
“Oiya, mas Arya. Aku lupa belum cerita ke mas Arya.”, Dinda mencoba membuka topik pembicaraan.
Mereka sedang dalam perjalanan ke kantor. Beberapa sudut jalan sudah mulai ramai. Padahal, jarak antara apartemen dengan tol sangat dekat hanya sekitar 10 menit saja tetapi karena ada perbaikan jalan, perjalanan mereka sepertinya akan sedikit memakan waktu.
“Hm?”, balas Arya seperti biasanya. Jawaban khas seorang Arya.
“Beberapa waktu yang lalu, aku dipanggil HRD mas. Beliau menyampaikan, karena performa kinerja aku bagus, katanya mereka ingin menawarkan posisi yang kosong di bagian IT.”, kata Dinda.
“Hm.. aku pernah dengar soal peringkat 5 besar intern yang ditawarkan untuk mengisi posisi - posisi kosong yang ada di perusahaan sebelum ditawarkan atau diumumkan ke orang luar.”, ucap Arya.
“Iya, benar Mas Arya. Wah, aku baru tahu tentang hal itu. Untung saja aku memang masuk 5 besar, kalau tidak, mungkin aku akan menyesal. Kenapa mereka tidak mengatakan ini sejak awal ya.”, kata Dinda bertanya - tanya.
Ya, jika para intern mengetahui informasi ini sejak awal mereka masuk, mereka pasti akan lebih bekerja keras selama masa intern 1 tahun ini.
“Hm. Logikanya begini. Kalau para intern tahu mengenai hal ini, mereka akan berusaha lebih keras. That’s true. Tapi, kemungkinan besar hanya untuk mengejar posisi 5 besar agar bisa ditawarkan posisi kosong di perusahaan tanpa tes. Motivasi mereka hanya berhenti sampai disana. Aku rasa karena itu HRD merahasiakannya.”, ujar Arya.
“Hm. Pak Alex mengatakan untuk merahasiakan ini juga selanjutnya pada yang lain.”, balas Dinda.
“Bukankah mereka juga menawari kamu bekerja di divisi Business and Partners?’, kata Arya.
“Oh? Kok mas Arya bisa tahu? Mas Arya yang merekomendasikan?”, tanya Dinda.
“Heh.. Percaya diri sekali kamu. Bukankah aku membedakan mana yang urusan pekerjaan dan pribadi?” Mana mungkin! Intern dengan performa seperti kamu itu banyak, Din. Divisi Business and Partners mencari yang autentik. One of a kind!”, kata Arya datar.
Wajah Arya saat mengatakan kalimat itu sangat serius. Ekspresi, tatapannya, dia benar - benar terlihat sungguh - sungguh mengatakannya.
Seolah Dinda merasa yang sedang berbicara di sampingnya ini adalah Pak Arya, bukan mas Arya. Meski kata - kata dari Pak Arya terlihat biasa, tapi sebenarnya sangat menyakitkan. Itu berarti Dinda belum ada apa - apanya sampai Pak Arya sendiri tidak mengakuinya.
“Apa perlu mas Arya berkata sejujur itu.”, kata Dinda terdengar kecewa.
“Hahahahah… kamu menganggapnya serius?”, tanya Arya tertawa.
Dinda merasa kebingungan dibuatnya. Sebenarnya Arya hanya ingin menggoda istrinya. Sudah lama rasanya dia tidak bersikap seperti Arya Pradana, Kepala Divisi Business and Partners di depan Dinda.
Benar saja. Akting Arya sukses besar dan Dinda mempercayainya.
“....... Maksud mas Arya?”, nada bicara Dinda sudah berbeda.
“Bercanda sayang. Aku hanya menebak. Dengan performa seperti kamu, seharusnya HRD menawarkan posisi di Business and Partners juga.”, kata Arya menjelaskan maksudnya.
Dia tidak menyangka Dinda benar - benar masuk dalam candaannya.
“Bete deh sama mas Arya.”, kata Dinda kesal sambil memukul bahu pria itu.
Biasanya dia akan memukul lengannya kalau kesal. Tapi Dinda tahu kalau lengan pria itu sedang sakit.
“Kenapa?”, tanya Arya.
“Bercandanya gak lucu. Candaan mas Arya adalah candaan Om - Om.”, Dinda benar - benar merasa kecewa dengan dirinya saat Arya berkata kalau performa dia belum ada apa - apanya.
__ADS_1
Wajah Arya terlihat sangat serius tadi. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir kalau Arya hanya bercanda. Dia bahkan melihat tatapan Pak Arya disana.
“Maaf - maaf. Iya, terus gimana kata HRD. Jangan ngambek gitu dong sayang. Kenapa memangnya kalau om - om. ”, Arya mau tidak mau melihat sesekali ke arah kiri.
Dia baru sadar kalau bercandaannya tadi benar - benar menyakiti Dinda.
“Itu bukan becandaan, mas Arya. Mas Arya tidak tahu betapa sakitnya mendengar kata - kata mas Arya tadi.”, Dinda malah tiba - tiba menangis.
Mendengarnya, Arya langsung panik.
“Maaf, beneran aku minta maaf. Jangan nangis. Din, ya ampun kenapa kamu malam menangis?”, Arya tak bisa menahan tawanya, tetapi dia juga sekaligus bersimpati pada tangis Dinda.
‘Seperti ini rasanya menikahi wanita yang lebih muda. Hahahahha.’, Arya benar - benar tak bisa menahan tawanya, padahal disampingnya Dinda sudah menangis karena dia masih belum bisa melupakan kalimat Arya barusan.
“Pantas saja mas Arya terkenal ‘Killer’.”, Dinda masih menangis sesegukkan.
“Performa kamu bagus kok. Tapi, to be honest, ada beberapa intern yang lebih baik dari kamu. That’s the fact. Jadi, gimana kata HRD? Hm?”, Arya berusaha berbicara selembut mungkin.
“Tuh kan. Mas Arya.”, suara tangis masih terdengar Dinda.
“Iya, Sebagai professional, aku juga harus bisa menilai dengan objektif, dong. Justru, itu menjadi celah untuk improvement buat kamu. Motivasi namanya, Din.”, kata Arya.
Meski bahasanya lugas, tapi dia menyampaikannya dengan lembut.
“Iya, tapi kan kita masih di dalam mobil, bukan di kantor. Harusnya mas Arya bisa memuji istrinya sedikit.”, tangis Dinda sudah berhenti tetapi deru nafasnya masih terdengar tidak beraturan.
“Ini, hapus air matanya pakai sapu tangan ini. Make-up nya luntur, tuh.”, goda Arya lagi.
“Aw… aw.. Iya iya.. Jadi gimana, dilanjut dong ceritanya.”, kata Arya sambil tersenyum.
“Nggak. Aku gak mau. Aku gak mau mengobrol dengan mas Arya.”, kata Dinda kesal.
“Maaf ya sayang. Jadi gimana, HRD nya menyampaikan apa lagi?”, tanya Arya dengan nada suara yang dibuat lebih perhatian karena Dinda sepertinya benar - benar ngambek.
“....”, Dinda tidak menjawab dan hanya menatap lurus ke depan.
Lampu merah menyala. Arya bisa lebih rileks di bangku setirnya sebentar.
“Sayang… atau mau aku cium dulu supaya marahnya hilang?”, tanya Arya meletakkan tangan kirinya di bagian belakang kepala Dinda dan mengusap - usapnya agar gadis itu merasa tenang.
“Mereka menawari aku posisi di divisi IT. Tapi, bukan IT yang stay di kantor.”, kata Dinda.
Setelah jeda beberapa menit, Dinda akhirnya menjawab pertanyaan Arya.
“Jangan bilang mereka menawari kamu posisi IT yang stay dengan klien?”, tanya Arya memastikan.
Lampu hijau menyala, Arya kembali melajukan mobilnya.
Dinda mengangguk sebagai balasan dari jawaban Arya barusan.
__ADS_1
“Trus? Kamu tertarik?”, tanya Arya lagi.
Dinda tidak menyangka HRD akan menawari istrinya posisi di divisi IT terlebih yang stay dengan klien. Dia kira HRD akan menawarkan Dinda posisi di tempatnya yang sekarang.
“Aku belum tahu. Menurut mas Arya bagaimana?”
“Kamu sudah tahu bagaimana role dan tanggung jawab posisi yang mereka tawarkan?”, tanya Arya memastikan.
“Hm. aku sudah baca beberapa tapi sebagian besar aku belum terlalu mengerti. Mereka memberikanku detailnya.”, jelas Dinda.
“Bagaimana dengan jadwal mulainya? Apakah mereka meminta kamu langsung masuk begitu masa intern berakhir?”, tanya Arya.
Dinda mengangguk.
“Mereka berharap seperti itu. Karena itu mereka memberikan informasi ini lebih awal. Biasanya mereka akan memberikan informasi seperti ini sebulan sebelum masa intern berakhir. Tetapikan aku masih punya waktu 3 bulan.”, jawab Dinda.
“Soal..”, Arya nampak ragu - ragu ingin mengatakannya. Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Dinda sudah menjawab lebih dulu.
“Aku sudah menanyakan tentang kehamilan. Apakah diperbolehkan jika ternyata saat ini aku sedang hamil. Dan kalau aku masuk di bulan ke 4, artinyanya aku hanya punya kurang lebih 3 bulan masa aktif bekerja. Mereka menjawab, seharusnya tidak masalah. Hanya saja saat cuti hamil, aku tidak akan mendapatkan gaji penuh.”, jelas Dinda.
“Kamu yakin? Siapa nama HRD yang berdiskusi dengan kamu?”, tanya Arya.
“Yakin dengan?”, Dinda masih belum mengerti arah pertanyaan Arya.
“I know I can’t say this. Aku paham sekali betapa kamu ingin sukses dalam berkarir. but… Din, sebenarnya jika kamu ingin break dulu setahun, I’m totally okay dan aku merekomendasikan itu.”, kata Arya dengan nada yang gentle.
Mendengar itu, Dinda menjadi lebih galau dari sebelumnya. Dia berada dalam dilema. Dilema antara ingin menjaga karirnya atau mengikuti saran Arya.
“Tapi mas, kalau aku break, aku harus berkompetisi lagi dengan angkatan di bawah aku.”, kata Dinda.
“There’s always an option. Kita sudah mau sampai, mungkin kita bisa bicarakan ini lagi nanti. Hm? Kamu info ke aku nama HRD nya. Nanti aku coba cari tahu.”, kata Arya.
Dinda menggeleng.
“Ga usah. Kalau mas Arya membantu mencari tahu, itu berarti aku memanfaatkan koneksiku dengan mas Arya. Aku tidak mau begitu.”, kata Dinda menjelaskan.
“Tapi ini tidak sama dengan koneksi. Sama saja dengan kamu meminta bantuan Siska atau Pak Erick untuk mencari tahu. Aku tidak memberikanmu privilege, tapi hanya informasi. Apakah mereka memang menyiapkan requirement yang cocok untuk kamu atau tidak.”, kata Arya menjelaskan sebelum akhirnya melajukan mobilnya masuk ke parkiran gedung.
“Mas Arya, kenapa kita tidak berhenti di gedung yang biasa?”, Tanya Dinda.
Tadinya, Dinda sangat fokus pada pembicaraan mereka sampai - sampai tidak begitu memperhatikan kemana Arya membelokkan mobilnya.
“Kamu sedang hamil. Aku gak mau kamu jalan terlalu jauh. Ini masih pagi kok, tidak akan ada yang lihat.”, ujar Arya.
Arya memilih menurunkan Dinda di parkiran kantor mereka. Hari masih pagi, parkiran Arya adalah area parkiran khusus kepala divisi, kecil kemungkinan mereka bisa bertemu yang lain.
Sebelum turun dari mobil, Arya mencium leher Dinda seperti biasa. Kemudian, dia membiarkan gadis itu turun terlebih dahulu dan menunggunya naik lift. Barulah Arya turun. Strategi ini untuk menghindari ada yang melihat kebersamaan mereka.
“Hai, good morning Pak Arya.”, suara seseorang mencuri perhatian Arya.
__ADS_1
Saat menoleh ke belakang, dia mendapati Dika sudah berjalan menghampirinya dari arah belakang. Tatapan mata Arya pada Dika berbeda saat dia menatap pria itu di depan orang banyak.
“Maaf, kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”, tanya Dika heran.