
Dinda akhirnya tertidur pulas di pelukan Arya. Setidaknya kali ini dia tertidur bukan karena pengaruh obat tetapi karena lelahnya. Arya masih setia memeluk istrinya. Mungilnya kasur pasien di rawat inap membuat Arya harus benar - benar mempersempit jarang di antara mereka.
Saat ini, Dinda menggunakan salah satu kamar yang di lantai 4. Kamar ini bukan VIP tetapi setidaknya dalam satu kamar hanya terdiri dari satu pasien saja. Selain itu, di dalam kamar sudah tersedia dua buah sofa, lemari, dan kamar mandi yang di dalamnya juga terdapat shower.
Arya tidak pernah sekalipun ke rumah sakit ini sebelumnya meskipun lokasinya dekat dengan kantor. Tadinya, dia ingin memindahkan Dinda ke rumah sakit Ibu dan Anak yang biasa menjadi tempat check-up rutin kehamilan Dinda. Jaraknya ke apartemen lebih dekat namun kalau dibandingkan dengan jarak ke kantor, rumah sakit ini adalah yang terdekat.
Arya masih belum tidur. Dinda sesekali membuat pergerakan ringan di sela - sela tidurnya. Arya mengira karena Dinda merasa kesempitan, Arya sudah berencana untuk bangun namun tangan Dinda menahannya. Entah istrinya itu sedang sadar atau tidak. Akhirnya Arya mengurungkan niatnya.
10 menit. 20 menit. 30 menit.
Akhirnya Arya juga ikut tertidur bersama istrinya. Mengabaikan semua pesan dan telepon yang sesekali masuk ke dalam ponselnya maupun Dinda. Arya sudah mengatur ponsel mereka berdua agar hanya dalam mode dering saja. Kecuali ponsel pribadi Arya yang nomornya memang hanya diketahui oleh keluarga besar saja.
********
“Assalamu’alaikum.”, panggil Ibas saat baru saja memasuki apartemen milik Arya.
Ini kali ketiga dia masuk ke apartemen ini. Pertama saat dulu waktu membeli apartemen pertama kali. Dia merengek minta ikut. Saat itu Ibas masih awal masuk SMA. Kedua, saat Arya dan Sarah bercerai, Ibas mengunjungi Arya karena disuruh mamanya untuk memeriksa apakah masnya itu masih hidup atau tidak. Dia benar - benar down saat itu. Ketiga adalah saat ini.
Ibas juga berencana untuk membeli sebuah unit apartemen namun uangnya masih belum terkumpul. Dia senang tinggal di rumah dimana orang tuanya memang inginnya begitu. Tetapi, Ibas juga ingin memiliki tempat pribadi sendiri.
“Wuuuh… bersih sekali apartemennya. Pantas Dinda langsung senang saat bercerita apartemen Arya sudah berubah. Ternyata dekorasinya sudah 180 derajat berbeda dari saat apartemen itu masih diisi oleh Arya bersama mantan istrinya.”, ujar Ibas berkomentar.
Furniture juga sudah banyak yang berbeda. Letak ruang kerja Arya juga berbeda. Kemudian warna - warna yang dipilih lebih banyak warna - warna pastel yang tidak terlalu mencolok seperti saat bersama Sarah.
“Lihat kamar utamanya, ah.”, kata Ibas langsung bersemangat membuka kamar utama.
“Wah ada foto pernikahan. Aku bingung kemana foto pernikahan dengan pose paling romantis, ternyata ada disini.”, ujar Ibas.
__ADS_1
Menurutnya, Dito banyak mengambil foto pernikahan yang sangat romantis namun yang dipajang di rumah sepertinya bukan yang dilihat oleh Ibas saat itu.
“Ternyata ada disini, rupanya. Hem.. mas Arya memang diam - diam menghanyutkan. Kalau di rumah pura - pura cool dan gahar. Pantas kadang suka ajak Dinda ke apartemen tanpa alasan jelas.”, tiba - tiba Ibas mengambil kesimpulan sesuka hatinya.
Kring kring kring kring
“Halo?”, ujar Ibas mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menghubungi. Ternyata mama.
“Kamu dimana? Kata Bi Rumi kamu ga di kamar. Arya Dinda juga enggak.”, ujar Inggit langsung mewawancara Ibas.
“Hem… lagi di rumah teman. Kenapa ma?”, tanya Ibas gugup, dia takut kalau salah berbicara.
Kalau mama tahu, Ibas bisa dimarahi habis - habisan oleh Arya.
“Kenapa kamu jawabnya begitu?”, bukan ibu namanya kalau tidak tahu gerak - gerik puteranya bahkan hanya dari suara.
“Coba kasih ke teman kamu itu, mama mau bicara.”, ujar Inggit tidak percaya.
“Apa - apaan sih ma, gak percaya banget. Orangnya sedang tidur. Nanti orang tuanya marah lih. Ribut - ribut. Udah besok aja, ya ma.”, ucap Ibas.
Bukannya tambah percaya, Inggit justru malah semakin curiga.
“Kamu beneran menginap di rumah teman kamu, kan?”, tanya Inggit sekali lagi.
“Iya mamaku sayang yang tercinta sejagad raya. Memangnya aku menginap di rumah siapa lagi.”, semakin Ibas gugup, semakin tidak percaya pula Inggit terhadapnya.
“Ibas, dengerin mama, kamu enggak sedang di klub mabuk - mabukan sama teman kamu kan?”, Inggit khawatir sekali dengan puteranya satu ini.
__ADS_1
“Astaghfirullah, mama. Memangnya Ibas siapa. Ibas gak pernah ke tempat - tempat begitu kok, ma. Kalau mas Arya sering. Dulu.”, ujar Ibas masih sempat - sempatnya bercanda.
“Hush. Kamu ini, mas nya sendiri dikata - katain.”, tegur Inggit.
“Ya memang begitu kan ma, mas Arya dulu. Tapi masih aja jadi putera paling kesayangan. Sedangkan Ibas, dicurigai terus.”, kata Ibas dengan nada mengiba.
Dia hanya bercanda. Dia tahu benar Inggit dan Kuswan tidak pernah membeda - bedakan meski terkadang ada pikiran - pikiran jahat yang membuatnya berpikir seperti itu.
“Siapa yang membagi - bagi, Ibas. Mama itu sayangnya sama rata antara kamu, Arya, dan Andin. Tidak ada yang mama beda - bedakan. Terus kakak kamu itu justru jadi contoh. Begitu jadinya kalau kamu dekat - dekat dengan hal - hal yang tidak baik. Bergaul dengan orang yang salah. Tuh coba sekarang lihat langsung beda kan jadinya. Makanya tidak salah pilih - pilih teman, apalagi pilih - pilih istri.”, ujar Inggit yang tadinya mencurigai Ibas malah berujung ceramah.
“Iya ma.. Makanya nanti cariin Ibas yang seperti itu ya ma. Eh ga usah, udah dapet.”, kata Ibas menggoda mamanya.
“Siapa - siapa, Bas?”, kata Inggit langsung mengambil umpan.
“Tar aja Ibas kasih tahu, biar kejutan.”, ujar Ibas.
“Kamu bohong kan. Kamu masih jomblo kan?”, Inggit langsung menebak dengan tepat.
“Ih, kok mama bisa tahu sih.”, Ibas langsung kaget.
“Udah ah, mama ngantuk mau tidur. Besok kamu langsung ke kantor dari sana? Jangan lupa pulang ke rumah. Menginapnya semalam aja. Besok Andin dan Arya sama istrinya gak di rumah, loh. Nanti kalo mama dan papa butuh sesuatu gimana?”, ujar Inggit.
“Iya, iya ma. Siapp.. Ibas akan pulang ke rumah kok besok.”, jawab Ibas menutup ponselnya.
“Huh… hampir saja ketahuan. Jantungku sudah hampir berhenti. Kebiasaan kalau di tanya mama pasti suka gugup bawaannya. Gak bisa tuh kaya mas Arya yang datarrrr aja kalau lampu senter.”, ujar Ibas membaringkan tubuhnya di sofa.
“Oiya, mas Arya kalau tidak salah simpan PS di apartemennya. Coba lihat, ah.”, kata Ibas yang teringat sesuatu yang penting tentang apartemen Arya dan langsung bersemangat.
__ADS_1
Salah satu alasan Arya tidak ingin memperbolehkan adiknya masuk ke apartemen adalah PS dan beberapa barang - barang legendaris berharga yang dia punya. Mulai dari game, baju, dan juga sepatu serta aksesoris bahkan audio system yang dimiliki Arya di apartemennya.