
“Sebenarnya kamu itu kenapa sih, Ci. Gak biasanya mabuk sampai begini di club saat sedang tim building pula.”, tanya Delina yang masih tak bisa menghentikan kegilaan Suci malam ini.
Jam sudah menunjukkan pukul jam 11 malam. Seharusnya mereka sudah pulang sesuai dengan yang dijanjikan Suci tadi. Mereka kesini hanya satu jam saja, setelah itu pulang.
“Kan aku yang traktir, lagian kenapa sih? Memangnya gak boleh ke club kalo lagi tim building? Pak Arya saja juga pasti sedang bersenang - senang hahahahaa.”, kata Suci tertawa lepas sambil meminum kembali koktail yang baru saja datang di meja nya.
“Hm? Pak Arya tadi langsung kembali ke hotel, kok. Soalnya tadi dengar Pak Erick ngobrol sama beliau. Jadi mana mungkin dia bersenang - senang di klub.”, ujar Delina.
“Heh…”, Suci memberikan tatapan remehnya pada Delina yang tidak tahu apa - apa.
“Dinda gak kamu ajak sekalian kesini?”, tanya Andra.
“Hah? Sejak kapan Dinda mau diajak ke tempat seperti ini? Kamu sudah lupa kejadian dua bulan lalu waktu kamu mengajak Dinda ke klub? Dia nyaris tidak menyapa kamu, kan.”, kata Bryan mengingatkan Andra.
“Aah..aku masih tidak mengerti dengan Dinda. Apa dia benar - benar sepolos itu atau pura - pura polos?”, tanya Andra.
“Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?”, tanya Bryan
“Kamu tahu, aku bisa merasakan kalau Dinda itu sudah tidak perawan lagi.”
“Hah?”
“Bagaimana ya mengatakannya. Auranya berbeda beberapa minggu ini berbeda. Perasaanku mengatakan begitu.”
“Jangan asal bicara kamu. Kalau salah, kamu jatuhnya fitnah.”
“Tapi, kalau perasaan aku dicocokkan dengan cerita Suci bagaimana? Suci itu memang menyebalkan, ambisius, dan sombong. Tapi, dia jarang berbohong. Bagaimana kalau tanda merah yang dia lihat di leher Dinda memang benar.”
“Kalaupun benar. Apa urusannya denganmu? Sudahlah, yuk kita pulang. Besok kita masih ada kegiatan lagi. Aku mau tidur.”, kata Bryan menghentikan obrolan aneh Andra.
‘Pak Arya, apa dia benar - benar bertindak sejauh itu? Meski tadi aku tidak sempat melihat isi chatnya dengan Dinda, tapi sepertinya hubungan mereka memang sudah jauh.’
******
Jantung Dinda berdetak kencang, perasaannya tidak enak. Dinda melihat ke arah lift. Ada tiga lift yang tersedia disana, namun ketiganya masih berada di lantai paling atas dan juga masih di lantai paling bawah menuju ke atas.
‘Tidak, sebaiknya jangan lift.’, Dinda berjalan ke lorong yang satunya dengan cepat lalu masuk ke tangga darurat. Dinda menutup mulutnya dan menahan nafasnya.
Dalam hati, Dinda berdoa semoga pria itu bukan seperti yang dipikirannya. Semoga saja dia hanya salah lihat atau overthinking. Dinda mencoba mengintip melalui kaca kecil dengan warna yang lebih gelap di pintu darurat.
Dinda langsung menyembunyikan kepalanya karena dia melihat pria itu berjalan melihat ke arah lorong. Dinda menelan ludahnya. Kakinya mulai lemas tapi dia tetap berusaha menguatkan diri dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara.
Nafas Dinda terbata - bata karena dia berusaha setenang mungkin meski dalam hati dia sudah panik.
‘Tidak. Pria itu pasti bukan orang baik - baik. Dia tadi berbelok ke arah lorong kamarku, lalu kenapa dia sekarang berbalik seperti mencari? Semoga dia berpikir aku sudah masuk ke dalam kamar di lorong yang ini.’
Dinda kembali menelan ludahnya. Dia tidak bisa disana terus. Bagaimana kalau pria itu berinisiatif untuk melihat ke tangga darurat. Dinda menurunkan badannya untuk mencoba membuka sepatu yang dia pakai pelan - pelan.
Pehatiannya tertuju pada anak tangga ke atas. Baterainya low-bat. Dia tidak bisa menghubungi siapapun. Dinda segera menaiki anak tangga. Tujuannya adalah lantai dimana lorong penghubung ke bangunan yang satunya. Bangunan tempat kamar hotel Arya berada.
Dinda sudah menaiki 60 anak tangga (3 lantai) . Dia membuka pintu darurat perlahan dan menoleh ke kiri dan kanan.
‘Kenapa disini sepi sekali?’, kata Dinda dalam hati seperti sudah mau menangis.
Gadis itu dengan cepat berjalan menuju lorong yang dimaksud. Saat sudah sampai diujung lorong, Dinda seperti merasa ada orang di belakangnya. Dinda tidak berani menoleh dan langsung mempercepat langkahnya.
Lagi - lagi Dinda tidak memilih lift dan langsung berlari menuju tangga darurat untuk turun lagi. Kali ini 20 anak tangga, karena dia harus turun dari lantai 9 ke lantai 7 dimana kamar Arya berada.
Saat sudah sampai di pintu darurat lantai 7, Dinda jelas - jelas bisa mendengar ada orang di atas yang membuka pintu darurat. Jantung Dinda semakin berdetak kencang. Dinda mengepalkan tangannya erat memegang sendal yang dia pegang.
Tidak lagi mempercepat langkahnya, tapi berlari kecil menuju lorong kamar Arya. Nafas Dinda sudah tidak beraturan. Begitu sampai di depan kamar Arya, dia langsung menekan bel berkali - kali.
“Mas Arya.. hayoo dong buka pintunya.. Dinda beberapa kali memukul - mukul pintu kamar dan memencet bel, tetapi belum ada tanda - tanda pintu itu akan dibuka.
“Mas Arya… ayooo dong dibuka.. Mas Arya dimana? Apa jangan - jangan sedang tidak di kamar.”, Dinda masih terus berusaha menekan - nekan bel sebanyak mungkin.
__ADS_1
Pergerakan Dinda berhenti karena di tengah keheningan lorong hotel itu, dia mendengar pintu darurat yang berdenting. Dinda tak bisa mengatur nafasnya. Wajahnya sangat panik. Dia tak sanggup melihat ke arah kiri (menuju lift).
Dinda sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyadarkan dirinya untuk menekan bel itu lagi. Air mata sudah keluar dari pelupuk matanya karena dia yakin kalau orang yang tadi mengikutinya.
‘Kalau mas Arya gak ada di kamar, bagaimana?’, Dinda memejamkan matanya saat dia merasa langkah kaki itu seperti berada tak jauh di area lift.
“Dinda?”, pintu kamar akhirnya terbuka, dan Arya keluar mengenakan handuk kimono.
Pria tadi memang benar mengikuti Dinda. Saat dia sudah sampai di sudut lift menuju lorong kamar Arya, pintu kamar Arya terbuka dan pria itu langsung bersembunyi di balik lift.
“Mas Arya…”, Dinda merasakan lega yang luar biasa saat melihat suaminya berada di depannya. Nafasnya masih tak beraturan.
“Mas Arya…”, kata Dinda berusaha menjangkau Arya namun dia sudah keburu kehilangan keseimbangannya.
Arya terkejut dan dengan sigap menangkap tubuh istrinya yang terjatuh.
“Din.. Sayang.. Sayang.. Dinda kamu kenapa? Sayang.”, Arya melihat ke luar karena dia juga merasa ada yang memperhatikannya. Namun, dia tak bisa melihat siapapun. Arya membawa masuk Dinda dan membarikan gadis itu di ranjang kamarnya.
“Sayang… Din? Aduh.. bagaimana ini. Dia kenapa? Hm.. apa yang harus aku lakukan, ya. Haa.. Oh… “, Arya teringat dia pernah menyimpan nomor ponsel Bu Ratih, tetangga apartemennya yang memiliki puteri, seorang dokter kandungan.
Arya dengan cepat mengambil ponsel pribadinya dan mencari nama Bu Ratih.
“Halo, Bu Ratih. Selamat Malam, iya saya Arya, Bu. Bu.. saya boleh tahu, anak Bu Ratih yang dokter kandungan itu sedang ada di rumah ga ya? Oh.. syukurlah. Boleh saya bicara, Bu. Ada hal penting. Ah.. iya,. Nanti saya jelaskan.”
“Halo, dr….. Ah iya, dr. Rima. Maaf saya ganggu malam - malam. Saya Arya, tetangga di apartemen. Waktu itu kita pernah bertemu. Ehm.. saya sedang di luar kota bersama isteri saya. Isteri saya sedang hamil dan tiba - tiba pingsan. Apa yang harus saya lakukan, ya? Sorry, saya bingung harus bagaimana.”, tutur Arya dengan ritme suara yang terdengar panik namun masih berusaha tetap tenang.
“Hm.. sudah dari berapa menit yang lalu? Boleh dicek denyutnya…..”, dr. Rima mencoba melakukan pengecekan secara tidak langsung.
“Hm.. baik.. Oh.. baik.. Oke.. saya kurang tahu.. Tapi sepertinya jauh dari sini.”, jawab Arya.
dr. Rima memberitahu Arya untuk menunggu beberapa saat lagi dan memberikan bantuan awal agar Dinda segera sadar. Sekitar 15 menit, Arya menunggu dengan terus memeriksa sesuai dengan saran dari dr. Rima.
Dinda mulai mengerjap - ngerjapkan matanya dan membukanya perlahan. Begitu sadar, Dinda langsung duduk karena terkejut dan panik.
“Ah.. mas Arya..”, kata Dinda pelan namun terlihat nadanya lega melihat kalau orang yang di depannya adalah benar suaminya. Arya yang tadinya berlutut di lantai, mengambil posisi duduk di ranjang di samping Dinda.
Alih - alih memberikan penjelasan, Dinda malah tiba - tiba menangis sejadi - jadinya. Dia meluapkan ketakutannya jadi sepenuhnya.
“Kenapa mas Arya lama buka pintunya… huhuhu…. Aku udah tekan belnya berkali - kali. Tapi mas Arya gak buka - buka. Mas Arya jahat…”, kata Dinda sambil terus menangis dan sesekali memukul dada bidang Arya.
“Iya.. maaf aku tadi lagi berendam di kamar mandi. Aku gak tahu kalau ada kamu di depan. Kamu kenapa? Kan bisa telepon.”, kata Arya berusaha menenangkan Dinda.
“Baterai aku lowbat… tadi ada pria yang sepertinya mengikuti aku. Dia naik dari lantai 3, terus dia turun di lantai yang sama dengan aku, dan .. aku ga bawa akses card, terus pria itu ga masuk ke kamarnya tapi malah berbalik… bla bla bla..”, Dinda menjelaskan semuanya secara detail dari awal sampai akhirnya dia berada di depan kamar Arya.
“Hm?”, belum selesai Dinda menceritakannya, Arya langsung berlari keluar kamar untuk memeriksa apakah ada orang mencurigakan di luar. Tidak hanya sampai di depan pintu, Arya juga mencoba mengecek ke depan lift, dan lorong - lorong kamar yang ada disana, namun dia tidak menemukan siapapun.
“Arya?”, seseorang memanggil Arya dari belakang dan pria itu menoleh.
“Erick? Kamu ngapain disini? Tangan kamu, apa yang sedang kamu sembunyikan dibelakangmu?”, tanya Arya pada Erick yang baru saja keluar dari pintu menuju tangga darurat.
“Eh? Aku baru saja ingin ke kamar kamu. Tapi sepertinya aku salah lantai. Karena liftnya masih di bawah, aku turun tangga darurat saja. Lagian hanya satu lantai. Kamu sendiri ngapain disini?”, tanya Erick pada Arya.
“Hm?”
“Kamu ngapain di luar? Berubah pikiran dan mau ke klub?”, tanya Erick.
“Untuk apa ke kamarku? Aku sedang tidak ingin menerima tamu.”, jawab Arya datar.
“Sebelumnya, Pak Arya yang terhormat dan tertampan sejagat raya, aku meminta maaf atas kedatangan yang tidak diundang…..”, Erick mengatakan apapun yang ingin dia katakan dengan gaya dan pemilihan kata yang berlebihan.
“Hah.”, Arya menghela nafasnya karena dia tahu apa maksud kedatangan Erick.
“Apa lagi dokumen yang harus aku tanda - tangani?”, kata Arya kemudian melanjutkan.
Erick mengeluarkan senyuman mautnya. Dia mengeluarkan dokumen yang tadi berada di belakang punggungnya.
__ADS_1
“Baiklah. Ayo..”, kata Arya kemudian kembali ke kamar dan tidak lupa mempersilahkan Erick yang selalu ada maunya. Kalau saja mereka tidak berteman dan Erick benar - benar menjadi bawahannya di Business and Partners, mungkin sudah habis dia dari dulu.
Arya memang dikenal sedikit lebih lunak dengan karyawan Digital and Development dibanding dengan Business and Partners. Hal ini karena dia merasa hanya sebagai kepala divisi pengganti. Dia tidak mau memberikan tekanan berlebih pada divisi yang bukan menjadi corenya. Meski Arya memberikan performa baik di divisi tersebut. Performance tim Digital and Development naik drastis dibandingkan dengan kepemimpinan sebelumnya.
Arya dan Erick masuk ke dalam kamar tanpa suara dan langsung mengambil duduk.
“Mas Arya, aku pinjam kemejanya lagi, ya.”, tiba - tiba Dinda keluar dari dalam kamar yang memang langsung terhubung ke ruang tamu kamar Arya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang ada di depannya. Erick, bos Dinda sudah ada di hadapannya. Dinda refleks menaikkan kemeja yang sedang dia pegang menutupi mulutnya dan segera menutup pintu bilik.
Sama halnya dengan Dinda, Erick juga kaget karena melihat ada seorang wanita di dalam kamar Arya.
“Siapa? Kamu membawa wanita masuk saat tim building?”, Erick bahkan sudah menganga karena kaget.
“Dinda, istriku.”, kata Arya memberikan klarifikasi dengan nada datar.
Lagipula, Erick sudah tahu hubungan dirinya dan Dinda. Uniknya, Erick tak mengenali kalau gadis barusan adalah Dinda, bawahannya.
Dinda baru saja ingin mandi dan sedang memilih - milih baju saat Arya masih di luar. Begitu Arya dan Erick masuk, Dinda tak mendengar suara siapa - siapa melainkan hanya suara pintu terbuka. Tentu saja, Dinda hanya berpikir Arya masuk sendiri.
Tadi, Dinda sudah sempat melepaskan hijabnya dan membiarkan rambut pirangnya yang panjang tergerai. Saat akhirnya dia menentukan pilihan kemeja milik Arya yang ingin dia pinjam, gadis itu langsung antusias meminta izin pada Arya sambi mengangkat kemeja tersebut.
Siapa sangka lantas yang ada di hadapannya tidak hanya Arya tetapi Erick.
“What? Kamu bercanda. Jelas - jelas tadi..”, kata Erick masih shock.
“Kamu sih, kenapa datang kesini. Ada - ada saja.”, kata Arya kesal.
“Wah.. aku kira kamu sedang menyimpan seorang wanita di kamarmu. Siapa sangka itu ternyata Dinda. Aku benar - benar tidak mengenalinya. Wait, kenapa kamu malah kesal? Bukannya aku tadi sudah bertanya, Pak Arya, boleh aku minta tanda tangan? Dan Pak Arya terhormat ini mempersilahkan.”, tutur Erick kembali menjelaskan runtutan ceritanya.
Arya tidak menjawab dan memilih untuk menghiraukan pria itu. Dia sudah memegang dokumen yang tadi dipegang Erick dan membacanya. Arya tidak pernah sekalipun main langsung tanda tangan. Dia pasti akan membaca dokumen itu dan bertanya tentang apapun yang dia akan tanda tangani dengan detail.
“Dinda.. Saya minta maaf ya.. Saya tidak tahu kalau ada kamu di kamar.”, sahut Erick setengah berteriak berharap Dinda dengar. Dia merasa tidak enak sekarang.
“Hah.. bagaimana ini, gara - gara kamu hubungan profesionalku dengan Dinda jadi canggung. Sepertinya dia belum tahu kalau aku sudah mengetahui perihal hubungan kalian.”, kata Erick.
“Biar nanti aku yang menjelaskan. Sekarang tolong jelaskan poin di halaman 4 dan 5. Aku ingin menendangmu keluar dengan cepat dari kamar ini.”, ucap Arya.
“Wah… Wah… Wah… enak ya Pak Arya, tim building bisa sekamar dengan istri. Pantas, Bapak tidak mau ke klub. Sudah ada yang menemani di kamar.”, kata Erick dengan nada sarkas.
“Mau mulai menjelaskan atau aku usir dari kamar tanpa tanda - tangan.”
“Iya iya iya iya.. Galak sekali. Jadi poin di halaman 4 itu menjelaskan tentang kesepakatan awal dengan third party dimana……bla bla bla.”, Erick menjelaskan dengan sangat detail.
Dia sudah mengenal tipikal Arya dan sudah semakin terbiasa dengan cara kerjanya. Sebelum meminta tanda tangan pria yang menjadi bosnya saat ini, Erick selalu memastikan kalau dia sudah mengerti tentang project atau isi dokumen yang harus ditanda - tangani Arya.
Kurang lebih 20 menit Erick menjawab beberapa pertanyaan Arya sebelum pria itu akhirnya menandatanganinya.
“Sudah. Disaat tim building, kamu memintaku untuk membaca dokumen penting. Sekarang sudah selesai kan? Cepat sana kembali ke kamarmu.”, kata Arya.
“Memangnya aku yang suruh membaca. Kan Pak Arya sendiri yang tidak pernah menandatangani sesuatu tanpa membacanya.”
“Sampaikan permintaan maafku pada Dinda. Tapi, apa tidak sebaiknya hubungan kalian di publikasi secepatnya? Aku jadi merasa aneh. Di satu sisi, kamu adalah bosku. Disisi lain, Dinda adalah bawahanku. Aku tidak seperti kamu yang bisa bersikap profesional di saat seperti ini. Hah.. bahkan aku masih ingat saat kamu memarahi Dinda.”, kata Erick yang meragukan sikap ketidakberpihakannya.
Minggu depan sudah ada jadwal wawancara untuk kepala divisi yang baru. Sepertinya, tim Digital and Development akan mendapatkan angin segar yang baru.
“Hm.. berita baik. Tapi, apa dengan adanya kepala divisi baru, hubungan kalian bisa dengan mudah diterima? Tetap saja, semua akan tidak nyaman untuk Dinda karena suaminya satu kantor dengannya. Kalau kamu di lantai yang berbeda dan tidak pernah bersinggungan soal pekerjaan, aku rasa biasa saja. Tapi, masalahnya kalian…”
“Itu urusanku. Urus saja yang menjadi urusanmu. Sudah?”, kata Arya sudah di depan pintu kamar nya yang sudah ia buka agar Erick bisa segera menghilang dari sana.
“Iya.. iya.. Beruntung sekali pria satu ini. Sudah menikah yang kedua dan dapat jackpot pula. Hati - hati Pak Arya, di luar sana mungkin banyak saingannya.”, goda Erick.
Arya hanya memberikan ekspresi datar tanpa respon. Begitu Erick berada di luar pintu. Arya langsung menutupnya.
“Bye, see you tomorrow.”, kata Arya sebelum menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
******