
Hari Jum’at di pertengahan tahun menjadi saksi pernikahan Arya dan Dinda yang tidak lama lagi akan berlangsung. Arya sudah tiba di rumahnya beberapa jam yang lalu dan tengah bersiap. Dinda sedang berdandan di kamar tamu dan dikelilingi oleh beberapa sepupu perempuan Arya yang akan menjadi bridesmaid nya hari ini.
Inggit dan Ratna sudah sibuk sedari pagi mempersilahkan kerabat untuk menyantap hidangan pagi sambil menemani bercengkrama. Mereka juga sudah siap paripurna dengan riasan dan busana serasi.
Hari ini lebih banyak saudara yang hadir. Anak - anak kecil berlarian di tengah rumah. Dito yang juga menjadi fotografer hari ini sudah sibuk hilir mudik menentukan spot - spot foto yang bagus.
Baskara, adik laki - laki sekaligus anak terakhir Inggit tengah bersiap di kamarnya di lantai 2 bersama dengan beberapa saudara laki - laki yang lain dari keluarga Inggit.
Ibas baru tiba tadi malam. Meski masih sebagai intern, dia sangat sibuk belakangan ini hingga tak bisa menyempatkan hadir pada acara lamaran.
Ibas juga tak sempat berkenalan dengan Dinda karena sudah terlalu malam. Dia sangat penasaran seperti apa calon istri yang akan segera menjadi kakak iparnya itu. Usia mereka tidak jauh berbeda. Hanya terpaut satu tahun saja.
“Mas Arya, kamu yakin mau menikah lagi?”, Ibas sekarang sudah ada di kamar Arya yang tengah bersiap - siap dengan setelan akadnya.
Mereka hanya berdua di kamar ini. Meskipun penuh dengan kerabat, tetapi Arya tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke kamarnya.
“Apa - apaan pertanyaan kamu. Terus mas bersiap - siap pakai baju akad ini mau apa? Pagelaran?”, kata Arya sambil terus merapikan setelan bajunya.
“Aku sih belakangan ini sibuk jadi gak tahu perkembangan rumah. Dinda itu umurnya 23 kan? Mirip - mirip sama aku. Jauh banget jaraknya sama mas Arya.”, kata Ibas sambil mendudukkan dirinya di kasur yang sudah dihias sebagai kasur pengantin.
“Wah.. kasur nya lembut banget. Nanti malam kasur ini menjadi saksi malam pertama mas Arya sama gadis muda.”, kata Ibas mengelus - elus kasur yang sudah diselimuti dengan bed cover silk berwarna krem dengan dominasi putih disekelilingnya.
Di bagian kiri dan kanan kasur terdapat nakas yang diatasnya diletakkan buket bunga besar berwarna putih. Bagian atas dekat langit - langit, ada buket bunga panjang berbentuk persegi panjang dengan beberapa helai kain putih menggantung. Bagian tengah kasur terdapat bunga yang disusun membentuk hati dan beberapa berbentuk lingkaran.
“Ups.. hampir aja aku menghancurkan bentuk hatinya. Duh.. lembut banget.”, kata Ibas lagi sambil mengelus - elus lagi pinggiran kasur dengan nada menggoda.
“Hancurin aja gambar cetakan hatinya. Habis itu kamu yang dihancurkan mama dan Dito.”, kata Arya sembari berlalu mengambil air minum di meja dekat sofa kamarnya.
“Bener juga. Si Dito yang perfeksionis luar biasa itu pasti bakal ngamuk kalau desain hati ini aku hancurkan. By the way, di atas kasur ini mau foto pose apa mas Arya?”, kata Ibas lagi masih berusaha menggoda.
“Sudah sana keluar. Kamu sudah siapkan? Ngapain nongkrong disini.”, kata Arya mulai kesal dengan tingkah adiknya itu. Mereka jarang bertemu selama beberapa tahun terakhir karena Baskara harus menyelesaikan kuliahnya di kota lain. Kemudian, ia juga lanjut bekerja disana.
“Wah.. beruntung banget mas aku ini. Udah nikah yang kedua, sama gadis muda, perawan lagi. Hijaban pula. Menang banyak.”, kata Ibas masih tak berhenti menggoda.
Arya hanya diam tak bergeming. Sekarang dia menyantap sarapan yang sudah diantarkan Bi Rumi ke atas. Tadi malam dia tidak sempat makan apa - apa karena pikirannya panjang tentang hari ini. Melamun lebih tepatnya. Hari ini perutnya kosong.
Padahal Arya adalah tipe yang jarang sekali sarapan. Tapi, sebuah nasi soto dan sandwich sudah berhasil dilibasnya habis tak bersisa.
“Mas, ntar malam jangan langsung di gas, ya. Tar kaget lagi dia, masih muda soalnya. Hahahaha”, kata Ibas tertawa lepas sambil menepuk - nepuk dinding kasur.
Membayangkan saja membuat perut ibas geli. Dia jadi semakin bersemangat untuk menggoda dengan berbagai macam pikiran liarnya.
“Ngeres banget pikiran kamu, ya. Makanya perempuan pada kabur ngeliat kamu.”, kata Arya sambil memasang dasinya dan mengenakan sepatu.
Penampilannya luar biasa. Arya sangat tampan dengan balutan jas hitam, kemeja putih dengan model kerah yang terbuka tanpa balutan dasi. Sepatunya sudah siap di samping pintu. Tak lupa ia mengenakan parfum kesayangannya. Aromanya menyegarkan tetapi tidak bikin enek.
Ibas masih betah di kamar itu sambil mencoba menyusuri sisi lain kamar Arya. Ia masuk ke ruangan setengah terbuka yang menjadi ruang ganti Arya. Sebagian ruangan itu ditutupi dengan dinding kayu dan sebagian lagi dengan kaca bening.
Ruangan ini adalah lemari pakaian Arya. Didalamnya ada beberapa lemari kecil tempat pakaian, sepatu, dan aksesoris.
“Wah udah ada baju perempuan aja disini. Padahal ijab kabulnya belum tentu berhasil. Si mama emang gerak cepat.”, kata Ibas semangat setelah nyelonong masuk ke ruangan ganti Arya.
__ADS_1
Saat ini di dalam ruangan itu juga sudah terisi baju - baju Dinda yang dipindahkan seminggu yang lalu. Sebagian adalah baju - baju pemberian Inggit dan kerabatnya. Beberapa setelan rumah, baju tidur, dan baju kerja.
“Wah mas, baju tidur nya seksi banget. Ini mas yang pilih?”, kata Ibas terkejut. Meski Ibas terkenal playboy, tapi sebenarnya dia masih sangat polos. Arya sudah tidak kaget lagi dengan isi ruang gantinya saat ini.
Dia sudah terkejut lebih dulu beberapa jam yang lalu melihat ruang ganti yang hampir setengahnya sudah diisi dengan baju Dinda, termasuk kasurnya yang tiba - tiba sudah menjadi taman bunga.
Lebih tepatnya, mamanya yang sudah mengisi dengan banyak baju baru hadiah para kerabat karena baju Dinda yang digiring kemari hanya sedikit.
Kebanyakan adalah baju tidur yang sebenarnya untuk ukuran Arya itu tidak seksi. Tapi berhubung Ibas sangat polos, dia hanya terkekeh saja mendengar anak itu berkomentar.
Tiba - tiba lemarinya kini sudah seperti lemari orang lain. Mayoritas baju perempuan semua.
“Udah anak kecil keluar sana. Kamu gak dikasih tugas apa sama mama. Ngapain kek gitu.”, tanya Arya. Dia bingung kenapa anak ini betah sekali di kamarnya.
“Aku kan baru nyampe tadi malam, mas. Masih capek. Mama cuma kasih tugas aku untuk hadir dan diam.
"Hm.. Mama bener banget. Itu aja udah tugas yang sulit buat kamu.", celetuk Arya.
“Arya, udah siap belum? Petugas KUA nya sudah datang. Setengah jam lagi acaranya mau dimulai. Dito udah manggil - manggil itu mau foto dulu.”, tiba - tiba Inggit muncul dari pintu kamar.
“Kamu ngapain disini, turun sana. Sapa tante dan om kamu sama ponakan di bawah.”, Inggit menepuk - nepuk punggung Ibas saat menemukan anak itu masih duduk santai di atas kursi kamar Arya.
“Ma, mama yang masukin baju - baju seksi itu ke ruang ganti mas Arya? Ih.. si mama centil amat. Lagian kata mas Arya itu kurang seksi, ma”, kata Ibas ngasal sambil mencelos keluar.
“Ngarang banget itu anak.”, kata Arya membulatkan matanya mendengar komentar Ibas.
“Ganteng banget anak mama. Kamu udah siap, kan?”, kata Inggit memegang tangan anaknya.
“Arya, percaya deh sama mama. Mama yakin kehadiran Dinda bisa menjadi warna baru dalam hidup kamu. Sayang, hidup ini terlalu singkat untuk kamu habiskan tenggelam dalam masa lalu. Dinda itu gadis yang baik, kamu beruntung dapetin dia.”, Inggit berucap dengan sangat lembut sambil mengelus - elus tangan puteranya.
“Halah.. Mas Arya lagaknya doang pura - pura ogah. Padahal dalam hati gak sabar pengen cepet - cepet sah.”, kata Ibas berusaha membaca raut wajah kakaknya.
Menurutnya, Arya adalah tipe yang keras. Tidak akan ada yang bisa membelokkan kepercayaan dan keputusannya. Bahkan, waktu mama dan papa menentang pernikahannya dengan Sarah, istri pertama mas Arya, dia tetap menikah.
Jadi, Ibas yakin ada sesuatu dalam diri Dinda yang membuat Arya jadi menerima ini. Ibas tahu kejadian malam itu tentang papanya. Dia juga ikut khawatir. Tapi, apa mungkin mas Arya menerima perjodohan ini hanya karena hal tersebut?. Begitu kira - kira pikiran Ibas.
Jujur, dia juga masih penasaran dengan Dinda. Dia belum pernah melihatnya. Sebenarnya Ibas ingin sekali masuk ruang rias untuk setidaknya mengintip bagaimana rupa wajah Dinda. Tapi untuk melakukan itu, dia harus melewati berbagai rintangan.
Tentu saja, rintangan terberat adalah tante meri yang sudah seperti pengawal selalu ada di depan kamar rias. Ibas bisa melihatnya dengan jelas dari lantai 2.
Fams, Dito, dan yang lain malah sengaja menggodanya dengan tidak memberikan foto Dinda. Padahal dia sudah minta berkali - kali. Dia juga sulit mencari akun sosial medianya. Karena tentu saja ada ribuan Dinda di dalam sosial media.
“Ma, Dinda itu seperti apa sih? Ibas penasaran.”, kata Ibas bertanya.
“Nanti kan juga ketemu setelah ijab kabul. Udah sana kamu ke bawah. Dito aja udah siap di bawah, kamu masih disini.”, Inggit sudah mengomelinya dari tadi tapi Ibas belum juga beranjak.
“Yaa dia kan dibayar makanya rajin. Aku? Emang mama bayar aku?”, kata Ibas dan langsung mendapatkan lembaran bantal dari Arya. Dia mau tak mau keluar dari kamar.
“Arya, kamu pakai sepatunya dan langsung turun ke bawah, ya. Ponsel taruh di atas. Mama gak mau nanti adaa aja yang nelpon.”, kata Inggit.
Dia ingin Arya melupakan Sarah dan masuk ke kehidupan baru yang lebih cerah. Kehadiran Dinda akan membuat hidup Arya lebih baik. Dia tahu Dinda akan mengembalikan puteranya seperti dulu lagi saat sebelum mengenal Sarah.
__ADS_1
*****
“Baik, semuanya sudah siap? Kalau begitu saya mulai prosesi ijab kabulnya, ya. Perwakilan dari Dinda dimohon sedikit maju kedepan ya.”, Ijab kabul beberapa menit lagi dimulai. Bapak KUA memberikan sedikit aba - aba agar proses ini bisa berjalan dengan lancar.
Ayah Dinda tidak ada sehingga yang menjadi wali yang menikahkannya harus diwakilkan. Semua orang tampak tegang dan fokus ke bagian meja tengah dimana beberapa saat lagi ijab kabul akan berlangsung. Seperti dugaan, Arya yang sudah pernah menikah sebelumnya sama sekali tidak merasa canggung.
Ekspresinya datar. Mungkin karena Arya belum bertemu dengan Dinda sejak malam itu. Saat ini pun, Dinda menanti dengan sabar bersama para keponakan yang menjadi bridesmaidnya. Dinda baru akan keluar bersanding disamping Arya ketika proses ijab kabul selesai dilakukan.
“Saya terima nikahnya Dinda Lestari binti Baskoro dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas 50 gram, 1 buah kalung berlian, dan uang tunai sebesar 250 juta rupiah, dibayar tunai.”, ucap Arya lantang dan jelas.
“Bagaimana para saksi? Sah?”, kata pak KUA disambut dengan kata - kata ‘sah’ dari mulut para hadirin yang hadir. Semuanya mengucapkan Alhamdulillah dan dilanjutkan dengan do’a oleh bapak KUA.
Dito terlihat hilir mudik mengambil foto dan segera mengambil posisi begitu kode pengantin wanita akan segera keluar dan disandingkan dengan pengantin laki - laki.
Sebuah alunan musik yang syahdu dan romantis diputar. Tante Meri memberikan kode kepada Arya untuk segera berdiri menyambut mempelai wanita.
Disisi lain, Dinda mengumpulkan segenap tenaga untuk berdiri sesuai dengan arahan oleh para bridesmaidnya. Begitu mendengarkan ijab kabul yang Arya lantunkan dan diiringi oleh gema kata ‘Sah’ oleh para hadirin, jantung Dinda seakan mau pecah.
Dinda kira setelah prosesi ijab kabul selesai maka rasa deg - deg annya akan hilang. Tetapi pikirannya justru semakin kacau tatkala ia menyadari bahwa ini hanya awal. Saat ini, ia resmi menyandang status istri seorang Arya Pradana, bosnya di kantor.
Para bridesmaid dengan telaten dan hati - hati memegangi Dinda. Satu orang yang masing - masing memegang lengan Dinda, dua orang bersiaga memperbaiki selendang yang menjuntai di belakang. Meskipun Dinda mengenakan kebaya namun bagian belakangnya tetap memiliki selendang untuk membuat gaunnya semakin menawan.
Kebaya yang dikenakan Dinda berwarna peach keemasan. Hijabnya dibuat sesimpel mungkin dengan sedikit ornamen bunga di bagian atas. Riasannya tidak berlebihan, natural dan anggun namun dibuat sedikit tebal karena ini adalah pernikahan.
Arya yang sebenarnya malas dengan prosesi ini, mau tak mau harus melihat ke arah Dinda. Meski awalnya seperti tidak niat, namun tiba - tiba Arya tertegun begitu sosok gadis yang kini menjadi istrinya terlihat.
Matanya lurus mengarah pada Dinda. Semua orang juga terhipnotis dengan penampilan Dinda pagi itu. Sehingga, mereka tidak menyadari bahwa Arya, seorang Arya Pradana juga sudah terpukau.
‘Gila.. gue tahu dia cantik. Tapi gak secantik ini juga. Sejak kapan pinggangnya proporsional gitu? Engga Arya, sadar. Ini pasti karena efek make-upnya yang tebal. Kemaren - kemaren perasaan dia biasa aja deh’, bathin Arya gusar. Dia berusaha untuk tidak memikirkan yang aneh - aneh.
Dinda tak berani melihat ke depan. Dia fokus pada langkah kakinya. Matanya ia arahkan ke arah jalan. Perlahan Dinda semakin dekat. Dito langsung mengambil posisi untuk mengambil foto dari arah Arya dan juga Dinda.
Semua tertegun melihat Dinda. Terutama para kerabat yang baru datang dan memang belum bertemu Dinda sama sekali.
Saat ini Dinda sudah berada di samping Arya. Dito memberikan kode agar mereka sedikit merapat agar ia bisa mengabadikan momen ini. Dinda masih belum bisa menatap wajah Arya.
Disaat yang hampir bersamaan, tante meri datang membawa baki cincin pernikahan yang harus dipasang oleh keduanya. Arya menerima baki itu dan mengambil satu cincin wanita. Mereka kini sudah saling berhadapan. Arya melihat Dinda dengan tatapan hangat.
“Din, jari kamu.”, ucap Arya pelan dan lembut. Sayangnya, Dinda tidak juga bergeming. Dia masih terdiam seperti menatap ke lantai.
“Din, jari kamu.”, kali ini Arya mengambil inisiatif untuk memegang bahu Dinda, berusaha menyadarkannya.
“Hem? Iya?”, ucap Dinda gugup.
Dinda terkejut dan seperti melihat kiri dan kanan. Sejenak dia lupa dia sedang ada dimana. Kemudian Arya kembali mengulangi kata - katanya. Setelah itu barulah Dinda menaikkan tangannya dan melihat Arya memasangkan cincin di jari manisnya.
Saat itu juga Dinda akhirnya menatap Arya. Ia masih tidak percaya. Jantungnya tidak bisa berdetak dengan benar. Dinda kembali kebingungan di saat ia seharusnya mengambil cincin dan memasangkannya di jari Arya.
Arya kembali memegang bahu Dinda dan memberikan kode ke arah baki cincin yang dipegang tante Meri. Dinda mengambilnya dan memasangkan cincin itu di jari Arya. Selanjutnya, Dinda merasakan ada benda bening yang sedikit basah menempel di keningnya.
Tentu saja tanpa aba - aba, Arya sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Arya mencium kening Dinda dan hal ini sontak membuatnya sedikit terkejut. Kali ini giliran tante meri yang mengingatkan Dinda untuk mencium permukaan tangan Arya.
__ADS_1
Prosesi ini mendapatkan tepuk tangan oleh seluruh hadirin yang merupakan keluarga mereka.