
“Dinda, Dinda.. Sebentar, dengarkan saya dulu. Kamu mau kemana?”, tanya Arya menarik lengan Dinda yang yang menolak untuk menaiki mobilnya.
“Mau pulang sendiri.”, kata Dinda menepis pegangan tangan Arya.
“Naik apa? Kamu sedang hamil. Kamu naik mobil saya dan kita bicarakan ini baik - baik.”, kata Arya masih berusaha menarik lengan Dinda agar kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Bicara baik - baik. Mas Arya bentak aku barusan dan mas Arya bilang mau bicara baik - baik? Aku gak ngerti dimana salah aku.”, ujar Dinda menangis.
Bentakan Arya barusan mengejutkannya sekaligus melukainya. Seolah Arya masih memiliki perasaan pada wanita itu. Seolah Arya sedang menyingkirkan wanita itu dari pikirannya. Entahlah, Dinda tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Semuanya rumit.
“Saya sudah bilang, kamu jangan menemui wanita itu lagi. Kenapa kamu masih menemuinya? Kurang jelas omongan saya.”, ujar Arya dengan nada pelan tetapi mencekam.
Mereka sedang berada di parkiran sebuah toko butik elit. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dinda tidak tahu kalau Arya tahu dia menemui Sarah siang ini.
Dinda pulang seperti biasa. Datang ke parkiran dan masuk ke mobil Arya. Namun, bukannya langsung pulang ke rumah, Arya malah memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko butik mewah yang sudah tutup.
Hanya ada beberapa mobil di sana yang parkir. Kemudian, tanpa aba - aba, Arya langsung menanyakan tentang siapa yang dia temui siang ini. Dinda mencoba berbohong karena jelas Arya akan marah kalau dia bilang Sarah.
Lalu Arya membentaknya dan mengatakan apakah berbohong sudah menjadi kebiasaannya. Lalu dia lanjut marah karena Dinda sudah menemui Sarah. Padahal, Arya sudah bilang untuk berhenti menghiraukan wanita itu.
Pertama, Dinda kaget kenapa Arya bisa mengetahuinya. Kedua, dia tidak menyangka Arya bisa semarah itu. Kemudian entah kenapa muncul pikiran - pikiran lain dalam dirinya yang membisikkan mungkin saja Arya masih memiliki hati pada wanita itu.
Arya seperti sedang menjauhkan wanita itu dari hidupnya agar bisa melupakannya dan tetap tidak bisa. Seperti yang wanita itu katakan tadi siang.
“See… kamu bisa melihat bagaimana Arya masih menerimaku. Tunggu, aku dengar orang kantor belum tahu kalau kalian sudah menikah? Kenapa? Kamu takut mereka membanding - bandingkan dirimu denganku?”, Sarah sedang berusaha mencuci otak Dinda dengan perkataannya.
Dan dugaan Sarah tepat sasaran. Gadis yang saat ini berada di hadapannya masih ‘insecure’ meski sudah menjadi istri Arya Pradana. Karena apa lagi kalau bukan karena dirinya.
“Mungkin Arya melunak ke kamu karena kamu sedang hamil. Entah ya, kalau nanti kamu sudah melahirkan. Dia mungkin akan bosan dengan permainan dunia dongeng dari gadis kecil sepertimu. Kurang menantang.”, ujar Sarah terus menerus menyerang Dinda.
“Aku tidak percaya dengan foto ini. Di sekitar mas Arya memang ada banyak wanita. Interaksi seperti ini memang mudah untuk disalahartikan. Tapi mba, saya adalah istri sah mas Arya sekarang. Saya tahu bagaimana suami saya. Saya harap mba Sarah tidak lagi menemui saya untuk hal - hal seperti ini. Jadilah orang dewasa.”, ucap Dinda berhasil memberikan skak-mat pada Sarah.
Saat itu, Sarah menunjukkan kepadanya sebuah foto dimana Arya seolah sedang mencium pipi Sarah. Di sebuah hotel. Dinda memutuskan untuk tidak mempercayai semua perkataan Sarah dan percaya pada suaminya.
Dia yang tinggal bersama Arya sekarang. Dia yang paling tahu. Foto itu mungkin saja berasal dari acara atau apapun. Dinda tak berniat tahu. Setidaknya bukan dari mulut wanita itu. Lebih baik dia menanyakannya pada Arya.
Dinda berdiri dari kursinya dan meninggalkan Sarah disana.
“Saya mohon jangan menghubungi saya lagi melalui siapapun. Saya tidak ingin hubungan kita lebih buruk dari ini. Tapi, saya juga ingin mba terus berada di sekitar saya.”, kata Dinda sebelum akhirnya dia pergi dari sana.
Ya, Sarah langsung speechless. Dia tidak menyangka wanita itu punya nyali juga di depannya. Seperti saat dia mencium Arya dengan sengaja hanya untuk menunjukkan siapa istri Arya sebenarnya di bandara.
Hal yang tidak Sarah tahu adalah Dinda sebenarnya ragu. Dia tidak percaya diri. Kepalanya masih memikirkan kemungkinan bagaimana kalau foto itu benar. Bagaimana kalau ternyata Arya selama ini tidak jujur. Bohong kalau Dinda tidak memiliki pikiran - pikiran itu di kepalanya setelah apa yang wanita itu katakan.
Sekali lagi, kepercayaannya diuji. Ketangguhannya dicoba. Pendiriannya diterpa angin.
Sesampainya di rumah, hal yang pertama kali harus dia lakukan adalah mengajak Arya berbicara serius dan menyelesaikan benang kusut hari ini yang sudah diperbuat oleh mantan istri suaminya.
__ADS_1
Tapi, siapa sangka, dari kejauhan Arya yang sedang makan siang bersama beberapa alumni SMA nya di mall dekat kantor melihat pertemuan mereka berdua. Dinda dan Sarah. Meski tidak seluruhnya, tapi Arya tahu Sarah menemui Dinda atau entahlah mungkin sebaliknya.
Arya langsung meninggalkan temannya, permisi dan membiarkan mereka mencari tempat. Arya akan menyusul mereka nanti.
“Sarah, kenapa kamu masih menemui istri saya, huh?”, Arya kehilangan kata - kata untuk menghadapi orang yang pernah menghabiskan hidup bersamanya.
Sebagai orang yang pernah saling kenal, sebagai orang yang pernah menjadi keluarga, semarah apapun Arya hingga saat ini, dia masih berusaha untuk tidak menyakiti hati wanita itu.
“Wah.. selamat ya Arya, aku dengar kamu akan segera menjadi seorang ‘papa’. Hal yang selama ini kamu idam - idamkan tapi entah kenapa tidak ingin kamu wujudkan denganku.”, Sarah berbicara berputar - putar.
“Untuk apa kamu menemui Dinda? Bukannya aku sudah mengatakan untuk menjauh darinya, menjauh dariku, dan menjauh dari keluargaku. Aku dengar kamu mengatakan hal yang tidak menyenangkan pada mama di rumah sakit. Aku harap itu terakhir kalinya aku mendengar itu.”, ujar Arya.
“Kenapa kamu mau dengan perempuan itu dan tidak denganku yang menemani kamu lebih lama. Yang paham apa yang kamu mau. Apa yang kamu suka.”, ujar Sarah masih mencoba merayu.
“Aku tahu mama yang memergoki kamu di hotel bersama seorang pria. Aku rasa kamu membuat keputusan yang teman telah bercerai denganku dan aku membuat keputusan yang tepat untuk menikah dengan Dinda. Tiga tahun kebersamaan kita hanyalah kebohongan. Sekarang aku menyesal bertemu denganmu.”, ujar Arya akan pergi dari sana, namun sebuah foto yang terletak di atas meja mengganggunya.
Foto Sarah dan dirinya. Foto itu menunjukkan Arya yang seolah mencium pipi Sarah.
“Kamu memperlihatkan ini pada Dinda?”, ujar Arya mengangkat foto itu ke hadapan Sarah.
“Aku hanya ingin membantumu.”, balas Sarah.
“Dari?”
“Pengkhianatan istrimu. Kamu tidak tahu Dinda pergi berdua bersama siapa kemarin? Dika. Sepertinya mereka melewatkan waktu yang indah. Oh.. kamu belum melihat fotonya? Perlu aku berikan padamu sekarang?”, kata Sarah semakin menggila dengan imajinasinya.
“Sebaiknya kamu jaga istri kamu. Jangan sampai dia bermain - main dengan pria yang sudah menikah. Kalau istrinya marah dan melabrak bagaimana?”, ujar Sarah.
Sarah yang dia kenal sudah benar - benar hilang sekarang. Sarah yang dia kenal 10 tahun yang lalu sudah berubah.
“Ya.. I’m looking for one. You. You, Arya.”, pertengkaran mereka berdua berhasil menarik perhatian orang di sekitarnya.
Terlebih mayoritas pengunjung di mall itu saat jam makan siang adalah karyawan perkantoran yang ada di sekitar sana.
“No. You should get some help from a doctor. Not me.”, ujar Arya dengan nada pelan.
“Satu lagi. Cobalah untuk mulai menunaikan kewajibanmu sebagai seorang muslim dan merasakan bagaimana itu bisa menenangkan hatimu. Aku tahu terdengar aneh karena kamu mendengarnya dari seseorang sepertiku. Tapi, satu hal yang membuatku nyaman dengan istriku adalah keteduhan yang aku rasakan saat aku melihatnya mengenakan mukenanya. Melihat setiap sujudnya. Dan melihatnya berdoa dan berserah diri pada sang pencipta.”, Arya ingin melanjutkan kata - katanya, namun Sarah sudah tertawa lebar.
“Hahaha… aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Ah.. dia sudah mengubahmu sejauh itu? Atau bisa aku bilang, dia sudah memperdayamu sejauh itu.”, ujar Sarah.
“Huh.. tidak ada gunanya berbicara denganmu. Aku seperti berbicara dengan debu yang langsung berhembus ketika terkena angin. Sekali lagi aku peringatkan, jangan mengganggu Dinda lagi. Leave her alone. Leave me alone. Leave us alone!”, Arya pergi dari sana setelah mengatakan kalimat terakhirnya pada Sarah.
Kalimat tegas, penuh penekanan, dan tajam ke arah Sarah.
Ya, dia berharap ini menjadi kalimat dan pertemuannya yang terakhir dengan wanita itu. Setiap kali dia mendengar Sarah berbicara dan bersikap seperti itu, ada sedikit kekecewaan dalam hatinya. Kenapa dia harus bertindak sejauh ini.
Flashback selesai
__ADS_1
“Mas Arya masih punya perasaan terhadapnya?”, tanya Dinda.
Dia tak ingin menanyakan ini. Dia tak mau menanyakan ini. Tapi kenapa bibir Dinda malah mengatakan pertanyaan itu?
“Oh ****! Haruskah kita membahas ini lagi? Kamu percaya dengan foto yang diberikan oleh Sarah kepadamu? Se-dangkal itu rasa percaya kamu ke saya?”, tanya Arya menatap Dinda nanar namun ada ketegasan sekaligus kekecewaan disana.
“Din, someone has sent the same photo to me. Bedanya, foto itu bukan menampilkan saya dan Sarah sebagai pemeran utama. Tapi kamu dan Dika berdua di dalam mobil. DO I BELIEVE IT? NO. Aku yakin istriku tidak seperti itu. I dont give a ** about it! There must be a reason. Maybe not only you with him, but also there's someone else there. Mungkin kamu hanya kebetulan ada disana. Mungkin. Apapun itu. Selalu ada penjelasan dan orang yang akan aku minta penjelasan tentang itu bukan DIKA, tetapi KAMU. I’ll only listen to you, not HIM.”, ujar Arya sambil memegang bahu Dinda. Ada sedikit remasan kecil disana karena Arya sedang berusaha menahan emosinya.
“Tapi kamu, kamu malah bertemu dengannya. Huh… Okay.. sepertinya sulit untuk kita berbicara sekarang. Kita cari waktu lain. Kita tidak pulang ke rumah. Kita pulang ke apartemen. Kamu butuh waktu untuk memikirkan kembali semuanya. Aku juga begitu. Berbicara sekarang hanya akan membuat situasinya semakin buruk, dan semakin banyak kesalahpahaman.”, ujar Arya mengajukan usulan yang menurutnya menjadi opsi terbaik saat ini.
“Aku mau ke rumah bunda.”, suara Dinda bergetar.
Diantara banyak pertengkaran hebatnya dengan Arya, ini menjadi sesuatu yang berat untuknya. Bukan karena masalah mereka. Masalah yang mereka hadapi sebelumnya jauh lebih runyam dan jauh lebih berat dari ini. Tapi karena emosi Dinda tidak stabil. Dia lebih sensitif.
“No. Tidak boleh. Saya harus tegas disini. Kita kembali ke apartemen. Kamu tidur di kamar utama. Saya tidur di kamar tamu. Kita memberikan ruang pada diri kita masing - masing untuk berpikir. Bukan melarikan diri. No intervensi. Hanya kita berdua. Dan aku mau hanya malam ini.”, ujar Arya melihat lurus ke wajah istrinya.
“Makan tetap berdua. Shalat tetap berdua. Apapun yang biasa kita lakukan bersama di rumah. We do it. We still do it. Hanya perlu waktu untuk masing - masing. Otherwise, masalah hanya akan jadi semakin besar dan kita semakin jauh. Saya mau kamu menghadapi ini dengan pikiran dewasa. This is just a problem like the other one. And we’ll solve it. Mengerti?”, ujar Arya pada Dinda.
Dinda tidak menjawab. Saat Arya mengarahkannya untuk masuk kembali ke mobil, Dinda hanya mengikutinya tanpa perlawanan. Sepanjang perjalanan dia hanya diam. Arya melihatnya sesekali. Lagi - lagi, dia menyesal telah membentak gadis itu di awal. Emosinya pada Sarah malah dia luapkan pada gadis itu.
Tapi di satu sisi, dia juga kecewa dengan cara Dinda menyikapi ini.
“Halo, ma. Arya sama Dinda mau menginap di apartemen saja, ma. Gak usah ditunggu. Iya.. sebentar lagi kita sampai. Engga kok, ma. Cuma kasihan aja Dinda capek kalau pulangnya ke rumah. Kejauhan dan macet juga, abis hujan. Oke, ma. Yup. Dinda? Sebentar ma.”, ujar Arya.
“Sayang, mama mau bicara dengan kamu.”, ujar Arya menyerahkan ponselnya.
“Iya, ma. Nggak kok, ma. Hm.. tadi meetingnya selesai terlambat. Jalanan juga macet total. Jadi mas Arya memutuskan untuk pulang ke apartemen saja. Hn. Iya. Susu..”, Dinda melirik ke arah Arya.
Dia lupa kalau di apartemen tidak ada susu hamilnya.
“Nanti kita beli di minimarket terdekat.”, ujar Arya.
“Nanti mas Arya akan beli di apartemen terdekat.”, Dinda menahan tangisnya.
Entah kenapa berbicara begini setelah pertengkarannya dengan Arya malah membuatnya ingin menangis saja.
“Hn.. Iya ma.”, Dinda mematikan ponsel itu dan meletakkannya di samping.
Kemudian, sepanjang perjalanan, Dinda hanya melihat ke arah jendela luar. Berpikir dimana kesalahan ini dimulai.
***********
“Kamu apa - apaan sih Rianti? Aku tidak selingkuh. Argh.. dia bawahanku. Ada orang lain di mobil itu selain aku.”, Dika berteriak berusaha menjelaskan situasi pada istrinya.
‘Sh*t, siapa sih yang mengirimkan foto ini pada Rianti. Kurang kerjaan, apa? Mungkinkah Sarah? Bukankah ini berbeda dari yang dia janjikan? Kenapa malah mengirim fotonya dengan Dinda pada Rianti?’, berapa kalipun Dika berpikir, dia tetap tidak mengerti.
“Lalu mengapa yang tertangkap kamera hanya kamu dan perempuan ini. Dan aku juga ingat, dia wanita yang bersama kamu waktu aku datang tiba - tiba di kantor, kan? Waktu itu kalian juga tampaknya mau pergi keluar bersama.”, kata Rianti.
__ADS_1
Dia puas untuk berteriak di rumah ini karena Putera kebetulan sedang tidak di rumah. Jika harus membuat rumah ini menjadi medan perang untuknya. Baiklah, dia akan menjadikannya sebagai medan pertempuran.
“I have no idea. Mungkin saja some tricks or edits? Anyway, apapun itu, kamu salah total. Semua tidak seperti yang kamu bayangkan.”, balas Dika.