
“Kenapa bisa lolos checking sih, Rick?”, suara bariton Arya bertanya dengan tegas.
“Gue juga gak tahu. Sekarang lagi dicek sama Andra. Namanya paper company, di divisi gue pasti lolos lah ya.”, jawab Erick.
“Oke, sekarang bukan saatnya mencari divisi yang salah. Terus dari manajemen sudah ada solusi?”, tanya Arya lagi.
Keduanya sudah sampai di kantor sejak 30 menit yang lalu. Di kantor sudah ada beberapa kepala divisi dari manajemen. Raut wajah mereka tegang. Arya sudah mempersiapkan beberapa alternatif solusi yang menurutnya tetap menjadi win - win solution bagi perusahaan.
Arya membawa Erick dan satu lagi kepala divisi sebelah yang berkaitan dengannya untuk diskusi 10 menit sebentar di ruangannya. Dia menjelaskan solusi yang sudah dia rancang pagi ini.
“Boleh Arya. Gila.. menurut gue solusi ini bisa memutar balikkan keadaan.”, tanggapan Erick membuat kepala divisi sebelah sedikit lebih tenang. Arya juga lebih percaya diri.
Selama lebih kurang 1 jam dia mempresentasikan ppt tersebut di depan manajemen. Beberapa kepala divisi sebelumnya juga mempresentasikan pendapat mereka terhadap masalah ini. Namun, kebanyakan dari mereka sudah diminta berhenti, bahkan sebelum sempat mencapai bagian penjelasan.
Hanya solusi dari Arya yang mendapat perhatian dan bahkan diminta untuk menjelaskan skenarionya dengan detail. Meskipun begitu, wajah - wajah para top management dan juga beberapa kepala divisi lainnya sudah mulai tenang setelah mendengar penjelasan yang diajukan oleh Arya.
Setelah presentasi, Arya dan Erick diminta untuk segera berangkat ke Singapura. Disana mereka akan bertemu dengan pemimpin perusahaan Poland tersebut dan menyelesaikannya sesuai dengan skenario yang sudah dijelaskan oleh Arya.
Arya berangkat pukul 1 siang dari kantor karena keberangkatannya sekitar pukul 3 sore. Erick tidak jadi ikut menemani karena sepertinya Arya saja sudah cukup untuk menyelesaikan persoalan ini. Jika ada hal - hal yang dibutuhkan, Arya dapat menghubungi Erick kapan saja.
Akhir pekan yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh Arya harus dia lalui selama dua hari kedepan, bahkan mungkin lebih karena ada project yang harus dia dapatkan disana. Arya memijat dahinya.
Padahal, masalahnya dengan Dinda belum selesai. Permasalahan di kantor hari ini membuat Arya lupa sejenak bahwa dia sudah menyakiti hati gadis itu.
‘Bagaimana bisa Dinda ada disitu. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikiran yang sama. Kenapa aku begitu bodoh sampai bisa dikendalikan oleh perasaan bodoh ini.’, batin Arya dalam hati.
Dia merutuki dirinya yang masih saja bersikap seolah - olah masih menjadi bagian dari hidup Sarah. Padahal, dia sudah memiliki tanggung jawab baru, Dinda. Arya segera mengambil ponselnya dan mencari nama Dinda.
Panggilan pertama tidak diangkat. Arya mengulangi panggilannya lagi. Setidaknya sampai tiga kali baru Dinda mengangkatnya.
“Halo..”, kata Arya memulai percakapannya di telepon.
“....”, tidak ada jawaban dari Dinda, sepertinya gadis itu memang masih tidak ingin berbicara dengannya.
“Saya cuma mau bilang, saya harus ke Singapura karena urusan kantor. Saya baru bisa balik minggu depan.”, kata Arya. Dia tahu Dinda masih sangat marah padanya. Dia tidak ingin memaksa gadis itu untuk bersikap baik padanya.
“Kamu masih di apartemen?”, tanya Arya. Meski dia tidak ingin memaksa gadis itu, tetapi dia hanya ingin mendengar suaranya. Memastikan Dinda baik - baik saja.
“Sudah di luar.”, jawab Dinda singkat.
__ADS_1
“Hn. Kamu…”
“Dinda, sorry… sepertinya kamu meninggalkan ini di meja Cafe.”, Dimas, pria yang tadi Dinda temui kembali menghampirinya.
Dinda memang masih belum beranjak dari toko itu. Dinda teringat akan masalahnya dengan Arya yang masih belum terselesaikan dan memutuskan untuk duduk di sana sebentar. Siapa sangka, Dimas, pria itu kembali menghampirinya.
“Oh iya.. Terima kasih. Sebetulnya mas tidak perlu sampai mengembalikannya kesini.”, jawab Dinda.
Meskipun dia sedang tersambung dengan Arya, Dinda memilih untuk menanggapi pria itu lebih dulu.
*“Ga usah panggil mas, panggil saja Dimas.” *
“Tapi…”, dilihat dari manapun pria ini sebaya dengan Arya. Dinda merasa tidak enak harus memanggilnya hanya dengan nama.
“Justru aneh kalau kamu panggil saya, mas.- Kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih.”, jawab pria itu tersenyum.
*“Iya. sama - sama.” *
“Sampai bertemu lagi.”, kata pria itu sambil melambaikan tangannya.
“Din, siapa?”, Arya yang sedari tadi mendengar percakapan mereka langsung bertanya.
‘Suaranya seperti familiar. Dimas? Heh..tidak mungkin. Ada jutaan Dimas di dunia ini.’, bathin Arya yang segera mengambil tasnya begitu panggilan penerbangannya sudah diumumkan.
Dia merasa berat pergi meninggalkan masalah dengan Dinda yang belum terselesaikan.
*****
Akhir pekan berakhir dengan cepat. Dinda kembali ke kantor seperti biasa. Tidak. Ada yang berbeda karena dia tidak berangkat dengan Arya setidaknya untuk satu minggu ke depan. Inggit bersikeras agar Dinda mau diantar pak Cecep. Meski Dinda ingin naik ojek online saja, tetapi sepertinya dia tidak punya pilihan.
“Iya.. iya.. Dinda berangkat dulu ya ma.”, jawab Dinda tersenyum. Butuh waktu untuk memaksa Dinda berangkat dengan diantar pak Cecep.
Bukannya Dinda tidak mau, tapi setiap kali dia berangkat diantar pak Cecep, dia seolah selalu diingatkan bahwa dia sudah menikah, dan Arya adalah suaminya. Jika Dinda berangkat dengan ojek online, dia seperti masih sendiri dan hal itu membuatnya lebih tenang.
“Pagi semua.”, sapa Dinda begitu melihat Suci dan yang lain di meja divisinya. Dinda menaruh tas dan bergabung. Ada Andra, Rini, mba Suci, Bryan, dan Delina disana.
“Wah.. gila ya si Pak Arya. Workaholic banget. Menurut kabar burung yang gue dengar, situasi weekend kemaren menegangkan.”, tutur Andra. Pria satu ini memang senang sekali bergosip.
“Sebenarnya siapa siintel kamu itu, Andra. Masalah weekend itu kan cuma dihadiri oleh kepala divisi dan top management.”, balas Suci.
__ADS_1
“Hm.. rahasia. Kalau gue sebutin, namanya bukan intel lagi tapi pembawa acara berita gosip.”, Andra terkekeh.
“Jadi, ada masalah dengan project beberapa bulan lalu. Semua kepala divisi business dipanggil dan diminta mempresentasikan solusi mereka. Solusi pak Arya yang digunakan dan dia sekarang sedang di Singapura untuk seminggu ke depan.”, tutur Suci mencoba menjelaskan pada Dinda yang sedari tadi bingung mendengarkan mereka.
“Huft… gak bisa ketemu pak Arya seminggu dong. Padahal mau tanya sesuatu.”, ujar Suci.
“Kecewa banget kamu kelihatannya gak ketemu pak Arya.”, kata Rini.
“Seru tahu mba, kalau diskusi sama Pak Arya. Mana dia juga cool, keren, tampan, paket komplit lah pokoknya. Hottt.”, balas Suci yang belakangan ini memang lebih jujur dibandingkan sebelumnya.
“Makin blak - blak-an ya kamu. Bukannya sudah punya pacar?”, kata Delina menanggapi.
“Kalo pak Arya membuka hatinya buat aku. Aku rela buang pacar aku. Hahaha.”, jawab Suci senang.
“Oiya Din, kemarin kamu di mall itu ngapain? Aku kaget loh, ketemu kamu disana. Rumah kamu kan ga disana.”, lanjut Suci bertanya pada Dinda. Tiba - tiba dia teringat dengan pertemuannya yang tiba - tiba dengan Dinda.
“Oh.. kayanya aku udah bilang deh. Aku staycation bareng teman aku. Kebetulan apartemennya disitu.”, jawab Dinda.
“Temen kamu cowo? Kok baju dan parfum yang aku cium dari kamu waktu itu, parfum cowok, ya.”, Suci benar - benar blak - blakan. Berkat perkataannya, sekarang semua mata tertuju pada Dinda.
“Din, aku kira kamu tipe pacarannya gak gitu.”, ujar Andra.
“Engga, kok. Mungkin karena kita berdiri di dekat toko parfum, jadi keliatannya aku menggunakan parfum cowok. Aku belum punya pacar, kok.”, jawab Dinda sedikit gugup karena semua mata tertuju padanya dan seperti menginterogasi dirinya.
“Morning!”, sambut Pak Erick disaat yang tepat. Dinda menghela nafasnya begitu melihat penyelamatnya pagi ini.
“Wah.. bawa apa itu, pak?”, balas Andra begitu melihat dua kantong di tangan Erick.
“Traktiran dari pak Arya.”, ujar Erick.
“Hah? Harusnya yang di traktir divisi sana, bukan sini gak sih?”, balas Rini sambil menunjuk divisi Business and Partners yang jelas - jelas dibawahi oleh Arya.
“Kan sekarang dia bos kita juga.”, jawab Erick sambil meletakkan dua kantong berisi masing - masing dua kotak donut.
Dinda sangat menyukai donut ini. Dia bahkan rela mengantri setiap franchise ini mengeluarkan rasa baru.
“Wah.. red velvet dan green tea.”, Dinda langsung mengekspresikan ketertarikannya pada donut yang dibawa Erick.
Tidak hanya Dinda, beberapa anggota tim selain yang bergosip tadi juga sudah mulai mengedarkan pandangannya ke meja penuh donut. Satu per satu mengambil bagian mereka masing - masing.
__ADS_1