
Arya melajukan mobilnya dengan kencang keluar dari area kantor. Dia sudah tidak peduli dengan beberapa meeting yang harus dia hadiri sore ini. Dia juga tidak peduli dengan makan siangnya. Dia hanya ingin pergi dari tempat itu dan berusaha menghilangkan semua informasi yang sudah ia dengan tanpa sengaja.
‘Dimas. Apa yang pria brengsek itu sudah katakan? Hamil? Sarah? Brengsek’, Arya berkali - kali membanting dan memukul setirnya saat berhenti di lampu merah. Cuaca yang mendung, petir, dan akhirnya hujan seolah mewakili perasaannya saat ini.
Arya melaju tanpa arah. Dia hanya berpikir untuk terus melaju lurus. Ponsel Arya sudah berbunyi beberapa kali sejak tadi. Panggilan dari Dinda. Ia melihatnya sebentar dan tak menghiraukannya. Arya membenturkan kepalanya ke belakang kursi beberapa kali, mengacak - ngacak rambutnya, dan memukul stir dengan kuat. Beberapa orang bahkan ada yang memarahinya karena suara klakson yang terdengar.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Lama Arya melajukan mobilnya hingga akhirnya ia melihat sebuah hotel bintang 4 di depannya. Iklan besar pembukaan bar baru di dalam hotel itu menarik perhatiannya hingga ia langsung membelokkan mobil masuk ke dalam hotel itu.
Di saat seperti ini, tidak ada teman yang lebih baik dari alkohol menurutnya. Minuman yang ia jauhi selama beberapa bulan ini kembali memanggilnya. Tanpa pikir panjang, Arya langsung turun dan menyerahkan kunci mobil pada valet. Begitu masuk ke dalam pintu hotel, ia melepaskan satu kancing kerah bajunya.
“Barnya dimana?’, tanyanya pada seorang petugas hotel yang menyapanya di pintu depan.
“Di sebelah sana, Pak. Mari saya antar.”, kata petugas hotel tersebut pada Arya dan memandunya untuk masuk lebih dalam.
Bar yang menurut papan iklan di depan baru buka tersebut ternyata ada di lantai dua namun harus melalui escalator yang berbeda. Di sekeliling escalator, ada beberapa pohon palem kecil - kecil yang ditanam.
Begitu escalator sudah membawa mereka ke lantai 2, bar sudah terlihat jelas berada di sebelah kiri. Bar yang lumayan luas untuk hotel bintang 4. Ada beberapa meja round table di tengah, sofa di bagian pinggir dan tentunya beberapa kursi di depan bartender yang sedang sibuk mengaduk minuman.
“Oke. saya bisa sendiri.”, perintah Arya kepada petugas hotel. Ia mengisyaratkan agar petugas yang memandunya untuk pergi karena dia sudah tahu tempatnya.
Begitu sampai, Arya langsung melepaskan jas yang ia kenakan dan meletakkannya di kursi sebelahnya. Ia memerintahkan salah satu dari dua bartender disana untuk mengambilkannya minuman.
Bartender menatap Arya seolah bertanya minuman apa yang ia inginkan. Arya menunjuk botol Whiskey yang ada di rak belakang bartender tersebut. Ia pun mengayunkan tangannya ke deretan botol Whiskey untuk memastikan mana yang ingin Arya pesan. C
Begitu Arya mengisyaratkan stop, Bartender langsung mengambil botol Whiskey yang ditunjuknya dan menuangkannya ke dalam gelas berisi es kemudian memberikannya pada Arya. Ponsel Arya masih juga bergetar. Namun, sang pemilik ponsel tak ingin mengangkatnya. Ia tak menghiraukan deringan ponsel itu sama sekali.
Tak sampai 10 menit, Arya kembali memanggil bartender dan mengisyaratkan untuk mengisi botolnya yang kosong. Kali ini, Arya membutuhkan waktu 20 menit untuk maju ke gelas selanjutnya.
Saat ia datang, bar tersebut berisi sekitar 10 orang. Sepasang pria dan wanita di meja roundtable, 4 orang di sofa sebelah kiri, dan 2 orang di sofa paling belakang, sedangkan 2 lagi berada di depan bartender.
Lama kelamaan jumlah pengunjung berkurang dan saat ini hanya tinggal 2 orang saja. Yakni sepasang kekasih yang berada di round table. Arya sudah masuk ke gelas ke empat whiskeynya saat sepasang kekasih itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan bar.
“Permisi, Pak. Hanya mengingatkan kalau satu jam lagi kami akan tutup. Sekarang sudah pukul 9 malam.”, ujar bartender yang ada di depannya.
Arya sudah sangat mabuk untuk mengiyakan perkataan bartender itu. Alih - alih menjawab, ia lantas meminta gelas selanjutnya.
“Maaf, Pak. Sepertinya Bapak sudah sangat mabuk. Bapak mau di antar ke kamar, Bapak? Atau ada yang menjemput?”, Bartender itu masih mencoba mengajak Arya berbicara.
__ADS_1
“Kasih aja satu gelas lagi kenapa sih? Masih 1 jam lagi kan?”, bentak Arya pada bartender itu. Pria itu tidak punya pilihan melainkan mengambilkan satu gelas lagi untuk Arya.
Setelahnya, dia seorang memberikan kode pada teman yang satunya untuk memanggilkan manager mereka. Pria ini sudah sangat mabuk namun tak ada tanda - tanda ada orang yang akan menjemputnya.
*****
“Din, Arya mana? Belum pulang, ya?”, Inggit mengetuk kamar Dinda yang sudah pulang dari jam 6 sore tadi. Inggit bingung karena Arya tak juga pulang dan tak ada kabar darinya sama sekali.
“Mungkin ada meeting di kantor, Ma. Soalnya mas Arya kan baru pulang dari urusan kantor yang kemarin. Mungkin masih riweh tentang itu.”, kata Dinda berusaha menenangkan Inggit.
Dinda juga sebenarnya sedikit khawatir, karena di kantor, beberapa rekannya mengatakan kalau banyak orang yang mencari Arya. Dia tidak muncul di meeting jam 3 dan jam 4 dengan divisi yang berbeda.
Anehnya, Siska, sekretarisnya pun tidak tahu dimana keberadaan bosnya. Erickpun menanyakan pada semua bawahannya apakah mereka melihat Arya. Tapi, semua tidak ada yang melihat Arya.
Sepertinya, orang terakhir yang melihat Arya di kantor adalah Dinda. Tetapi, Dinda tak ingin mengatakannya. Dinda juga bingung menjelaskannya, dia takut malah banyak pertanyaan, dan meskipun dia melihatnya, itu juga tidak membantu.
“Hm.. dia memang sering pulang malam. Tapi sejak menikah dengan kamu, dia selalu bilang kalau memang ada urgent di kantor dan harus lembur. Kenapa malam ini dia ga bilang, ya.”
“Coba nanti Dinda telpon ya, ma. Mama tidur duluan aja. Biar Dinda aja yang tunggu, ya.”, ujar Dinda menyarankan Inggit untuk tidur lebih dulu.
“Baiklah kalau begitu. Mama titip, ya. Nanti kalau misalnya sudah atau belum, kamu bangunin mama aja, ya.”, Dinda menjawab dengan anggukan.
‘Sebenarnya tadi kenapa sih, pak Arya sampai pukul pria itu? Mereka sudah saling kenal? Kalo dipikir - pikir lagi, pertemuan di Mall, ekspresi mereka juga aneh. Waktu itu aku fokus ke pak Arya, jadi ga begitu perhatian.’
‘Ah.. aku harus bilang ke mama gimana, ya? Lebih baik aku tunggu sejam lagi.’, pikir Dinda dalam hati. Ia juga dari tadi hanya bisa mondar mandir di depan kasur. Arya sudah sering pulang malam, tapi dengan kejadian hari ini, Dinda tak bisa berhenti khawatir.
Tak lama ponselnya berdering. Panggilan dari Arya.
‘Ah, akhirnya.’, begitu pikir Dinda. Rasa lega perlahan membuatnya lebih tenang.
“Halo.. mas Arya? Mas Arya dimana? Dari tadi aku telpon…”, Dinda terus saja menghujamkan pertanyaan tanpa mendengarkan respon orang di seberangnya.
“Halo.. maaf ini dengan istrinya Bapak, Arya Pradana?”, Dinda merasa sangat asing dengan suara pria di seberang sana. Dia bingung. Tiba - tiba perasaan lega berganti kembali menjadi cemas.
“Iya.. maaf ini dengan siapa? Kenapa ponsel suami saya bisa dengan Bapak?”, tanya Dinda to the point.
“Mohon maaf Ibu. Bapak Arya Pradana minum di Bar ‘Late Night’, Hotel Y. Bar kami baru saja buka, jadi masih belum beroperasi maksimal dan sekitar 1 jam lagi mau ditutup. Kami sudah coba komunikasikan dengan pihak hotel dan sepertinya Pak Arya tidak memesan kamar. Apa boleh dibantu, Bu untuk dijemput?”, terang pria yang merupakan Manajer bar Hotel.
__ADS_1
“Minum?”, Dinda masih tidak bisa memahami situasinya dengan jelas.
“Iya Bu.. Bapak Arya minum hampir 8 gelas Whiskey dan sepertinya sudah mabuk berat. Kami juga tidak bisa bertanya. Kami mencoba menekan tombol 1 di ponselnya dan ternyata tertulis ‘Istri’ Bapak Arya. Mohon dibantu, Bu. Kami hanya bisa menunggu sampai jam 11 malam.”, ucap pihak hotel menjelaskan.
“....”, Dinda masih tidak bisa berkata - kata. Sekitar 30 detik, dia hanya terdiam dan bingung harus bagaimana. Jam sudah menunjukkan pukul 9.10 malam. Inggit dan Kuswan baru saja tidur. Dia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena takut dan tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.
“Ya udah, Pak. Boleh diinformasikan alamatnya. Saya menuju kesana sekarang.”, jawab Dinda. Manajer Hotel memberitahukan alamatnya dan Dinda dengan cepat langsung berganti pakaian.
Dia keluar dari kamar dan pelan - pelan menuruni tangga. Beberapa lampu rumah sudah dipadamkan. Kebetulan mba Andin dan kedua anaknya tidak di rumah. Ibas juga sedang menginap di rumah temannya.
Dinda mendapati Bi Rumi masih di dapur. Bi Rumi baru akan membuka suara menyapa Dinda dan bertanya namun Dinda segera memberikan kode untuk diam.
“Bi, aku mau keluar. Bibi tutup pintunya, ya.”, kata Dinda.
“Mau kemana malam - malam, Non?”, kata Dinda.
“Bibi jangan bilang mama, ya. Aku mau jemput mas Arya, dia di hotel Y.”
“Ngapain non jemput. Den Arya kan bisa pulang sendiri?”, mereka berbicara dengan berbisik - bisik.
“Mas Arya mabuk, Bi. Bibi jangan bilang Mama dan Papa, ya. Plis, kalau mama sampai tahu..”, ucap Dinda memohon.
Bi Rumi menutup mulutnya mendengar perkataan Dinda. Bi Rumi sudah lama bekerja di rumah ini. Dia juga sudah menjadi saksi kehebohan yang dibuat Arya sebelum menikah dengan Dinda beberapa bulan yang lalu. Bi Rumi tahu betul apa yang akan terjadi jika Inggit dan Kuswan tahu Arya mabuk lagi.
“Tapi, non. Hotel Y itu jauh. Non berangkat naik apa? Bibi panggilin Pak Cecep, ya.”
“Jangan, Bi. Nanti kalau Pak Cecep nyalain mobil, mama dan papa pasti bangun. Udah bibi tenang aja. Aku pesan taksi yang aman, kok. Tapi di depan gang. Bibi tutup pintu pelan - pelan, ya. Kalau mama tanya bilang aja aku udah tidur. Trus bilang aja besok aku udah berangkat pagi - pagi, ya Bi.”, Dinda memberitahukan bibi rencananya agar Inggit dan Kuswan tidak tahu apa yang Arya lakukan malam ini.
Bukan semata - mata karena Arya saja, tetapi Dinda lebih mengkhawatirkan Inggit dan Kuswan.
**EPILOGUE**
“Mama ngapain sih?”, tanya Kuswan pada istrinya yang mengendap diam - diam ke teras depan.
“Mama mau ganti setting hape Arya. Dial nomor 1 nya masih saja, mantan istrinya. Mama mau ganti jadi Dinda. Sekalian mama ganti namanya jadi ‘Istriku’. Masa sudah menikah nama di ponsel cuma ‘Dinda’ aja.”, kata Inggit yang berhasil mengambil ponsel pribadi Arya dari tasnya.
Kebetulan sang pemilik masih sibuk menerima telepon dari ponsel satunya yang khusus untuk urusan bisnis di kantor.
__ADS_1
“Ada - ada aja, mama ini. Dial 1 itu harusnya Dinda, kan istrinya sekarang Dinda. Pokoknya mama sudah ganti.”, jawab Inggit sambil mengembalikan ponsel itu kembali ke tempatnya.