Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 21 Umpan Bagian 1


__ADS_3

Malam itu benar - benar jadi pengalaman aneh dan memalukan buat Dinda. Dia mengutuk dirinya kenapa mengiyakan ajakan Inggit. Dua ibu - ibu ini begitu heboh di toko lingerie. Inggit berhasil memilihkan 5 helai lingerie yang langsung dipajang di dalam lemari pakaian Arya dan Dinda.


Seolah tahu dengan isi kepala Dinda, Inggit mewanti - wanti Dinda untuk tidak menyembunyikan lingerie ini. Dinda hanya bisa mengiyakan pelan. Dia seperti ada di dua kubu yang membuat maju mundur kena. Dinda hanya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika pak Arya melihatnya.


Hari minggu yang ditunggu - tunggu oleh orang satu rumah kecuali dirinya akhirnya datang. Meskipun Arya sering melakukan perjalanan ke luar kota atau luar negeri, kepulangannya hari ini berbeda. Arya sudah beristri dan mereka sangat girang dengan apa yang menurut mereka akan terjadi kedepannya.


Sore ini sangat cerah. Mereka menunggu di Terminal kedatangan luar negeri. Kalau melihat jadwal kedatangan pesawat, nomor penerbangan Arya seharusnya akan tiba 10 menit lagi. Jika diperkirakan dengan pemeriksaan barang dan hal - hal lain, Arya akan keluar 30 sampai 40 menit lagi.


Dan benar, sesuai dugaan, Arya memang muncul dari pintu kedatangan 40 menit kemudian. Dia mengenakan kemeja polos warna putih dengan celana jeans biru. Arya juga memakai topi hitam di kepalanya, lengkap dengan kacamata hitam. Ia menyeret sebuah troli yang berisi satu koper besar dan satu tas sandang.


Dinda baru pertama kali ini melihat penampilan Arya yang begitu casual. Dari kejauhan, Arya terlihat sangat memukau. Apalagi dia melambai ke arah Inggit dan Kuswan. Seketika Dinda merasa seperti orang asing. Dia kembali melihat sosok pak Arya, kepala divisi sebelah yang saat ini juga memegang kendali divisinya.


Rasa canggung semakin menyerang saat jarak antara mereka sudah semakin dekat. Arya menyapa mama dan papa nya, kemudian Ibas dan kedua keponakannya (anak - anak Andin, kakak perempuan Arya).


Sampai saat Arya mengarahkan pandangannya pada Dinda. Gadis itu langsung diam seperti es. Dia bingung harus melakukan apa. Arya berjalan ke arahnya dan memeluknya.


“Kamu apa kabar?”, Arya bertanya dengan suara baritonnya. Dinda langsung tersadar dari lamunannya dan menjulurkan tangan ke arah Arya bermaksud untuk bersalam. Arya mengerti dan menyambutnya.


Kuswan langsung mengajak mereka segera masuk ke dalam mobil. Arya berjalan sambil merangkul Dinda. Hal ini membuat Dinda canggung, bingung, dan hanya bisa mengikuti.


Kuswan, Inggit, Arya dan Dinda berada dalam satu mobil yang dikendarai oleh supir mereka. Sedangkan Andin bersama dua anaknya ikut mobil Ibas. Mereka segera melaju menuju sebuah restoran dekat pantai yang sudah di reservasi sebelumnya.


“Gimana urusan kamu, Arya? Lancar?”, Kuswan membuka obrolan.


“Lancar pa. Klien deal. Bulan depan mereka akan ke Indonesia untuk memulai bisnis.”, jawab Arya santai sambil berusaha membuka kemejanya.


Sepertinya dia kegerahan. Didalamnya dia masih mengenakan kaos oblong lengan pendek yang seketika memperjelas rentetan tubuh atletisnya.


Sebuah pemandangan yang baru pertama kali Dinda lihat dari seorang Arya. Mereka lebih sering berinteraksi dalam redupnya lampu kamar Arya.


“Kamu kan sudah menyelesaikan proyek kamu. Sekarang lanjut untuk mengerjakan proyek di rumah ya?”, kata Inggit.


“Proyek apa ma? Taman lagi?”, kata Arya bingung.


“Kamu kan belum sempat bulan madu. Masa baru nikah, istrinya langsung ditinggal ke luar negeri?”


“Aku udah obrolin ini sama Dinda, kok ma. Kita masih harus tunda bulan madunya. Proyek ini baru deal, belum selesai. Dinda juga baru masuk jadi intern, dia harus fokusin supaya bisa jadi permanent staff.”, jawab Arya yang langsung dibalas raut wajah tidak puas dari Inggit.


“Bulan madu kan cuma …”.


“Ya sudah gpp ma. Poin terpenting sekarang Arya sudah punya tanggung jawab baru yaitu, Dinda. Dia sudah harus fokus menata kembali hidupnya. Perkara mau bulan madu kapan, gampang. Nanti sesuai kata Arya, menjelang proyek selesai, mereka bisa agendakan bulan madu.”, Arya nampak puas dengan jawaban Kuswan.


Dalam hati, Dinda tampak berpikir. ‘Sejak kapan pria ini mendiskusikan hal itu dengannya. ‘Ngarang. Bicara saja hampir gak pernah’, tapi berhubung keputusan ini menguntungkannya, Dinda diam saja.


“Tapi Arya, kamu tetap harus agendakan liburan singkat. Dekat - dekat aja. Di puncak saat weekend, misalnya. Kalian kan dijodohin, bonding seperti ini sangat penting untuk saling kenal satu sama lain.”


“Iya ma, nanti Arya agendakan setelah suasana di kantor lowong. Lagian, bonding - bonding ga perlu sampai ke Puncak. Di rumah juga bisa.”


“Beda dong Arya, kalo di rumah kan banyak gangguan. Kalo di puncak, kalian bisa lebih fokus.” ujar Inggit.


Mamanya memang tidak ada tandingannya kalau berdebat. Akhirnya Arya hanya mengiyakan.


“Ehem …ehem.”, Dinda merasa tenggorokannya langsung kering mendengar pembicaraan mertua dan Arya, suaminya.

__ADS_1


Di restoran.


“Ayok, langsung dipesan aja. Mau apa aja, malam ini papa yang traktir.”, kata Kuswan bersemangat.


Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran di pinggir laut. Makanan seafood menjadi favorit Kuswan.


“Beneran pa? Wah.. emang papa menang jackpot?”, kata Ibas yang tidak kalah bersemangat.


Matanya sudah menerawang ke berbagai menu seafood yang ia suka. Sepertinya malam ini dia akan pesan kerang dara, cumi, dan lobster bakar.


“Hitung - hitung kita merayakan pernikahan Arya dan Dinda. Akhirnya papa punya menantu.”, kata Kuswan lagi dengan ekspresi tidak kalah heboh dari tadi.


Sejujurnya ini adalah pemandangan pertama yang Dinda lihat sejak masuk dan resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Biasanya ekspresi wajah papa sangat tegang. Bahkan Dinda takut untuk mendekatinya atau hanya sekedar memulai obrolan. Hanya bersama Inggit ia bisa coba membaur dengan Kuswan.


“Ehem .. bukannya udah pernah punya menantu ya, pa.”, kata Andin asal.


Dia sedikit merasa cemburu karena papa begitu membesar - besarkan pernikahan Arya. Ia merasa dinomorduakan.


Padahal situasi mereka bisa dibilang mirip. Ia sudah bercerai dan sedang dekat dengan seseorang. Tetapi setiap dia mau memulai pembicaraan, Kuswan selalu menghindar.


“Andin..”, tegur Inggit sambil menggelengkan kepala..


Ekspresi Arya sedikit terpengaruh dengan kata - kata Andin. Andin termasuk orang yang tidak suka dengan keberadaan Sarah, mantan istrinya. Arya merasakan kecemburuan itu bahkan hingga saat ini.


“Kamu mau apa?”, kata Arya mendadak mengalihkan pandangannya pada Dinda yang sedari tadi sibuk melihat - lihat menu.


Dia bahkan tidak begitu memperhatikan pembicaraan mereka. Begitu menu datang, ia tampak terkesima. Tidak hanya karena dia juga sangat suka seafood, tetapi menu - menu yang ditampilkan menggugah selera. Porsinya besar, harganya juga lumayan. Dia jadi bingung harus memilih yang mana.


“Saya tanya kenapa malah balik nanya?”, suara Arya dan Dinda sangat pelan. Sehingga yang lain tidak mendengar mereka.


“Saya ikut pak Arya aja.”, kata Dinda sambil menaruh kembali menunya di meja.


‘Kalau pergi ke sini sendiri, atau bareng geng kantor, aku mungkin bisa khilaf. Kayanya menunya enak, tapi harganya mahal. Bingung mau pesan apa.’, bathin Dinda dalam hati.


“Pilih kamu mau apa. Kalau kamu merasa tidak enak, pilih minimal tiga menu. Papa paling gak suka basa basi.”, kata Arya sambil mengambil menu yang diletakkan Dinda tadi kembali ke tangannya.


“Ehm.. saya pilih cumi bakar yang setengah porsi, lobster bakar saus madu, sama kepiting rebus.”, akhirnya Dinda memesan juga.


“Dari tadi gitu kan bagus. Gak bikin waiternya nunggu lama. Mba, saya pesen cumi dan udang bakar digabung jadi satu. Jangan lupa dikasih saus barbequenya ya. Terus saya mau kepiting rebusnya dicampur sama kerang dara, trus dalemnya kalo bisa kasih sayur ya mba. Yang mana aja terserah. Trus saya mau lobster bakarnya dua.”, ‘Banyak banget pesanan dia. Kaya abis puasa tujuh hari aja’. Dinda hanya mampu membatin sekaligus melongo mendengar pesanan Arya.


“Kamu pake nasi ga?”, kata Arya kembali menanyakan. Tapi, Dinda masih bengong.


“Heh… kamu pake nasi ga?”, tanya Arya lagi.


“Ahh? Engga mas, eh Pak.. gak pake nasi. Udah itu aja.”, kata Dinda kaget.


“Itu aja ya mba.”, kata Arya.


“Pa, kita sudah selesai pesan. Aku tinggal dulu ya. Aku mau telpon orang kantor dulu.”, Arya nyelonong keluar. Tak sendiri, Arya juga ikut menarik Dinda keluar.


“Iya Ci, ada apa?”, ‘ternyata orang yang menelepon itu adalah mba Suci’, bathin Dinda.


“Iya saya sudah balik. Ada apa?”, tanya Arya.

__ADS_1


Dinda tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Suci karena Arya menjaga jarak darinya saat menerima telepon. Dinda juga paham dan membiarkannya menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Meski, Dinda bingung mengapa Arya juga ikut menariknya keluar.


“Oke. Saya kira ada yang harus dibicarakan terkait proyek. Baik, kalo begitu see you tomorrow, ya. Sorry, maksud saya see you on Wednesday. Besok saya sudah ajukan cuti karena mau istirahat total. Rabu kita meeting ya. Selasa saya masih belum bisa diganggu karena meeting full seharian.”, jelas Arya.


‘Hm besok dia cuti.’, simpul Dinda dalam hati. Dia senang karena besok dia tidak akan melihat pak Arya di kantor.


“Oke, bye.”, Arya menutup telponnya dan langsung berbalik ke arah Dinda.


“Sini hape kamu.”, kata Arya to the point.


“Kenapa, Pak?”


“Bisa gak sih, gak usah banyak tanya. Saya bilang sini, ya sini.”, kata Arya sedikit menegaskan suaranya.


“Ini, pak.”, Dinda memberikan ponselnya. Dia membuka passwordnya terlebih dahulu sebelum memberikannya.


“Arya menekan beberapa tombol yang tidak dapat dilihat oleh Dinda. Arya lebih tinggi 20 cm dari Dinda, jadi layar ponselnya sudah jauh dari jangkauannya.


“Ini nomor hape saya. Sudah sekalian dengan WhatsApp. Saya punya dua hape. Satu buat keperluan kantor dan satu lagi untuk urusan pribadi. Tentu saja untuk urusan kantor saya gak kasih kamu karena unless saya ada berhubungan dengan kamu di kantor, saya gak kasih. Ingat, nomor hp pribadi saya tidak semua orang kantor tahu, jadi hati - hati.”, jelas Pak Arya sambil memberikan ponsel tadi padanya.


Dinda langsung menyimpan nomor itu. Nama, dia masih bingung sebenarnya harus menuliskan apa, dia hanya menulis ‘Pak A’ saja.


“Kamu coba telpon saya.”


“Kenapa, pak? Kan Bapak disini.”


“Saya kan sudah berikan nomor saya ke kamu. Saya juga harus simpan nomor kamu, dong. Itu aja lemot, kamu masuk ke Company kita gimana sih caranya?”, bentak Arya.


“Iya Pak, maaf saya gak kepikiran sampai sana. Udah saya miscall Pak. Di WhatsApp juga sudah saya ‘ping’.”


“Oke. Yaudah, kita balik sekarang. Keburu makanannya datang.”


Akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan pesta Seafood. Kuswan tampak sangat bahagia setelah puasa seafood selama dua bulan lebih sejak terakhir kali dia masuk rumah sakit.


Ibas sudah beberapa kali menambah porsi lobsternya. Malam ini dia bertekad untuk membuat papanya jatuh miskin. Kedua keponakan Arya juga sudah mengantuk karena kekenyangan. Mereka langsung tertidur begitu sampai di dalam mobil.


Perjalanan pulang dilewatkan dengan keheningan. Sesekali pembicaraan muncul karena ada beberapa pengendara yang menyalip jalan, pedagang asongan, sampai beberapa titik kemacetan.


Dinda tampak tertidur kemudian terbangun lagi. Dia sudah sangat mengantuk karena semalaman begadang menyaksikan drama korea favoritnya yang sudah sampai episode terakhir. Seketika Dinda teringat bahwa beberapa lingerie masih ia letakkan di atas kasur.


Tadinya dia iseng melihat lingerie itu karena di dalam cerita drama korea yang ia tonton membahas itu. Dia jadi penasaran dengan model - model yang dibeli Inggit. Bi Rumi juga memaksa Dinda untuk buru - buru turun ke bawah karena orang - orang sudah siap berangkat.


‘Bagaimana ini? Kalau Pak Arya langsung masuk kamar dan melihat itu, dia pikir aku mau menggodanya. Bodoh, bodoh, bodoh. Pokoknya aku harus lebih dulu sampe kamar dan membuang lingerie - lingerie itu. Setidaknya melemparkan sejauh mungkin dari jangkauan mata Pak Arya.’


Seketika rasa kantuk yang dirasakannya hilang. Berganti dengan rasa khawatir yang sudah menggerogoti seluruh pikirannya. Keringatnya mengucur meskipun saat itu AC mobil hidup. Ia melewatkan semua pembicaraan Kuswan, Inggit, dan Arya di dalam mobil.


“Arya, nanti kalo kamu sudah masuk kamar, langsung cek lemari, ya. Ada kado dari mama buat kamu dan Dinda.”, bak disambar petir, Dinda makin panik mendengar kalimat yang keluar dari mertuanya ini.


“Kado apa ma? Perasaan mama dan papa udah kasih kado buat kita. Masih ada kado lagi?”


“Ini kado spesial. Beda. Kalo perlu mama beliin tiap ganti bulan. Haha.”, Inggit tertawa kecil.


Arya masih bingung kado apa yang dimaksud oleh mamanya. Tidak terpikir sama sekali olehnya. Bahkan clue pun tidak ada.

__ADS_1


__ADS_2