Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 96 Menginap di Rumah Dinda Bagian 3


__ADS_3

“Masih banyak bunda yang harus dikerjakan? Sini saya bantu.”, Arya sudah selesai mandi dan sekarang giliran Dinda.


Gadis itu baru saja masuk ke kamar mandi setelah ada drama - drama kecil dari Arya yang terus saja menggoda Dinda.


“Ihh mas Arya, pake gak bajunya. Kenapa sih suka bikin jantungan orang?”, tadinya Arya keluar kamar mandi dengan piyama lengkap. Tetapi dia sengaja membukanya begitu sampai di kamar Dinda. 


Terang saja Dinda langsung kaget. Kalau Arya bersikap begini di rumah sana, Dinda mungkin akan luluh dan mengikuti permainan Arya. Tapi sekarang mereka ada di rumah Dinda. 


“Bagaimana kalau bunda lihat lagi. Ih.. mas Arya gak malu apa?”, ujar Dinda memukul dada bidang Arya lagi. Pria itu memeluk Dinda erat dan menciumi lehernya. 


“Terus, kalo nanti Arga yang lihat gimana? Mas Arya mau kejadian kaya Ibas waktu itu sengaja masuk terulang lagi.”, Dinda masih berusaha memperingatkan Arya. 


“Mas Arya..Oops.. maaf - maaf kirain tadi mba Dinda sudah ke kamar mandi.”, Arga segera menutup matanya dan berlalu dari sana. 


Tadinya dia ingin memberitahu Arya kalau ponsel pria itu berbunyi. Arya meninggalkannya di meja ruang tamu dan hanya membawa ponsel kantornya saja. 


‘Pasangan ini benar - benar. Mereka mau pamer ke semua orang? Kenapa merusak pemandangan begini. Ah.. jiwa suciku ternodai.’, kata Arga dalam hati. 


“Tuh kan.. Mas Arya…. Ihhh.. pokoknya dilarang cium seminggu.”, Dinda mengeluarkan aturan tiba - tiba. 


“Kuat emangnya? Nanti gak aku cium seminggu kamu overthinking lagi… Kuat emangnya?”


“Ihh bodo ah. Aku mau mandi, disini terus yang ada aku mandi pagi.” 


“Gapapa… yuk kita lanjut dulu, nanti biar sekalian mandi.”, kata Arya pada Dinda dengan nada super jahilnya. 


“Ihh makin ngacooo…”, Dinda segera berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan kejahilan dan godaan - godaan Arya yang hampir meluluhkan pertahanannya. 


‘Mas Arya jahil banget sih.. Padahal kalo di kantor, dinginnya mengalahkan es batu.’, gerutu Dinda dalam hati. 


“Gak usah nak Arya.. sudah tinggal sedikit, kok. Sebentar lagi juga sudah siap. Nak Arya istirahat dulu saja.”


“Panggil Arya aja Bunda. Memang selalu larut malam begini Bun mengatur pesanannya? Gak kecapekan?”, tanya Arya yang mulai menunjukkan perhatiannya.


“Jarang - jarang. Ini karena ada pesanan yang kebetulan lagi banyak saja hari ini. Mau ditolak Bunda gak enak. Tadi sore ada tetangga yang bantuin, kok. Bayar harian. Tapi sudah pulang sebelum kalian datang tadi.”, terang Ratna pada Arya.


Pria itu tak segan duduk bersila di lantai membantu memasukkan paket alat makan ke dalam kotak nasi yang sudah dibungkus Ratna.


“Hm…”, Arya hanya mengangguk.


“Dinda masih muda, jadi dia masih belum tahu apa yang harus dia lakukan sebagai seorang istri. Bunda minta maaf terlebih dulu ya, Arya kalau ada pelayanan Dinda yang kurang baik ke kamu.”, ucap Ratna dengan nada yang lemah lembut.


“Engga, Bun. Justru Dinda sudah menjadi istri yang baik buat saya. Saya sadar saya memiliki kepribadian yang sulit untuk sebagian besar orang, tapi Dinda dengan sabar memaafkan setiap kesalahan saya. Apalagi, saya sudah pernah menikah. Pasti tidak mudah menjadi Dinda di usianya yang semuda ini.”


“Bunda sudah ditinggal suami sekaligus papa Dinda sejak lama. Saat itu Dinda dan Arga masih kecil. Bunda takut sekali Dinda trauma dan itu mempengaruhi pernikahannya. Tapi, Bunda yakin kamu akan jadi suami yang baik buat Dinda. Bunda mungkin belum sempat mengatakan ini di pernikahan kalian karena banyak hal. Bunda minta kamu jaga Dinda ya.. Jangan buat dia merasakan apa yang bunda rasakan selama ini. Dikhianati orang yang paling dipercaya dalam hidup.”


Deg


Perkataan Ratna barusan benar - benar menghantam telak Arya. Bayangan - bayangan perlakuannya terhadap Dinda sebelum - sebelum ini membuatnya merasa sangat bersalah. Dia bersikap dingin, seenaknya, dan merenggut hal yang paling berharga bagi gadis itu dengan paksa adalah kesalahan terbesar Arya.


“Engga Bunda, justru sepertinya Dinda yang melindungi saya dari hal - hal yang seharusnya tidak saya lakukan.”, ucap Arya dengan lembut pada Ratna.


“Haha.. masa sih?”, kata Ratna. Dengan gaya bicara Arya yang santai dan tidak mengintimidasi seperti saat dia di kantor, sekarang mertuanya ini sudah bisa lebih santai saat mengobrol dengannya.


Arya hanya tersenyum sambil memasukkan dua perlengkapan makan terakhir ke dalam box.


“Arya, kalau di kantor, Dinda bagaimana?”, tanya Ratna penasaran.


Dinda baru saja keluar dari kamar mandi dan ikut duduk bersama Bunda dan Arya. Dia langsung mengambil tempat menempel di samping bundanya.


“Hm.. meski dia masih intern tapi dia sering mengambil inisiatif yang bagus. Sebenarnya saya juga tidak terlalu bisa memperhatikan, bosnya yang lebih tahu.”, jawab Arya.


“Loh, bukannya Arya bosnya? Bunda salah, ya?”, tanya Ratna heran.


Sepengetahuannya, status pernikahan Dinda dan Arya masih disembunyikan dari orang kantor karena Arya adalah bosnya.


“Bukan gitu Bun. Mas Arya sekarang menggantikan sementara, jadi hal - hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan di mas Arya. Tapi kalo sehari - hari, ya tetap dengan Pak Erick. Orang yang waktu itu Dinda ceritain.”, Dinda ikut menjelaskan dengan bahasa yang lebih dimengerti Ratna.

__ADS_1


“Ooh… kapan penggantinya datang? Bukan apa - apa. Tapi kalian memang bisa menyembunyikannya terus di kantor?”, pertanyaan Ratna mewakili kekhawatiran Arya dan Dinda saat ini.


Terutama Arya, dia tahu benar jika belum ada pengganti divisi Digital and Development hingga saat ini. Bahkan, posisi itu malah akan diserahkan padanya.


“Masih belum tahu Bun. Tapi Arya akan usahakan untuk segera memberitahukannya ke bagian HRD.”, kata Arya berjanji.


“Iya, takutnya ada yang melihat kalian berdua dan malah berpikir yang tidak - tidak tentang hubungan kalian.”


Ding Dong Ding


Ucapan Ratna benar terjadi dan Dinda mengiyakan dalam hati. Arya belum mengetahui masalah ini. Dinda juga bingung memberitahukannya.


“Ya sudah, ini sudah selesai. Hanya perlu diantar besok ke orang yang pesan.”


“Oh, siapa yang biasa antar Bun?”, tanya Arya sambil beranjak berdiri dari duduknya.


Arya tak biasa duduk bersila karena di rumah selalu duduk di kursi atau sofa. Ia meringis sedikit karena kakinya merasakan pegal.


“Kenapa mas? Gapapa? Sakit?”, tanya Dinda memberikan perhatian. Tak hanya Ratna yang kaget, Arya juga terkejut karena Dinda langsung khawatir dan menanyakan keadaanya.


Ratna tersenyum.


“Arga yang antar.”, Ratna menjawab pertanyaan yang diajukan Arya tadi.


“Oh.. pakai motor Bun?”, tanya Arya tidak percaya.


‘Bagaimana mengantar pesanan sebanyak ini dengan motor?’, tuturnya dalam hati.


“Haha iya.. Kalau sebanyak ini, biasanya dia antar dua kali trip.”


“Oh.. besok biar Arya aja yang bantu antar Bun.”


“Eh.. jangan, kamu kan capek seminggu sudah bekerja. Apalagi jabatannya sudah tinggi, pasti sibuk sekali.”, Ratna merasa tidak enak.


“Gapapa Bun, sekalian jalan - jalan.”, Arya terus memaksa pada Ratna agar dia saja yang mengantar hingga Ratna terpaksa harus mengiyakan.


“Istirahat sana. Sudah larut. Besok kita ngobrol lagi, ya.”, ujar Ratna mendorong lengan Arya bermaksud menyuruhnya segera istirahat.


“Bun, Dinda boleh tidur sama Bunda?”, lagi - lagi tidak hanya Ratna yang kaget, Arya juga kaget mendengarnya. Dinda tak mendiskusikan ini sebelumnya.


“Ehh kok begitu. Kamu sekarang sudah bersuami. Harus itu sama suaminya, dong. Gak boleh gitu, Din.”, Ratna memperingatkan Dinda. Dia merasa tidak enak dengan Arya, meski Ratna tahu maksud Dinda.


Gadis itu masih muda, masih 23 tahun. Selama ini mereka selalu bersama dan tiba - tiba dia menikah lalu harus tinggal dan tidur di ranjang orang yang sebelumnya tidak dia kenal sama sekali. Dinda pasti sangat merindukan belaian dan kasih sayang dari Ratna.


Tapi, apakah Arya mengerti itu semua? Ratna takut Arya malah salah paham.


“Bun…”, Dinda sudah hampir menangis. Gejolak emosional merasuk di pikirannya dan dia jadi sangat sensitif serta mudah menangis.


Tentu saja membuat Ratna semakin terkejut. Jika saja Arya tidak langsung mengambil inisiatif saat itu, Dinda mungkin sudah menangis.


“Gapapa, Bun. Arya paham, kok. Dinda sudah tiga bulan lebih menikah dan belum sekalipun mengunjungi Bunda. Dia pasti kangen.”, kata Arya mengusap - ngusap rambut Dinda lembut.


“Maaf ya Arya. Dinda ini kadang suka manja.”, tutur Ratna berusaha agar Arya tidak marah. Padahal sebenarnya Arya tidak marah sama sekali. Dia cukup dewasa untuk mengerti Dinda yang masih sangat muda.


Ratna segera mengambil langkah menuju kamarnya dan Dinda baru akan mengikuti. Namun, Arya membisikkan sesuatu di telinga Dinda.


“Permintaan kamu mahal loh. Ingat, saya gak kasih gratis.”, ujar Arya sambil mengecup leher Dinda singkat agar tak terlihat oleh bundanya.


Deg Deg Deg


Jantung Dinda langsung berdetak kencang. Meski dia polos, tapi interaksi mereka belakangan ini sudah cukup membuat Dinda mengerti apa yang dimaksud Arya.


‘Hm.. apa aku batal saja ya tidur sama Bunda. Mas Arya pasti menginginkan lebih setelah ini. Bagaimana kalau dia..ah tidak tidak. Perkara nanti, pikirkan nanti saja.’, ujar Dinda segera menyusul bundanya sebelum Arya melakukan hal yang aneh - aneh.


“Eh.. Arga, belum tidur?”, Arya baru akan beranjak menuju kamarnya saat melihat Arga di dekat meja makan.


Kamar Arga memang terletak agak ke dalam berdekatan dengan dapur. Dia baru saja ingin mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di meja makan.

__ADS_1


“Ah.. mau ngambil ini, mas.”, jawab Arga singkat dengan ekspresi yang sungkan.


Arya tersenyum dan ingin berlalu ke kamar. Namun, Arga mengatakan sesuatu yang membuatnya berhenti.


“Titip mba Dinda ya mas. Arga harap mas Arya sayang dan tulus sama mba Dinda, walau dia pasti banyak kurangnya. Apalagi kurang cantik.”, kata Arga setengah bercanda dan setengah serius.


Arya jadi bingung membalasnya. Ia ingin mode serius atau mode bercanda, pikir Arya.


“Kakak kamu itu cantik banget. Kamu bakal susah cari cewek yang bisa menyamai kakak kamu.”, ujar Arya sambil tersenyum penuh arti sebelum akhirnya meninggalkan Arga yang mematung sendirian.


Dia jadi geli mendengar perkataan Arya yang dia kenal sangat cool, tiba - tiba memuji kakaknya.


‘Dinda pasti sudah meracuni makanan mas Arya. Dia kasih apa sampai mas Arya yang perfect bilang begitu?’, kata Arga di dalam hati. Dia masih tidak percaya pada apa yang sudah dia dengar.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, namun pria itu masih saja berputar dari kiri ke kanan, kanan ke kiri dan sebaliknya. Dia tidak bisa tidur sejak sejam yang lalu. Bukan karena ia berada di lingkungan yang baru. Toh, Arya juga sering melakukan perjalanan bisnis baik dalam dan luar negeri. Tetapi tidak pernah ada masalah.


‘Kenapa malam ini aku susah sekali tidur?’, Arya dari tadi masih uring - uringan.


Setelah lama mencoba memejamkan matanya, dia akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya. Arya baru sadar, kalau ponselnya yang di meja ruang tamu, belum dia ambil sama sekali.


Dengan malas dia berjalan keluar dan mengambil ponselnya. Disanalah Arya melihat Dinda yang baru saja keluar dari kamar Bundanya.


“Kamu mau minum.”, tanya Arya pada Dinda dengan suara yang pelan karena takut membangunkan orang.


Dinda menggeleng.


“Mau ke kamar mandi.”, tanya Arya lagi, pria itu kini sudah menggenggam ponsel di tangannya.


Dinda menggeleng lagi.


“Terus?’, Tanya Arya.


“Mau balik tidur sama mas Arya.”, ucap Dinda dengan ekspresi polos.


Saat itu juga, ada perasaan aneh di dalam hati Arya. Hangat dan senang bercampur menjadi satu. Setelah gadis itu hampir merengek karena tidak dibolehkan tidur dengan bundanya, dia justru kembali dan memutuskan tidur bersama Arya.


Arya lalu mendekat ke arah Dinda dan menggendong gadis itu. Reaksi yang benar - benar di luar ekspektasi Dinda. Pria itu hampir saja membuatnya berteriak dan membangunkan seisi rumah. Untung Dinda segera menutup mulutnya.


“Mas Arya! Aku mau balik tidur sama mas Arya karena aku ga bisa tidur. Bukan untuk berbuat sesuatu. Kamar aku gak kaya kamar mas Arya, suara apapun bisa terdengar keluar.”, Dinda memperingatkan sambil memukul bahu Arya. Pria itu dengan santai membawanya segera ke dalam kamar mereka.


“Memangnya saya mau berbuat apa?”, Senyuman licik Arya kembali terpancar dari bibirnya.


Arya menurunkan Dinda di kasur. Di kemudian mengambil tempat di sampingnya dan menaruh ponsel yang tadi diambilnya. Sepertinya dia tidak perlu lagi memainkan ponsel karena sudah ada Dinda.


“Sini.”, perintah Arya pada Dinda sambil menepuk - nepuk tempat persis di sampingnya.


“Saya gak bisa tidur karena gulingnya gak ada.”, ujar Arya santai.


“Ihh.. masa aku dianggap guling. Nih, aku balik lagi aja ke Bunda.”


“Iya iya iya… sini sini. Kalo ngambekkan tar saya garap loh kamu”, balas Arya.


“Mas Arya mesum Ihhh. Mas Arya gak kaya gini ke semua perempuan, kan? Wanita yang di bar misalnya?”, ujar Dinda pada suaminya sendiri. Meski akhirnya dia juga mendekat ke samping Arya.


“Hm…”


“Kok mikir?”


“Kamu kira saya cowok apaan?”


Mereka masih saling bersambut kata sebelum akhirnya terlelap tidur. Entah siapa yang lebih dulu tertidur, tetapi mereka menjadi lebih nyaman berada disamping satu sama lain. Arya mengangkat tangan Dinda agar melingkar di dada bidangnya. Pria itu juga menggenggam tangan Dinda agar dia bisa merasakan hangatnya.


Ponsel Dinda berbunyi. 


Pesan dari nomor yang tidak dikenal. 

__ADS_1


Hai Din, ini aku Dimas. Disimpan ya.. Nomornya. 


__ADS_2