Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 247 Kehadiran dan Pengakuan


__ADS_3

Sarah memutuskan untuk meninggalkan Cafe Dimas dan kembali ke kantornya karena pria itu terus saja mendesaknya untuk menjelaskan kenapa dokter Rumah Sakit menghubunginya. Walaupun Dimas adalah ayah dari bayi yang dikandung Sarah 3.5 tahun yang lalu, tapi mereka tidak pernah menikah.


Tapi, dokter rumah sakit itu tetap memintanya untuk memberikan nomor ponsel seseorang agar Sarah bisa berdiskusi dan menyelesaikan treatmentnya. Saat itu, Sarah tidak tahu harus memberikan nomor siapa.


Dika sudah jelas hanya bersamanya disaat - saat tertentu saja. Apalagi belakangan ini, pria itu nampak bersama dr. Rima. Arya, apakah masih ada ruang bagi pria itu untuk sekedar mempedulikannya. Terlebih dia sudah tahu Sarah bercerai darinya dalam keadaan hamil dan itu jelas bukan anaknya.


Dimas? Sebenarnya Sarah punya pilihan untuk memberikan nomor orang lain seperti yang Dimas katakan saat mereka berbicara tadi. Tapi, saat membuka nomor ponselnya, nama itu mendominasi ponsel Sarah.


Hati kecilnya ingin Dimas tahu kondisinya meskipun Sarah tak mengatakannya. Hati kecilnya ingin seseorang menyelamatkannya dari keterpurukan meski Sarah tak mengakuinya.


‘Sudahlah. Semoga dia tidak menanyakan itu lagi padaku. Aku penasaran wanita mana yang sedang dia kencani, kenapa dia malah balik bertanya padaku?’, Sarah berdecak kesal dalam hatinya sambil menekan tombol lift menuju parkiran.


‘Sudah terlanjur disini, apa tidak sekalian aku coba temui Arya? Sudah jam berapa ini? Mungkin dia sudah selesai makan siang? Apa dia sedang meeting?’, pikir Sarah dalam hati.


Sarah menekan tombol paling bawah untuk menuju ke basement terakhir di lantai paling bawah. Untuk pengunjung yang bukan merupakan pekerja di area perkantoran ini, mereka hanya mendapatkan jatah parkir sementara di basement paling bawah. Basement itu juga digunakan untuk parkiran motor.


Ting.


Sarah menaiki lift itu bersama dengan beberapa orang lainnya yang mungkin juga baru saja menyelesaikan urusannya di perkantoran ini. Lift langsung berjalan mulus sampai di lantai basement terakhir.


Sarah keluar dan langsung mencari kunci mobilnya di dalam tas. Dia sudah mengubek - ubek isi tas, namun tak kunjung menemukan kunci mobil miliknya. Secara refleks Sarah memeriksa saku - saku blazer dan juga celananya kalau - kalau ternyata dia meletakkannya disana. Namun nihil.


Dia tak kunjung menemukan kunci yang dia cari. Sarah akhirnya berinisiatif untuk mengeluarkan ponselnya menghubungi Dimas.


“Dim, kunci mobil aku ada disana ga? Aku ga nemu nih disini.”, ujar Sarah.


“Sebentar ya aku cari.”, di seberang sana Dimas mencoba mencari - cari kunci mobil milik Sarah.


Dia tahu bentuk dan warnanya sehingga lebih mudah baginya mencari. Dimas sempat mengira kunci itu mungkin terjatuh di lantai karena saat dia beranjak dari meja tadi, Dimas tak melihat kunci itu tertinggal.


“Ah..”, Dimas teringat kalau Sarah adalah tipikal yang suka bosan menunggu. Mungkin saja wanita itu memainkan kuncinya di suatu tempat. Dan benar, ternyata kunci yang dia cari sudah masuk ke dalam salah satu tempat tisu yang ada di meja tadi.


“Bagaimana kamu bisa memainkan kunci ini disini dan lupa mengambilnya lagi.”, kata Dimas.


“Aku akan mengantarnya ke basement bawah, kamu tunggu saja di lift.”, ujar Dimas.


“Halo… Dim.. Halo… aku tidak dengar. Dimas…”, ujar Sarah berkali - kali memanggil namun sepertinya sinyalnya terputus. Dia tidak sempat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh pria itu.


“Ya sudahlah aku ambil lagi saja.”, Sarah menekan tombol lift bermaksud untuk naik lagi ke lobi dan mengambil kuncinya. Dia tidak berpikir Dimas bersedia mengantarkan kunci itu padanya sama sekali.


Lift langsung terbuka karena sepertinya tak ada yang menekan tombol lift sejak terakhir dia turun tadi. Sarah masuk dengan mulus dan menekan tombol ‘GF’. Pintu lift tertutup sempurna. Sarah menutup kembali tasnya setelah dia obrak abrik untuk mencari kunci mobil yang ternyata tertinggal.


Ting Tong. Lift mengeluarkan bunyi pertanda ada yang mentrigger lift di lantai basement sebelum menuju GF.


‘Ah.. siapa sih yang mau ke atas, aku buru - buru.’, ujar Sarah berdecak kesal.


Dia berharap perjalanannya ke atas semulus saat dia menekan tombol lift tadi. Ternyata lift berhenti di lantai basement pertama, satu lantai sebelum ‘GF’. Sarah yang tadinya melihat ke arah bawah kemudian mengangkat wajahnya. Gerak refleks orang di dalam lift yang menunggu orang di luar lift untuk masuk.


Betapa terkejutnya dia saat melihat Arya ada tepat beberapa langkah di depan lift.


‘Hah..’, respon Sarah speechless saat melihat Arya tak sendiri tetapi bersama gadis itu. Orang yang menurutnya sudah mengambil Arya darinya. Orang yang entah darimana tiba - tiba datang merenggut kehidupan yang seharusnya dia punya. Orang yang membuat dirinya merasa sangat tidak berarti. Orang yang membuatnya kembali merasa bersalah kehilangan bayinya.


Beberapa detik setelah Sarah menyadari mereka, kini giliran Dinda yang juga menyadari ada orang di dalam lift. Mata Dinda langsung membulat saat sadar siapa orang yang ada di dalam lift. Keterkejutan Arya yang tidak menghadap langsung ke lift langsung membuatnya menoleh.


Dia tidak seterkejut Dinda. Tapi kerlingan matanya tetap memberitahu bahwa dia tidak mengantisipasi wanita itu muncul dari sana.


Secara refleks, Dinda langsung melepas pegangan tangan Arya di pinggangnya. Entah kenapa Dinda melakukan itu, dia pun tidak tahu. Dinda terdiam antara mau melangkah masuk atau tidak. Namun Arya langsung mengambil tangannya dan memegangnya erat. Lalu, Arya melangkah masuk ke dalam lift dengan santai.


Pegangan tangan itu bukan lagi pegangan tangan biasa. Arya bukan ingin mencoba menunjukkan sesuatu pada Sarah. Hubungan mereka sudah lama berakhir. Tak ada lagi yang ingin Arya tunjukkan atau berusaha tunjukkan. Wanita itu sudah tahu kalau sekarang yang ada di dalam kehidupannya hanya Dinda, istrinya.


Kenapa Arya memegang tangan Dinda erat? Karena Arya ingin memberikan Dinda presensinya. Dia ingin menunjukkan bahwa sudah saatnya Dinda percaya diri bahwa dia yang sekarang menjadi istri Arya. Sarah bukan siapa - siapa dan dia tidak perlu takut menunjukkannya.


‘Kenapa aku tadi begitu.’, kata Dinda dalam hati.


‘Padahal waktu di bandara, saat tanpa sengaja bertemu dengan Mba Sarah, aku dengan mantapnya mencium mas Arya. Kenapa tadi aku malah begitu.’, kata Dinda merutuki gerakan refleksnya yang tidak sesuai perintah hatinya.


Dinda melirik sebentar ke arah Arya.


‘Mas Arya marah gak ya.’, ujar Dinda menggigit bibirnya.


“Such a lovely thing to see.”, ujar Sarah dengan nada dingin.


Arya tak menghiraukannya. Jarak antara lift basement 1 dengan GF hanya satu lantai, sehingga perjalanan mereka di dalam lift hanya sebentar.


Ting.


Begitu pintu terbuka, Arya segera berjalan keluar dan masih menggandeng Dinda erat. Satu lagi kejutan. Di depan lift sudah ada Dimas yang sedang menunggu lift untuk turun. Tadinya, dia bermaksud untuk mengantarkan langsung kunci mobil itu pada Sarah.


Keempatnya, untuk pertama kali setelah pertemuan mereka di restoran tempo hari. Bedanya, ketegangan saat itu tidak terasa lagi disini. Dimas tentu terkejut melihat Sarah, Arya dan Dinda berada dalam satu lift. Namun, saat ini dia merasa lebih biasa.


Dimas merasa kemarahan Arya pada perbuatannya dulu akan mereda seiring berjalannya waktu. Dia tak lagi bersinggungan dengannya karena sudah menyerah untuk mendekati Dinda sepenuhnya.


Arya, pria itu sudah menganggap keduanya orang lain. Meski luka itu masih ada, tapi luka yang berbeda. Dulu, saat dia belum benar - benar mencintai Dinda, rasanya sakit harus melihat Sarah dan Dimas berada di frame yang sama.


Sekarang, dia hanya mengingat pengkhianatan keduanya dan bukan lagi rasa cinta pada Sarah sebagai mantan kekasihnya atau Dimas sebagai mantan sahabatnya.


Dinda, dia masih merasa canggung berada dalam bagian cerita ketiganya. Yang dia lakukan adalah menikah dengan Arya. Namun ternyata hal itu membawanya dalam peran utama cerita ketiganya. Tapi, Dinda tak pernah ingin masuk. Dalam ceritanya, hanya ada Arya dan dirinya.

__ADS_1


Arya melangkah ke depan menuju lift lobi untuk naik ke lantai atas area kantor perusahaannya. Dia tak mempedulikan keduanya.


“Arya, bisa kita bicara sebentar.”, akhirnya Sarah memecah keheningan yang seharusnya memang lebih baik dibiarkan seperti itu.


Arya tak menghiraukannya dan terus melangkah maju. Sarah ingin menyusul namun Dimas menahan lengannya.


Sarah menepisnya dan terus menyusul Arya.


“Arya! Bisa kita bicara sebentar? Kamu tidak masalahkan?”, pertanyaannya yang kedua dia arahkan pada Dinda.


Dinda memandang suaminya. Beruntung belum ada orang lain disana. Setidaknya untuk beberapa menit kedepan sebelum geng Suci, Andra, dan yang lain baru keluar dari pintu lift basement yang satunya.


Arya tetap tak menghiraukan Sarah. Menurutnya, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Dia kira Sarah sudah mengerti. Dia sudah mengatakannya berkali - kali.


“Arya. Kalau kamu menolak, aku akan membuat keributan disini.”, ujar Sarah meninggikan nadanya.


Kontrol emosinya masih biasa saat di lift. Dia mampu menahannya. Tapi begitu melihat Arya benar - benar bersikap cuek padanya, darahnya langsung mendidih dan emosinya meledak.


“Sarah, tenangkan dirimu.”, Dimas mau tidak mau harus maju agar tidak terjadi keributan jilid dua yang baru berlangsung seminggu yang lalu.


“Buatlah keributan sesukamu. Hingga detik ini aku masih menghormatimu. Tapi jika kamu memutuskan untuk mempermalukan dirimu sendiri. Lakukan sesukamu.”, ujar Arya tepat di telinga Sarah agar hanya mereka yang mendengarnya.


Ting.


Lift menuju lantai atas terbuka. Arya segera menarik Dinda dan masuk ke dalamnya lalu menekan tombol tutup.


“Hah… hah… hah… tunggu sampai aku hancurkan perempuan itu.”, kata Sarah menggertakkan bibirnya hingga urat - urat rahangnya menegang.


Dimas memejamkan matanya sebentar dan menghela nafasnya panjang mendengar perkataan Sarah. Perkataan yang dia tidak percaya keluar dari wanita itu.


“Sarah.. Tenangkan dirimu. Kita bicara di mobil sekarang.”, ujar Dimas memegang tangan Sarah.


Lagi - lagi Sarah menepisnya.


“Mana kunci mobilku?”, kata Sarah.


“Aku akan mengantarmu. Kamu tidak bisa menyetir dengan kondisi begini.”, kata Dimas masih menunjukkan perhatiannya.


“Mana kunci mobilku.”, ujar Sarah sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi.


Dimas mau tidak mau memberikan kunci mobil itu padanya karena dia melihat beberapa orang mulai berdatangan dari arah gate akses lobi.


Sarah mengambil dengan kasar kunci mobil itu dan berbalik ke lift basement. Tepat saat dia berdiri di depan pintu lift. Geng Delina, Suci, dan yang lain baru saja keluar dari lift termasuk Suci. Sarah masih dengan emosinya langsung masuk ke dalam dan tanpa sengaja menyenggol bahu Delina.


“Mba.. kalau jalan hati - hati dong.”, Delina tidak terima wanita itu secara sembrono menyikut bahunya dan tidak meminta maaf sama sekali.


Suci yang mengenali wanita itu langsung menahan Delina.


Sembari Suci menahan Delina, Sarah sudah menutup pintu lift. Dia tak peduli pada sekitarnya. Dia bahkan tidak sadar jika Delina telah berteriak marah padanya. Yang ada di pikirannya adalah Dinda, perempuan itu mengambil posisinya.


Bryan melihat ke arah lift tadi seolah mengenal wanita yang ada di dalamnya. Suci menyadari pandangan itu, namun Bryan berusaha menyembunyikannya dan berjalan maju menuju lift untuk ke lantai atas area perusahaan mereka.


**********


“Jadi, gimana dengan Dinda?”


“Dinda mana?”


“Itu loh anak intern yang ternyata istrinya Pak Arya.”


“Oh.. aku masih lihat dia sih hari ini. Sepertinya mulai masuk lagi ya.”


“Tuhkan.. Berarti benar ada nepotisme. Masa anak intern yang proses rekrutmennya gak jelas bisa masuk perusahaan hanya karena suaminya Kepala Divisi disini.”


“Lagian cuma intern. Gapapa kali. Kayanya ada beberapa juga di divisi lain yang titipan dari karyawan juga.”


“Oh.. kalo itu aku gak tahu. Tapi kalau yang jelas - jelas sudah ketahuan main kotor dan pakai pelicin begini seharusnya tidak diperbolehkan. Kalian kan tahu sendiri masuk ke perusahaan ini ga gampang. Nah, dia dengan mudahnya masuk.”


“Dia yang pegang proyek smart report juga kan?”


“Nah, kan sudah ketahuan tuh ada berat sebelah. Waktu dia pegang proyek smart report kan Pak Arya waktu jadi Kepala Divisi sementara divisi Digital and Development tuh. Siapa tahu memang doi yang masukin.”


“Masa sih Pak Arya yang dikenal super galak dan pro seperti itu. Paling istrinya si Dinda itu mungkin yang merengek minta masuk ke perusahaan ini.”


“Jangan - jangan berita dia selingkuh kemaren bener lagi.”


Plang.


Pintu kamar mandi terbuka. Dinda keluar dari sana dan mencuci tangannya seolah tidak terjadi apa - apa. Dia bahkan dengan tenang mengambil sabun dan mencuci tangannya. Ketiga karyawan wanita yang barusan memberikannya sedikit terkejut melihat anak itu ternyata ada disana. Dia kira di dalam toilet yang terkunci adalah anak business and partners juga.


“Maaf Mba. Saya ga bermaksud lancang. Tapi kalau ingin membicarakan orang jangan di belakangnya. Saya tidak menggunakan koneksi dengan Pak Arya untuk masuk ke perusahaan ini. Sebelum kenal Pak Arya, saya sudah melewati proses rekrutmen sesuai dengan standar. Mba bisa cek sendiri di HRD. Dan saya tidak berselingkuh. Kejadian waktu itu murni salah paham. Saya harap kalau ada yang ingin ditanyakan mengenai kebenaran berita, alangkah baiknya untuk bertanya pada orangnya langsung. Terima kasih.”, Dinda menundukkan kepalanya sedikit untuk menunjukkan hormat lalu pergi dari sana setelah mengambil tisu untuk mengelap air di telapak tangannya.


Ketiga karyawan wanita itu langsung terdiam. Agak terkejut karena karyawan intern itu berani berbicara pada mereka.


“Hah… hah … hah…”, sekeluarnya Dinda dari toilet, dia menepi sebentar di lorong arah ke pantry dimana tidak ada orang disana.


‘Dindaaa…. Apa yang kamu lakukan? Kalau kamu menunggu sebentar lagi, mereka juga akan selesai dan keluar, kenapa harus mencari lawan seperti itu.’, kata Dinda menyesali kata - kata dan konfrontasinya tadi.

__ADS_1


‘Semoga tidak ada diantara mereka yang level Manager ke atas. Kalau tidak, bisa gawat.’, ujar Dinda yang jantungnya masih berdetak kencang.


“Hei..”, Bryan datang dan itu mengagetkan Dinda.


“Kamu kenapa? Belum pulang?”, tanya Bryan yang muncul dari arah pantry tempat mesin kopi berada.


Jam memang sudah menunjukkan jam 5 sore. Besok adalah hari libur nasional, sehingga banyak karyawan yang sudah pulang terlebih dahulu.


“Kamu sendiri?”, tanya Dinda pada Bryan yang menyeruput kopinya.


“Setelah aku menghabiskan kopi ini. Aku ada janji dengan teman malam ini, tapi aku tidak yakin mata ini akan bersahabat. Aku sangat mengantuk sekarang.”, jawab Bryan.


“Memangnya kemarin kamu tidak tidur.”


“Aku menghabiskan malam dengan menonton beberapa seri film favoritku bersama para sepupu yang menginap di rumah. Alhasil hari ini aku sangat tidak bertenaga. Kamu tidak pulang? Bukannya besok libur nasional.”, tanya Bryan kembali ke pertanyaan sebelumnya.


“Ah.. biasa. Tunggu si bos dulu.”, Dinda sudah berani mengatakan tentang Arya. Karena Bryan memang sudah cukup lama mengetahuinya  dan dia sudah terbiasa.


“Hm.. tadi aku melihat mantan istrinya di lift. Kamu tidak apa - apa?”, tanya Bryan mengingat kembali pertemuan mereka tanpa sengaja tadi setelah makan siang.


“Oh? Kamu mengenalnya?”, tanya Dinda heran.


Setahunya lama kerja Bryan belum selama itu untuk tahu tentang mantan istri Arya.


“Ah.. aku juga tidak tahu. Mungkin aku tanpa sengaja pernah melihatnya di suatu tempat.”, ujar Bryan.


“Hm.. baiklah kalau begitu. Kamu masih ada yang harus diambil di pantry? Aku mau kembali ke kursiku.”, ujar Dinda sebelum dirinya melangkah pergi dari sana, sebelum ketiga karyawan yang tadi keluar.


“Tidak. Tidak ada. Yuk bareng.”, ajak Bryan.


Dari posisi mereka, lebih dekat jika mereka mengambil jalan dari pintu yang satunya. Karena untuk kembali ke divisi Digital and Development melalui jalur awal malah akan memutar jalan. Mereka melewati pintu keluar, jalur lift, dan membuka pintu yang satunya.


Di jalan mereka bertemu Delina dan beberapa karyawan Digital and Development lain yang sudah ingin pulang.


“Loh, mba Del. Katanya tadi masih ada yang dikerjakan. Kok sudah pulang saja?”, tanya Dinda bingung.


“Tadi sudah tanya Mba Rini, katanya boleh dikerjakan lusa. Siap - siap liburan dulu aja.”, ujar Delina bersemangat.


“Hm.. berarti tinggal Mba Suci yang ada di sana?”, tanya Delina memastikan.


Bryan tampak tak tertarik karena siapapun yang masih tersisa tak menjadi persoalan untuknya.


“Wah.. Suci sudah pulang juga. Tadi begitu kamu ke toilet, Suci selesai meeting langsung ambil tas pulang. Mungkin sudah 10 menit yang lalu dia turun. Disana tinggal Pak Dika sama mas Azis. Selainnya sudah pulang. Kamu belum?”, tanyanya.


“Belum. Mungkin sebentar lagi.”, ujar Dinda sambil melihat jam di tangannya.


“Tunggu Pak Arya, ya? Tadi aku lihat dia baru saja naik ke lift atas bersama seseorang, tim leader Business and Partners. Lupa namanya.”, kata Delina.


Ting.


“Liftnya sudah datang nih. Kalau begitu sampai bertemu besok ya, Din. Eh lusa, maaf. Bye bye.”, kata Delina sambil melambaikan tangannya.


Dinda tersenyum ikut melampai.


“Assalamu’alaikum. Hati - hati di jalan, mba.”, ujar Dinda dan pintu sudah terlanjur tertutup sebelum Dinda mendengar jawabannya.


Dinda dan Bryan melangkah masuk ke area divisinya.


“Kamu masih lama?”, tanya Delina.


Dia sedikit khawatir kalau hanya tinggal dirinya dan Pak Dika.


“Kamu ingin aku menunggu bersamamu.”, balas Bryan menawarkan.


“Ah tidak - tidak. Aku hanya bertanya saja.”, padahal di dalam hati dia ingin Bryan tetap ada disana sehingga kalau - kalau Pak Dika memanggilnya, Dinda bisa mengajak Bryan.


Dan puff… begitu membuka pintu masuk, secara kebetulan Pak Dika juga keluar dari ruangannya dan sedang mencari seseorang.


“Oh.. kebetulan sekali saya sedang mencari kamu. Bisa kita bicara sebentar?”, ujar Dika pada Dinda.


Dinda langsung melihat ke arah Bryan sebentar sebelum menjawab.


“Em.. bisa Pak. Maaf Pak, urusan pekerjaan atau…”, Dinda bertanya pelan.


Padahal, pagi ini dia sudah berlatih untuk bisa dengan percaya diri menghadapinya, tetapi begitu dipraktekkan ternyata memang sulit. Dia langsung kehilangan kepercayaan dirinya.


Dika melihat ke arah Bryan dan pria itu langsung mengerti apa yang harus dia lakukan. Meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.


“Persoalan pribadi. Kalau boleh, bisa bicara di ruangan saya?”, ajak Dika setelah Bryan kembali ke tempat duduknya.


“Saya minta maaf kalau saya tidak sopan, Pak. Untuk persoalan pribadi, bolehkah saya ijin agar pembicaraan dilakukan disini saja.”, ujar Dinda dengan nada pelan.


Meski dia kehilangan keberanian untuk mengatakannya, namun Dinda berusaha untuk tetap menyampaikan. Nadanya terdengar tak lugas tapi Dika tahu benar apa maksud gadis itu. Dan dia tahu benar siapa yang berpengaruh di belakangnya.


“Disini? Di jalan?”, kata Dika bertanya untuk memastikan karena mereka sedang berdiri di daerah jalan akses yang biasanya dilalui oleh para karyawan.


“Hm.. disana. Bagaimana Pak?”, tanya Dinda mengusulkan untuk bergeser sedikit ke meeting room yang transparan di depan area Digital and Development.

__ADS_1


Walaupun mereka hanya berbicara berdua, tetapi ruangan itu transparan. Dinda berharap, tidak ada kesalahpahaman yang akan terjadi kalau mereka berbicara disana.


“Baiklah. Ayo kita bicara disana.”, ujar Dika langsung melangkah menuju ruangan meeting yang jaraknya hanya sekitar 3 meter saja dari posisi mereka berdiri saat ini.


__ADS_2