Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 33 Kebodohan Dinda


__ADS_3

Suasana di kantor terlihat berbeda setelah kabar pak Arya pingsan dan masuk rumah sakit tersebar.


“Ci, cerita dong yang kabar pak Arya katanya tumbang di Bar?”, kata Andra sudah sangat bersemangat saat makan siang di Mall hari ini.


Hari ini hari Jum’at. Biasanya karyawan kantor sering menghabiskan waktu makan di Mall karena jam makan siang lebih lama.


Deva, MA Finance sahabat karib Suci, Delina, Andra teman satu divisi Dinda, dan beberapa rekan lainnya sudah berkumpul di sebuah restoran sushi di Mall dekat kantor mereka.


“Kalian ga bakal percaya betapa paniknya gue, dan temen - temen yang lain termasuk Siska, sekretarisnya pak Arya. Jadi kita udah jalan meeting 1 jam di Bar itu. Gue sih gak lihat pak Arya lemes, pucet, dan semacamnya. Tapi, setelah 2 jam meeting, pak Arya mendadak ijin ke toilet. Kita kan di private room dalam Bar. Belum nyampe pintu dia sudah tumbang. Untung tumbangnya ke sofa, kalo ke meja bisa lebih berabe. “, tutur Suci menjelaskan satu persatu runtutan kejadiannya.


Dinda juga ikut mengangguk. Meski dia yang merawat pak Arya semalaman, tapi ini pertama kali dia mendengar cerita lengkapnya.


“Trus, trus?”, Andra bersemangat bertanya lagi.


Sebenarnya ada sedikit kekesalan dalam hati Dinda. Orang sakit kenapa malah jadi bahan omongan yang seru buat dia.


“Ya… yang lain panggil petugas Bar untuk telepon rumah sakit. Meski kita rame tapi pada panik bingung mo diapain. Gue juga takut ada penyakit serius.”, kata Suci.


Dari raut wajahnya, Dinda melihat jelas ada kekhawatiran yang mirip dengannya di wajah Suci. Tapi, Dinda tak ingin berpikir macam - macam. Dia hanya mengamati dan mendengarkan.


“Gue udah tanya pagi ini, tapi pak Arya belum bales. Kita juga mau jenguk dia di rumah sakit pulang ngantor.”, kata Suci.


“Gak perlu.”, Dinda merespons cepat bahkan tanpa dia sadari.


“Eh.. gimana Din?”, Suci bertanya karena heran.


“Eh.. kenapa mba?”, kata Dinda bengong.


“Kita mau jenguk pak Arya abis pulang kantor. Trus kamu bilang gak perlu. Kamu dapat cerita apa dari pak Erick?”, kata Suci.

__ADS_1


Dia yang menelepon pak Erick tadi malam. Jadi, Suci berpikir Dinda pasti tahu dari pak Erick.


“Ahh.. hmm katanya udah ga di rumah sakit. Udah di bawa pulang. Hihi.”, kata Dinda cengengesan sekaligus menyesali jawabannya di dalam hati. Kalau ada yang memverifikasi ke pak Erick, pasti orang akan menaruh curiga padanya.


“Oh… Oke.. oke.. Soalnya kita kemarin disuruh balik sama pak Arya karena sudah larut malam. Dia menunggu keluarganya datang.”, kata Suci melanjutkan.


Tak lama, makanan yang mereka pesan datang. Semua sibuk menata piring, dan sumpit mereka masing - masing.


“Yah.. terus lo gak tahu dong penyakit dia apa, Ci.”, kata Andra.


‘Ini orang masih aja semangat ngomongin pak Arya. Seneng ya dia pak Arya sakit.’ Dinda lagi - lagi dibuat kesal dengan Andra.


“Soalnya kita juga bukan keluarganya, jadi dokter ga bilang. Cuma info pak Arya udah baik - baik aja. Tinggal tunggu infusnya abis.”, kata Suci.


“Pasti karena dia terlalu ambisius. Kerjaa mulu, workaholic, abis itu marah - marah.”, Andra berbicara sekenanya.


Suci dan rekan yang lain memilih untuk tidak mengomentari. Dalam hati mereka menyetujui. Disisi lain, tak jarang mereka juga menikmati diskusi bisnis dengan pak Arya.


“Eh eh.. Mumpung ada lo nih Ci, gue penasaran, ya. Pak Arya tuh udah punya cewe belom sih?”, Andra seperti tidak kehabisan bahan untuk dibicarakan.


Setelah tidak ada lagi yang dibahas perihal kejadian kemarin, dia masih saja kepo dengan kehidupan pribadi pak Arya.


“Lo tahu kan, dia udah pernah nikah sekitar 6 atau 8 tahun yang lalu? Persisnya gue kurang tahu. Waktu join di perusahaan ini, status dia udah suami orang.”, kata Andra.


Pegawai yang sudah bangkotan ini memang tahu banyak tentang orang - orang lama di kantor.


“Tapi kan udah cerai. Gue join sebagai MA dulu pernah dengar gosip - gosipnya. Katanya dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Bahkan weekend pun dia masih ngantor.”, ujar Delina, karyawan tetap yang ada di divisi Dinda.


“Bener banget. Gue sama Delina tahu banget waktu itu gosipnya heboh. Ada yang bilang pak Arya tuh selingkuh. Ada juga yang bilang karena pak Arya terlalu sibuk. Pokoknya desas desusnya rame deh. Cuma mereka - mereka yang tukang gosip kaya gue udah pada resign, jadi ga bisa menurunkan gosip itu ke kalian semua.”, tutur Andra dengan bangga.

__ADS_1


‘Apa - apaan si Andra ini. Masa gosip diwariskan. Tapi aku jadi tertarik tahu tentang pak Arya. Hanya saja, tahu dari pembicaraan orang lain rasanya membuat aku tidak nyaman.’, batin Dinda dalam hati.


“Udah ah jangan ngegosip mulu, mending kita bicarakan tentang akhir pekan yuk. Pada mau kemana?”, Dinda yang dari tadi memang diam dan hanya sesekali menimpali akhirnya berusaha untuk menghentikan pembicaraan ini.


Walau bagaimana pun, Arya adalah suaminya. Dinda tidak suka mendengar orang - orang berbicara di belakangnya.


“Gak seru kamu Din”, protes Andra.


“Yaa bukan gitu. Masa ngomongin bos mulu di belakangnya. Aku juga penasaran sama plan kalian akhir pekan ini.”, Dinda jadi tidak enak karena sudah membuat suasana jadi tidak seru lagi.


“Yaahh liburan akhir pekan kalo gak ada hari libur terjepit enggak enak, Din.”, balas Bryan.


“Eh.. tapi kalian udah pada dengar kabar tentang outing belum?”, Andra memang biangnya kalau ngerumpi. Dia selalu bisa mendapatkan topik - topik seru. Seperti kali ini.


“Din, kamu kan baru join, pasti kamu penasaran kan sama outing.”, lanjut Andra.


“Dulu kita pernah outing di beberapa negara ASEAN, Thailand, Singapura, bahkan pernah Hongkong juga, loh.”, kata Delina.


“Eits tapi kali ini bakal ada yang beda. Kan divisi Digital and Development sementara under pak Arya. Aku yakin pasti outingnya akan bareng sama divisi Partners.”, Suci ikut menimpali.


“Ci, kamu tu sekarang under siapa sih? Divisi DD atau Partners?”, tanya Bryan penasaran.


“Per minggu ini udah under DD, kok. Cuma masih suka bantu - bantu Partners. Soalnya kan aku juga ninggalin warisan disitu.”, Bryan mengangguk paham.


“Balik lagi soal outing. Mba Siska pasti tahu sesuatu. Coba ci kamu tanyain.”, tembak Andra langsung ke sekretaris pak Arya.


‘Outing. Momen yang paling aku tunggu sebagai intern. Tapi, kenapa sih harus bareng divisi pak Arya.’, bathin Dinda dalam hati.


“Tapi, kabarnya outing kali ini akan di Indonesia. Aku sih berharap di Sumbawa, atau pulau - pulau Indah di daerah papua bahkan Sulawesi. NTB, NTT, juga seru.”, kata Andra.

__ADS_1


Saat memikirkan outing, mereka sangat antusias. Bahkan hanya dengan menebak - nebak saja sudah membuat mereka seolah sedang di tempat yang mereka inginkan.


Pembicaraan itu terus berlanjut. Mereka membahas pengalaman outing terdahulu dan mengharapkan outing tahun ini lebih seru dan lebih rame.


__ADS_2