Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 132 Arya Buka Kartu


__ADS_3

“Halo, selamat pagi Pak Satria. Ohiya, kebetulan saya sedang ada acara tim building kantor. Bagaimana? Oh, baik. Bisa. Oke. Saya bicarakan dengan sekretaris saya untuk segera mengatur pertemuan ya, Pak. Baik. Selamat siang.”, Arya sedang memperhatikan Dinda saat telpon masuk.


Melihat panggilan tersebut berasal dari salah satu kliennya, Arya berbalik mencari tempat yang kondusif untuk menerima telepon tersebut.


“Sis, sorry saya ganggu kamu. Tolong Senin depan kamu reservasi restoran di area perkantoran G untuk bertemu Pak Satria, ya. Nanti kamu ikut saya. Kabari Tim 10, Pak Teddy, mereka ikut saya semua.”, perintah Arya pada Siska.


“Oh baik Pak. Untuk hari apa jam berapa Pak?”, tanya Siska lagi.


“Saya hari Rabu kosong kan?”, tanya Arya.


“Hm.. sebentar Pak. Oh iya, Pak Arya Rabu hanya ada meeting di malam hari dengan regional Amerika. Selain itu belum ada schedule, Pak. Tapi kemarin HR mau atur jadwal interview dengan kandidat Kepala Divisi Digital and Development, Pak.”


“Hm? Kenapa saya diikutkan untuk interview Kepala Divisinya? Saya kan hanya subtitute/acting as Kepala Divisi Digital and Development saja.”


“Mungkin karena performance Bapak di divisi tersebut? Mengingat saya dengar, Manajemen mengajukan Bapak sebenarnya menjadi Kepala Divisi ganda sebelum HR membuka lagi lowongan ini.”, terang Siska.


“Tahu dari mana kamu?”


“Ah.. maaf Pak. Saya dengan dari Bu Ranti.”


“Kalau keluar dari mulut dia, berarti tersebar ke yang lain juga dong.”


“Hm.. kalau itu saya kurang tahu, Pak. Tapi walaupun begitu, sepertinya belum ada yang mengetahui ini. Saya belum dengar ada karyawan yang menggosipkan ini.”


“Terakhir gosip tentang saya apa?”


“Hm.. Pak Arya reuni dengan mantan isteri Bapak di Bangkok.”


“Heh… baiklah. Aku akan biarkan mereka bersenang - senang di Tim Building ini sebelum aku goreng di Meeting bulan depan.”, kata Arya sambil tersenyum.


Siska memang sudah menjadi double agent Arya sejak lama. Sebagai sekretaris pribadinya, Siska juga bekerja untuk mendekati para karyawan dalam rangka menggali informasi apa yang sedang hot. Informasi itu berguna bagi Arya untuk memantau kinerja masing - masing.


Informasi seperti Gilbert yang selalu meminta anak buahnya mengerjakan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya juga Arya dapatkan dari Siska. Tentu saja, Arya akan mendeduksi keadaan terlebih dahulu sebelum meminta Siska mencari tahu lebih lanjut. Ibarat kata, Siska digunakan untuk memverifikasi kecurigaan - kecurigaan Arya.


“Oke. balik ke meeting yang tadi. Kalau begitu, Rabu di jam makan siang. Kamu reservasi restoran yang western ya. Soalnya Pak Satria suka makanan itu.”


“Baik, Pak Arya.”, Siska dengan sigap mencatat semua perintah Arya di tablet PC yang sedang dia bawa.


“Untuk jadwal interview dari HR?”, tanya Siska lagi mengingatkan pertanyaannya sebelumnya.


“Terserah, kamu atur saja di mana yang masih kosong.”


“Oke, baik Pak Arya.”, jawab Siska.


“Oh ya.. Sudah ada kabar terbaru dari Gilbert?”, tanya Arya.


“Hm.. belum Pak Arya. Tapi saya sedikit khawatir dengan Pak Gilbert. Bukan apa - apa sih, Pak. Tapi bulan lalu, saya dengar ada isu kalau keuangannya sedang tidak baik. Ah.. saya juga pernah melihat beberapa tumpukan tagihan kartu kredit di mejanya. Apa tidak sebaiknya Pak Arya segera infokan ke bagian HRD? Soalnya sudah lewat 2 minggu, Pak.”, usul Siska.


“Saya sudah informasikan ke pihak HRD. Kamu benar, situasinya lebih parah dari yang kita perkirakan. Seharusnya saya lebih cepat mengetahui tentang Pak Gilbert. Tapi masalahnya sekarang kita sedang handle satu project yang sebelumnya dipegang Pak Gilbert. Sebelum eksekusi selesai, saya harap tidak ada informasi aneh masuk ke tim 5, ya. Supaya mereka bisa leading projectnya dengan baik.”


Siska mengangguk.


“Saya lelah take-over project tim yang bermasalah karena terlalu menyita waktu pribadi saya. Kalau masalah Gilbert sampai bocor, bisa - bisa saya tidak punya waktu personal dan handle project seperti di Bangkok tempo hari.”, lanjut Arya.


‘Ah.. memikirkan pengorbanan waktu yang harus dia berikan untuk menyelesaikan project di Bangkok saja sudah membuatnya sakit kepala. Bayangkan, dia harus kehilangan banyak momen dengan Dinda plus kesalahpahaman. Bahkan, jika Arya tidak menerima notifikasi kartu kredit Dinda, mungkin sampai hari ini dia belum tahu kalau isterinya sedang hamil.”


“P-Pak Arya sudah punya pacar lagi, ya?”, tanya Siska ragu - ragu.


Meski interaksi mereka sebagai sekretaris dan bos terlihat sinergis, namun sampai saat ini Siska masih tidak berani berbicara hal pribadi dengan Arya. Padahal, sedikit menyinggung masalah pribadi mungkin bisa sedikit mencairkan suasana yang tegang dan dingin yang dibuat Arya dimanapun dia berada.

__ADS_1


“Sis.”, panggil Arya dengan suara yang datar. Aura dingin, sedingin es bisa Siska rasakan dari panggilan itu.


“Iya, Pak.”


“Kamu…. Kekurangan pekerjaan, ya?”, tanya Arya.


“Eh?”


Arya memberikan tatapan mematikan pada Siska dan wanita itu cukup mengerti arti dari tatapan bosnya.


“Ah… hahahahaha… Hm.. maaf Pak, bibir saya terpeleset. Haha.. sepertinya saya harus ke pantai untuk bertemu dengan panitia yang lain. Hahaha…”, Siska segera menutup bibirnya rapat dan berlalu dari sana.


Arya juga segera bergerak dari tempatnya. Dia mencari keberadaan Dinda. Karyawan yang lain sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing dan mungkin tidak akan ada yang curiga jika Arya sedikit mengobrol dengan gadis itu.


Arya mengedarkan pandangannya ke tempat tadi dia melihat Dinda namun gadis itu sudah tidak ada disana.


‘Hm? Kemana dia pergi?’, Arya bergerak ke arah pantai dan menemukan Dinda sedang mengambil foto bersama yang lain. Gadis itu mengeluarkan ekspresi yang membuat Arya ingin memeluknya saat ini juga namun dengan sekuat tenaga dia tahan.


“Pak Arya. Disini rupanya, saya sudah cari kemana - mana.”, Suci tiba - tiba muncul di samping Arya.


Arya terkejut dan menoleh ke samping. Namun, dia tak mengeluarkan kata apapun. Dia masih terus memperhatikan Dinda yang masih sangat antusias berkumpul dengan yang lain yang untungnya mayoritas karyawan perempuan. Sepertinya mereka sedang membuat sesuatu dengan pasir dan menguploadnya di sosial media.


“Saya lihat Dinda keluar dari kamar hotel Pak Arya tadi malam.”, Suci memutuskan untuk mengeluarkan statement berbahaya itu di hadapan Arya karena dia sudah tidak bisa tahan lagi.


Dia ingin tahu apa sebenarnya hubungan mereka. Kenapa Dinda dan Arya bisa melakukan interaksi seintim itu tadi malam. Bukan lagi berjabat tangan atau berpelukan. Tapi Arya jelas - jelas mencium gadis itu tadi malam di depan kamarnya.


Arya terkejut tapi seperti biasa, dia bisa mengendalikan ekspresi wajahnya dengan baik. Arya kemudian memfokuskan pandangannya kedepan. Dia berpikir apa yang harus dia katakan pada Suci. Arya cukup cerdas untuk bisa mengetahui seperti apa gadis disampingnya ini meski hanya sekitar 6 bulan menjadi Management Assosiate untuk Business and Partners.


Arya harus bisa mengeluarkan statement yang memperjelas lagi garis yang sudah dia buat. Disaat yang bersamaan dia juga harus bisa membuatnya mengerti tanpa harus menyakiti Dinda.


Suci menelan ludahnya sebelum mengeluarkan kalimat berikutnya.


“Dinda keluar dari kamar Pak Arya tengah malam dan… dan…”, Suci tak sanggup menggerakkan bibirnya. Antara takut dan marah karena merasa sudah kalah dari Dinda.


Suci langsung menoleh kaget ke arah Arya. Wajahnya sangat shock sekarang ini dengan jawaban dari pria itu. Arya dengan jelas membuat batas yang sangat jelas diantara mereka. Bahkan kata - kata yang dia pilih pun menjelaskannya. Daripada menggunakan kata ‘bersama’, Arya memilih untuk memperjelasnya dengan ‘tidur bersama’.


“Dinda, adalah isteri saya. Saat saya menikahi Dinda, dia masih virgin. Jadi saya harap kamu mengubur dalam - dalam pemikiran kamu yang tidak - tidak tentang Dinda. Dia perempuan baik - baik. Alasan saya menyembunyikan status pernikahan ini adalah murni karena peraturan perusahaan. Saya rasa saya tidak perlu memberitahu kamu lebih detail. Tapi yang pasti, sebelum saya menikahi Dinda, dia sudah di perusahaan sebagai intern. Saya dengan cara apapun tidak terlibat dalam pengambilan keputusan tentang karirnya di perusahaan. Jadi, saya harap kamu mengerti.”, kata Arya menutup kalimatnya dengan permintaan.


Arya baru akan berjalan meninggalkan Suci, namun perempuan itu menghentikan langkahnya.


“Kenapa Pak Arya mengatakan semua ini pada saya?”, tanya Suci.


Meski masih shock dengan penjelasan Arya, namun dia merasa heran kenapa pria itu menceritakan sesuatu yang sudah dia sembunyikan.


“Saya tidak mau kamu menghabiskan waktu hanya untuk melakukan hal - hal seperti ini. Jawaban saya tetap sama, ada atau tidak status pernikahan saya dengan Dinda. Saya tidak tertarik dengan kamu untuk hubungan antara pria dan wanita. Saya sudah memikirkan semua alasan, tapi saya tahu tidak akan ada alasan yang bisa memuaskan kamu selain kebenaran itu sendiri. Jadi, saya memutuskan untuk buka kartu saya. Saya harap, kamu cukup cerdas untuk menyimpan kartu itu sendiri.’, Arya memberikan jawaban pada pertanyaan Suci sebelum akhirnya meninggalkan gadis itu disana.


******


“Ci, kamu ngapain sih pake ke klub segala. Kirain kita cuma mau liat live music doang.”, tanya Delina pada Suci yang sudah menenggak beberapa gelas koktail.


Setelah acara tim building hari ini selesai dengan diakhiri oleh makan malam bersama. Suci mengajak yang lain untuk ke klub. Awalnya, dia hanya mengajak mereka ke bar, tetapi malah berbelok ke klub.


Andra dan Bryan juga ikut - ikutan sehingga Delina tak bisa memikirkan alasan untuk menolak ajakan ini. Dinda? Anehnya, Suci tidak mengajak Dinda kali ini. Delina pikir mungkin karena Suci tahu Dinda tidak akan mau diajak ke tempat - tempat seperti ini.


“Udah Del, biarkan saja dia. Lagian besok acara tim Buildingnya mulai jam 10 kan, jadi tidak apa - apa.”, kata Andra yang dari tadi sudah asyik disana.


“Gak apa - apa, apanya? Kalau dia sampai mabuk gimana? Ini aja udah mabuk kayanya.”, kata Delina.


“Ya.. tinggal di bawah kan. Kita kesini pakai mobil sewaan, udah gampang. Lagipula, disana juga ada Tim Leader Business and Partners. Santai.”, balas Andra menunju seseorang yang duduk bersama dengan Susan, team leader 7 dan James, tim leader 4.

__ADS_1


“Level mereka kan beda dengan kita. Kalau pak Erick tahu kita kesini, dia pasti marah.”


“Yaelah.. Gak mungkin lah. Memangnya kita anak SD yang lagi ikut pariwisata. Udah nikmatin aja.”


“Heeh.. susah ya ngomong sama manusia - manusia malam seperti kalian.”, Delina akhirnya menyerah berdebat dengan teman - teman kantornya ini.


“Aduh… access card kamar aku bawa lagi. Trus Suci juga bawa akses kamar kita. Hm.. Dinda gimana masuknya nanti?”, kata Delina baru sadar kalau dia membawa kedua kartu akses kamar hotelnya.


Semalam Suci menginap di kamar mereka dan tak sengaja membawa satu karena dia ingin buru - buru turun. Sedangkan yang satu lagi Delina bawa.


******


“Hah… tim building bisa membuat kepala dan badanku pegal - pegal begini. Apa aku berendam dulu saja, ya. Ah.. membosankan sekali di kamar ini sendiri.”, celetuk Arya melepaskan bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia sudah memasukkan beberapa buah bomb salt favorit yang dia bawa dari rumah ke dalam bathup. Arya mengatur suhu air agar sedikit lebih hangat untuk meredakan pegal - pegal di tubuhnya.


Hari ini, mereka bersenang - senang. Arya sedikit menunjukkan kemampuan berselancarnya hari ini meski kerap terjatuh ke dalam gelombang air. Insiden terjatuhnya membuat punggungnnya pegal - pegal sekarang.


Untuk mencairkan suasana malam, Arya juga menyetel beberapa lagu jazz favoritnya dan meletakkan ponsel itu di atas meja wastafel.


“Hm.. kalau ada wine, pasti sangat sempurna. Tapi aku sudah janji untuk tidak minum lagi. Sebuah dilemma.”, celetuk Arya sambil memainkan busa - busa yang ada di dalam bath-upnya.


Ditempat lain. Dinda baru saja tiba ke hotel setelah sebelumnya asyik mengobrol dengan rekan - rekan satu timnya. Mereka juga sudah kembali ke kamar masing - masing, sedangkan Dinda permisi ke toilet lobi sebentar karena dia sudah tidak bisa menahan diri untuk buang air kecil.


Dinda sangat menyukai minuman mix jus yang menjadi jamuan makan malam tim building di restoran seafood bakar tadi hingga dia menghabiskan beberapa gelas. Alhasil, dia jadi beser dan tak bisa berhenti ke kamar mandi.


‘Mas Arya lagi ngapain, ya. Dia benar - benar sangat cool, tadi. Aku sampai tidak bisa menahan senyumku. Dia sudah sampai kamar, kan? Awas saja kalau dia ternyata sudah mendarat di sebuah club.’, ujar Dinda dalam hati sambil menyelesaikan bisnisnya di kamar mandi.


Dinda bergerak menuju lift untuk bisa ke kamar hotelnya yang ada di lantai 6. Dia menunggu lift bersama sepasang kekasih yang sepertinya sedang bulan madu. Mereka sangat mesra sekali. Melihat mereka membuat Dinda flashback ke bulan madunya beberapa bulan lalu bersama Arya.


‘Seharusnya kami bulan madu lagi. Waktu itu benar - benar tidak romantis. Tapi semua itu salahku sih. Kalau dipikir - pikir lagi, mas Arya memang pria yang sangat gentle. Kalau dia mau, dia pasti bisa menyentuhku kapan saja saat itu. Tapi dia tidak melakukannya sama sekali.’, Dinda tenggelam dalam pikirannya sampai pintu lift terbuka.


Dinda dan pasangan tadi masuk. Mereka sudah menekan tombol lantai 6. Mereka melirik ke arah Dinda dan Dinda mengatakan kalau dia juga berada di lantai yang sama. Lift tertutup dan mulai terasa naik ke atas. Di lantai 3, lift berhenti dan seorang pria masuk.


Pria itu mengenakan baju serba hitam dan sebuah topi yang ia turunkan menutupi sepertiga wajahnya.


‘Hm.. kenapa dia naik ke atas? Apa dia punya teman di lantai 6 juga?’, Dinda hanya melontarkan pikiran - pikirannya karena melihat pria itu tidak menekan tombol lantai, yang berarti dia juga menuju lantai yang sama dengan Dinda.


Lift akhirnya berhenti di lantai 6. Pasangan tadi keluar lebih dulu. Dinda mengikuti dan pria itu dibelakang juga ikut keluar melangkah di belakang Dinda. Dinda bisa melihat pasangan itu berbelok ke arah kiri dan Dinda berbelok ke arah kanan. Kamar Dinda dan Delina ada di paling ujung sebelah kiri.


Dinda merasa pria bertopi tadi juga berjalan di belakangnya.


‘Apa kamarnya juga di lorong sini. Tapi biasanya pria akan jalan lebih dulu. Kenapa dia jalan pelan sekali, ya?’, kata Dinda dalam hati.


Saat mau melanjutkan langkahnya, ponsel Dinda berdering. Dinda berhenti dan mengangkatnya. Dia menoleh sebentar ke belakang untuk sekedar memastikan.


“Halo..”, kata Dinda menjawab telepon.


Dinda berhenti, namun entah perasaan dari mana, Dinda merasa pria bertopi itu sedikit aneh. Dia berjalan ragu melampaui Dinda.


“Hm?”, respon Dinda pada orang yang meneleponnya. Dinda segera berbalik dan menekan tombol turun. Untungnya, pasangan tadi masih berciuman di depan kamar yang mungkin kamar mereka dan belum masuk. Sepertinya mereka sedikit mabuk dan sedang mencari - cari kartu mereka.


Begitu lift terbuka, Dinda langsung masuk ke dalam. Dan menekan tombol 7. Saat pintu lift tertutup, Dinda bisa mendengar suara tapak sepatu berlari ke arahnya. Untungnya lift sudah tertutup.


Beberapa saat yang lalu. 


“Halo..” 


“Din, gimana dong. Aku lupa akses cardnya di aku dan Suci. Kamu gimana dong masuk ke kamar.  Mana di lantai itu cuma kita doang lagi. Karyawan yang lain stay di lantai 4 dan 5 kebanyakan. Ada satu orang sih yang stay disitu tapi aku gak kenal. Maaf ya.. Suci mabuk. Aku belum bisa balik. Kamu bisa minta cadangan ke resepsionis. Tapi kalau jam segini, mintanya ke resepsionis yang di bagian selatan ya. Atau kamu bisa tanya Siska…….”, dan suara Delina sudah tidak terdengar lagi. 

__ADS_1


“Hm?”, Dinda hanya sempat mengatakan itu sebelum sambungaan ponselnya terputus. 


‘Ah.. kenapa baterai ponselku habis disaat begini.’, decak Dinda kesal dalam hati. Perasaannya tidak enak.


__ADS_2