Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 26 Menginap Dadakan di Hotel Bagian 3


__ADS_3

***Di kamar hotel Arya dan Dinda. ***


Begitu masuk kamar, Dinda dengan sigap menata makanan di atas meja. Termasuk makanan yang dibawa oleh Arya. Dinda berinisiatif mengambil minuman yang tersedia di atas meja dekat pintu masuk, minuman yang sudah disediakan oleh pihak hotel.


Semua ia tata di atas meja kerja yang tadi digunakan Arya. Ia menyingkirkan laptop dan menaruhnya di tempat yang aman.


“Pak Arya mau minum teh atau kopi?”, tanya Dinda sedikit ragu tetapi dia tetap memutuskan untuk bertanya.


“Ah, iya saya lupa beli kopi. Saya gak bisa yang sachetan itu. Di bawah ada cafe yang masih buka. Kamu ke bawah, belikan saya espresso one shot ya. Ini kartu kreditnya. Pinnya sama dengan yang tadi.”, kata Arya langsung menjawab meskipun sedari tadi dia terpana melihat kesigapan Dinda.


Begitu meletakkan makanan di atas meja, ia masuk ke kamar mandi karena sedari tadi dia sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Selesai dari kamar mandi dia langsung kaget melihat beberapa makanan sudah rapi di atas meja.


‘Apa? Gila apa! Masa aku disuruh balik lagi. Kalo aku bantah pasti jadi panjang urusannya. Ya udah deh pasrah aja. Padahal udah laper.’, bathin Dinda menderita di dalam hati.


Arya sedikit menyunggingkan senyum karena dia bisa membaca kekesalan dari wajah gadis itu.


‘Sudah jadi istri, lebih baik aku gunakan saja dia.’, bathin Arya dalam hati.


Tadinya dia masih bingung harus dia apakan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya ini.


Melihat kesigapan Dinda, Arya langsung mendapatkan ide untuk menjadikannya sekretaris pribadi.


Meskipun di kantor dia sudah punya, tetapi punya yang gratis dan patuh serta bisa mengurusi hal - hal pribadinya di rumah juga tidak ada rugi - ruginya.


“Udah tahu butuh kopi, kenapa gak dari tadi aja dibeli. Bikin kesel aja.”, rutuk Dinda.


Kali ini dia mengatakannya dengan volume yang jelas karena sudah berada di luar kamar. Dia sedang menunggu lift.


“Maksudnya apa coba. Tadi dia gak bolehin aku turun sendirian buat ngambil makanan. Sekarang malah disuruh turun sendiri beli kopi. Kalo bantah pasti jadi panjang, mana lagi di hotel.”, tanpa disadari, ponsel Dinda sudah berbunyi.


‘Mama’, bathin Dinda.


“Halo Din, kamu dimana, kok belum pulang? Mama khawatir.”, terdengar suara Inggit bertanya dengan penuh cemas.


Dinda kembali merutuki dirinya karena lupa memberitahu Inggit bahwa dia harus menginap di hotel malam ini. Apa lagi kalau bukan karena idenya pak Arya yang harus meeting malam - malam.


“Ya ampun, Dinda minta maaf ma. Dinda lupa kasih tahu mama. Jadi tadi pas pulang, macet banget dan Pak eh maksudnya mas Arya ada meeting jam 8.30, jadi dia bilang nginep di hotel terdekat aja malam ini. Maaf ma, tadi buru - buru banget jadi ga sempet telpon mama dan papa.”, Dinda merasa sangat tidak enak.


Kalau Pak Arya lupa itu wajar. Melihat karakternya, dia bisa saja ke luar negeri tanpa bilang dulu ke orang rumah.


Tapi Dinda menantu di sana, sudah seharusnya Dinda info kalau ada hal - hal yang sifatnya urgent.


“Iya gapapa. Lain kali jangan lupa kasih tahu, ya. Kalian nginep dimana? Udah makan?”, Inggit meneruskan dengan sejuta pertanyaannya.


“Ohiya, mumpung kamu di hotel, baju yang kemaren kita beli kamu bawa ga?”, tanya Inggit. Pertanyaan yang menurut Dinda sangat out of the box.


Bahkan disaat seperti ini pun baju aneh itu tidak pernah tinggal dalam topik pembahasannya.

__ADS_1


Lagian mana ada orang bawa - bawa lingerie di mobil. Begitu pikir Dinda ketika Inggit bertanya apakah dia membawa baju aneh itu bersamanya.


Inggit akhirnya menutup teleponnya.


"Siapa?", tanya Arya.


Dinda ternyata belum beranjak keluar karena ponselnya tiba - tiba berbunyi.


"Mama. Kita lupa mengabarkan ke mama kalau mau menginap di hotel. Mama khawatir dan sudah menunggu di rumah.", jawab Dinda.


"Kamu sudah jelaskan?", tanya Arya kembali.


"Hn. Iya Pak, sudah.", ujar Dinda.


"Ya sudah, sekarang berangkat beli kopinya.", respon Arya.


Dinda lamgsung menggerutu dalam hati. Dia meletakkan ponselnya di meja rias kamar hotel dan pergi.


Suasana hotel sudah sangat sepi karena saat itu sudah hampir jam 1 malam. Cafe disini masih saja buka. Mungkin 24 jam, begitu pikir Dinda.


Setelah berhasil melakukan pemesanan, Dinda menunggu sebentar sampai dipanggil kembali saat kopi sudah siap.


Dia duduk menunggu sambil melihat kiri dan kanan. Cafe itu masih dipenuhi banyak orang. Sepertinya cafe ini juga menjual minuman beralkohol. Lokasinya benar - benar strategis. Tak lama Dinda mengenali seseorang dari kejauhan.


‘Mba Suci? Ngapain dia disini? Pakaiannya kok gitu banget?', Dinda terus memperhatikan mba Suci, orang yang satu kantor dengannya sambil memicingkan mata berusaha memastikan.


Lokasinya agak jauh. Mba Suci berada agak ke dalam dan berada diantara beberapa pasangan lain.


Dinda kaget karena dia melihat mbak Suci merokok dan menenggak minuman mirip cocktail. Tak lama nama Dinda dipanggil. Ternyata pesanan sudah datang. Dinda terjaga dari lamunannya dan beranjak.


Dia memutuskan untuk berhenti memandangi Mba Suci dan mengambil pesanan lalu naik ke atas segera. Sebelum pria itu menghabiskan semua makanan yang ada.


Bodohnya Dinda, dia salah menekan nomor lantai karena masih memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Alih - alih menekan lantai 10, Dinda justru menekan lantai 15, lantai kantor dimana dia bekerja.


Awalnya, Dinda tidak menyadarinya karena di dalam gedung hotel, lantai berapapun semuanya sama. Dinda akhirnya menyadari saat melihat nomor kamar sudah di mulai dengan angka 10. Dia segera berbalik.


Dinda sedikit tidak nyaman karena dari tempatnya berdiri, Dinda mendengar beberapa pria sedang mengobrol di depan lift. Dinda ragu - ragu. Apa dia harus menunggu orang ini naik lift duluan atau ikut saja.


‘Aduh, aku tunggu aja deh sampai mereka naik.’, Dinda memilih menunggu di lorong sampai suara pria - pria itu tidak terdengar lagi.


Setelahnya, Dinda baru memberanikan diri untuk berjalan ke arah lift. Dinda memencet tombol lift untuk turun. Begitu pintu lift terbuka, Dinda langsung masuk dan menekan lantai 10. Baru saja lift akan tertutup, seseorang memencet kembali tombol lift dan masuk.


Ternyata di belakang Dinda tadi ada satu orang pria paruh baya yang mengikutinya. Saat masuk lift, pria itu tidak menekan tombol sama sekali.


‘Tadi aku kok gak lihat Bapak ini ya. Apa dia dari lorong satunya.’, bathin Dinda.


Pintu lift tertutup. Dinda tak henti - hentinya melihat ke arah pintu lift yang menerima pantulan bayangan Bapak itu. Dia sepertinya orang baik - baik. Tapi entah kenapa perasaan Dinda tidak enak.

__ADS_1


‘Dia kok gak mencet tombol ya? Apa dia menginap di lantai 10? Tapi kok tadi dari lantai 15. Aduh, aku kok was - was gini. Mana gak bawa hape lagi.’


Ting. Pintu lift terbuka. Dinda keluar. Nomor kamarnya adalah 1025, dia harus berbelok ke kiri dan lurus hingga ke bagian ujung. Dinda berjalan pelan sambil sedikit sedikit mencuri pandang untuk memastikan kemana pria paruh baya tadi pergi.


Langkah kaki Dinda pelan, dia tidak tenang tetapi lari juga bukan pilihan yang tepat. Dinda sudah memasuki lorong kamar hotelnya. Dia hanya butuh melewati 9 kamar dan sampai di kamar miliknya.


Setelah beberapa langkah maju. Dinda memberanikan diri untuk sedikit menoleh ke belakang karena perasaannya tidak enak. Betapa kagetnya Dinda, ternyata pria paruh baya itu ada di belakangnya. Hanya berjarak sekitar 5-6 langkah saja.


Dinda menghentikan langkahnya. Dia berusaha untuk tenang. Kebodohan dia selanjutnya adalah Dinda tidak membawa akses kartu. Jadi, meskipun dia bisa lari, dia harus tetap memencet bel dan menunggu sampai Arya membuka pintu.


‘Gimana ini. Aku takut banget. Maju aja Din, maju aja terus melangkah ke kamar.', saking takutnya, Dinda melangkah sambil sesekali mengintip ke belakang. Langkahnya pelan dan tangannya gemetaran. Dia sama sekali tidak memperhatikan arah depan.


Tiba - tiba pria paruh baya itu seperti mempercepat langkahnya. Saat jarak mereka hanya tinggal 1 meter, pintu kamar Dinda terbuka. Sosok Arya terlihat jelas ada disana.


“Sayang, kamu lama banget beli kopinya? Makanannya mulai dingin, loh”, seolah langsung paham situasi yang terjadi, Arya langsung memanggil Dinda dan bergerak menghampirinya. Ia merangkul gadis itu dalam lengan kekarnya.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”, Arya bertanya pada pria paruh baya tadi.


“Oh engga, Pak. Sepertinya saya salah lantai, ya. Kalo gitu saya permisi.”, pria itu langsung bergegas pergi.


Dinda masih mematung di posisinya saat ini, persis di depan kamar 1022. Dia menghela nafasnya yang menderu. Arya bisa merasakan tubuh gadis ini bergetar.


“Hayuk kita masuk.”, Arya membantu Dinda berjalan masuk ke dalam kamar mereka.


“Kamu duduk disini dulu.”, Arya mengambil kopinya, dan menenangkan Dinda dengan mendudukkannya di kursi sambil mengelus - elus bahunya.


“Mba, ada pria aneh yang berkeliaran di lorong hotel. Saya kurang tahu dia stay disini atau engga. Umurnya sekitar 50 tahunan. Tolong minta security-nya cek, ya. Saya khawatir soalnya dia barusan seperti mengikuti istri saya.”, Arya langsung mengambil telpon dan menghubungi resepsionis.


“Barusan di lantai 10 mba. Tapi kayanya dia buru - buru pergi lagi. Saya gak ikutin takutnya dia bawa senjata atau semacamnya.”, lanjut Arya.


“Gak kenal mba. Kamu kenal Din?”, tanya Arya dan Dinda langsung menggeleng.


“Gak mba. Istri saya juga gak kenal. Tolong segera, ya. Takutnya dia ada maksud yang engga - engga. Ok. Thank you.”, Arya menutup telponnya.


Dia memperhatikan Dinda yang masih pucat dan berinisiatif untuk kembali duduk di depannya.


“Udah gapapa Din. Kamu udah sama saya. Maaf ya. Gara - gara saya minta kamu beli kopi, kamu harus ngalamin kejadian tadi.”, Arya berusaha menenangkan Dinda.


Untuk pertama kalinya, dia menunjukkan sikap gentle-nya pada Dinda.


“Pak Arya, makasih ya tadi udah keluar tepat waktu. Aku ga tahu. Aku takut banget tadi,”, tutur Dinda dengan nada bergetar.


“Ya udah, sekarang kita makan. Saya udah laper. Lagian beli kopi lama banget, hape ga dibawa, kartu akses kamar ga di bawa. Kalau saya telat sedikit, gimana?”, Arya kembali lagi ke mode tegasnya.


Dinda hanya bisa diam. Dia ingin menyalahkan Arya, tapi pria itu juga yang datang menyelamatkannya tepat waktu. Cara Arya untuk menghadapi situasi tadi juga sangat tenang. Dinda merasa kagum padanya.


Malam itu Dinda tidur duluan setelah menyelesaikan makan malamnya. Sebelum tidur, ia melihat Pak Arya masih lanjut duduk diatas meja kerja dengan wajah serius.

__ADS_1


Dinda memutuskan untuk membaringkan tubuhnya segera di kasur dan mematikan lampu yang ada di area tempat tidur.


Dia lanjut masuk ke alam mimpinya tak lama setelah membaringkan badannya. Hari ini begitu melelahkan, begitu pikirnya.


__ADS_2