
Akhirnya hari yang ditunggu - tunggu sudah tiba. Arya sangat senang bisa kembali ke Indonesia besok sesuai rencana. Meskipun badannya remuk dan lelah, Arya merasa itu semua terbayarkan. Agar dia bisa pulang tepat waktu sesuai dengan rencana awal, Arya memang harus rela bekerja non-stop.
Berkat insiden di hari Senin dan beberapa poin yang miss saat perencanaan awal, tim Arya membutuhkan waktu ekstra untuk menyelesaikan proyek kali ini. Jika Arya mengikuti jadwal semula, dia mungkin membutuhkan tambahan satu hari lagi.
Namun, Arya berhasil mengajak timnya untuk bekerja ekstra dengan iming - iming 1 hari cuti. Tentu saja dia harus melakukan banyak lobi untuk bisa sampai pada keputusan itu.
Terlebih, tim yang bersama Arya bukan tim dari Indonesia melainkan cabang yang ada di Thailand. Tentu saja ada birokrasi berbeda yang harus dia tempuh. Tapi bukan Arya namanya jika tak bisa mengatasi permasalahan seperti ini.
Tuuuuuuttttt Tuuttttttt
Begitu sampai di kamarnya, Arya langsung menghubungi Dinda. Dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan bahwa besok dia akan tiba di Indonesia sesuai jadwal. Setelah itu, baru dia memberitahukan pak Cecep untuk menjemputnya di bandara.
Terkadang beberapa minggu ini dia suka menertawakan dirinya sendiri yang sepertinya sudah jatuh dalam pesona Dinda sangat dalam. Dia sering melakukan hal - hal yang tidak biasa dia lakukan.
Sejak kapan seorang Arya pernah menghubungi orang rumah saat dia pulang atau pergi kerja di luar kota maupun luar negeri.
Sejak kapan seorang Arya laporan pada istrinya hanya untuk sebuah kabar.
Sejak kapan dia hampir saja mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan pribadi.
Bagaimana bisa dia meninggalkan clubbing dan minuman yang sudah menjadi temannnya beberapa tahun belakangan. Sesuatu yang mustahil tetapi semua terjadi karena Arya mempertimbangkan Dinda.
Dia berhenti clubbing karena dia ingin segera pulang ke rumah. Memeluk dan menyesap aroma tubuh istrinya beberapa minggu belakangan menjadi hal yang bisa melepaskan semua pikirannya tentang urusan kantor.
Dia berhenti minum langsung setelah kesalahannya waktu itu. Jika memikirkan peristiwa saat itu, Arya benar - benar tidak bisa memaafkan dirinya. Tapi, Dinda tetap memaafkannya.
“Halo? Din?”, sapa Arya begitu panggilannya terhubung dengan Dinda.
“Hm.”, jawaban Dinda masih dingin.
“Hm? Cuma itu aja?”, protes Arya.
“Mas Arya pulang kapan?”, tanya Dinda.
“Besok. Sesuai jadwal. Kangen ya? Kangen gak?”, tanya Arya sambil berusaha terdengar manis tapi suara baritonnya yang berat tak bisa membantunya.
“Iya.. mau aku jemput?”, tanya Dinda.
Dinda pernah menjemput kepulangan Arya dari pekerjaan kantornya di luar negeri dulu saat mereka baru menikah. Setelah itu, Dinda hampir tidak pernah menjemput Arya di bandara karena selalu bersamaan waktunya dengan waktu masuk kantor.
Tapi berhubung besok Arya sampainya sore menjelang malam, mungkin Dinda bisa menjemputnya sepulang bekerja. Selain itu, Dinda juga penasaran, apakah dia bisa melihat Sarah jika dia menjemput mas Arya. Dia ingin memastikannya sendiri, meski di telepon tempo hari dia mendengar nama itu.
“Ga usah. Kamu kan kerja nanti kamu capek, baru pulang langsung ke bandara.”, jawab Arya.
Respon Arya tentu membuat Dinda kecewa karena dia jadi berpikir yang tidak - tidak kenapa Arya malah menolaknya.
“Tapi, kalo gak kamu gak keberatan, aku akan sangat senang. Kita bisa makan malam bareng. Aku mau tunjukkin kamu restoran lain yang jadi hidden gems.”, ungkap Arya dengan nada antusias setelahnya.
Sontak rasa kecewa Dinda berganti dengan senyuman.
__ADS_1
“Ya udah, kamu istirahat ya sayang. See you tomorrow. Jangan lupa balkon kamarnya di kunci dulu sebelum tidur. Nanti kamu sakit lagi kena angin malam.”, kata Arya sebelum menutup teleponnya.
‘Aahh.. aku benar - benar ingin memeluknya sekarang.’, Arya membaringkan tubuhnya di kasur sambil memeluk bantal.
Dia berharap Dinda ada di sampingnya saat ini juga. Dia sudah ketagihan dengan aroma tubuh istrinya dan sulit baginya untuk tidak menyentuhnya barang sehari saja.
‘Tapi belakangan Dinda seperti menahan sesuatu. Apa ya? Nada dari setiap responnya tidak seperti biasanya. Apa aku membuat kesalahan?’, Arya masih mencoba berpikir tentang itu sampai akhirnya dia tertidur di kasur karena lelah.
Dia bahkan tak mengganti kemejanya, dan masih mengenakan kaos kaki.
******
“Hai Rick. Apa kabar kamu?”, sapa seseorang yang berjalan menuju meja Erick di kantor.
Dia adalah Titin, manager divisi sebelah yang sering sekali ngopi - ngopi cantik di area divisinya. Berhubung dia satu angkatan dengn Erick saat masuk ke kantor ini, mereka jadi sangat akrab. Titin mungkin lebih tua beberapa tahun dari Erick namun gayanya modis.
“Hai… sudah selesai cuti hamilnya? Baru keliatan, tumben?”, jawab Erick sambil mengatur beberapa dokumen di mejanya.
“Pak Arya kemana? Aku lihat ada pesan Out of Officennya.”, tanya Titin pada Erick.
“Loh kenapa bertanya padaku. Tanyakan saja pada anak buahnya di tim sebelah.”, ujar Erick.
Meskipun dia tahu kemana Arya, dia hanya ingin memancing Titin.
“Tahukan, divisi kita musuhan sama divisi sana. Orangnya galak - galak.”, kata Titin jujur.
Delina dan Dinda yang duduk di sekitar situ ikut bergidik karena komentar dari Bu Titin.
“Wah iya? Keren juga pak Arya. Perasaan waktu awal dia masuk ke sini posisinya mirip - mirip dengan kita, tapi nanjaknya jauh. Udah nikah lagi belum sih dia? Kan waktu itu cerai kan.”, perkataan Titin barusan sukses membuat sesuatu mencekat leher Dinda sehingga dia harus berdehem.
“Waduh.. Ngajak gosip. Jadi mau apa cari Pak Arya? Dia lagi di Bangkok mengurusi project regional. Besok balik tapi malam. Jadi ke kantor lagi Senin kayanya.”
“Yah.. lama dong. Butuh waktu dia untuk diskusi.”, kata Titin mengeluh.
“Din, tolong di fotokopi ya. Aslinya taruh di meja pak Arya. Jangan lupa di kasih notes ‘Sign Here’ ya, biar dia sign. Sama kasih notes ‘Sudah didiskusikan’ di bagian depan.”, kata Erick memberikan berkas dokumen yang sudah dia rapikan pada Dinda.
Perintah Erick mendapat anggukan dari Dinda. Erick termasuk yang jarang sekali meminta hal sepele ini pada intern, tetapi karena ada Titin, Erick merasa perlu melakukannya.
“DM aja orangnya. Minta waktunya. Walapun jadwal meetingnya minggu depan udah full banget. Atau tanya Siska, sekretarisnya.”
Titin adalah salah satu yang suka bergosip tapi biasanya dia lebih ke fakta yang tertunda. Dia jarang mengungkapkan hal - hal yang dia tidak dengar sebelumnya atau menambah bumbu pada informasi (MSG). Karena itu semua hal yang keluar dari mulutnya berbahaya.
Erick kira setelah menikah dan memiliki anak, dia bisa mengurangi sifat buruknya, tetapi malah semakin menjadi - jadi seperti sekarang ini.
“Ah.. iya benar, Siska. Ya sudah. Eh by the way, aku pernah bertemu dengan mantan istri Arya, loh. Gilak, makin ber-aura saja dia. Aura gelap, tapi hahahaha. Kerja di PT DMN dia.”
“Masih bingung aku tuh ya, kenapa Arya sampai bisa bersama Sarah, sampai 3 tahun lagi. Dia baik sih, baik banget malah sebenarnya, tapi dia bisa jadi manipulatif kadang - kadang. Hm… kalo ingat - ingat pak Arya dulu pacarannya sama Sarah sudah seperti….”
Titin termasuk mengenal mantan istri Arya karena di awal berkarir pernah bekerja di perusahaan yang sama. Selain itu, dia juga satu almamater dengan Sarah dan Arya sewaktu di Amerika. Tapi, dia lebih dulu lulus. Sedikit banyak, dia tahu cerita Sarah dan Arya karena saat itu, jumlah mahasiswa Indonesia tentu hanya sebagian kecil. Mereka bisa dengan mudah mengenal satu sama lain.
__ADS_1
“Hush .. Hush… wilayah dilarang gossip disini.”, kata Erick berusaha membuat Titin pergi ketika dia melihat Dinda sudah kembali ke mejanya.
“Iya - Iya, ini mau pergi. Nomor Pak Arya masih yang lama kan?”, tanya Titin lagi.
“Iya… DM aja. Telepon kalau perlu. Tapi kamu harus bersedia bayar paket roamingnya.”, terang Erick.
‘Harusnya Arya membayarku. Aku melindungi istrinya dari ratu gosip divisi sebelah. Semakin lama tugas ini jadi semakin berat.’, pikir Erick dalam hati.
Sebenarnya dia tidak perlu melindungi Dinda sampai seperti itu. Arya hanya meminta untuk memantau interaksinya dengan karyawan pria. Tapi, Erick berpikir merasa perlu melakukannya.
******
“Din, besok ke rumah jam berapa? Kamu gak mau nginep aja sampai hari Minggu buat nemenin aku. Aku deg - deg- an banget nih?”, dari sore tadi Bianca sudah tidak henti - henti menghubungi Dinda.
Dia menanyakan banyak hal pada Dinda terkait persiapan pernikahannya. Bianca sudah seperti orang yang super panik dengan pernikahannya. Dia bahkan memutus komunikasinya sementara dengan Reza agar dia bisa fresh saat pernikahan nanti. Dia juga takut salah bicara dan malah menimbulkan pertengkaran di momen - momen menjelang pernikahan.
Setidaknya semua persiapan sudah oke dan Bianca hanya perlu mempersiapkan dirinya.
“Iya aku ke rumah kamu kok, tenang aja. Tapi aku izin mas Arya dulu ya. Dia baru pulang bisnis trip malam ini.”, jelas Dinda.
“Kamu lagi dimana, sekarang?”
“Aku lagi di jalan mau ke bandara. Mau jemput mas Arya.”
“Ih.. bucin banget. Kaya mas Arya anak kecil aja pake di jemput - jemput.”, protes Bianca.
“Nanti kalo mas Reza pulang dari business trip, kamu ga mau jemput memangnya?”
“Hm…”, Bianca tertawa karena dia tidak bisa menjawab.
“Gimana semuanya, sudah lancar persiapannya?”, tanya Dinda.
“Udah. Cuma hati aku aja yang belum. Masa tante Indah minta nanti kalau sudah menikah aku tinggal di rumahnya. Ga mau… waktu itu kan mas Reza bilang tinggal di apartemennya. Gimana sih Din, kamu kan tinggal di rumahnya mas Arya tuh?”, tanya Bianca.
“Haha… aku tahu alasan kamu ga mau tinggal di rumah tante Indah. Biar bebas sama mas Reza, kan?”, tembak Dinda.
“Hihi… abis malu dong masa mesra - mesraan ada mamanya mas Reza. Alamat ga jadi - jadi.”, balas Bianca blak - blak-an.
Dinda hanya bisa tertawa kecil. Berbicara dengan Bianca membuatnya jadi terhibur.
“Tante Indah baik kok, Bi. Haha… kamu ini ya.. Pikirannya. Ya sudah.. Aku udah sampai bandara nih. Besok aku ke rumah kamu ya, tapi se-diizinkannya mas Arya. Nanti aku info kamu lagi. Sekar kan katanya mau nginep.”
“Sekar gak seru. Kalo aku curhat, yang ada aku diomel - omelin sama dia. Ya udah.. Salam buat Mas Arya.”
“Okee..”
Dinda menutup teleponnya. Dia turun dari mobil sedangkan pak Cecep mencari dan menunggu di parkiran. Masih satu jam lagi dari waktu kedatangan Arya. Dinda tak punya pilihan selain menunggu.
Dia menghabiskan waktunya untuk searching - searching perihal tips kehamilan terutama untuk hamil muda seperti dirinya. Dia mencari makanan apa saja yang cocok. Apa yang tidak boleh dan boleh dia lakukan. Efek mual yang dia rasakan sebelumnya sedikit berkurang. Mungkin karena pengaruh vitamin yang diresepkan. Dia tidak begitu mengetahuinya.
__ADS_1
“Dinda..?”, panggilan seorang wanita yang dia kenal mengalihkan perhatiannya.
Dinda terkejut. Dia langsung mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam kantong.