
Perhelatan arisan mama Inggit berjalan dengan sukses. Tidak hanya berhasil membuka kembali akses rumahnya untuk teman - teman arisannya, Inggit juga berhasil memperkenalkan menantunya. Sekarang, dia berharap tak ada lagi yang mengingat cerita lama Arya dengan Sarah. Selanjutnya, dia berharap tak ada lagi sindiran - sindiran halus yang masih menyinggung kegagalan pernikahan puteranya.
Andin juga nampak penuh percaya diri berbaur dengan para tamu sambil membawa Rafa dan Samawa. Meskipun tidak bisa menghabiskan waktu lama karena kedua anak kembar itu langsung merengut minta main di kamar mereka, tetapi teman - teman arisan Inggit juga memuji ketangguhan putri pertamanya.
Para tamu sedang menikmati hidangan yang disajikan. Mulai dari makanan berat, ringan, dan pencuci mulut. Beberapa Inggit memang harus menambahkan dari luar karena satu hari bukanlah waktu yang cukup untuk memasak semuanya.
“Silahkan tante.”, jawab Ibas sambil tersenyum.
Arya dengan wajah datarnya ikut menikmati makanan meskipun dia sudah tidak sabar untuk kembali ke kamarnya. Dinda sedari tadi sudah duduk untuk menikmati hidangan bersama Fams. Dia tak kuat berdiri terlalu lama. Kakinya sedikit kram.
“Sayang, kamu gapapa. Apa kita ke atas saja?”, ujar Arya menawarkan.
“Engga mas. Gak enak sama tamunya mama. Duduk disini aja gapapa. Aku juga masih baik - baik saja, kok.”, balas Dinda.
“Bilang ajaa mau kabur, ya kan mas Arya.”, sindir Fams.
“Oiya Fams, Bianca gak bisa dihubungi. Dia dan Reza juga belum datang. Apa mereka mengatakan ke kamu kalau mereka tidak bisa hadir?”, tanya Dinda baru teringat untuk menanyakan perihal ini pada Fams.
“Wah.. aku sih ga dapat info apa - apa. Mungkin mas Reza capek baru balik dari luar negeri, jadi tidak memutuskan untuk kesini.”, jawab Fams.
Sebenarnya dia sudah ingin mengatakan kalau keduanya sedang bermasalah pada Dinda. Tetapi forum dimana telinga dan mulut memiliki kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya disini, rasanya kurang tepat.
“Lagi hamil, ya?”, tanya seseorang yang pastinya salah satu dari teman - teman arisan Inggit.
“Iya tante.”, jawab Dinda ramah meskipun dia tidak tahu dengan siapa dia berbicara.
Arya nampak tersenyum saat wanita paruh baya seusia mamanya itu tersenyum padanya.
“Beruntung loh kamu Arya, dapat istri secantik ini. Masih muda lagi.”, ucapnya.
“Iya tentu saja, tante.”, ujar Arya.
“Jadi, nikahnya sudah 8 bulan yang lalu? Private aja, ya?”, tanyanya seolah berbasa - basi karena toh dia sudah mendengarnya tadi dari Mama Inggit.
“Iya tante.”, jawab Dinda lembut. Arya nampak mengangguk. Aura dinginnya mulai keliatan saat dia berinteraksi dengan orang lain. Bukan sombong, namun Arya hanya tak memiliki keinginan untuk memperpanjang obrolan.
“Pantes, waktu itu rame - rame disini. Kirain acara apa. Soalnya di sini juga sudah sering bikin acara. Keluarga besar soalnya, rame.”, ujar wanita itu lagi.
“Tante yang tinggal dua rumah dari sini. Kamu mungkin sering lihat. Kita sama - sama jarang keluar, jadi paling ketemunya cuma sewaktu arisan saja.”, ujarnya.
“Ah…. “, barulah Dinda mengetahui siapa wanita yang nampak sangat akrab dengannya padahal dirinya baru pertama kali bertemu.
Orang - orang di lingkungan perumahan ini juga sudah terbiasa dengan istilah private wedding. Mereka tidak lagi tersinggung atau kebingungan kalau - kalau ada pernikahan yang tidak mengundang mereka.
Terutama untuk ukuran keluarga Inggit yang memang tergolong keluarga besar dan sering ada acara.
“Tante juga punya anak seusia mirip - mirip kamu. Tapi masih kuliah, belum lulus.”, ujarnya.
Selanjutnya dia meneruskan ceritanya sekitar 10 menit sampai seorang wanita paruh baya lainnya memanggilnya. Barulah dia berhenti.
__ADS_1
Tak hanya ibu tadi saja, beberapa orang juga nampak mendekati dan ingin berkenalan dengan Dinda. Ada yang memang penasaran, ada yang hanya sekedar basa - basi karena mata sudah terlanjur berpandangan, dan ada juga yang kepo karena julid.
Apalagi para ibu - ibu yang dulu ingin sekali menjodohkan puteri mereka dengan Arya. Namun, apa daya ternyata Arya sudah sold-out lagi untuk yang kedua kalinya.
Dari kejauhan nampak Pak Cecep tengah masuk diantara para tamu yang sedang mengambil makanan. Dinda tanpa sengaja melihatnya saat memperhatikan para ibu - ibu yang sedang berkumpul membicarakan salah satu makanan yang dihidang. Resep siapa lagi kalau bukan resep Bunda Ratna.
Awalnya, Dinda mengira Pak Cecep ingin ikut nimbrung menikmati hidangan, namun lama kelamaan dia merasa Pak Cecep sedang mencari orang.
“Mas Arya, itu pak Cecep sepertinya manggil mas, deh.”, ujar Fams pada Arya yang sedang menikmati puding hasil karyanya seharian tadi.
“Hm? Ngapain?”, tanya Arya bingung dan memastikan apakah perkataan Fams benar.
“Gak tahu. Parkiran mobil kali mas, penuh.”, ujar Fams.
“Mas gak ngeluarin mobil, kok. Semua di garasi termasuk punya Ibas. Udah sana. Beneran loh itu sepertinya Pak Cecep cari mas. Cuma bingung aja mau melewati tumpukan ibuk - ibuk itu.”, ujar Fams menunjuk - nunjuk sekelompok ibu - ibu yang duduk melingkar dan menutupi beberapa akses jalan.
Begitu ada yang berdiri, Pak Cecep akhirnya mendapatkan kesempatan untuk masuk. Akhirnya dia permisi dan berhasil berdiri di samping Arya lalu berbisik di telinganya. Dinda hanya memperhatikan. Seperti yang dikatakan oleh Fams sebelumnya, mungkin memang urusan parkiran.
Wajah Arya nampak kaget setelah mendengar sesuatu yang dibisikkan oleh Pak Cecep. Arya bahkan seperti berusaha memastikan.
“Kenapa, mau kemana mas?”, tanya Dinda jadi ingin tahu karena wajah Arya sampai kaget begitu.
“Enggak, sayang. Kamu disini aja. Aku keluar sebentar sama Pak Cecep, ya.”, ujar Arya mengelus - elus kepala Dinda sebelum akhirnya mengikuti Pak Cecep keluar.
“Maaf, Den. Saya sudah bilang kalau di dalam sedang ada acara, tapi tetap minta saya panggil Den Arya.”, ujar Pak Cecep merasakan kengerian dari aura yang dikeluarkan oleh Arya sekarang.
Dia tidak mengatakan apa - apa, tetapi sukses membuat orang deg -deg-an.
“Bapak belum pulang, Den. Kata Bapak, kalau sudah mau pulang nanti beliau telpon. Baru nanti saya jemput, Den.”, jawab Pak Cecep yang sudah mengabdi di rumah ini sekitar 8 tahun lamanya.
Dibandingkan dengan Bi Rumi, Pak Cecep masih tergolong baru. Beliau juga mulai bekerja sejak Arya sudah berada di Amerika untuk lanjut S1. Dia sempat bertemu dengan Arya sepulangnya dari sana tetapi tidak untuk interaksi yang lama karena setelah menikah, Arya dan Sarah saat itu lebih memilih untuk tinggal di apartemen.
Arya menuruni turunan jalan di halaman rumahnya untuk keluar pagar. Pak Cecep membukakan sedikit. Di dalam rumah sedang banyak mobil yang parkir. Arya harus menyelip - nyelip diantara mobil - mobil tersebut untuk bisa keluar.
Pak Cecep kemudian membukakan pintu pagar dan Arya nampak keluar dari sana.
“Disana Den.”, tunjuk Pak Cecep ke arah wanita yang sedang berdiri sambil menyesap rokoknya.
Melihat Arya, wanita itu langsung membuang rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu heels miliknya.
“Hah… ini pertama kali aku kesini lagi. Tampaknya, rumah keluarga Kuswan sudah tidak terbuka untukku lagi.”, ujar Sarah.
Ya, wanita yang datang dan membuat keributan di depan rumah adalah Sarah. Dia terus memaksa ingin masuk, namun Pak Cecep yang memang bertugas jaga di luar tidak mengizinkannya. Dia menutup pagar dan menitipkannya pada satu orang penjaga yang memang dibayar harian khusus untuk malam ini.
“Kita bicara di tempat lain.”, ujar Arya meminta Sarah untuk memberikan kunci mobil padanya.
“Hm? Istrimu tidak marah kita jalan berdua?”, ujar Sarah memiringkan wajahnya.
‘Sh*t. Sepertinya dia mabuk.’, pikir Arya dalam hati.
__ADS_1
Dia tidak mungkin bicara disini. Berlama - lama di depan rumahnya dengan Sarah hanya akan mendatangkan masalah. Belum lagi jika tiba - tiba papanya pulang. Meski dia mengatakan bahwa dia akan menelepon Pak Cecep untuk di jemput, tidak sekali dua kali Kuswan diantar pulang oleh temannya.
Mengusir Sarah juga bukan pilihan terbaik karena dengan keadaan dia sekarang, wanita itu pasti akan membuat keributan.
Arya tidak menjawab perkataan Sarah barusan dan hanya melayangkan tatapan tajam.
“Aku tidak mencabut kuncinya. Masih disana.”, ujar Sarah.
“Kamu menyetir kesini sambil mabuk? Kamu gila? Masuk.”, perintah Arya.
“Kamu mau membawaku kemana?”, kata Sarah sambil beringsut berjalan ke kursi penumpang.
Arya melihat ke sekitar sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Arya kemudian melambaikan tangannya ke arah Pak Cecep dan berbisik padanya agar Sarah tak mendengar.
“Jangan bilang Sarah kesini. Saya hanya sebentar. Kalau ada yang tanya, bilang saya keluar.”, ucap Arya pada Pak Cecep.
Pak Cecep melirik sebentar ke arah Sarah, mantan menantu di keluarga ini. Tidak seperti Bi Rumi yang tahu banyak tentang cerita pernikahan Arya sebelumnya, Pak Cecep agak khawatir dan meragukan Arya. Dia tampak tidak nyaman menyimpan rahasia kalau Sarah kesini dan sekarang Arya malah masuk ke dalam mobilnya.
‘Den Arya mau kemana sama perempuan itu. Dia gak selingkuh, kan? Ah.. gak mungkinlah. Kalau lihat dia sama Non Dinda, kayanya enggak. Apalagi non Dinda sedang hamil. Tapi kenapa dia malah meladeni wanita itu.’, pikir Pak Cecep setelah mengangguk dan berjalan agak kepinggir agar Arya bisa melajukan mobil.
Arya mengemudikan mobil keluar dari perumahan ini menuju sebuah Cafe.
“Kenapa? Kamu takut ada yang melihatmu berbicara denganku? Ah.. aku tertipu, seharusnya aku tidak masuk ke mobil, tapi masuk ke rumahmu.”, ujar Sarah.
Arya tidak menjawab apapun. Dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo?”, jawab orang yang ada di seberang sana. Dimas.
“Pergi ke Cafe Melati jalan ….. Sekarang.”, ucap Arya to the point.
“Hah? Kenapa aku harus kesana?”, tanya Dimas bingung.
Pertama, dia kaget karena Arya menghubunginya lebih dulu. Hal yang mustahil terjadi. Kedua, kenapa dia tiba - tiba memintanya datang ke suatu tempat? Meskipun dia ingin sekali memperbaiki hubungan diantara mereka, bukan berarti dia juga melakukan perintah random dari pria itu.
“Aku ingin kamu membawa Sarah kembali ke apartemennya. Dia mabuk dan menyetir sendirian sampai ke rumahku.”, meski enggan, Arya menjelaskannya.
“Hah? Dia semakin menggila. Baiklah. Tunggu disana.”, balas Dimas.
Pria itu tampak sedang bersama seorang wanita. Arya bisa mendengar suaranya. Suara yang sepertinya dia kenal, tapi Arya tak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang.
“Kamu menghubungi Dimas? Kenapa?”, tanya Sarah.
“Kamu mabuk dan menyetir sendirian kesini. Menghubunginya akan lebih mudah dibandingkan harus memanggil taksi dan meminta orang membawa mobilmu.”, jawab Arya.
Dia ingin keluar dari mobil, tapi dia tak ingin ada yang melihatnya bersama seorang wanita. Cafe ini masih berada di area perumahannya.
“Sebegitu enggannya kamu sampai tak ingin melihatku kembali membawa mobilku?”, kata Sarah.
Arya lagi - lagi diam. Dia sangat marah sekarang. Tapi tidak ada gunanya marah pada orang yang sedang mabuk.
__ADS_1
“Apa - apaan kamu.”, ujar Arya geram saat Sarah mencoba mendekatinya dan ingin memeluknya.
“Jangan salah paham. Aku tidak keluar dari mobil bukan karena aku ingin berdua denganmu. Jaga sikapmu. Aku sudah memiliki istri yang harus aku jaga perasaannya.”, kata Arya mendorong Sarah kembali ke kursinya.