
Semakin siang, udara semakin panas karena matahari semakin tinggi dan terik. Ratna kini tengah menghitung pendapatan bulanan dan merekap serta menjadwalkan beberapa pesanan cateringnya. Mulai dua bulan ke depan pesanan akan semakin membengkak karena sudah masuk musim nikah.
Minggu ini saja, sudah ada dua orderan berbeda. Tidak seperti dulu, sekarang Ratna memilah - milah orderan tergantung dengan kapasitasnya. Beberapa kali dia juga memberdayakan tetangga - tetangga sekitar yang mau dan membutuhkan uang saku tambahan. Namun, itu juga tidak bisa diandalkan karena terkadang tidak semua memiliki waktu senggang disaat bersamaan.
“Wah.. tuhkan Bun, lihat sekarang sudah betah di dalam rumah karena sudah adem. Coba dulu bunda menolak tawaran mas Arya untuk pasang AC di rumah, pasti sekarang bunda sudah kegerahan.”, kata Arga yang baru saja selesai mandi.
Dia ada kuliah siang ini dan sedang bersiap - siap. Sudah lebih kurang seminggu ini dia mulai berkuliah. Arga memutuskan untuk mengambil manajemen setelah sempat berdiskusi dengan Arya saat pria itu datang menginap di rumah.
“Kan masih bisa pakai kipas. Kamu berlebihan.”, jawab Ratna sambil menekan - nekan kalkulator di tangannya.
“Bunda menerima tawaran Arya karena bunda kasihan sama dia. Dia itu terbiasa kena AC. Bahkan kata Dinda dia bisa setel sampai 16 derajat. Yang ada dia kapok nanti tiap menginap disini karena kepanasan. Sekarang kan sudah ada AC jadi dia juga tidak ragu kalau lain kali menginap disini.”, ucap Ratna.
“Hm.. bunda.. Awalnya cuma boleh pasang di tempat mba Dinda kan. Di kamarku engga. Untuk mas Arya baik. Jadi di kamarku juga dipasang.”, ucap Arga dengan ekspresi senang sambil mencomot goreng pisang yang baru saja digoreng bundanya tadi.
“Kamu, kalau Arya menawarkan yang lain - lain, jangan diterima ya Arga. Walaupun dia suami mba kamu, ga boleh sembarangan terima. Bunda gak enak.”, kata Ratna memperingatkan Arga.
“Tapi kan menolak pemberian orang juga bisa membuat orang itu tersinggung, Bunda.”, Arga pandai mencari jawaban.
Hal ini lantaran dia jadi teringat pemberian Arya sekitar 3 minggu yang lalu padanya. Sebagai hadiah Arga berhasil masuk ke perguruan tinggi favorit, Arya memberikan uang jajan padanya. Tentu saja nominal yang tidak sedikit.
“Jangan - jangan Arya sudah memberikan kamu sesuatu, ya?”, Ratna seolah memiliki indera ke-6 karena bisa mengetahui hanya dengan melihat ekspresi wajah anaknya.
“Hem…”, Arga tidak ingin menjawab.
Dia sudah tahu bagaimana reaksi bundanya jika ia tahu.
“Arga..”, panggil Ratna lagi.
“Iya…iya.. Arga mengaku. Sekitar tiga minggu yang lalu, mas Arya tanya apakah Arga berhasil lulus di perguruan tinggi yang waktu itu Arga cerita. Dan mas Arya kasih uang jajan ke Arga. Dia bilang Arga ga boleh cerita ke Bunda apalagi mba Dinda.”, kata Arga.
“Aduh… Arga.. kamu ya.”
“Ya.. tapi kan maksud mas Arya baik, Bun. Dia juga bilang sudah anggap Arga adiknya sendiri makanya dia kasih jajan.”
“Pokoknya, kamu temui Arya dan kembalikan uang nya.”
“Tapi Bun, maksud mas Arya kan baik. Kalau dia tersinggung bagaimana?”
“Bunda tahu, maksud nak Arya pasti baik. Tapi, kita sudah banyak menerima kebaikannya Arga. Kamu hubungin Arya, bilang mau ketemu. Nanti kamu jelaskan baik - baik, ya. Kamu itu tanggung jawab Bunda, bukan Arya. Dinda, baru tanggung jawabnya.”
“Iya…”, kata Arga dengan wajah cemberut.
Sebenarnya dia juga merasa tidak enak, tapi dia lebih tidak enak lagi menolak karena takut Arya tersinggung. Sampai sekarangpun, Arga belum menggunakan uang tersebut dan menyimpannya.
“Ohiya, mba kamu sudah telepon belum? Belakangan jarang telpon, bunda kangen.”, kata Ratna.
“Mba Dinda kan sedang ke Lombok Bun, dia ga cerita?”
“Ohiyaa… iya dia cerita tapi bunda gak tahu kalau itu minggu ini.”
“Ya sudah, nanti kamu kirim pesan saja, tanya kapan mau kesini lagi.”
“Hm.”, jawab Arga singkat sambil kembali ke kamarnya.
*******
“Oh.. Dinda..!”, teman - teman Dinda berteriak secara bersamaan. Suara yang paling keras keluar dari Delina.
Arya dan Erick yang sedang berjalan ke area belakang kapal terkejut dengan teriakan itu dan berbalik. Mereka berdua tak mendengar suara seseorang jatuh ke laut, tapi begitu Arya tak melihat Dinda di kerumunan teman - temannya langsung bisa menebak kalau ada yang tidak beres.
“Ada apa?”, tanya Erick.
“Kamu bikin heboh aja, Del. Dinda kan tinggal berenang, kita bisa turunkan talinya.”, kata Andra yang masih memasang wajah tenang karena dia berpikir Dinda bisa berenang.
__ADS_1
“Dinda ga bisa berenang.”, ucap Arya yang tak bisa menyembunyikan wajah paniknya. Dia segera melepaskan life jacket.
“Dimana jatuhnya?”, tanya Arya pada mereka yang masih memasang wajah panik dan bingung.
Delina sudah panik dari tadi karena dia memang mudah panik jika ada hal yang tidak terduga terjadi. Andra dan Bryan masih bengong karena dia baru mulai panik begitu mendengar kalimat Arya bahwa Dinda tidak bisa berenang.
“DIMANA JATUHNYA?”, Arya tidak bisa mengendalikan dirinya dan sudah meninggikan suaranya. Meski Arya merupakan bos yang killer dan suka marah - marah, tetapi dia belum pernah sekalipun menunjukkan ekspresi seperti ini di ruang meeting.
Dia lebih sering bersikap sarkas, menggebrak meja, atau memberikan statement tajam pada bawahan yang dia anggak tidak perform dan serius dalam bekerja.
Suci yang ikut takut melihat ekspresi Arya menunjukkan dengan jarinya dimana tepatnya Dinda terjatuh beberapa detik yang lalu.
Tanpa pikir panjang, Arya yang sudah melepaskan sepatunya melompat ke arah yang ditunjukkan Suci. Ia membuat beberapa orang karyawan di area sebelah yang baru tiba disana terkejut.
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
“Apa? Siapa? Ada yang jatuh?”
“Pak Arya? Itu Pak Arya?
“Siapa?”
Para karyawan yang melihat apa yang terjadi barusan langsung bertanya - tanya.
“Kenapa bisa jatuh?”, tanya Erick yang juga panik. Dia ingin turun tetapi sebenarnya dia takut air. Dia bisa berenang jika itu hanya sekedar kolam renang. Tapi di laut dan ini di tengah laut. Butuh keahlian renang khusus untuk bisa berenang di laut lepas seperti ini walaupun arusnya tenang.
“Bryan… kamu mau apa?”, tanya Delina yang melihat Bryan juga melepas life jacketnya.
“Aku ga tahu kalau Dinda ga bisa berenang. Kalau ada apa - apa gimana?”, kata Bryan yang mencoba ikut melompat ke dalam laut namun Erick segera menahannya.
“Biarkan petugas yang turun tangan. Kamu tunggu disini saja.”, kata Erick begitu melihat dua orang petugas sudah bersiap siap untuk melompat ke laut.
Satu orang segera menurunkan tangga tali untuk menarik mereka yang di laut ke atas. Jarak antara bagian bawah kapal dan area atas lumayan jauh sehingga harus menggunakan tangga tali.
“Hah.. kalian ini. Kan sudah diperingatkan untuk tidak melepaskan life jacket meskipun di atas kapal dan tidak ada keadaan darurat. Sampai nanti kita tiba di tujuan, kita tidak boleh melepaskan life jacket, kenapa malah melepasnya hanya untuk foto?”, kata Erick yang ingin marah tapi tidak bisa karena melihat ekspresi Delina dan Suci yang sudah panik dan khawatir.
Erick mencoba melihat ke bawah namun belum ada tanda - tanda ada yang muncul ke atas. Beberapa detik yang berharga berlalu sejak Dinda terjatuh. Sehingga sulit bagi Arya yang tidak mengenakan peralatan lengkap untuk menemukan dimana dia.
Tadinya Dinda masih sempat muncul ke permukaan namun saat Arya melompat, dia sudah kehabisan tenaga. Para petugas yang baru saja menyusul juga ikut mencari.
“Shit. Aku kira Dinda bisa berenang.”, kata Bryan yang menyesal tidak langsung melompat saat Dinda terjatuh tadi. Andra juga masih bengong karena kejadiannya berlangsung dengan sangat cepat.
******
“Kamu, kenapa belakangan sering ke klub begini? Sepertinya aku sudah jarang melihatmu sejak kamu memulai pembukaan cabang usaha kopimu.”, ujar Sarah pada Dimas yang sudah setengah mabuk.
“Apa pedulimu.”, kata Dimas sinis.
“Hei.. seharusnya yang marah itu aku. Aku bahkan tidak tahu kalau Arya ternyata mengetahui semuanya. Hah.. semua harapanku untuk kembali pada Arya sudah sirna hanya gara - gara aku pernah mengandung anakmu.”, ujar Sarah kesal.
“Heh.. bukankah waktu itu kamu sempat senang karena akhirnya hamil? Aku kira kamu bisa mengakuinya sebagai anak Arya. Tapi, aku justru dibuat terkejut karena Arya sudah tidak pernah menyentuhmu lagi.”, kata Dimas.
“Siapa yang mengatakannya?”, tanya Sarah.
“Tidak ada. Aku hanya menarik kesimpulan seperti itu dan Arya tidak bergeming, yang berarti asumsiku benar.”
“Kamu tahu apa yang dia lakukan saat aku hanya sebentar mengobrol dengan isterinya? Dia menghajarku pagi dini hari. Itu berarti sudah tidak ada kesempatan untukmu kembali padanya.”, kata Dimas menghabiskan satu gelas terakhirnya, mengambil jaketnya, dan melangkah pergi.
“Terserah kamu mau mengatakan apa atau gadis bernama Dinda itu mau menunjukkan apa. Aku harus mendapatkan Arya kembali bagaimanapun caranya.”
“Sebelumnya, kamu memang cinta pada Arya. Tapi Sar, sekarang hanya tersisa obsesimu terhadapnya karena dia sudah menjadi milik orang lain.”, balas Dimas.
“Tidak. Sekali milikku, hanya akan jadi milikku. Setelah menghabiskan waktu dengan pria selain Arya, aku baru tahu betapa aku sangat nyaman bersamanya dan hanya dengan dia aku bisa hidup. Aku yakin, dia juga akan bosan bersama dengan gadis seperti istrinya itu.”, kata Sarah.
__ADS_1
Kali ini dia yang meninggalkan Dimas dan berjalan menjauhinya.
“Hah… apa lagi yang akan dia lakukan.”, kata Dimas mengacak - acak rambutnya.
*******
“Halo, iya betul dengan Dika Sadewa.”, jawab seorang pria yang baru saja menghabiskan malamnya di sebuah hotel.
“Hm.. Baik. Baik. Oke, saya available di tanggal dan waktu yang Bapak sebutkan. Oke.. baik..baik.. Saya akan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Oke.. tidak masalah. Oke.. terima kasih banyak Pak.”
“Siapa yang telpon?”, ucap Sarah masih berusaha mengerjap - ngerjapkan matanya karena melawan pancaran sinar matahari yang menyerang matanya.
“HRD..”, kata pria bernama Dika itu.
“Kamu jadi pindah?”, tanya Sarah yang bangun dan memeluk Dika dari belakang.
“Hm.. sepertinya sudah cukup waktuku bermain - main. Aku ingin tahu seperti apa pria yang paling kamu inginkan itu.”, kata Dika sambil menenggak kopinya.
Berbeda dengan Sarah yang masih mengenakan dress malamnya, Dika sudah sigap dengan suitnya yang rapi. Dia ada meeting hari ini bersama klien.
“Hm.. siapa yang kamu maksud? Apa kamu harus berangkat sekarang?”, kata Sarah yang masih belum sepenuhnya sadar karena pengaruh minuman semalam.
“Kamu, lanjutkan saja tidurmu. Anggap saja hari ini kamu cuti setengah hari. Aku akan menyetujuinya.”, kata Dika yang merupakan direct supervisor Sarah sekarang di kantornya.
“Kamu bermalam di luar begini apa istrimu tidak bertanya?”
“Kenapa? Kamu selalu saja menanyakan itu? Kamu merasa kurang menantang jika dia kurang kompetitif seperti yang kamu inginkan?”
“Hm.. aku lebih suka jika istrimu tahu dan dia datang ke kantor lalu berkata … mana wanita itu? Hahahaha..”, kata Sarah tersenyum.
“Tidak akan mungkin hal itu aku biarkan. Hingga saat ini, aku masih membutuhkan eksistensi istriku agar karirku dan strata sosialku terjaga. So, don’t ever say about us to her. Hm?”, kata Dika mencium singkat bibir Sarah dan mengambil tasnya lalu pergi keluar dari kamar hotel.
******
“Ibas, nanti siang kamu antar papa check-up ke rumah sakit, ya.”, kata Inggit pada Ibas.
“Lah, mama mau kemana?”, tanya Ibas yang mengambil sepotong sandwich di meja makan.
“Ya.. mama ikut dong. Masa mama biarkan papa pergi sendiri. Setelah itu, kamu turunin mama di depan rumah tante Indah, ya.”, ucap Inggit sambil mempersiapkan beberapa kue yang dia siapkan pagi ini.
“Tante Indah masih di sini. Kirain dia sudah kembali. Mama ada urusan apa dengan tante Indah?”, tanya Ibas akhirnya nongkrong di meja makan karena masih ingin mencomot beberapa potong sandwich lagi.
“Mama mau minta saran. Mas kamu itu masih anteng aja kalau mama ngomongin soal cucu. Dia masih terpengaruh oleh ucapan mantan istrinya.”
“Maksud mama?”, tanya Ibas heran.
“Iya.. mama mau cari dokter yang cocok untuk memeriksa kesuburan mas kamu. Biar dia yakin kalau dia itu bisa punya anak. Di keluarga kita itu, keturunannya bagus - bagus. Tidak ada yang bermasalah. Lihat saja papa kamu dan mama, punya saudara banyak.”
“Iyaa. .. sekampung memang. Lagian, anak itu nanti juga datang sendiri kok, ma. Ga perlu dipaksa begitu. Kasihan juga Dinda, dia kan masih muda.”, kata Ibas mengeluarkan sedikit pendapatnya.
“Hush.. mba Dinda. Dia itu kakak ipar kamu. Biasakan panggil ‘mba’.”
“Iya.. iya..lagian nih ya, Dinda.. Eh maksud aku mba Dinda itu baru memulai karir. Siapa tahu mas Arya memang mau membiarkan Dinda.. Eh maksudnya mba Dinda agar bisa berkarir dulu baru punya anak.”, tutur Ibas.
“Banyak kok, wanita - wanita karir di luar sana yang juga seorang ibu. Mama dulu juga waktu masih muda masih tetap kerja saat hamil kamu.”
“Halah.. Bohong banget, orang kata Bi Rumi, mamah sibuk arisan sama ibu - ibu kompleks waktu hamil aku. Jangan ngadi - ngadi deh mama..”, jawab Ibas tak ingin kalah.
“Kamu ini ya.. Jawab… terus.. Gimana pekerjaan kamu? Pacar sudah punya belum? Komentar ajaa…”
“Jiah.. giliran mama terpojok, pasti ajaa malah mojokin aku balik. Aku masih mau single. Kalau buru - buru nikah kaya mas Arya, nanti aku bisa duda juga. Mama ga mau kan, anak mama pernah cerai semua.”
“Heh… ni anak ya…Ibas.. Kamu..”, Inggit ingin menangkap Ibas namun bocah laki - lakinya yang sudah mulai dewasa itu segera berlari ke kamar atas.
__ADS_1