
“Oh ya, hari ini saya mau traktir semuanya makan malam di luar. Hitung - hitung sebagai open house dari saya sebagai Kepala Divisi yang baru di DD. Saya sudah dapat tempatnya dari Erick dan Rini. Karena dadakan saya hanya minta pendapat 2 orang. Untuk next, saya pastikan akan minta voting semuanya. Nanti kita ketemu langsung di sana jam 7 malam, ya. Kebetulan saya ada meeting dengan Erick dan Rini dan baru selesai jam 6, jadi tidak bisa berangkat bareng.”, ujar Dika dengan suara lantang.
Setidaknya, suaranya bisa didengar oleh semua karyawan di divisinya. Karyawan langsung berbisik - bisik senang karena bisa dapat makan malam gratis. Nama restoran yang disebutkan oleh Dika juga adalah restoran All You can Eat, jadi semuanya langsung bersemangat.
“Wah… seru banget… terakhir makan - makan pas Team Building yang sudah beberapa minggu lewat. Akhirnya ada makan - makan lagi.”, ucap salah seorang karyawan.
“Din, bareng kita aja ya nanti. Bryan bawa mobil, Andra juga. Kebetulan aku gak bawa mobil hari ini. Kita di mobil Bryan, biar Andra dan karyawan lain yang ga bawa kendaraan. Ci, kamu mau sama Bry ato Andra?”, tanya Delina langsung bergerak cepat meski jam masih menunjukkan pukul 4 sore.
“Hm.. aku di mobil Bryan aja.”, jawab Suci.
“Yah… masa aku sendirian.”, protes Andra yang juga mendengar pembagian dari Delina.
“Kan sama karyawan lain juga. Masa harus se-geng terus.”, kata Delina.
“Iya - iya.”, Andra hanya bisa mengikuti arrangement dari Miss Barbie Delina yang tidak mungkin untuk dibantah.
Sementara itu, Erick, Dika, dan Rini sudah bersiap menuju lift. Mereka ada agenda meeting hari ini sampai jam 6 Sore di luar. Tempatnya masih di sekitar sini tetapi sepertinya harus dengan mobil. Jadi, mereka turun dulu ke basement. Rencananya mereka akan menaiki mobil Dika supaya lebih mudah dan tidak saling tunggu - tungguan.
“Ngomong - ngomong soal Pak Arya, beliau sibuk juga ya. Tadi saya…”, ujar Dika yang sedang berbicara namun terpotong oleh dentingan bunyi lift yang menandakan bahwa pintu lift sudah terbuka dan mereka bisa naik.
“Iya Pak Dika. Pak Arya ada meeting dadakan di luar kota. Saya aja gak tahu. Baru tahu kemarin. Kayanya jarang di divisinya pada gak tahu. Tadi banyak yang bertanya ke saya. Soalnya Siska juga ikut Pak Arya kan ke luar kota.”, ujar Erick yang sudah mulai nyerocos duluan sambil menekan tombol lift.
“Oh?”, Dika mengkerutkan dahinya sedikit karena bingung.
“Ah… saya dan Pak Arya satu alumni SMA, Pak. Walaupun dulu gak dekat. Kaget ya? Saya masih level ini, Arya sudah level sana. Hahaha… saya contoh normal, Pak Arya contoh yang gak normalnya, Pak.”, kata Erick memberikan guyonan.
Rini tertawa keras karena dia menyetujui statement dari Erick. Rini juga salah satu karyawan yang terkesan dengan performa dan pencapaian Arya yang pesat. Di usia segitu sudah mengemban posisi tinggi. Membawahi semua tim Business & Partners bukanlah soal yang mudah. Itu berarti dia menjadi jantung cash flow perusahaan.
Dika, dia hanya tertawa tipis karena sebenarnya bukan itu yang membuatnya bingung.
‘Kenapa Intern seperti Dinda bisa tahu dengan detail jadwal Arya sementara bawahannya sendiri bahkan tidak tahu, ya?’
“Hm..Siska juga pasti buru - buru berangkat dan tidak sempat mengabari yang lain. Agak kompleks juga sih beberapa waktu belakangan disana sejak salah satu Manager, Bapak Gilbert bikin masalah.”, ujar Erick.
“Oh.. jadinya gimana tuh, Rick, nasib Pak Gilbert?”, tanya Rini yang merasa tertarik.
Sebelumnya, saat Arya belum menjadi kepala divisi di DD sebagai pengganti sementara, Divisi DD sama sekali tidak dekat dengan Arya. Namun, setelah kurang lebih 8 bulanan di bawah satu kepala, Rini perlahan mulai mengenal orang - orang di divisi Business and Partners.
“Kabarnya sih, Gilbert balik, tapi HRD sudah menyatakan dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan. Sebagian mengira itu keputusan Arya, tapi who knows.”, kata Erick.
“Loh, kamu gak tahu?”, tanya Rini.
“Pak Arya gak cerita. Dia sangat detail dan rapi dalam hal sharing informasi. Walaupun kita sering makan bareng, setelah kita sudah tidak di bawah kepemimpinannya lagi, dia sudah tidak pernah bahas tentang divisi Business and Parters lagi.”, jelas Erick.
“Hm.. sebegitu profesionalnya, ya.”, Dika ikut berkomentar.
Tanpa terasa, mereka sudah berada di lantai bawah karena terlalu asyik mengobrol. Erick permisi sebentar untuk membeli kopi di Cafe bawah. Cafe milik Dimas. Karena tidak ingin menunggu, Dika memutuskan untuk ikut dan hendak mentrakti ketikanya kopi.
Sebelumnya, semenjak Dika datang dan bergabung di perusahaan ini, Dika tidak pernah bertemu dengan Dimas, sang pemilik Cafe.
“Sepertinya kemarin - kemarin yang punya Cafe gak disini, ya.”, celetuk Erick pada kasir yang sedang menerima pesanannya.
“Haha iya, Pak. Pak Dimas sedang memantau branch yang lain. Baru hari ini beliau masuk lagi, Ah itu dia.”, kata kasir tersebut menunjuk ke arah Dimas. Dimas pun tersenyum pada Erick karena sadar sepertinya sedang dilihat.
Perhatian Dimas kemudian beralih pada dua orang yang menunggu di depan cafenya. Dia bisa menyimpulkan jika mereka sedang menunggu Erick. Awalnya Dimas hanya menoleh sebentar, dan mengarahkan perhatiannya ke tempat lain karena dia juga sedang berdiskusi dengan bawahannya.
Namun, sosok yang dia kenal menarik perhatiannya. Dimas memutuskan untuk mengarahkan pandangannya kembali pada dua orang yang ada di depan Cafenya. Disaat yang bersamaan, Erick sudah selesai menerima pesanannya dan hendak berjalan keluar. Dika dan Rini pun berbalik.
Karena itu, Dimas kesulitan memastikan sosok yang dikenalnya tadi. Namun beberapa saat kemudian, Dika kembali menoleh ke belakang karena dia melihat ada banner menu baru. Saat itulah Dimas berhasil melihat wajahnya.
__ADS_1
“Itu.. kan.. Kenapa dia disini? Dia bekerja disini?”, kata Dimas heran dan kaget.
Dia langsung buru - buru mengambil ponselnya dan menghubungi Sarah.
“Halo Sar.”, sapa Dimas buru - buru.
“Hm.. halo? Aku sedang meeting. Nanti aku telepon lagi.”, kata Sarah.
“Ah.. Oh baiklah kalau begitu. Jika kamu sudah selesai meeting, segera beritahu aku. Ada yang ingin aku pastikan.”, ucap Dimas kemudian menutup ponselnya.
*******
“Oke… supaya kita tidak membiarkan makanan menganggur terlalu lama. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah menerima saya dengan baik di tim ini. Kedepannya akan banyak project internal yang harus kita selesaikan. Saya butuh dukungan semuanya. Semoga kita bisa meningkatkan performa DD kedepannya. Terima kasih. Silahkan mulai menyantap makanan yang sudah tersedia.”, begitu kira - kira kata sambutan dari Dika yang hampir saja telat karena meeting berlangsung lebih lama dari yang dia kira.
“Terima kasih Pak Dika.”
“Thanks, pak Dika.”
Ucapan - ucapan seperti itu mengawali santap makan karyawan tim DD. Sudah lama sekali sejak mereka terakhir kali makan - makan seperti ini. Dulu pernah sekali Pak Arya mentraktir mereka namun karena kesibukan yang luar biasa, hanya kartu kreditnya saja yang datang sementara orangnya sedang meeting di luar.
Pilihan Erick dan Rini jauh pada restoran daging All You can Eat sehingga karyawan bisa makan sepuasnya. Dika menyetujuinya karena itu memang ide bagus menurutnya. Segera setelah kata sambutan dari Dika usai, karyawan mulai menyantap aneka daging yang datang di meja mereka.
Daging terus di refill jika sudah kosong di meja. Untuk minuman, mereka bisa mengambil sendiri dari beberapa pilihan minuman yang ada di samping meja kasir. Untuk yang ingin minuman panas, mereka perlu memesan terlebih dahulu dan tentunya dikenakan charge tambahan.
Beberapa karyawan termasuk Dinda mengambil dari pilihan minuman yang sudah ada. Sedangkan tipikal seperti Andra memesan minuman Affogato sambil ikut mengambil minuman yang juga tersedia. Hanya ada beberapa karyawan yang berani seperti itu sedangkan yang lainnya sudah cukup puas dengan hidangan yang ada.
Mereka mulai mengobrol satu sama lain. Dika juga mengambil kesempatan ini untuk lebih akrab dengan karyawan yang akan menjadi bawahannya selama beberapa waktu kedepan. Belum banyak karyawan yang merasa nyaman dengannya. Saat dia bertanya, mereka hanya menjawab sekedarnya.
Sementara itu di tempat lain, Arya sudah akan memasuki pesawatnya untuk penerbangan pulang. Meeting mereka selesai sekitar pukul 2 siang. Sisa waktu mereka gunakan untuk membeli oleh - oleh untuk keluarga dan rekan kerja.
Dua orang lagi memperpanjang masa tinggal mereka karena ingin menghabiskan cuti dengan staycation disana. Sedangkan dua orang lagi bersama Siska ikut dengan Arya kembali. Penerbangan mereka sedikit mengalami keterlambatan selama lebih kurang 15 menit karena cuaca yang tidak baik.
Saat ini, Arya sudah duduk di bangkunya. Siska kedapatan nomor tempat duduk di samping Arya. Hal yang jarang sekali terjadi meski mereka sudah sering pergi bersama untuk urusan pekerjaan.
Dia berjalan menuju tempat duduknya. Sama dengan Arya, Siska tidak menaruh kopernya di bagasi. Dia memilih untuk membawanya ke kabin agar tidak terlalu lama menunggu bagasi saat sudah sampai. Beruntung dia hanya membawa koper kecil sehingga hal itu diperbolehkan.
“Sini, biar saya bantu.”, ujar Arya membantu mengangkat koper Siska ke atas.
“Kamu mau duduk di dekat jendela atau di pinggir?”, tanyanya.
Siska langsung salah tingkah, padahal Arya hanya bertanya biasa saja.
“Hm.. kalau boleh di jendela, Pak.”, jawab Siska.
Arya mempersilahkan Siska untuk duduk di tempat yang menjadi pilihannya. Ada tiga kursi pesawat, kursi yang satunya lagi akan diisi oleh orang yang tidak mereka kenal. Dua karyawan lain kebagian kursi di belakang karena mereka lupa melakukan check-in.
Arya mengeluarkan ponselnya dan melihat belum ada pesan dari Dinda. Dia menghela nafas kecewa dan kembali menaruh ponselnya ke dalam kantong. Ia memasang seatbelt dan mulai memejamkan matanya. Dia benar - benar lelah. Mulai dari perjalanan yang mendadak, meeting yang sedikit kacau di awal karena karyawannya tidak melakukan persiapan matang, hingga akhirnya semua berjalan lancar dan project sudah mendapatkan timeline yang pas.
Arya, pria itu memikirkan berkali - kali perkataan Sarah padanya tentang prioritas. Ketakutan mulai menjalar di pikirannya ketika berpikir apakah dia yang sebenarnya membuat Sarah jadi seperti itu. Dan apakah suatu saat nanti Dinda juga muak dengan kesibukannya. Semakin dia pikirkan hatinya semakin tidak tenang.
‘Saat Dinda ada di depanku, kenapa aku tidak bisa mengatakannya. Kenapa aku terus membuat suasana menjadi ambigu. Seperti kata papa, Dinda masih muda. Dia tidak bisa terus mengikuti langkahku yang cepat. Seharusnya aku yang berjalan pelan sesekali agar dia tak tertinggal.’, meski matanya terpejam, namun pikirannya tidak beristirahat.
Siska memberanikan diri melihat ke arah pak Arya hanya untuk menemukan dia memejamkan matanya.
‘Hah.. tuhkan benar, dia malah tidur. Aku deg-deg-an tanpa alasan.’, ujar Siska kecewa.
Setengah perjalanan berlangsung. Penerbangan yang mereka ambil memberikan mereka jamuan makan malam. Para pramugari mulai berjalan membagikan santapan malam yang bisa mereka nikmati.
“Pak Arya, Pak..”, panggil Siska membangunkan Arya.
__ADS_1
“Oh?”, Arya sempat tertidur sebentar, dia agak terkejut saat dibangunkan.
“Makanannya datang, pak.”, ujar Siska.
“Aah.. okay. Siska membukakan meja di depan Arya. Sedangkan Arya mengambil ponselnya lagi karena letaknya membuat duduknya tidak enak. Arya menaruhnya di atas meja.
Saat ponselnya ia taruh, layar ponsel aktif dan menampilkan pegangan tangannya dengan seseorang. Foto itu juga memperlihatkan cincin di jari mereka. Siska tanpa sengaja melihatnya. Sedangkan Arya tidak sadar dengan hal itu.
‘Hm? Cincin? Apa dia masih sebegitu cintanya dengan Bu Sarah? Sampai - sampai masih menyimpan foto seperti itu.’, pikir Siska.
Dia tidak tahu jika Arya sudah menikah lagi dan mengira gambar itu adalah gambar tangan Arya dengan istri sebelumnya, Sarah.
Pramugari mulai menghidangkan makanan. Seorang ibu - ibu datang dan duduk di samping Arya. Arya baru sadar jika penumpang disampingnya adalah ibu - ibu. Ibu itu sangat ramah sampai saat dia ingin duduk, dia menyempatkan diri untuk tersenyum pada Arya dan Siska.
Sambil pramugari menyajikan makanan di meja mereka, ibu itu iseng bertanya.
“Habis bulan madu, ya?”, tanya ibu itu pada Arya sambil menatap ke arah Siska juga.
Sontak, wajah Siska langsung memerah.
“Tidak. Saya baru saja selesai business trip. Dia adalah sekretaris saya.”, jawab Arya sambil membuka makanan yang sudah dihidangkan oleh pramugari.
“Oh.. terlihat serasi. Saya kira pasangan suami istri.”, kata Ibu tadi.
“Haha.. saya sudah menikah. Istri saya di rumah. Kalau dia dengar, dia pasti akan marah.”, balas Arya bercanda. Dia tahu candaannya membuat Siska langsung tercengang.
‘Hah… apa - apaan Pak Arya. Sampai segitunya tidak mau dikira pasangan denganku sampai harus berpura - pura masih menikah.’, ujar Siska dalam hati.
Dia tidak berpikir bahwa istri yang dimaksud Arya adalah Dinda. Arya juga tidak ambil pusing jika apabila Siska mendengar ucapannya barusan.
“Oh.. hahaha.. Tentu saja.”, jawab ibu itu.
Mereka melanjutkan beberapa obrolan ringan lainnya sampai makanan mereka habis. Arya kemudian melanjutkan tidurnya kembali, sedangkan ibu itu terlihat mengambil kertas dan menulis - nulis di meja untuk membunuh waktu.
*******
“Bagaimana? Sudah puas makannya? Saya harap semuanya pulang dalam keadaan perut kenyang, ya.”, ujar Dika tersenyum.
“Sudah mau meledak Pak Dika.”, ucap karyawan senior yang ada di bagian ujung meja.
Karyawan lain menimpali dengan anggukan setuju, beberapa ada yang mengeluarkan tawa kecil. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mereka menghabiskan waktu 2 jam untuk makan dan mengobrol santai.
Dika menyelesaikan pembayaran di depan. Sedikit ucapan penutup dan semua karyawan sudah bisa kembali pulang. Kebanyakan dari mereka sudah langsung membawa tas sehingga begitu selesai makan, mereka bisa langsung kembali pulang.
Sebagian kecil ada yang masih meninggalkan barang - barang mereka di kantor karena mereka juga membawa kendaraan. Mereka juga sudah menyesali keputusan itu karena mereka jadi harus kembali lagi ke kantor untuk mengambilnya.
Sisanya sudah mulai berjalan ke halte terdekat atau memesan ojek online. Persis seperti Dinda yang sekarang juga sedang mengotak - atik ponselnya untuk memesan ojek online.
“Din, kamu pulang kemana? Bareng sama aku aja. Yang di mobil aku tadi pada pulang sendiri - sendiri. Suci juga sepertinya sudah melesat keluar karena dijemput pacarnya.”, ajak Bryan yang menghampiri Dinda.
“Ga usah Bryan. Rumah aku sepertinya lawan arah dengan kamu. Nanti kamu pulangnya jadi makin jauh. Aku naik ojek online saja. Kalau pesan sekarang juga pasti masih ada yang mau ambil.”, balas Dinda.
“Hm… tapi daerah ini lumayan sepi loh kalau malam. Kamu yakin gamau aku antar saja?”, ucap Bryan yang masih berusaha mengajak.
“Iya Din, aku aja balik bareng Andra.”, ucap Delina yang ikut nimbrung ke obrolan Bryan dan Dinda.
“Itukan kamu yang nodong aku untuk anterin pulang. Atau kamu sama Bryan aja. Din, kamu sama aku aja pulangnya.”, kata Andra menawarkan.
“Huuuu… itumah kamu nya aja yang penngen.”
__ADS_1
Ting tong
Pesan masuk ke ponsel Dinda.