membunuhku.”, jawab Arya.
Sebenarnya, itu bukan satu - satunya alasan kenapa Erick tidak perlu mengantar Arya sampai depan rumah.
“Baiklah. Lebih baik karena aku bisa lebih cepat pulang.”, ujar Erick.
“Tapi area perumahan aman, kan? Aku tidak ingin besok pagi ada headline news tentangmu.”, ujar Erick setengah bercanda.
Arya tidak menjawab. Dia hanya diam karena tiba - tiba dia kembali memikirkan pertemuannya dengan Sarah. Dalam hati, dia sebenarnya menyesal telah berteriak keras pada wanita yang pernah mengisi hidupnya.
Tapi Arya juga sudah lelah dengan sikap Sarah yang tidak peka. Sarah terus merasa menjadi pusat perhatian dan tidak mempedulikan rasa sakit orang di sekitarnya, termasuk Arya.
‘Friends? Dia masih bisa mengeluarkan kata itu meski dia sudah berselingkuh di belakangku? Menjadikanku seolah - olah orang jahat yang sudah menyia - nyiakan dirinya selama tahun terakhir pernikahan kami. Why do I have to love her.”, batin Arya dalam hati.
Sesuai dengan perintah Arya, Erick menurunkannya di gerbang depan perumahan Arya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat. Satpam sudah mengenal Arya. Dia juga beberapa kali mengantarkan Arya ke rumah beberapa bulan lalu dalam keadaan mabuk.
“Wah.. malam pak. Sudah lama tidak kelihatan begini. Saya kira sudah insyaf.”, ujar Satpam paruh baya itu sambil bercanda.
Arya hanya tersenyum.
“Mau saya antar, Pak?”, ujar Satpam tersebut menawarkan. Namun, Arya menolak. Dia tidak ingin ada orang rumah yang tahu kalau dia pulang dalam keadaan mabuk. Arya bahkan hanya menghubungi Bi Rumi dan tidak menghubungi Dinda agar gadis itu tidak khawatir dan marah dengannya.
Sesuai rencana, Arya berhasil masuk ke dalam rumah dengan mulus. Tidak ada yang terbangun. Arya langsung melesat menuju kamarnya. Efek mabuknya masih ada tetapi tidak membuatnya kehilangan keseimbangan.
Arya membuka pintu kamarnya, berharap gadis itu sudah tertidur di kasur. Namun, alangkah terkejutnya Arya mendapati Dinda masih termenung berdiri di depan balkon. Dinda tidak menyadari kehadiran Arya karena dia mengenakan headset.
Arya menutup pintu pelan dan menguncinya. Arya meletakkan tasnya di meja nakas samping dekat lemari kecil. Dia membuka jas dan ikat pinggangnya. Ia melonggarkan sedikit kemejanya dengan melepas dua kancingnya paling atas.
Tadinya, Arya ingin menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Namun semilir angin malam yang sedikit - sedikit menyapu rambut pirang Dinda mengusik perhatiannya. Tubuh gadis yang dibalut dengan gaun malam tipis itu menarik dirinya untuk mendekat.
Tanpa Arya sadari, dia sudah memeluk Dinda dari belakang. Tentu saja Dinda terkejut, namun setelah mencium aroma orang di belakangnya, dia tahu jika itu Arya. Parfum pria itu sangat khas dan Dinda menyukai aromanya.
“Mas Arya… baru pulang?”, Tanya Dinda.
Gadis itu tidak bisa menoleh ke belakang karena Arya sudah terlanjur memeluknya dan meletakkan sebelah tangannya di depan. Arya menjatuhkan kepalanya di atas kepala Dinda. Karena perbedaan tinggi badan mereka, Dinda sukses tenggelam dalam pelukan pria itu.
__ADS_1
“Mas Arya?”, Dinda kembali bertanya saat dia tidak mendapatkan jawaban dari pria itu.
Dinda memberanikan diri berbalik ke belakang. Sebelum Dinda bisa melihat jelas wajah Arya, pria itu sudah mendaratkan bibirnya di bibir Dinda. Deru nafas Arya terasa. Lama sekali ciuman itu hingga Dinda harus mendorong sedikit tubuh Arya menandakan dia sudah kehabisan nafas.
“Mas Arya minum?”, tanya Dinda terkejut dan ada sedikit kemarahan di nadanya.
“Aku sudah menolak. Tapi seorang klien menjebakku untuk minum.”, kata Arya berusaha memberikan penjelasan agar Dinda tidak salah paham.
“Wanita?”, Tanya Dinda.
Arya menggeleng.
“Kamu bisa tanya Erick jika kamu mau. Dia yang mengantarku pulang tadi.”, lanjut Arya lagi.
“Benarkah?”
“Hm. Kamu ingin tanya Erick?”, Arya menggoda Dinda. Dia tahu Dinda tidak akan bisa bertanya pada Erick karena tentu itu akan menjadi pertanyaan paling aneh yang pernah di dengar Erick.
“Kamu mau bertanya? Kamu bisa coba pakai ponselku?”, jawab Arya kembali menggoda Dinda.
Dinda sedikit kesal (hanya terlihat kesal) dan bergerak pergi dari Arya. Namun pria itu menahan lengannya dan kembali melancarkan serangannya. Kali ini tidak hanya bibir. Dinda terhipnotis dengan perlakuan Arya sehingga dia melupakan perdebatan kecil mereka.
“Boleh?”, tanya Arya saat tangannya memegang tali gaun tidur Dinda di bahu gadis itu.
Dinda mengarahkan pandangannya ke wajah Arya. Dia berpikir sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Anggukan kecil yang nyaris tidak terlihat jika saja Arya tidak memfokuskan seluruh pandangannya pada gadis itu.
Sebenarnya Dinda masih sedikit trauma dengan perlakuan Arya waktu itu, tetapi sikap manisnya membuat Dinda perlahan luluh dan memberanikan diri untuk memberikan apa yang pria itu inginkan. Meski jantungnya berdegup kencang, pipinya memerah, dan tangannya terkepal ragu. Namun Dinda mantap dengan keputusannya untuk memberikan apa yang menjadi hak Arya.
Malam itu menjadi chapter baru dalam hidup Dinda karena dia telah memberikan seluruh kepercayaannya pada Arya.
*****
“Kamu sedang apa?”, Tanya Arya.
Pagi sudah menjelang dan mereka kesiangan karena aktivitas semalam. Tidur mereka kurang dan kini Dinda sedang sibuk sendiri di depan cermin kamar mandi padahal Arya sudah menunggunya untuk segera kebawah.
Gadis itu bahkan belum mengenakan hijabnya.
“Aku kan sudah bilang, mas Arya jangan memberikan tanda merah ini lagi. Susah hilangnya.”, ujar Dinda sambil merengut. Dia terus mencoba menyamarkan kissmark di lehernya dengan menggunakan concealer, tetapi sepertinya tidak mudah.
“Memangnya kenapa? Itu tandanya kamu sudah ada yang punya. Lagian tadi malam sepertinya kamu tidak bilang apa - apa.”, jawab Arya santai tanpa beban. Dia bahkan tersenyum jahil pada Dinda.
“Kenapa berhenti?”, Tanya Arya. Pria itu sudah berada di belakangnya dan menggamit pinggang Dinda. Padahal gadis itu masih sibuk menyamarkan beberapa tanda lagi di lehernya.
Dinda terdiam. Matanya terpejam karena pria itu lagi - lagi sudah mendaratkan bibirnya ke bahu dan leher bagian belakang Dinda.
“Mas Arya, su-sudah..kita sudah terlambat.”, ucap Dinda terbata - bata.
“Kita ambil cuti saja hari ini.”, goda Arya pada Dinda.
“Hah? Mas Arya apa - apaan sih. Udah ah.”, Dinda berusaha menghentikan Arya.
“Yakin, ga mau ambil cuti?”, ucap Arya pada Dinda.
“Cuti aku tinggal sedikit, mas. Aku harus memanfaatkannya dengan baik.”, jawab Dinda.
Kali ini Arya yang memasang wajah kecewa (bercanda). Dia keluar dari kamar mandi dan mengambil hijab Dinda yang sudah disiapkan oleh gadis itu di dalam ruang pakaian.
“Sudah, pakai hijabnya. Kita bisa terlambat.”, Arya terus mendesak Dinda, bahkan dia sudah mengambilkan hijabnya agar Dinda bisa segera mengenakannya saat itu juga di depan cermin.
Dinda memberikan sorot mata tajam pada Arya. Padahal tadi dia yang membuat Dinda jadi semakin lama. Sekarang, dia malah berdalih dan memintanya untuk cepat.
‘Kenapa kalau di kantor dia bisa berubah menjadi bos panutan. Tapi kalau di rumah dia seperti diktator?; ujar Dinda dalam hati.
Dinda menyerah. Dia berhasil menyamarkan sedikit, tetapi beberapa masih bisa terlihat.
‘Semoga saja tidak ada yang menyadari kissmark ini lagi.’, ucap Dinda dalam hati.
Keduanya harus melewatkan sarapan di meja makan karena sudah sangat terlambat. Bahkan jika mereka berangkat sekarang pun, mereka bisa satu jam terlambat dari waktu masuk kantor, apalagi jika mereka harus menyempatkan makan dulu.
Dinda akhirnya membawa beberapa potong sandwich dan memakannya di dalam mobil. Sesekali dia juga memberikan beberapa ke mulut Arya agar pria yang dikenal jarang sarapan itu bisa memakannya.
“Din, kita turun di parkiran kantor saja, ya. Jarak dari gedung seberang ke kantor kita lumayan. Kamu bisa lebih terlambat lagi nanti.”, usul Arya.
“Jangan mas. Nanti kalau ada yang lihat, bagaimana?”, ucap Dinda sedikit khawatir.
“Gapapa, parkiran saya kan khusus jadi jarang juga ada yang parkir disitu selain manajemen. Lagi pula, sekarang sudah jam segini. Tidak akan ada yang di parkiran.”, balas Arya. Pria itu terdengar percaya diri karena jam sudah lewat waktu masuk kantor.
__ADS_1
Dinda masih sedikit ragu. Dia takut kalau ada yang melihat mereka. Tapi Dinda juga tahu kalau Arya benar. Jarak dari gedung kantor seberang, tempat Arya biasa menurunkan Dinda lumayan. Butuh waktu 5-10 menit untuk berjalan ke kantor mereka. Itu kalau Dinda bisa melewati lampu merah dengan cepat.
“Gapapa. Kalaupun ada yang lihat, bilang saja saya ketemu kamu di depan.”, jawab Arya. Pria itu sudah melajukan mobilnya melewati gedung perkantoran, tempat biasa dia menurunkan Dinda.
“Memang pak Arya tipe yang mau mengangkut karyawan masuk ke mobilnya?”, kata Dinda sarkas. Selama dia bekerja sebagai intern, dia tidak pernah sekalipun mendengar ada yang masuk mobil Arya.
“Hem.. atau mau saya turunkan kamu di halte kantor aja, biar sekalian semua lihat?”, Arya malah balik menggoda.
“Eh.. jangan mas.”
“Tadi Pak, sekarang mas. Hati - hati loh nanti di kantor tertukar panggilannya.”, Arya kembali tersenyum manis pada Dinda.
“Ya sudah, saya akan panggil ‘Pak’ terus. Dimanapun.”, balas Dinda.
“Oke. Kamu siap - siap saja dengan konsekuensinya. Saya bikin kamu tidak bisa menyamarkan tanda merah itu lagi.”, jawab Arya
Dinda hanya bisa memberikan sorot mata tajam pada Arya.
“Oke. sudah sampai.”, kata Arya setelah berhasil memarkirkan mobilnya sempurna.
“Mas Arya, turun duluan aja. Nanti setelah itu baru saya.”
“Kalau saya yang turun duluan, siapa yang mengunci mobilnya?”, balas Arya.
“Ah.. benar juga. Ya sudah saya turun duluan.”, ujar Dinda langsung membuka pintu mobil dan mengendap - endap berjalan menuju lift.
Arya hanya tersenyum. Setelah Dinda berada dekat dengan lift, Arya baru turun dari mobil. Tak lupa dia juga mengambil tasnya.
Dinda sudah menekan tombol naik namun liftnya belum juga tiba. Arya sudah keburu berada di belakangnya. Dinda tidak ingin menoleh dan mengaktifkan mode ‘Intern’ nya di kantor. Arya juga tidak memberikan interaksi apa - apa lagi pada Dinda karena sepertinya dia melihat ada seseorang yang akan berjalan menuju lift.
“Arya!.”, panggil orang tersebut yang ternyata adalah Erick.
Arya sedikit terkejut tetapi tetap memasang wajah super cool-nya. Dia kira yang tadi dia lihat adalah karyawan divisi lain, tapi ternyata malah Erick.
“Pagi, Pak.”, sapa Dinda dengan suara yang sangat pelan karena dia juga terkejut namun berusaha bersikap biasa. Erick membalas sapaan Dinda dengan senyuman.
“Sejak kapan parkiranmu pindah?”, tanya Arya berusaha santai.
“Tidak. Parkiranku tidak pernah pindah.”
“Lalu, kenapa kamu berjalan dari arah sana? Kamu baru datang?”
“Bukankah aku selalu berjalan dari arah sana. Tidak, aku hanya mengambil barangku yang tertinggal.”, jawab Erick heran dengan pertanyaan Arya.
“Apa kamu masih mabuk?”, Erick lanjut bertanya.
Arya memberikan tanda pada Erick bahwa ada orang lain disana seolah Arya mengindikasikan Dinda sebagai orang lain.
“Ah.. sorry. Din, tumben telat? Terus, setahu saya kamu naik kendaraan umum, kenapa dari sini? Ada yang nebengin kamu?”, tanya Erick dan sontak membuat Dinda kebingungan mencari jawaban.
“Ohm.. saya tadi mau ke mini market yang di Basement 2, Pak. Tapi malah nyasar kesini. Hhehe.”, akhirnya Dinda langsung mendapatkan alasan.
“Hm…”, Erick hanya mengangguk - angguk saja. Pintu lift terbuka dan mereka masuk.
Sepanjang perjalanan ke atas, Erick dan Arya terus membahas soal bisnis. Dinda merasa tenang dan lega karena Erick tidak menaruh rasa curiga atau bertanya apa - apa saat melihat mereka berdua di depan lift.
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga area Divisi Dinda. Arya juga tidak melewati jalan biasanya menuju ruangannya karena obrolan mereka sepertinya belum selesai. Dinda berjalan lebih dulu. Begitu sampai di tempat duduknya, Delina dan beberapa orang melihatnya karena ini kali pertama Dinda terlambat lebih dari sejam.
Tapi, perhatian mereka langsung mengarah pada Arya yang muncul bersama Erick. Mereka terlihat sedang mengobrol serius. Dinda juga melihat dengan jelas ekspresi Suci. Perhatiannya langsung tertuju pada Arya saat Arya muncul dari arah penglihatan mereka.
‘Mba Suci, segitunya sekali melihat mas Arya. Padahalkan dia sudah punya pacar.’, tanpa Dinda sadari, dia sudah mengomel sendiri dalam hati.
‘Heh.. mas Arya memang pria dengan sejuta daya tarik. Apalagi kalau di kantor. Mendengar dia berdiskusi bisnis dengan intens saja sudah membuat jantungku tidak aman. Kenapa hari ini dia jadi sangat menarik?’, batin Dinda dalam hati.
Tiba - tiba Dinda kembali teringat yang mereka lalui semalam. Wajahnya langsung memerah.
‘Tidak. Tidak. Apa yang sudah aku pikirkan. Ah.. Dinda. Sadar. Sadar.’, Dinda menggoyang - goyangkan kepalanya sedikit seolah - olah berusaha sadar dari lamunannya.
“Kamu kenapa Din?”, tanya Delina yang sedari tadi menyaksikan Dinda melamun sambil melihat ke arah Arya dan Erick.
“Oh.. Eh?.. Kenapa mba?”, ujar Dinda terkejut.
“Kamu dari tadi ngapain melamun? Kamu takut Erick memarahimu karena telat?”, Tanya Delina. Dia bingung dengan Dinda yang tiba - tiba nge blank sambil melihat ke arah Arya dan Erick.
“Tenang saja. Pak Erick juga baru datang, kok. Tumben - tumbennya dia dan pak Arya terlambat.”, kata Delina sambil berbisik.
“Pak Erick baru datang? Bukannya dia sudah datang lebih dulu dari tadi?”, tanya Dinda memastikan.
__ADS_1
“Enggak. Aku yang paling pagi datang dan tidak melihat pak Erick sama sekali.”, jawab Delina.
‘Aneh. Bukannya tadi saat bertemu mas Arya dia bilang dia bukan baru datang?’, pikir Dinda dalam hati.