
“Dim, kapan kamu mau mengatakan pada Arya kalau aku ingin bertemu dengannya?”, ujar Sarah di telepon.
“Aku tidak yakin aku bisa melakukannya.”, kata Dimas menolak.
“Memangnya kenapa? Bukannya kamu sudah berjanji akan membujuk Arya untuk bertemu denganku?”, kata Sarah mendesak.
“Sar, Arya masih sibuk dengan istrinya. Dia tidak mungkin mau bertemu. Lagipula, apa lagi yang mau kamu bicarakan dengannya. Arya sudah menutup pintunya untuk kamu. Cobalah untuk move-on.”, kata Dimas masih berusaha menasehati.
“Bullshit. Kalau kamu tidak mau membantuku. Bilang saja.”, ujar Sarah kesal.
“Dimas, ayo.”, panggil seseorang di seberang telepon disisi Dimas.
Sarah bisa mendengarnya dengan jelas.
“Siapa itu?”, tanya Sarah penasaran.
“Sar, nanti aku hubungi kembali ya. Jangan bertindak gegabah dan coba jalani hidup kamu sendiri.”, kata Dimas sebelum menutup ponselnya.
“Brengsek. Heh… siapa wanita tadi?”, kata Sarah emosi.
Dika sudah tidak mau menerima teleponnya sejak terakhir mereka berseteru. Dika menuduh Sarah telah menghasut istrinya bahwa dirinya berselingkuh dengan Dinda, intern di kantornya.
Dimas belakangan sulit untuk dihubungi. Sarah juga tidak ingin menghubunginya karena setiap kali, pasti ada suara wanita yang belakangan sedang akrab dengannya.
“Apakah aku harus datang ke rumah ningrat mama Inggit dan Kuswan untuk membuat Arya mau menemuiku?”, ujar Sarah sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin.
“Mungkin mereka akan tertarik melihat menantu.. Ah tidak.. Mantan menantunya datang ke rumah itu lagi. Aku juga penasaran bagaimana rumah mereka sekarang meski aku tak banyak menghabiskan waktu disana.
***********
“Jadi, mau nonton apa?”, tanya Arya yang sudah menutup laptop di ruang kerjanya.
Dinda dengan tekun menunggunya di sofa sambil memainkan game console yang diberikan Dinda. Arya meminjamkan game console itu agar Dinda tidak bosan di rumah sakit. Sekarang dia malah menyukainya.
“Hm.. film action? Tapi action romantis. Tempo hari kita menonton film yang mas Arya pilih. Sekarang giliranku untuk memilih film selanjutnya.”, ujar Dinda bersemangat.
Dia duduk dan meletakkan game consolenya di sofa.
“Terus ngapain kamu berdiri di sofa?”, tanya Arya sambil berdiri tegap dan menyenderkan tubuhnya di meja belakang. Kedua tangannya dia masukkan ke saku celana.
“Gendong.”, kata Dinda dengan ekspresi manisnya.
“Hm?”, alis Arya sampai terangkat satu saking herannya.
“Gendong.”, kata Dinda menjelaskan sekali lagi kata - katanya.
“Kita nonton di sofa kamar yang jaraknya tidak sampai 10 meter dan kamu minta gendong?”, tanya Arya mengeluarkan tangan dari saku celananya.
“Hn. Tiba - tiba aku mau digendong mas Arya.”, ujar Dinda.
Hari ini adalah akhir pekan. Dinda sudah pulang sejak kemarin siang. Jadwalnya dimajukan karena kondisinya sudah pulih lebih cepat dari perkiraan.
Dia mengenakan baju terusan tipis berwarna putih. Dinda tidak keluar - keluar kamar sejak bangun tidur tadi. Dia sudah bebersih tetapi masih memilih mengenakan baju terusan putih favoritnya.
“Sejak kapan kamu jadi manja begini?”, tanya Arya sudah mulai mendekat ke arah Dinda.
Meski sudah berdiri diatas sofa, tetapi tinggi Dinda hanya selisih sedikit lebih tinggi dari Arya.
“Sejak hari ini.”, kata Dinda mendekat dan merapatkan wajahnya ke Arya lalu menciumnya tanpa aba - aba.
“Kalau kamu begini, yang ada kita tidak jadi nonton film, Din.”, kata Arya dengan senyum manisnya.
“Gendong dulu.”, kata Dinda sudah siap.
“Jadi kita nonton atau terus ke ranjang?”, tanya Arya.
Dinda langsung menepuk bahu Arya.
“Dasar, pikirannya. Om om ganjen.”, komentar Dinda.
“Om om ganjen sama istri sendiri memangnya kenapa?”, ujar Arya sedikit mendongakkan wajahnya untuk bisa menangkap wajah istrinya
“Gendong. Abis itu kita nonton film.”, kata Dinda dengan suara manja dan senyum manisnya.
Arya menyunggingkan senyumnya sebentar, kemudian menggendong istrinya. Dinda dengan refleks melingkarkan kakinya di pinggang Arya.
“Ini yang berat anak kita kan?”, goda Arya.
“Mas Aryaaaa.”, tentu saja Dinda berteriak.
Porsi makannya sudah mulai banyak belakangan ini. Dia bisa makan lebih dari porsi biasanya belum ditambah dengan snack. Inggit selalu mengontrol snack yang dimakan dan menganjurkan Dinda untuk lebih banyak mengkonsumsi buah.
Jadi, di sela - sela makan besar seperti sarapan dan makan siang kemudian makan malam, Dinda pasti akan mengkonsumsi sayur dan juga buah. Entah dalam bentuk jus atau sayur bening.
Dinda juga kaget dengan kebiasaan makannya yang sedikit berubah. Dia tidak terlalu suka makan sayur apalagi dalam bentuk jus. Tapi sejak kehamilannya menginjak usia 4 bulan, dia justru menantikan snack itu.
“Jadi, mau nonton di sofa atau kita lanjut di ranjang?”, ujar Arya belum menurunkan istrinya.
“Mas Arya.. kan kita janjinya mau nonton.”, protes Dinda sambil memainkan rambut suaminya.
“Tapi tingkah kamu malah membuat saya berubah pikiran loh. Apa kita ke ranjang aja ya?”, kata Arya.
“Masih pagi.. Lagian gak boleh sering - sering loh kata dokter Rima. Kan lagi hamil.”, ujar Dinda dengan wajah polosnya.
“Memangnya kita mau ngapain di ranjang. Maksud aku tuh, mau nonton di sofa atau kita tembak layar ke dinding closet aja terus nonton di ranjang.”, jelas Arya, dia berusaha menahan tawanya.
“Oh? Ah.. maksudnya begitu haha.. Iya juga ya, sepertinya lebih enak nonton di ranjang.. Ha-ha.. Iya nonton di ranjang lebih enak sepertinya.”, ujar Dinda langsung salah tingkah.
“Memangnya, kamu pikir kita mau ngapain di ranjang? Masih pagi begini, kamu mau melakukan apa sayang? Kata dokter Rima gak boleh sering - sering? Hm.. apa ya? Gak boleh sering - sering nonton film? Hm?”, tanya Arya pura - pura akting tidak tahu.
“Oh? Enggak.. Itu apa… hm.. Ehem ehem.. Haus yak jadinya.. Ha-ha.. Kayanya cuacanya makin hari makin panas ya. Padahal baru jam 10 pagi.. AC nya nya gak sih. Mas, turunin dulu.”, ujar Dinda semakin salah tingkah.
“Hm? AC nya masih di suhu yang sama loh. Katanya kedinginan? Lagian pagi - pagi pake baju terusan tipis maksudnya apa?”, tanya Arya.
“Oh? Itu.. yaa.. Ee… karena panas, mas. Hehe.. panas, jadinya pake baju yang tipis.”, Dinda kebingungan menjelaskan.
Arya akhirnya menurunkan istrinya di atas bangku ranjang yang berada di bagian depan.
“Hm? Atau kamu sengaja masuk ke ruangan aku untuk menggoda, ya? Masih kurang yang semalam?”, tanya Arya.
__ADS_1
“Apaan sih mas Arya? Memangnya semalam kita ngapain? Orang langsung tidur, kok.”
“Memangnya kamu pikir aku tanya tentang apa? Ya, maksudnya itu, masih kurang tidurnya?”, kata Arya menarik pinggang Dinda mendekat ke arahnya karena gadis itu sudah mulai inisiatif untuk kabur.
“Udah ih.. Keburu nanti siang.. Kapan nontonnya. Aku berubah pikiran, kita nonton komedi aja, ga usah yang romantis - romantis.”, kata Dinda hendak lepas dari pegangan Arya.
“Kenapa kalo yang romantis?”, Arya masih belum ingin melepaskan istrinya.
“Mas Aryaa…. Mas? Di dalem ga?”, tiba - tiba seseorang mengetuk - ngetuk pintu kamarnya.
Kalau dari suaranya, sepertinya itu adalah Ibas.
“Heh… ganggu saja ini anak. Gak lihat orang lagi romantis - romantisan, apa.”, celetuk Arya kesal.
“Hm? Romantis - romantisan?”, kata Dinda ingin memperjelas apa yang keluar dari mulut suaminya.
Dinda langsung tersenyum. Arya, pria itu jarang sekali mengeluarkan kata - kata itu. Alih - alih menjawab, Arya langsung berjalan ke arah pintu.
‘Hm… jadi tadi itu mas Arya lagi romantis - romantisan?’, Dinda malah senyum - senyum sendiri.
**********
“Kamu sering menemui Deni akhir - akhir ini.”, ujar dr. Rima yang sedang beristirahat dan menemui Dimas di taman rumah sakit.
“Hm.. hanya kebetulan. Aku berencana untuk ke rumah sakit menyelesaikan proyek instalasi Cafeku disini. Saat melihat jam, aku pikir ini adalah jam pulang Deni, jadi aku bawa saja dia bersamaku.”, kata Dimas.
“Hm… beberapa kali dalam seminggu? Memangnya sampai kapan kamu akan bolak - balik kesini?’, tanya dr. Rima.
“Kenapa? Apa kamu merasa terganggu dengan kehadiranku disini?”, tanya Dimas.
“Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin Deni menganggapnya atau mengartikan hubungan kalian dengan hal lain.”, jawab dr. Rima.
“Hal lain, seperti?”, sebenarnya Dimas sudah tahu kemana arah pembicaraan dr. Rima, tetapi dia hanya ingin memperjelasnya saja.
“Mungkin terdengar memalukan karena ini keluar dari mulutku. Tapi, aku hanya tidak ingin Deni berpikir kamu memiliki hubungan spesial denganku atau sejenisnya. Dia sudah lama tidak mengenal figur pria dewasa di sekitarnya. Aku hanya takut dia salah paham dan kecewa.”, ujar dr. Rima.
“Hm.. cukup tidak membuatnya kecewa, kan?”, kata Dimas.
“Maksudmu? Dia pasti merasa dekat denganmu jika kalian terus bertemu. Aku hanya tidak ingin dia merasa sedih ketika kamu tak lagi bisa menemuinya.”, ujar dr. Rima.
Dia berbicara memutar karena dia tidak bisa mengungkapkan kata - kata yang pas untuk mengartikan situasi ini.
“Kenapa? Kamu takut dia menganggapku sebagai figur seorang ayah atau papa?”, tanya Dimas to the point.
“Maaf kalau mungkin aku berlebihan meskipun aku tahu kamu sama sekali tidak ke arah sana. Tapi kalau berbicara dengan anak kecil seperti Deni, aku tahu bagaimana perasaannya dan…”, dr. Rima belum lagi menyelesaikan kalimatnya.
“Kenapa kamu begitu takut ada orang baru di sekitarmu? Aku merasa nyaman dengan Deni dan juga denganmu. Memangnya tidak boleh kalau kita membiarkan ini?”, tanya Dimas dengan nada serius.
“Apa maksudmu berkata begitu?”, tanya dr. Rima.
‘Kenapa orang ini membuat semuanya terkesan ambigu. Maksudnya dia membiarkan seperti ini itu apa? Dia suka padaku atau tidak? Tunggu, apa peduliku? Yang jelas aku hanya tidak tega kalau Deni berharap banyak padanya. Tidak.. Untuk saat ini biarkan kami berdua bahagia. Kami tidak siap untuk bertemu orang baru dan hanya terluka nantinya.’, ujar dr. Rima dalam hati.
“Jadi, maksudku adalah biarkan saja hubungan ini….”
Drrrrrtttt Drrrttttt Drrttttt
Belum lagi Dimas menyelesaikan kata - katanya, seseorang sudah menghubunginya. Dimas menghela nafas sebentar dan mengambil ponsel di kantong celananya.
“Haloo.. Iya kenapa? Engga, itu saya minta kamu biarin saja dulu. Menu barunya kita launching bulan depan setelah proses development outlet yang di Rumah Sakit selesai. Maksud saya, agar semua bisa dilaunching bersamaan.”, nampaknya Dimas sedang membicarakan perkara pekerjaan.
“Dengar saya, oke. Kita gak akan kehilangan momentnya. Bulan lalu kita sudah launching menu baru. Kita perlu pantau at least selama 3 bulan baru memutuskan untuk mengganti atau menambah menu lain. Iya, saya tahu penjualannya bagus, tapi semua pasti ada momentumnya. Mungkin saja itu momentumnya lagi bagus sekarang. Kalau kita sudah keburu tambah lagi, yang ada aset kita berkurang. Kamu dengarkan saya. Tunggu progress di Rumah Sakit selesai. We’ll launch altogether. Mengerti. Sama laporan yang kemaren saya minta, tolong disubmit ke saya minggu ini. Saya mau bertemu dengan tim Marketing segera. Iya.. kamu tambahkan poin yang sudah saya kirimkan. Enggak, yang itu tidak usah. Saya hanya membutuhkan gambaran besarnya saja. Hm.. kamu coba terus kontak mereka. Oke, saya tutup ya.”, panjang sekali Dimas berbicara.
Mungkin sampai sekitar 5-10 menit dia berbicara di telepon. dr. Rima terus menunggu sambil menyeruput es tehnya. Produk terbaru dari Dimas yang sengaja dia bawa dari salah satu outlet miliknya.
Dimas segera menutup teleponnya dan kembali berbalik ke arah dr. Rima.
“Sorry, mereka kadang punya ide sendiri dan tidak mendengarkan bos mereka. Anyway, sampai dimana kita tadi?”, tanya dr. Rima.
“Dokter, dok.. Dokter Rima…”, baru saja Dimas ingin mulai melanjutkan pembicaraan barusan, seseorang datang memanggil dokter Rima.
Kalau dilihat dari suara dan ekspresinya, sepertinya ini adalah sesuatu yang urgent.
“Dok, maaf. Ada pasien datang di UGD, saya tidak bisa menghubungi ponsel dokter Farhan yang harusnya jaga disana. Saya mau coba hubungi dr. Rima tapi ga masuk - masuk ya dok?”, tanya perawat tersebut berlari sambil ngos - ngosan.
“Ohiya, di tempat ini entah kenapa sinyal provider saya tiba - tiba suka hilang.”, jawab dr. Rima.
Dimas hanya bisa memperhatikan interaksi keduanya.
“Sudah lama? Boleh dijelaskan keadaannya?”, tanya dr. Rima.
“Sorry, Dimas. Sepertinya kita sambung pembicaraan kita lagi lain waktu. Kamu mau langsung balik atau?”, tanya dr. Rima.
“Ah.. Deni juga pasti sudah tertidur setelah mengerjakan tugas sekolahnya. Aku langsung kembali saja. Aku akan menghubungimu.”, ujar Dimas.
Sementara itu dr. Rima segera melangkah kembali ke gedung rumah sakit bersama perawat yang tadi memanggilnya.
‘Apa coba maksudnya -aku akan menghubungimu-. Kenapa dia bersikap ambigu seperti itu?’, ujar dr. Rima.
‘Argh.. kenapa aku harus memikirkannya. Mungkin aku terlalu lama ‘solo’ jadi aku baperan hanya dengan kata - kata umum seperti itu.’, pikiran dr. Rima masih ke kata - kata Dimas barusan.
“Dokter Rima ada hubungan apa dengan pria itu? Sepertinya belakangan ini dia sering kesini, ya.”, tanya perawat tadi.
“Woah, jangan - jangan pacarnya dokter Rima? Benar ya? Benar dok?”, tanya perawat itu tidak sabaran. Kalimat sebelumnya saja belum di gubris dan dia malah menambahkan kalimat lain lagi.
“Bukannya saya minta kamu untuk menceritakan kondisi pasien yang datang ke UGD. Kenapa malah membahas Dimas?”, kata dr. Rima tegas.
“Ah-ah, namanya Dimas. Saya sering lihat di di dengan Cafetaria.”, perawat itu masih saja terus membahas Dimas.
“Ehem - ehem..”, dr. Rima memberikan peringatan kedua.
“Ah iya.. Maaf dokter. Jadi, pasiennya perempuan, usia 35 tahun sedang hamil 6 bulan. Dia terjatuh setelah mengendarai sepeda motor dari rumah menuju ke warung. Dia dibawa setelah melewati perjalanan sekitar 30 menit. Saya sudah menghubungi dr. Farhan tapi tidak tersambung. Saya bingung harus menghubungi siapa lagi. Sementara, pasien sedang ditangani dulu oleh dr. Dian. Kondisi masih stabil, tapi dr. Dian curiga sepertinya pasien memerlukan tindakan lebih lanjut. Saya tadi tidak ingat diagnosanya apa. Karena itu saya langsung memanggil dr. Rima.”, ujar perawat tadi.
“Pasien dr. Farhan, ya. Memangnya dia kemana? Sebenarnya aku malas berdebat dengannya nanti.”, kata dr. Rima yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan dr. Farhan.
“Hubungan dr. Rima sama dr. Farhan seburuk itu, ya.”, tanya perawat itu.
“Hn.”, jawab dr. Rima singkat karena mereka sudah berada di UGD sekarang.
**********
__ADS_1
“Jadi kamu suka film yang seperti ini?”, tanya Arya pada Dinda yang duduk rapi sambil memakan cemilan buahnya.
Sedangkan Arya bersandar di paha istrinya menggunakan bantal sofa sambil fokus melihat ke layar yang ada di depan mereka. Sesekali Dinda menyuapi cemilan itu ke mulut suaminya.
“Hn.. lucu kan? Romantis juga.”, ujar Dinda tersenyum simpul berusaha menghilangkan rasa groginya.
Sesekali, Dinda masih suka gugup kalau menghabiskan waktu bersama Arya. Pria itu penuh kejutan. Bisa sebentar - sebentar dingin, bisa sebentar - sebentar ramah, bisa seperti om - om genit, bervariasi.
“Jadi, kamu suka kalau aktor utama prianya pura - pura dingin, pura - pura cool, terus padahal cinta banget sama pemeran wanitanya?”, ujar Arya menyimpulkan film anak - anak muda yang sering ditonton Dinda belakangan ini.
“Hn. Lucu gak sih? Jadi, ceweknya itu ga sadar kalau cowoknya sebenarnya peduli sama dia. Karena, cowoknya itu gak terlalu menunjukkan rasa sukanya. Tapi, kalau ada yang mencoba mendekati pemeran perempuan, tiba - tiba dia langsung panas.”, kata Dinda menceritakan plot cerita yang ditontonnya.
“Hm-mm.. Kamu kita yang begitu ada di dunia nyata? Itu hanya film saja. Tidak perlu baper.”, Arya sedikit cemburu melihat Dinda senyum - senyum sendiri karena terhanyut dalam film yang dia tonton.
Sesekali pria itu mengubah posisi tidurnya agar bisa melihat wajah Dinda dan meminta istrinya itu menciumnya atau berharap wajahnya disentuh. Tapi, Dinda malah tidak mempedulikannya.
“Enggak tahu mas. Di dunia nyata ada juga kok yang kaya gitu.”, Dinda juga tidak mau kalah.
“Hm.. senior aku dulu waktu kuliah begitu. Dia itu anak BEM terus jago main bola juga. Pacarnya anak pers yang cuek banget. Wah.. ceritanya terkenal banget deh waktu dulu. Aku yang mendengarnya juga berpikir itu so sweet banget. Jadi, mereka selalu terlihat bersama di event olahraga kampus.”, Dinda bercerita dengan antusias.
“Yang kamu ceritain bukan kamu, kan?”, tanya Arya penuh selidik.
“Ya enggak lah. Aku kan bukan anak pers.”, jawab Dinda sambil menepuk tangan suaminya.
“Terus dulu waktu di kampus kamu aktifnya ikut apa?”
“Bukannya waktu pillow talk aku sudah sempat bilang ya mas.”, ucap Dinda.
“Hm? Memang iya ya? Aku gak ingat apa jawabannya.”
“Tuh kan, mas Arya habisnya sibuk melakukan yang lain. Makanya.”
“Melakukan yang lain itu contohnya apa?’, tanya Arya mulai menjurus dan Dinda sudah tahu apa maksud suaminya.
“Ini, makan lagi buahnya. Bi Rumi sudah lelah memotongnya, pokoknya harus habis.”, ujar Dinda.
“Kan ini cemilan ibu hamil.”, protes Arya.
“Katanya waktu itu hamil itu gak cuma urusan kamu tapi urusan aku. Mas Arya bilang begitu. Apapun, mas Arya juga ikut menemani. Ya.. termasuk makan cemilan.”, kata Dinda bisa saja menemukan jawaban yang pas.
“Iya nyonya Pradana.”, kata Arya mengunyah buah yang diberikan oleh Dinda.
Drrrrrtttt Drrrrttttt Drrrrrttttt
“Halo?”, kata Arya menjawab dengan malas telepon dari Dito.
“Lagi dimana?”, tanya Dito.
“Di rumah, kenapa?”
“Mas, battle yuk. Ada tema baru yang keluar.”, kata Dito.
Itu artinya anak itu mau main ke rumah Arya dan bermain di kamar Ibas.
Dinda memperhatikan pembicaraan mereka.
‘Yah.. Dito ga seru banget. Kenapa dia malah mengajak mas Arya main. Aku mau larang juga ga bisa. Ingat tips yang aku baca di internet. Beri kebebasan suami untuk ‘me time’ bersama temannya.’ ujar Dinda mengingat beberapa tips yang dia baca.
“Engga. Kamu main sama Ibas aja.”, jawab Arya.
‘Yay…. ‘, Dinda langsung seperti bersorak dalam hati saking senangnya.
“Mas, tapi ini temanya limited edition loh. Minggu depan sudah tidak ada.”, kata Dito masih berusaha merayu Arya.
“Yang benar kamu?”, tanya Arya.
Dia bahkan bangun dari pangkuan Dinda untuk memastikan kalau omongan Dito itu memang benar.
“Gak percaya, coba tanya Ibas sekarang. Mas Arya lagi ngapain sih? Kok kaya orang lagi mengunyah. Bi Rumi bikin makanan enak ya?”, tanya Dito langsung berasumsi.
“Makan buah. Tahu dari mana kamu kalau itu limited?”, tanya Arya lagi.
“Mas Arya, biasa sebat juga, makan buah. Sudah bertekuk lutut rupanya dengan Dinda.”, ujar Dito menggoda kakak sepupunya.
‘Tuh kan, mas Arya sampai bangun begitu. Urusan game aja, langsung dia semangat. Si Dito gak peka banget. Sudah tahu istri sepupunya baru pulang dari Rumah Sakit, kenapa suaminya malah diajak nge-game.’, Dinda sudah bete tak terkira dalam hati.
“Engga ah. Kamu main aja sama Ibas.”, ujar Arya akhirnya menolak dan kembali menidurkan kepalanya di pangkuan istrinya.
“Ya udah.. Tapi pinjam monitor gede yang di kamar mas Arya dong.”, Dito masih saja berusaha.
“Kamu sebenarnya bukan mengajak mas main, tapi mengincar monitor mas, kan?”, kata Arya langsung menangkap basah Dito.
“Nah..”, Dito bingung harus ngeles apa.
“Ga bisa. Lagi mas pake nonton.”.
“Sejak kapan mas Arya nonton?”
“Gak usah banyak tanya. Di kamar Ibas juga ada screen gede, kok. Itu bocah pasti lagi nge-game. Kalau ke rumah langsung ke kamar dia aja.”, ujar Arya.
“Hm.. mas Arya lagi ngapain sama Dinda?”, tanya Dito tiba - tiba.
“Yang jelas bukan urusan anak kecil.”, balas Arya.
“Huuuu… istrinya lagi hamil loh, kasian…”, goda Dito.
“Ribut aja kamu. Kalau kesini bawa pizza, ya. Tar mas transfer uangnya.”
“Nah… gitu dong….”, Dito langsung bersemangat.
“Dito mau kesini? Mas titip es krim, ya?”
“Belum boleh sayang.”, kata Arya hendak menutup telponnya.
“Ih.. geli denger mas Arya panggil ‘Sayang’”, kata Dito meledek dari seberang telepon.
Tanpa aba - aba, Arya langsung menutup ponselnya.
“Aku cium?”, tanya Dinda nekat karena dia benar - benar ingin es krim.
__ADS_1
Arya menggeleng.
‘Pelit’.