Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 83 Pertemuan tak Terduga


__ADS_3

Tak terasa, sore menjelang dan acara lamaran Reza, sepupu Arya dari sisi papanya akan segera dimulai. Semua keluarga sudah berkumpul di bangunan utama Villa. Mereka baru saja berkumpul sempurna sekitar 10 menit yang lalu dan sedang menunggu yang punya hajat untuk membuka acara.


Tante Indah benar - benar All Out, selain menggunakan EO untuk acara lamaran ini, dia juga menghadirkan MC khusus sehingga pihak keluarga benar - benar dibuat seperti liburan. Mereka datang dan menikmati rangkaian acara. Sejauh ini, acara lamaran Reza menjadi yang paling meriah di keluarga Kuswan.


“Meriah banget acara lamarannya.”, ujar Gita. Ia duduk bersama dengan Dinda dan juga Fams. Setidaknya, diantara semua keluarga, mereka yang memiliki usia sepantaran. Ada anggota keluarga perempuan lainnya, tetapi mereka yang paling akrab.


“Tapi, aku lebih suka suasana pernikahan mba Dinda dan mas Arya kemarin. Lebih intimate.”, balas Fams.


“Iya juga sih. Sayang ya, waktu itu aku sedang banyak pikiran, jadi tidak sempat menyapa mba Dinda begitu akrab.”


“Haha.. panggil Dinda saja. Sejujurnya aku tidak pernah berada di acara keluarga sebesar ini. Keluargaku tidak sebesar keluarga mas Arya, jadi hal - hal seperti ini menyenangkan buatku.”, ungkap Dinda tiba - tiba kepada keduanya.


“Hm..belum lihat betapa riwehnya sih.”, ujar Fams lagi.


“Mas Reza dan calon istrinya ini kan dijodohkan juga. Tapi vibesnya beda yah sama Dinda dan mas Arya.”, ujar Gita mengeluarkan pendapatnya.


Gita tidak sadar, dia baru saja membangunkan singa yang sedang tidur alias Fams. Dia yang saat ini memang sedang tidak suka dengan calon istri mas Reza jadi panas untuk berkomentar.


“Kalo mba Dinda kan dulu malu - malu. Adem melihatnya. Calonnya mas Reza agresif banget. Baru aja bertemu sekali, sudah main jalan aja.”, Fams kembali curhat.


“Mungkin orang beda - beda, Fams. Semoga calon istrinya mas Reza bisa jadi teman buat kamu ya. Jangan galak - galak, nanti dia takut, loh.”, ujar Dinda pada Fams.


Fams masih saja merengut karena dia masih belum bisa menerima pengkhianatan kakaknya. Setidaknya begitu kata yang diungkapkan oleh Fams kepada Reza.


“Acaranya belum dimulai kan? Aduh, perut aku tiba - tiba gak enak. Aku ke belakang dulu, ya.”, ujar Dinda pada keduanya.


Pagi tadi, dia merasa biasa saja. Bahkan Dinda sudah menghabiskan waktu bersama melihat sunrise dengan yang lainnya. Tetapi, sejak menyantap makanan rekomendasi Fams siang ini di sebuah tempat makan, Dinda merasa perutnya jadi tidak enak.


Dinda memilih untuk menggunakan kamar mandi di kamarnya ketimbang menggunakan toilet di ruang utama. Karena, Dinda juga ingin merapikan kembali kain jariknya. Sepertinya acaranya juga belum dimulai karena calon mempelai juga masih berhias.


“Aduh, perut aku kenapa sih. Padahal sudah terbiasa makan pedas tetapi kenapa belakangan jadi rentan sakit perut ya.”, ujar Dinda begitu dia selesai dengan bisnisnya di kamar mandi.


Dinda kembali memasang jariknya di depan cermin agar lebih mudah. Tak lupa dia memberikan touch - up kepada make-upnya. Dinda memeriksa kembali apakah ada barang yang tertinggal sebelum kembali keluar dan tidak lupa menutup pintu.


Dinda sedang menuruni tangga kamar villa yang dia tempati. Kamar Villanya terletak beberapa meter dari villa utama. Setiap kamar seperti rumah mini yang tersebar di sekeliling villa utama. Ada sekita 15 kamar Villa disini. Sebelum sampai ke pintu, ada 5 buah anak tangga terbuat dari kayu yang harus dinaiki.


Sehingga, Dinda sekarang sedang kesulitan untuk menuruninya dengan menggunakan jariknya. Tadi, Arya lah yang membantunya untuk turun agar tidak terjatuh.


“Mau dibantu?”, tiba - tiba ada suara seseorang dari samping kamar villa yang menawarkannya bantuan. Dinda terkejut karena ternyata orang tersebut adalah mas Edo. Salah satu sepupu Arya yang tadi pagi.


“Enggak mas. Terima kasih, saya bisa kok.”, jawab Dinda berusaha menolak dengan sopan.


“Gapapa. Kamu kan sudah menikah dengan Arya, berarti sekarang kamu juga sepupu saya.”, ujar Edo sudah mengulurkan tangannya di anak tangga kedua untuk membantu Dinda turun.


“Engga, makasih mas Edo. Gak enak kalau ada yang lihat.”, balas Dinda yang mulai menolak tegas.


“Loh, memangnya kenapa? Saya dulu juga akrab loh dengan istri Arya yang pertama.”, ujar Edo. Perkataannya kali ini sudah membuat Dinda tidak nyaman.


“Maaf, mas. Saya bisa sendiri, kok.”, Dinda berusaha menuruni tangga dengan cepat agar dia segera permisi dan terbebas dari Edo. Tetapi rupanya situasi tidak berpihak padanya. Karena terburu - buru, Dinda tidak memperhatikan anak tangga yang sedang dia turuni dan kakinya kehilangan keseimbangan.


Edo dengan sigap menangkap tubuh Dinda dengan memegang tangannya dan menahan tubuhnya. Sadar akan posisinya yang mungkin bisa disalah artikan orang lain, Dinda segera melepaskan tangan Edo dan menuruni sisa tangga satu lagi.


“Hati - hati. Kan tadi saya sudah menawarkan bantuan. Kamu sih yang ga mau.”, ujar Edo pada Dinda yang sudah berjalan meninggalkannya.


“Dinda, kamu pikir kamu bisa dapat apa dengan bersikap sok setia seperti ini? Arya hanya mencintai satu orang, Sarah. Kamu hanya mainannya.”, kata Edo sambil menyeimbangi jalan Dinda yang sedikit terhambat karena rok jarik yang dia kenakan.


“Mas Edo, saya menghormati mas sebagai sepupu mas Arya. Saya mohon jaga kata - kata mas.”, balas Dinda dengan tegas.


“Sebentar lagi, kamu akan tahu yang aku maksud. Nikmati saja sentuhan manis Arya selagi kamu bisa. Setelahnya, jika kamu butuh pelarian, aku siap menerima kamu.”, ujar Edo sebelum mempercepat langkahnya dan berjalan meninggalkan Dinda yang terdiam di tempatnya.


Perasaan Dinda pagi ini saat melihat Edo tak salah. Dia yakin ada hal yang tidak baik dari pria ini. Tatapan mas Arya pagi ini saat melihatnya juga tidak menyenangkan.


‘Aku harus hati - hati dengan dia. Sepertinya dia bukan pria yang baik.’, Dinda segera melangkahkan kakinya menuju aula utama dan mencari Arya. Acara sudah mau dimulai tetapi Dinda seperti tidak fokus lagi pada acara itu. Dia merasa tidak senang karena perlakuan Edo tadi.


‘Itu mas Arya.”, Dinda melihat Arya sedang mengambil minuman di sebelah kiri aula.


Dinda segera mendekatinya dan menggamit tangannya.


“Ngapain kamu?”, Arya merasa bingung karena tidak biasanya Dinda melakukan skinship seperti ini apalagi sedang banyak anggota keluarganya.


Dinda hanya menggeleng. Sekarang dia berusaha menggeser outer yang dikenakan Arya, agar dia bisa memasukkan tangannya memeluk pinggang Arya. Disaat Dinda berpose seperti itu, Dito yang melihat kesempatan emas langsung mendekat.


Ceklek Ceklek


Dito yang sedari tadi lelah menunggu objek fotonya segera memotret Dinda dan Arya yang sedang mesra serasa aula milik berdua.

__ADS_1


“Kamu kenapa?”, tanya Arya pada Dinda. Dia membiarkan Dinda melakukan apa yang diinginkannya, namun dia juga penasaran pada Dinda. Gadis itu tidak biasa melakukan hal seperti ini.


Dinda hanya menggeleng, “Pinjam badannya sebentar.”


“Kamu kira saya barang dipinjam - pinjam.”, balas Arya.


“Pelit.”, balas Dinda dan langsung melepaskan pelukannya.


Arya mengarahkan mulutnya berbisik ke telinga Dinda.


“Nanti malam ya.”, ujar Arya pada Dinda bermaksud untuk menjahilinya.


“Ih mas Arya genit. Bukan itu maksudnya.”, kata Dinda.


“Eh.. ‘Itu’ apa?”, Arya kembali menjahilinya lagi.


“Hm? Itu.. Ah mas Arya.”, Dinda mendadak malu dan mau meninggalkan Arya.


“Mas Arya.. salut juga sama perkembangannya.”, ujar Dito sebelum kembali mengambil posisinya karena sepertinya acara akan segera dimulai.


Arya mengejar Dinda dan menariknya.


“Ikut saya.”, perintah Arya pada Dinda.


“Tapi mas, acaranya kan mau dimulai.”, protes Dinda.


“Udah.. banyak kok saudara yang lain, tidak akan ketahuan kalau kita gak ada disana.”, balas Arya yang menggiring Dinda ke sebuah sisi kanan villa utama. Disana ada sebuah ruangan.


“Memangnya kita mau ngapain?”, kata Dinda merasa aneh dengan sikap Arya.


Begitu Arya dan Dinda tiba dan masuk ke ruangan itu, Arya menutupnya dari dalam. Arya mendorong Dinda ke belakang pintu agar pintu tidak terbuka. Selanjutnya, dia segera mencium gadis itu lembut.


“Hmphhh..”, Dinda hanya bisa mengikuti alur pergerakan Arya yang sama sekali tidak bisa dia prediksi.


“Salah kamu sendiri sudah main peluk - peluk saya.”


“Tapi kan…”, kalimat Dinda sudah terlanjur terpotong karena Arya sudah lanjut menciumnya lagi.


Hampir 5 menit lebih berlalu setelah aktivitasnya yang sangat tiba - tiba. Arya melepaskan bibirnya dan memberikan kesempatan pada Dinda untuk menarik nafasnya. Dinda terengah - engah namun perlahan berhasil mengatur nafasnya kembali.


Saat Dinda mendongak ke atas untuk melihat Arya, Dinda tertawa kecil melihat wajah pria itu.


“Kenapa kamu.”


“Bibir mas Arya. Bersihkan dulu pakai ini.”, ujar Dinda memberikan tisu basah pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.


“Lihat nih.”, saat Dinda memberikan ponselnya agar Arya tahu bagaimana bentuk bibirnya sekarang.


“Kamu itu pakai lipstik apa pakai cat tembok sih? Kok bisa nempel nya parah begini?”, ujar Arya.


Dinda tak bisa menahan tawanya lagi.


“Untung aja aku sadar, kalau nggak, mas Arya pasti sudah ditertawai yang lain.”, ujar Dinda.


“Sini aku bantu bersihin.”, kata Dinda menawarkan bantuan.


“Gak. Nanti kamu bisa saya cium lagi dan kita gak akan bisa keluar dari ruangan ini.”, kata Arya.


“Sebentar lagi, kamu akan tahu yang aku maksud. Nikmati saja sentuhan manis Arya selagi kamu bisa. Nanti, jika dia sudah memutuskan kembali pada Sarah, aku siap menjadi tempat pelarianmu.”,


Perkataan Edo barusan kembali terngiang di kepala Dinda. Dinda langsung memeluk Arya tiba - tiba dan mencium dada bidang pria itu. Karena jika Dinda berdiri sejajar dengan Arya, kepalanya hanya akan bisa menyentuh dada pria itu saja.


“Mau lanjut nih?”, canda Arya.


“Ihh mas Arya. Udah ah. Acaranya sudah mulai mas, hayuk balik.”, kata Dinda sambil melepaskan pelukannya.


*****


Disisi lain, acara sudah dimulai. Pihak perempuan dan laki - laki berjalan bersamaan ke area lamaran di bagian tengah. Dekorasi dengan tema alam menghiasi bagian depan. Tak lupa beberapa pernak - pernik dan barang - barang lamaran sudah tersusun rapi di bagian kiri dan kanan.


Mulai dari seperangkat alat sholat, tas, skin care, dan beberapa barang lainnya. Semua dikemas dengan tema hijau alam.


“Ibu dari calon mempelai pria memberikan bisa memasangkan cincinnya ke jari manis calon mempelai wanita…..”, MC sudah mulai memberikan instruksi. 


Dua orang anak kecil yang juga merupakan sepupu membawa baki cincin yang akan dipasangkan. Acara berlangsung dengan khidmat selagi Arya dan Dinda juga khidmat dengan aktivitasnya sendiri di ruangan lain.

__ADS_1


“Dinda kemana sih? Perutnya sakit banget, ya sampai selama itu ke kamar mandi.”, ujar Gita bertanya pada Fams.


“Perasaan tadi aku sudah melihat mba Dinda kembali, tapi kok ga ada ya sekarang.”, Fams celingak celinguk kebingungan.


“Okee.. sekarang kita lanjut foto - foto, ya. Fotografer, sudah siap? Okee.. atur posisinya….”, MC sudah mengarahkan keluarga untuk segera mengambil posisi foto. 


Pertama tentu saja dari pihak keluarga inti terlebih dahulu. Kemudian baru dilanjut dengan keluarga besar. Masing - masing mengucapkan selamat terlebih dahulu sebelum kemudian mengambil tempat. Seolah acara ini sudah berkali - kali mereka hadiri, masing - masing anggota sudah tahu dimana posisi mereka.


“Arya mana? Kayanya belum ada. Kalau bisa di bagian tengah soalnya dia kan pengantin baru biar bagus kelihatan fotonya.”, ujar Tante Indah mengusulkan.


“Arya? Mana nih si Arya.”, tante Meri ikutan mencari karena belum ada suara terdengar dari Arya.


“Nah itu dia..”, ujar Gita dan Fams bersamaan saat melihat Arya dan Dinda keluar dari arah sebelah kiri jika dilihat dari sisi mereka berdiri.


Sadar bahwa banyak mata yang memperhatikan kehadiran mereka, Arya dan Dinda mempercepat langkahnya. Arya memegang erat Dinda agar gadis itu tidak terjatuh karena heels dan kain jarik yang sedang ia kenakan.


“Kalian ini kemana sih? Sibuk sendiri.”, omelan tante Meri yang dahsyat membuat yang lain tersenyum.


“Maklum mba, pengantin baru.”, seseorang berkomentar yang membuat anggota keluarga lainnya bersorak.


Dinda hanya bisa tersenyum malu dan Arya dengan santainya memasang wajah sok coolnya.


“Udah buruan mas Arya.”, ujar Dito dari bawah yang sudah sibuk mengatur kameranya agar bisa mengambil gambar secara otomatis karena dia juga tak ingin ketinggalan masuk frame.


“Itu siapa mas?”, calon istri Reza berbisik di telinganya. Saat tante Meri dan tante Indah mencari - cari Arya dan Dinda, saat Arya dan Dinda sudah terlihat dan menarik perhatian yang lain, saat Arya dan Dinda mendekat, ada satu orang yang terkejut dan shock pada apa yang dilihatnya. Dia adalah calon istri Reza, Bianca.


“Oh, itu sepupu aku juga, mas Arya dan istrinya Dinda. Mereka baru saja menikah sekitar tiga bulan yang lalu. Mungkin hampir empat bulan.”, jawab Reza sambil berbisik disampingnya. Mereka juga ikut berpose tatkala Dito memberikan aba - aba.


“Istri? Dinda? Tiga bulan yang lalu?”, Bianca memastikan kembali apa yang dia lihat dengan apa yang dia dengar.


Tadi, dari kejauhan saat pasangan itu muncul, Bianca tidak begitu memperhatikan. Namun begitu calon mertuanya tante Indah memanggil dan dilanjutkan dengan tante Meri, perhatiannya tertuju pada pasangan itu.


Tentu saja, dia melihat ke arah Arya terlebih dahulu. Dia hanya biasa saja karena mengetahui Arya mungkin adalah salah seorang dari banyak sepupu Reza yang hadir saat itu. Namun, perhatian Bianca lantas mengarah pada sosok wanita disampingnya.


Bianca seperti mengenal wanita itu. Dari jauh dia tampak tidak yakin, namun begitu tante Meri memanggil wanita itu dengan nama Dinda, mata Bianca langsung membulat. Dia juga sulit mengkondisikan mulutnya karena saking terkejutnya, mulutnya terbuka dan tangannya secara refleks menutup mulutnya.


Bianca terkejut karena wanita yang dia lihat beberapa meter darinya adalah Dinda, sahabatnya sendiri. Orang yang minggu lalu baru saja dia hubungi karena ingin memberitahukan perihal acara lamarannya.


“Iya. Istri mas Arya, namanya Dinda. Mas Arya sama aku beda beberapa tahun aja. Dia anaknya kakak dari mamaku. Mungkin nanti kamu bisa akrab sama Dinda karena dia orangnya baik kok.”, ujar Reza menjelaskan di sampingnya.


Sementara yang lain sedang sibuk untuk berpose, satu dua tiga, mengubah gaya, formasi, dan lain sebagainya.


“Nah, sekarang Arya sama Dinda ya.. Foto sama Reza dan Bianca. Berhubung pasangan pengantin baru, harus di highlight.”, ujar tante Indah bersemangat. Keluarga yang lain langsung turun dari jangkauan frama dan bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersedia.


Arya langsung menghadap ke belakang menggandeng Dinda. Dia baru sadar bahwa sedari tadi dia belum memberikan ucapan selamat pada Reza dan calon istrinya atas acara lamaran mereka sore ini.


“Yuk, sayang.”, ujar Arya pada Dinda. Sejujurnya Dinda masih belum terbiasa mendengar kata ‘Sayang’ dari Arya. Pria itu juga hanya kerap menggunakannya saat pertemuan keluarga seperti ini.


Perhatian Dinda masih ke arah yang lain karena Gita dan Fams juga mengajaknya berbicara. Lebih tepatnya mereka kepo dari tadi Dinda kemana. Banyak pertanyaan yang mereka layangkan, lalu tak lama tante Indah juga memanggil. Dinda hanya tersenyum ke tante Indah lalu pandangannya seolah tertutup dengan tubuh kekar Arya.


“Selamat ya Reza.”, ucap Arya pada Reza.


Begitu Arya melepaskan tangannya dan berbelok untuk menyalami Reza, perhatian Dinda baru tertuju pada Bianca. Persis seperti ekspresi yang ditunjukkan oleh Bianca, Dinda juga merasa terkejut pada apa yang dia lihat di depannya.


“Bianca?”, kata Dinda pelan. Suaranya jelas tak terdengar oleh orang di sekitarnya termasuk Arya. Namun Bianca bisa membaca gerakan mulut Dinda yang terkejut melihatnya disitu.


‘Bianca? Jadi, Reza yang dikatakan Bianca di hotel waktu itu adalah mas Reza, sepupu mas Arya?’


“Sayang.”, panggil Arya pada Dinda dan memberikan kode melalui matanya untuk memberikan ucapan selamat.


Tidak hanya Dinda, Bianca juga terkejut mendengarnya.


“Oh.. Selamat ya mas Reza.”, Dinda bingung harus bersikap seperti apa, begitu pula dengan Bianca. Disaat mereka masih bingung, Dito dan tante Meri sudah mengarahkan mereka untuk segera berfoto.


“Sayang, kamu berdiri disana.”, ujar Arya pada Dinda.


Dinda akhirnya berjalan ke samping Bianca.


“Dinda? Kamu?”, ujar Bianca yang masih bingung dan menghadap ke arah Dinda. Begitu pula sebaliknya.


“Okee.. mba Bianca, mba Dinda, hayuk menghadap ke kamera. Sini.. satu - dua - tiga. Oke.. lanjut lagi ya. Satu - dua - tiga.”, mereka mengambil sebanyak empat pose.


“Okee… Arya sama Dinda mau foto berdua ga?”, goda tante Indah.


“Pada ngapain sih tadi disana. Kalian ini, tante sadar sih, kalian masih pengantin baru, tapi yaa.. Gak gitu juga dong Arya. Siang bolong, loh.”

__ADS_1


“Haha tante salah paham. Kita tadi cuma..”, ujar Dinda yang sudah mau ngeles.


“Maaf ya tante, sudah tidak sabar soalnya tadi.”, Arya menjawab dengan ambigu. Alhasil, tawa tante Meri dan tante Indah pecah.


__ADS_2