
“Din, ada Bunda nih.”, ujar Arya saat masuk ke kamar dibarengi dengan Bunda Ratna yang sudah tiba.
“Bunda…”, panggil Dinda yang sudah lebih baikan dibandingkan dengan tadi pagi.
Saat melihatnya, Arya juga lega. Tadi pagi, Dinda bahkan tidak punya tenaga untuk sekedar menjawab pertanyaannya.
Sedangkan sekarang, dia sudah bisa duduk. Wajahnya masih pucat tetapi auranya sudah mulai cerah. Begitu Ratna masuk dan duduk di sebelahnya. Dinda langsung memeluknya. Arga mengintil di belakang membawa sebuah tas berisi pakaian karena mereka berencana menginap dua malam disini.
“Arga, kamu taruh aja tasnya dulu. Daripada di bawa - bawa begitu. Tunggu sebentar ya. Bi Rumi sedang merapikan dulu kamarnya.”, ujar Arya pada Arga.
“Ah Iya mas. Maaf merepotkan.”, balas Arga.
“Jangan bicara begitu. Ini juga rumah kamu, kok. Santai aja. Kalau butuh sesuatu, langsung bilang ke Bi Rumi, ya.”, kata Arya mempersilahkan adik iparnya untuk tidak sungkan - sungkan.
“Mba Dinda jarang sakit. Tapi sekalinya sakit memang manja dan merepotkan. Mohon dimaklumi ya, mas. Dia kadang suka lebay kalau sakit.”, kata Arga blak - blakan.
Dinda yang mendengar adiknya berbicara begitu langsung memberikannya sorotan tajam.
Arya membalasnya dengan senyuman.
“Bun, Arya permisi ganti baju dulu ya Bun.”, ujar Arya pada Ratna.
“Oiya, nak Arya. Kalau begitu Bunda keluar dulu saja.”, kata Ratna.
“Eh.. Engga, Bun. Santai saja. Tidak usah sungkan. Arya cuma perlu mandi dan ganti baju aja kok. Soalnya sudah wara wiri dari pagi, takut kotor.”, kata Arya permisi untuk masuk ke kamar mandi.
“Mas Arya, baju gantinya dibawa ke kamar mandi. Jangan lupa.”, kata Dinda mengingatkan.
Dinda tahu betul kebiasaan Arya. Pria itu selalu senang hanya mengenakan celana pendek dan handuk setelah mandi. Padahal dia membawa celana pendeknya, Dinda masih bingung kenapa dia tidak sekalian membawa atasannya ke kamar mandi.
Padahal, di kamar mandi ada tempat khusus untuk meletakkan baju ganti. Kamar mandinya juga lumayan luas, sehingga ada area basah dan kering. Tempat kering bisa digunakan untuk mengenakan baju dengan leluasa.
“Iyaa.”, Arya mengiyakan sambil malu - malu.
Kenapa Dinda harus menyebutkannya di saat ada Bunda dan Arga di kamar.
“Kamu ini Din. Terserah suami kamu dong. Kok ya ngatur - ngatur.”, ujar Ratna memperingatkan.
“Mas Arya suka begitu.”, kata Dinda sambil memajukan bibir nya.
__ADS_1
“Panasnya sudah turun?”, tanya Ratna pada putrinya sambil meletakkan tangannya di kening Dinda.
“Udah kok, Bun. Mama menunggu Dinda seharian disini. Khawatir kalau suhunya naik. Jadi dikompres terus. Alhamdulillah sekarang sudah perlahan mulai normal.”, jawab Dinda.
“Ratna, ini diminum ya. Bi Rumi, minumannya taruh disini, ya. Ini tas kamu ya sayang?”, tanya Inggit pada Arga.
“Iya tante.”, jawab Arga sungkan.
Arga belum pernah menginap disini selain saat pesta pernikahan kakaknya yang sudah berbulan - bulan yang lalu.
“Bi Rumi, kamarnya sudah dibersihkan?”, tanya Inggit.
“Sudah, nyonya.”
“Kamu bawain tas nya ke kamar, ya. Arga nanti kamarnya di sebelah sana ya, dekat kamar Ibas. Bunda nanti di sebelahnya lagi.”, kata Inggit.
“Mba, jangan repot - repot sampai dua kamar segala. Arga bisa tidur di bawah aja, kok.”, ujar Ratna merasa tidak enak.
“Walah - walah.. Kok di bawah, orang kamarnya banyak. Ada kok, cuma kemaren sempat digunakan sama Fams dan Dito sepupu Arya. Jadi baru dibereskan. Gapapa. Rumah sendiri kok sungkan.”, kata Inggit menenangkan.
“Papa Arya kemana?”, tanya Ratna karena dari tadi tidak melihat Kuswan sama sekali.
“Ada, sedang main sama geng perumahannya. Nanti juga pulang. Sudah pensiun, jadi hobinya kelayapan. Paling juga kumpul - kumpul di pos ronda depan. Biasanya nanti Ibas jemput pas dia pulang.”, kata Inggit.
“Makasih loh, mba. Anak saya sudah dirawat dengan baik.”
“Ih.. loh kok anak saya, anak saya. Dinda juga sudah jadi anak di keluarga ini. Ya harus dirawat dengan baik. Lagi hamil, saya tuh panik sekali tadi pagi. Si Arya mana harus meeting pula.”, Inggit langsung nyerocos tanpa henti.
Dari yang tadinya ngobrol perihal sakit, sampai sudah membahas topik - topik lain.
“Aduh.. mama ganggu kayanya ya.. Ngomong banyak sekali. Padahal Dinda harus istirahat.”, ujar Inggit sadar kalau dia sudah bicara banyak.
“Engga, ma. Dinda sudah capek dari tadi tidur terus. Ngobrol begini jadi hiburan buat Dinda.”, jawab Dinda.
“Oh.. siapa ini?”, tanya Inggit dari jauh menyapa cucu - cucunya.
Kebetulan Andin juga sedang ada di rumah. Mereka datang menyapa begitu mendengar Ratna dan Arga ada di rumah.
“Oh… Rafa dan Samawa, ya. Yaaa ampun, sudah besar, ya. Sini salam sama nenek.”, Ratna ikut menyapa keduanya yang masih terlihat malu - malu menyilangkan kaki di depan pintu.
__ADS_1
“Hayoo.. Sana salam sama nenek.”, ujar Andin pada anak - anaknya.
Akhirnya keduanya mau mendekat. Berhubung orang yang pertama mereka lihat adalah Arga. Dia datang menyalami Arga terlebih dahulu, kemudian baru mendekat pada Ratna untuk menyalaminya.
“Tante Dinda lagi sakit, ya?”, tanya Rafa saat melihat Dinda yang sedang dalam posisi duduk di kasur.
“Iya sayang. Tante lagi sakit. Doain tante cepat sembuh ya, sayang.”, kata Dinda membalas perhatian keponakannya.
“Gara - gara om Arya tuh. Tante jadi sakit, kan.”, kata Samawa tiba - tiba menuduh Arya.
Dinda tertawa simpul.
“Loh, kok karena om Arya, sayang? Engga. Imun tante lagi turun, jadi mudah sakit. Bukan karena om Arya kok.”, ucap Dinda meluruskan. Meski hanya ucapan anak kecil, tapi dia menjawabnya dengan serius sambil tersenyum.
“Kata om Ibas begitu.”, kali ini Rafa mengiyakan perkataan saudaranya Samawa.
“Loh? Memangnya om Ibas ngomong apa?”, tanya Mama Inggit.
“Waktu itu Rafa sama Samawa mau ke kamarnya om Arya dan tante Dinda, mau ajak main. Terus ketemu om Ibas. Katanya jangan ganggu om Arya dan tante Dinda, lagi sibuk berkebun. Katanya begitu. Terus besoknya, kami mau ajak main lagi, katanya masih berkebun juga.”, ucap Samawa.
“Iya.. trus kita bete kenapa berkebun terus padahal kan sudah malam. Om Ibas bilang, om Arya yang ajak berkebun terus. Pasti deh karena itu. Lagian berkebun dimana? Bukannya berkebun di taman belakang? Kenapa di kamar? Apa bunga - bunga itu?”, kata Rafa melanjutkan dan bingung karena di dalam kamar tidak ada banyak tanaman. Hanya ada bunga - bunga yang bergelantungan dan terletak di lantai balkon.
Tawa semua orang di kamar langsung pecah mendengar keduanya.
“Ibas benar - benar ya. Dia itu, ada - ada aja. Isengnya ga tanggung - tanggung itu anak. Awas saja nanti kalau dia sudah pulang.”, ujar Inggit yang games sekali dengan putera satunya itu.
“Dasar, Ibas benar - benar.”, kata Andin ikut malu dengan perkataan anaknya dan perilaku adik laki - lakinya paling bontot.
Dia saja baru pertama kali mendengar ini dari anak - anaknya.
Hanya Dinda disana yang wajahnya sudah semerah tomat. Tak lama berselang, Arya keluar dari kamar mandi. Dia sudah rapi dengan pakaian santai lengkap. Bahkan rambutnya yang basah juga sudah dia keringkan.
“Itu om Arya. Om - Om…”, kedua keponakannya itu langsung berlari menghampiri Arya.
“Om berkebun apa sih di kamar malam - malam? Bunga, ya? Tomat?”, tanya Samawa yang langsung di peluk oleh Arya yang sudah berjongkok.
“Ih.. aku ga suka tomat. Om Arya berkebun Anggur aja, aku lihat video orang menanam anggur, wah seru. Tapi, berkebun nya jangan malam - malam om. Pagi aja.”, Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung bingung dengan ucapan keponakannya.
Wajahnya langsung mengarah ke orang - orang yang ada di sekitar ranjang mencari penjelasan. Namun mereka hanya tersenyum.
__ADS_1
“Din, panasnya naik lagi? Kok wajah kamu merah begitu?”, tanya Arya dengan gaya innocentnya.
Tawa yang lain sekali lagi pecah.