
“Selamat siang, sudah waktunya makan siang untuk pasien.”, ujar seorang perawat yang menghentikan diskusi serius Arya bersama dua orang karyawannya.
“Ohiya, sus. Sebentar saya bangunkan istri saya dulu.”, ujar Arya berdiri dan mempersilahkan suster untuk mendorong makanannya ke dalam.
Arya membuka tirai yang tadinya menutup tempat tidur Dinda. Istrinya sedang tidak mengenakan hijab. Rambut pirang Dinda menjuntai rapi di bahunya, menutupi setengah wajahnya yang masih terlelap.
“Sayang, Sayang.”, panggil Arya lembut.
“Hm?”, Dinda akhirnya terbangun karena pegangan Arya di bahunya.
Meski Dinda bisa dengan mudah terlelap tidur dan sulit terganggu meski ada suara. Tetapi jika seseorang sudah memegang bahunya, dia bisa dengan mudah terbangun.
“Makan siangnya sudah datang. Kamu makan siang dulu, ya. Nanti kalau telat, takut mual lagi.”, ujar Arya.
“Hn. Mas Arya sudah makan?”, tanya Dinda bangun dan bergelut manja dengan memgang lengan Arya dan mencoba memeluknya.
Namun kemudian, kepalanya muncul di samping lengan Arya dan dia melihat dua orang yang tidak asing untuknya. Setidaknya orang yang di sebelah kiri tidak begitu asing untuknya. Awalnya, Dinda mengira dia masih terlelap dan berhalusinasi. Namun setelah dia mengerjapkan matanya lagi, dua orang itu masih ada disana.
“Oh?”, Dinda langsung bersembunyi di tubuh Arya.
“Kamu kenapa?”, tanya Arya bingung.
“Ada orang?”, tanya Dinda mendongakkan kepalanya ke atas agar bisa melihat Arya.
“Hn. Sudah dua jam mereka disini.”, jawab Arya santai.
“Ih.. kenapa mas Arya gak bilang, sih. Kan aku jadi malu.”, bisik Dinda pelan.
Tangannya yang tadi memeluk Arya langsung dia lepas seketika. Suster di belakang yang melihat dan mendengar tipis - tipis langsung tersenyum.
“Ada suster juga, kamu biasa aja.”, kata Arya.
“Ya kan beda, kalau suster kan aku ga lihat tiap hari. Yang jaga juga beda - beda. Kalau orang kantor, kan. Ih.. mas Arya.”, Dinda memukul Arya pelan.
“Tutup lagi gordennya.”, kata Dinda malu.
“Kenapa malu. Kamu tidak mau menyapa? Lagian mau makan, mukanya ga dicuci dulu?”, tanya Arya.
Pria itu tahu istrinya malu, tapi dia terus saja menggodanya.
“Gimana? Kalo mba Siska aja aku berani. Tapi itu ada Bu Susan. Iya kan? Malu ah mas.”, ujar Dinda langsung panik.
“Ih, kayak bocah kamu. Sudah sana bersihkan mukanya dulu trus menyapa dan langsung makan.”, kata Arya.
__ADS_1
“Mas Arya nih benar - benar, ya. Kenapa gak ke kantor aja sih, kalau mau meeting. Kenapa malah orang kantor di bawa kesini. Kan malu.”, kata Dinda masih protes.
“Nanti kamu gak ada yang jaga. Toh, semua sudah tahu kita menikah. Siska sudah kenal, Susan, walaupun kamu mungkin sudah pernah bertemu. Sekarang secara formal saya perkenalkan, Dinda, istri saya.”, ujar Arya langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke sofa tempat Siska dan Susan sedang duduk.
Otomatis, pandangan mereka langsung mengarah ke Dinda. Dinda langsung panik dan hanya bisa tersenyum kaku dan membungkuk sedikit.
“He-he.. Salam kenal, Bu Susan.”, ujar Dinda gugup.
************
Ibas baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah. Hari ini dia harus pulang ke rumah karena Andin sedang menginap di apartemen miliknya bersama anak - anak dan sepupu dekat mereka.
Hari masih sore, matahari juga belum sepenuhnya tenggelam. Kuswan masih setia membaca koran hari ini yang masih belum tuntas dia baca seluruhnya. Di samping kursinya, ada beberapa cake no sugar yang memang sengaja dibuatkan resepnya oleh Inggit. Tak lupa segelas minuman jahe hangat yang menjadi kebiasaan sorenya.
“Sore Pa.”, sapa Ibas yang baru saja menginjakkan kaki di teras rumah.
“Heh heh.. Main nyelonong saja. Biasakan kalau pulang itu salam dulu.”, ujar Kuswan menghentikan langkah Ibas yang sudah tidak sabar untuk merebahkan diri di kamarnya.
“Masa sudah umur segini masih salam aja sih, Pa. Malu sama bocah SD.”, protes Ibas dengan nada malas.
“Kamu itu dapat ajaran yang salah. Mau umur berapapun, sudah sepatutnya anak itu salim dengan kedua orang tua. Bukan berarti lantas kamu dikatakan sebagai anak SD. Justru itu menunjukkan hormat kamu. …..”, Kuswan langsung memberikan ceramah singkat pada Ibas.
“Dan satu lagi. Kalau pulang itu, harusnya mengucapkan salam. Assalamu’alaikum. Begitu. Sore, pagi, siang, itu boleh. Tapi salam itu lebih baik didahulukan.”, lanjut Kuswan setelah dia memberikan nasehat panjang sebelumnya.
“Iya, iya Pa. Ini, Ibas salim. Perasaan mas Arya gak pernah salim deh kalau pulang.”, ujar Ibas langsung mengutuk dirinya karena telah melontarkan protes lagi pada papanya.
‘Mulut - mulut. Kenapa tidak bisa diajak kompromi, sih.”, ujar Ibas menggerutu dan kesal pada dirinya sendiri.
“Dia jangan kamu tiru. Perlu treatment khusus untuk mengajarkan mas kamu itu. Arya itu sudah tidak bisa mendengar papa lagi. Papa harus bicara dengan istrinya, baru dia mau mendengar. Ngomong - ngomong, kemana si Arya tidak pulang.”, tanya Kuswan yang heran sudah dua hari dia tidak melihat putera dan istrinya.
“Ah.. mas Arya menginap di apartemen, Pa.”, jawab Ibas.
Dia sebenarnya agak kaget karena ditembak pertanyaan seperti itu langsung saat dia baru saja pulang. Ibas tidak terlalu ahli menjaga rahasia. Mulutnya bukan tipe yang bisa menyimpan rahasia terlalu lama. Sehingga, Ibas agak gugup ketika Kuswan menembaknya dengan pertanyaan itu.
“Loh, kenapa menginap di apartemen terus belakangan ini. Bukannya dia bisa pulang saja ke rumah. Kasihan kalau di apartemen Dinda tidak ada yang masak. Dia juga lagi hamil. Harusnya di rumah saja.”, protes Kuswan yang sebenarnya salah sasaran. Kenapa harus mengatakannya pada Ibas.
‘Ha-ha… aku harus menjawab apa, ya.’, jantung Ibas dag dig dug karena takut salah bicara.
“Hm.. kurang tahu juga Pa. Mas Arya pesan seperti itu ke Ibas. Mungkin mama lebih tahu.”, ujar Ibas malah melemparkan bola pada mamanya.
‘Sh*t, kenapa aku malah bilang mama yang lebih tahu. Mana mama tahu. Argh… shhhhh…Ibas bodoh.. Orang paling gak bisa menyimpan rahasia. Hah…bagaimana ini.’, teriak Ibas dalam hati. Dia sangat panik sekarang.
“Mama kamu gak bilang apa - apa ke papa.”
__ADS_1
“Eh.. tumben kamu pulang cepat Ibas.”, tanya Inggit yang baru saja muncul dalam rumah.
“Biasanya juga kan Ibas pulang cepat, ma. Mas Arya aja yang antara gila kerja apa takut pulang, makanya gak pulang - pulang.”, celetuk Ibas.
‘Sh*t… lagi - lagi ini mulut gak bisa diajak kerja sama. Mas Arya, lagian salah sendiri selalu bikin sensi. Mulut aku kan jadi terbiasa sensiin mas Arya.’, ujar Ibas dalam hati.
“Ohiya.. Arya gak pulang lagi malam ini? Duh, padahal mama mau kasih rekomendasi galeri senam ibu hamil loh buat Dinda. Rekomendasi dari teman - teman arisan.”, kata Inggit kecewa.
“Apalagi sih ma. Kehamilan Dinda kan baru beberapa bulan. Dulu perasaan Andin gak ada ikut - ikut senam.”, komentar Kuswan.
“Ih… si papa. Siapa bilang dulu Andin gak ada ikutan senam. Kita aja yang tidak tahu. Dia kan hamilnya di luar negeri. Jadi gak kita pantau terus. Lagian, justru di awal - awal ini kita sudah searching - searching tempat senam, supaya nanti kalau sudah waktunya tinggal masuk, Pa.”, kata Inggit bersemangat membicarakan tentang senam hamil.
“Mama punya brosurnya dikasih teman arisan amam. Sebentar mama ambil.”, ujar Inggit melangkah ke dalam untuk mengambil brosur yang dia bawa dari arisan minggu lalu di dalam laci.
Ibas melihat ada kesempatan baginya untuk kabur.
“Ibas, mau kemana kamu?”, tanya Kuswan yang sudah melihat Ibas melangkah masuk diam - diam.
“Oh? Mau masuklah pa, mau ganti baju dan istirahat. Capek banget, pa.”, kata Ibas, padahal baterainya masih full 100% untuk bermain game online di kamarnya.
“Bas, papa weekend ini minta tolong diantar ke tempat golf, ya. Papa mau reuni sama teman - teman papa.”, ujar Kuswan.
Jantung Ibas hampir copot karena dia kira papanya masih ingin menanyakan perihal Arya dan Dinda.
“Oh.. bisa, Pa. Weekend ini Ibas tidak kemana - mana, kok. Tapi memangnya Pak Cecep kemana?”, tanya Ibas bingung. Biasanya juga papanya selalu diantar Pak Cecek. Kalau golf, pasti Ibas harus bangun pagi - pagi.
“Pak Cecep izin ada urusan kondangan saudara dekatnya. Jadi Sabtu Minggu tidak ada di rumah.”, ujar Kuswan.
“Hm.. ya sudah. Kalau begitu Ibas naik ke atas, ya.”, ujar Ibas pamit.
“Eh..tunggu.”, panggil Kuswan lagi.
“Hn? Ada apa, pa?”, tanya Ibas gregetan karena langkahnya kerap dihentikan papanya.
“Telepon Arya ya, bilang suruh pulang. Jangan di apartemen terus.”, ujar Kuswan.
“Iya, iya.. Padahal Ibas di rumah. Yang ditanya mas Arya mulu mas Arya mulu.”, protes Ibas yang merasa cemburu pada kakaknya.
“Memangnya kamu mau diajak ngomongin business dan ekonomi? Kalo mau papa gak akan tanya Mas kamu.”
“Ha-ha… makasih, Pa.”, Ibas langsung menyerah.
“Papa… ini loh brosur senamnya. Mama mau ajak Dinda daftar disini. Bagus loh, pa ini. Katanya bisa mempermudah persalinan. Terus bikin anak dan bundanya juga sehat dan bisa menghilangkan stress pra dan pasca melahirkan.”, Inggit yang baru keluar lagi langsung girang membawa brosur yang berhasil dia temukan.
__ADS_1
**********