Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 141 Kembali ke Hotel


__ADS_3

Semua kapal sudah berlabuh di pulau yang menjadi destinasi tim building hari ini. Tidak akan ada banyak misi tim di sini, namun lebih banyak misi individu di sela - sela game, lunch bareng, dan aktivitas bebas.


Ke empat kapal yang membawa para karyawan mulai menurunkan penumpangnya. Selain mereka, di pulau ini juga terdapat pengunjung lain yang sudah tiba lebih dulu. Setelah semua penumpang turun, panitia memandu mereka untuk berjalan masuk ke area pulau. Sedangkan Siska sibuk berbicara dengan petugas kapal untuk mencari kapal lain yang mungkin bisa membawa Arya dan Dinda kembali saat ini juga.


Setelah beberapa kali komunikasi antara petugas dengan beberapa rekannya, Siska akhirnya bisa mendapatkan satu kapal yang dijadwalkan akan kembali sekitar 20 menit lagi.


“Pak Arya, saya bisa ikut kembali bersama Bapak. Lagi pula, Dinda mungkin butuh bantuan saat tiba di hotel.”


“Tidak perlu Sis. Saya tidak mau acara tim buildingnya tidak maksimal hanya karena ada insiden ini. Kamu terus stay disini untuk memaksimalkan dan memastikan acara berjalan dengan lancar. Jika membutuhkan bantuan, saya bisa minta petugas hotel wanita untuk melakukannya. Kamu tidak perlu khawatir.”, ujar Arya yang membawa Dinda menuju kapal yang dimaksud oleh Arya.


Dinda sudah mengganti bajunya. Lebih tepatnya, Arya yang memaksa gadis itu untuk mengganti bajunya agar tidak kedinginan. Di luar, Dinda memasangkan selimut menutupi tubuh sekaligus kepalanya karena hijabnya juga sudah basah dan Siska hanya bisa mendapatkan baju yang tidak memiliki hijab.


Semua karyawan sudah tidak ada yang terlihat di sisi pelabuhan. Begitu sampai di kapal, Dinda dan Arya mengambil duduk di area dalam kapal dan Siska berlalu menyusul yang lain sesuai dengan perintah Arya.


“Kenapa kamu? Dari tadi celingak - celinguk seperti orang tidak jelas?”, tanya seorang karyawan wanita pada Egi. Hal yang sama juga dilakukan Wawan namun dia tidak terlalu memperlihatkannya, hanya sesekali ia lakukan untuk memeriksa keberadaan seseorang.


“Kenapa aku tidak melihat Dinda? Semua kapal sudah menepi dan berjalan bersama, kan?”, ujarnya karena dia sudah bisa melihat mayoritas karyawan kantornya.


“Memangnya kenapa? Kan sekarang aktivitasnya individu. Tidak ada aktivitas tim, ya. Jadi, Dinda pasti sedang bersama teman - temannya.”


“Coba lihat disana. Biasanya Dinda kan berkumpul bersama kelompoknya itu, yang ada Suci. Tapi dia tidak bersama mereka. Kemana, ya?”, tanya Egi heran.


Wawan juga melebarkan telinganya untuk mendengar pembicaraan Egi. Dia juga mencari - cari keberadaan Dinda namun tidak begitu terlihat.


“Pak Arya juga sepertinya tidak ada. Kemana dia?”, tanya karyawan yang lain.


“Hei hei.. Sudah pada tahu belum?”, seseorang berlari dari barisan di belakang mereka menyusul sambil memberikan kabar.”


“Ada yang terjatuh saat perjalanan kesini.”


“Terjatuh? Terjatuh dimana? Jangan bilang di laut?”


“Hah, yang benar? Serius?”


“Benar. Aku baru mendengar kabar dari kapal yang membawa mereka.”


“Pantas seperti ada rame - rame di kapal yang paling depan. Meski dari kejauhan, tapi aku bisa melihatnya, seperti ada sesuatu.”


“Siapa? Siapa yang terjatuh?”


“Lalu? Sudah berhasil diselamatkan.”


“Ya sudah lah. Kalau tidak bagaimana mungkin kita bisa melanjutkan acara tim building. Kadang otaknya gak digunakan untuk berpikir, ya.”, ujar seseorang.


“Anak intern divisi sebelah yang terjatuh.”, ujar karyawan yang memang tidak terlalu mengenal divisi sebelah yang juga dipegang Arya.


“Hah? Jangan bilang, Dinda?”, tanya Egi terkejut.


Kali ini, Wawan juga tidak bisa pura - pura menyimak karena dia juga terkejut dan sudah memfokuskan perhatiannya pada pembicaraan mereka.


“Berhijab, ga?”, tanya Wawan karena orang yang menyampaikan kabar masih tidak tahu siapa Dinda.


“Hm.. sepertinya iya berhijab. Aku juga kurang tahu. Kabar dari kapal sebelah setengah - setengah.”


“Terus?”, tanya Egi tidak sabar.


“Pak Arya yang langsung terjun melompat menyelamatkan karena tidak ada yang berani lompat ke laut. Wah.. sampai butuh beberapa menit sebelum akhirnya muncul ke permukaan katanya. Mereka sudah sangat khawatir.”


“Bagaimana dengan Dinda? Maksudku gadis yang tenggelam itu?”

__ADS_1


“Dia berhasil diselamatkan. Meskipun Pak Arya harus melakukan CPR dan nafas buatan beberapa kali. Wah.. benar - benar aksi heroik yang memang hanya bisa terjadi dari orang seperti Pak Arya.”, ujarnya dengan ekspresi seperti mengagumi.


“Lalu, mereka dimana? Masih melanjutkan tim building?”, tanya Egi karena setelah hal seperti itu terjadi mereka masih melanjutkan acara.


“Kabarnya, gadis itu kembali ke hotel. Karena dia juga pasti shock. Bajunya juga kan basah semua.”


“Oh.. eh.. Tapi kenapa genknya masih lanjut tim building? Siapa yang menemani?”


“Hm.. aku tidak mendapatkan kabar sampai disitu. Tapi, pak Arya juga tidak ada. Coba saja cek. Tidak ada kan?”, ujarnya sambil mengarahkan pandangan pada orang - orang yang berjalan.


“Ah.. lalu maksudnya mereka hanya kembali berdua? Pak Arya dan Dinda? Hm..?”, tanya Egi dan Wawan yang keheranan.


Di satu sisi mereka berpikir itu hal yang normal karena Pak Arya sebagai supervisor mereka. Tapi disisi lain ada yang mengganjal memikirkan Dinda hanya kembali dengan Pak Arya dan tidak didampingi satu atau dua karyawan lain. Setidaknya panitia.


“Mereka hanya berdua? Aku tidak tahu kalau Pak Arya bisa sebegitunya?”


“Mungkin karena pakaiannya juga basah. Lagi pula, panitia hanya sedikit untuk mengatur acara ini. Kalaupun dia butuh sesuatu, dia kan bisa minta bantuan petugas hotel.”


“Wah.. apa tidak semakin shock dan trauma ya Intern hanya berdua dengan Pak Arya. Aku saja tidak bisa lebih dari lima menit di sampingnya. Bikin sesak nafas.”, ujar Egi.


“Halah.. Bohong sekali kamu. Bukannya kamu beberapa kali memberikan presentasi dan laporan ke Pak Arya.”, ujar Wawan tidak terima dengan statement hiperbolanya barusan.


“Iya.. habis itu, aku muntah - muntah.”, jawaban Egi langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.


Sementara di sisi lain, ada beberapa orang yang juga masih merasa bingung dengan apa yang sudah terjadi.


“Bagaimana dengan Dinda, ya? Kenapa kalian tidak mengeceknya? Kalian kan perempuan.”


Suci dan Delina hanya saling berpandang - pandangan. Mereka juga tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Memangnya Pak Arya perempuan? Apa mereka ada hubungan sepupu, ya? Aku seperti merasa interaksi antara Pak Arya sangat natural.”, ujar Andra keheranan.


“Kalian, kenapa diam saja?”, tanya Andra pada yang lain.


Tidak ada yang menjawab sama sekali.


*******


Kapal yang membawa Arya dan Dinda kembali ke area hotel sudah berangkat. Tidak ada kalimat yang keluar dari keduanya. Dinda terlalu lelah untuk bertanya meski dia sudah merasakan aura yang tidak biasa dari Arya.


Di sisi lain, perasaan Arya saat ini campur aduk antara marah dan khawatir pada keadaan istrinya. Sehingga, hal yang bisa dia lakukan adalah diam agar tidak menyakiti gadis itu. Dinda juga tidak berani melihat ke arah pria itu. Dari perlakuan pria itu tadi, Dinda sudah cukup sadar kalau Arya sangat marah.


“Wah.. habis bulan madu, ya? Sampai basah - basah begitu.”, ujar seorang ibu - ibu yang duduk di dekat mereka.


Arya hanya tersenyum untuk membalas obrolan ibu - ibu itu dengan sopan.


Tak berapa lama, Arya berdiri dari tempat duduknya tanpa mengatakan apapun pada Dinda.


“Mas Arya mau kemana?”, tanya Dinda memegang lengan pria itu saat dia berdiri.


Arya tidak menjawab dan lanjut pergi melepaskan pegangan tangan Dinda. Wajah Dinda sendu menatap langkah Arya yang berjalan keluar. Dia sangat takut kalau Arya sedang bersikap begini. Ya, begitulah sepertinya cara Arya meluapkan kemarahannya.


Dinda sudah cukup merasakannya saat tempo hari Arya mendapati gadis itu berbicara dengan Dimas di parkiran.


‘Kali ini bagaimana aku bisa meredam kemarahannya. ‘, tanya Dinda dalam hati.


Arya berdiri di pinggir kapal menghadap ke arah lautan lepas. Dia menarik nafasnya berat. Bayangan saat dia mendengar Dinda terjatuh, momen dia melompat ke laut dan hampir tidak menemukan gadis itu. Momen saat Arya tidak bisa melihat dan merasakan deru nafas Dinda. Momen dia hampir menyerah dan berpikir Dinda tidak kembali.


Bayangan - bayangan itu membuatnya gila. Arya menggenggam erat pegangan besi di pinggiran kapal karena dia tidak bisa meluapkan perasaan - perasaan itu. Betapa dia benar - benar khawatir dan merasakan kepanikan luar biasa dalam hidupnya. Gadis itu benar - benar telah mengubah 100% proyeksi dalam hidupnya.

__ADS_1


Beberapa kali Arya memejamkan matanya, menarik nafas dalam, dan berusaha mengendalikan diri untuk tidak meluapkan kemarahannya pada gadis itu.


Sesampainya di hotel, Arya mengantarkan Dinda ke kamarnya dan menunggunya di luar.


“Ambil baju kamu, saya tunggu disini.”, perintah Arya. Nadanya masih sama, dingin.


“Hm?”, tanya Dinda bingung.


“Kamu ke kamar saya. Bebersih, lalu kita pergi ke rumah sakit.”, jawab Arya saat Dinda menoleh ke belakang.


“Tapi mas, saya gak apa - apa, kok. Saya gak perlu ke rumah sakit.”


Arya tidak menjawab dan hanya memberikan tatapan tajamnya. Meski tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya, tapi Dinda sudah cukup tahu apa yang dimaksud Arya.


‘Jangan berdebat denganku.’, begitulah mungkin maksud dari tatapan pria itu.


Dinda mengambil satu buah tas kecil dan memasukkan bajunya ke dalam. Dia juga mengambil hijab agar tak perlu menutupi rambutnya dengan selimut lagi. Setelah itu, mereka berjalan menuju kamar hotel Arya.


Dinda mengambil duduk di ranjang sembari Arya masuk ke dalam kamar mandi. Tadinya, Dinda pikir pria itu ingin mengambil giliran lebih dulu untuk membersihkan diri. Ternyata dia sedang mempersiapkan sesuatu.


“Aku sudah menampung air hangat di dalam bath-up. Mandi dan berendamlah selama 10 menitan untuk menghangatkan kembali tubuh kamu.”, kata Arya sambil melepaskan baju yang sedang dia pakai.


Dinda ingin sekali mengatakan kalau pria itu bisa mandi dan berendam terlebih dahulu karena dari tadi dia memakai pakaian basah. Tapi, Dinda tidak berani untuk mengatakannya dan hanya bisa menatapnya sendu.


Dinda melangkah ke dalam kamar mandi dan mengikuti perintahnya. Dinda memasukkan tubuhnya di dalam bath-up dan benar, berendam di dalam air hangat membuatnya merasa lebih baik.


“Yuk.. guys kita foto - foto dulu disini.”, ujar Delina yang sudah meminta Andra mengeluarkan kameranya dari tadi. 


“Bareng - bareng atau gimana nih?”, kata Andra. 


“Bareng - bareng aja. Andra, biar aku yang setting kameranya, ya. Timernya biar aku yang mengatur. Nanti begitu aku sudah selesai setting, aku akan segera berlari masuk ke frame. Gimana?”, kata Delina menawarkan. 


“Terserah kamu saja.”, Delina melirik sebentar ke arah Pak Arya dan Erick yang sudah berjalan menjauh ke sisi kapal sebelahnya. 


“Guys, kita lepas life jacket saja. Biar fotonya jauh lebih bagus. Seperti model - model itu. Kita kan sudah pakai rok nih. Jadi, biar lebih terlihat terbang - terbang terkena semilir angin.”, usul Delina. 


“Ya sudah kalau begitu.”, kata Suci juga melepaskan life jacketnya. 


“Ayo Din, kamu ga mau lepas. Sebentar saja. Lagian kan kapalnya aman.”, kata Delina. 


“Ah enggak ah, mba Delina. Aku pakai saja. Gapapa kok, ga harus terbang - terbang roknya, yang penting foto.”, kata Dinda masih menolak untuk melepaskan life jacketnya. 


“Din, ini kan kapalnya lagi berhenti. Udah sebentar saja, nanti juga kita pakai lagi. Udah lepas aja, gapapa kok. Kamu takut banget, sih.”, Delina terus membujuk Dinda beberapa kali untuk melepaskannya agar foto mereka terlihat bagus. Andra dan Bryan juga mengikuti permintaan Delina untuk melepaskan life jacketnya karena malas berdebat dengan wanita satu ini. 


“Okay… satu, dua, tiga…”, beberapa kali take semua berjalan dengan lancar. 


Delina baru saja akan mengambil foto lagi. 


“Bry, ngapain dipake. Kita masih mau ambil foto. Cewe - cewe dulu, nanti abis itu cowo. Ih.. kamu.”, kata Delina gregetan karena Bryan memakai kembali life jacketnya padahal Delina masih ingin mengambil foto. 


“Aku mau pakai juga ya.”, ujar Dinda hendak mengambil life jacketnya. 


“Ih.. Din, kita belum selesai ambil fotonya.”, ujar Delina mengikuti Dinda yang ingin mengambil life jacketnya. 


Semua terjadi begitu cepat ditambah dengan kapal yang sedikit bergoyang. Interaksi Dinda dan Delina yang bersinggungan satu sama lain, area foto yang terlalu dipojok, pergerakan yang sempit karena disana juga ada Suci, membuat Dinda kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam laut. 


Delina dan Suci begitu panik sampai tidak sadar dia sudah berteriak kaget. Bryan dan Andra kembali berbalik dan mendapati Dinda sudah tidak ada di atas kapal. Tidak ada salah satu dari mereka yang berinisiatif untuk menyelamatkan. Meski mereka bisa berenang, tapi ini di laut dan harus menyelamatkan seseorang. ‘Bagaimana kalau mereka malah jadi ikut tenggelam’, begitu kira - kira pikiran mereka. Saat semua perhatian tertuju pada mereka, Delina bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Arya. 


Karena takut disalahkan, dia menjawab seolah - olah keputusan untuk membuka life jacket adalah inisiatif mereka bersama. 

__ADS_1


*******


__ADS_2