Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 203 Check-up Rutin Kehamilan Bagian 1


__ADS_3

Arya harus segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini dengan cepat sesuai jadwal agar bisa menemani istrinya untuk check-up. Tidak ada Siska disini yang membantunya seperti biasa, sehingga dia harus fokus. Arya baru saja memasuki ruang meeting. Meeting ini dihadiri oleh Tim 1 dan Tim 2 serta Finance (bagian keuangan).


Mereka terlibat satu project yang sama yang harus mereka selesaikan dalam kurun waktu 3 bulan ke depan. Durasi yang lumayan mepet untuk project besar seperti ini. Meeting akan dimulai sekitar 15 menit lagi. Salah seorang VP dari  Finance, seorang manager, dan Fas sudah terlihat duduk berjejer disana. Mereka sedang memeriksa beberapa file yang mungkin akan dibutuhkan selama meeting.


Kemudian di seberangnya sudah ada Team Leader 1 beserta jajaran tim nya yang terlibat project. Sedangkan jajaran tim 4 belum didampingi oleh Team Leader mereka. James selaku Tim Leader 4 masih ada meeting yang lain. James masih terlibat meeting dengan bagian Risk dan akan segera selesai sekitar 10 menit lagi. Begitu yang disampaikan oleh para tim nya kepada Arya.


Mereka merasa tidak enak karena Arya sudah datang lebh dulu.


“Pak Bondan, project yang saya tandatangani dua minggu lalu, kira - kira eksekusinya kapan akan dilaksanakan?”, tanya Arya segera setelah selesai mengatur setting laptopnya.


Pak Bondan adalah Team Leader 1 yang sudah bekerja di perusahaan selama kurang lebih 10 tahun. Arya jarang sekali memanggil bawahannya dengan sebutan 'Pak'. Hanya beberapa orang saja yang dia panggil begitu.


“Kami masih melakukan beberapa review dan pemantauan secara berkala bersama klien serta menyusun rancangan program kerjanya. Kemungkinan sudah bisa di mulai di awal bulan depan.


“Ada meeting khusus yang harus saya hadiri?”, tanya Arya to the point.


Ya, memang ini tujuan Arya bertanya. Dia ingin memastikan tidak ada meeting - meeting mendadak yang tiba - tiba harus dia hadiri. Apalagi menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir).


“Untuk saat ini masih belum ada, Pak. Namun, jika memang diperlukan, saya akan menghubungi…”


“No.. no.. tidak perlu. Maksud saya, selama 6 bulan ke depan, saya harap jika ada meeting terutama overseas yang harus saya ikuti, mohon untuk tidak dadakan. Beberapa bulan belakangan saya menemui banyak sekali hal - hal yang tidak terduga. Of course yang terjadi pada Pak Teddy di luar kendali. Namun, saya berharap yang masih bisa dikontrol, mohon untuk dikontrol lebih baik.”, jelas Arya dengan tegas.


“Selamat pagi semuanya. Mohon maaf Pak Arya, Pak Alex, dan semua rekan yang sudah hadir. Kebetulan saya ada meeting pagi sekali tadi dengan klien bersama dengan divisi Risk. Tadi langsung kesini karena jaraknya mepet.”, jawab james segera mengatur laptop dan buku catatan di meja yang sudah tersedia.


"Yes, It's okay. Kita mulai langsung meetingnya.", ujar Arya serasa langsung sat set sat set.


Bawahannya selain Siska tidak tahu kalau sekarang Arya sedang deg - deg - an dan ingin meeting ini bisa selesai tepat waktu.


Begitu James masuk, Arya langsung memulai meeting dan menjabarkan poin - poin yang harus mereka diskusikan selama lebih kurang satu setengah jam kemudian. Dengan menjabarkan poin - poin yang harus didiskusikan, mereka bisa mengantisipasi pembicaraan yang melebar dan tidak perlu.


Para anggota yang hadir dalam meeting juga bisa memantau progress dari poin yang mereka jabarkan tadi dengan mudah. Setelah meeting, Siska adalah orang yang biasanya bertugas untuk membagikan poin itu berdasarkan orang - orang yang bertanggung jawab untuk meneruskannya. Namun kali ini berbeda, Dia sedang tidak ada di kantor.


Meeting berlangsung dengan lancar dan sinergis. Masing - masing divisi saling bertanya dan memastikan role masing - masing terutama timeline. Meeting kali ini lebih mengarah pada review.


Fas, sebagai yang paling junior disana bertanggung jawab untuk mencatat poin - poin penting sepanjang meeting terutama yang berhubungan dengan Finance. Dia masih sedikit gugup karena dipercaya mencatat keseluruhan hasil meeting. Bagaimana kalau dia lupa bagian - bagian yang penting.


Apalagi semua yang dibicarakan Arya terdengar asing untuknya. Syukur - syukur dia mengerti dengan bahasanya. Hampir 80% Arya menggunakan bahasa Inggris selama meeting. Untuk itulah, Fas menyiapkan rekaman lewat ponselnya agar dia bisa kembali mendengarkan pembicaraan mereka dan bertanya pada bosnya.


Saat jam makan siang…


“Wah.. kalian tidak tahu betapa terkesannya aku berada di dalam ruangan meeting dan meeting bersama dengan Pak Arya. Aku mengerti sekarang kenapa Suci jatuh hati pada bos muda kita satu itu. Dia memang sangat keren. Belum lagi ketika dia menuliskan sesuatu di papan tulis, berbicara dalam bahasa Inggris, dan mengatur diskusi. So hot!”, kata Fas yang masih membayangkan situasi dua jam yang lalu.


"Kemana aja kamu selama ini? Setiap Suci dan yang lain membicarakan Pak Arya, kamu selalu offensive. 'Ah... kalian terlalu berlebihan. 'Tidak. Sepertinya dia tidak se-hot itu'. 'Sudah, jangan membicarakan dia lagi'. Sekarang lihat berapa kali kamu sudah mengulang cerita yang sama.", sahut Delina.


"Maaf kan aku, aku memang terbiasa menilai orang terlalu cepat. My Bad. Tapi dia pengecualian. Cara bicaranya, kosa kata businessya, ....", baru saja Fas ingin kembali mengulang kata - katanya namun Andra sudah terlanjur memotong.


Dia merasa sudah lelah mendengarkan omongan Fas yang seperti kaset rusak. Diulang terus.


“Ayolah Fas, kamu sudah mengatakan itu berkali - kali. Selera kamu dengan Suci memang sama, ya.”, protes Andra.


“Wait, aku dan Dinda tidak dihitung? Sebenarnya kami juga kagum dengan Pak Arya. Di setiap meeting. Vibenya jauuuuuh banget berbeda dengan Pak Dika. Apalagi Pak Erick.", kata Delina lagi.


“Lantas bagaimana dengan Dimas, pemilik kafe yang di bawah. Bukannya kamu dan Suci juga menyukainya. Kalian ini bisa menyukai berapa pria sekaligus sih? Sini mau sana mau.”, tanya Andra kesal sambil menyeruput es kopi miliknya.


“Wah, itu bisa dipertimbangkan. Hem.. dia juga masuk dalam kategori eksmud muda yang harus kita budidayakan.”, jawab Delina.


“Tentu saja tetap Pak Arya.”, jawab Dinda refleks menunjukkan sikap 'Pro' - nya pada Arya.


“Oh? Kamu benar - benar tertarik juga dengan Pak Arya, Din? Yang benar kamu Din? Biasanya kalau kita sedang membicarakan Pak Arya kamu diam - diam saja.”, tanya Andra langsung mengeluarkan ekspresi kaget.


Dinda adalah satu - satunya wanita di geng mereka yang terdengar jarang membicarakan tentang pria. Dia hanya menjadi tim yang angguk - angguk saja dengan omongan yang lain. Awalnya Andra kira karena Dinda adalah seorang intern, jadi mungkin dia malu.


Tapi, untuk pembicaraan yang lain, dia nampak bersemangat. Misalnya tentang liburan, restoran baru, Cafe baru, cerita pengalaman baru seseorang, dan yang lain selain membicarakan pria.


“Eh? Hem.. maksudku kita bekerja di perusahaan yang sama dengan Pak Arya. Sebelumnya beliau juga sempat membawahi kita. Jadi, kenapa kita harus memilih orang asing seperti Dimas yang tidak kita kenal.”, jawab Dinda.


'Bagus Dinda. Itu adalah jawaban ngeles terbaik yang pernah ada.', ujar Dinda memuji dirinya sendiri yang berhasil mentackle omongan teman - temannya.


“Oooh… jawaban yang luar biasa dari seorang Dinda Prada..”, Andra tak sengaja terselip karena kebetulan sedang membahas tentang Pak Arya dengan Dinda.


Wajah Dinda langsung kebingungan. Antara, kaget, senang, dan salah tingkah. Kalau di rumah, lingkungan keluarga besar, dan sahabatnya, Dinda sudah terbiasa mendengar nama Dinda Pradana sebagai salah satu cara mereka menggodanya.

__ADS_1


Tapi kalau di lingkungan kantor, dia belum pernah karena yang lain tidak tahu.


“Dinda Larasati. Kamu sudah menambahkan nama Pradana saja di belakang nama Dinda. Saingan dulu dengan aku, Delina, Fas, oh iya, Suci, dan para penggemar Pak Arya di seluruh lantai kantor ini.”, kata Delina berlebihan.


“Jangan berlebihan. Memangnya hanya Pak Arya saja pria yang punya penggemar. Banyak juga kok yang suka padaku. Kamu juga Fas. Bukannya kamu sedang dekat dengan Bryan, kenapa sekarang malah terpikat pada Pak Arya?”, tanya Andra sambil mengunyah makanannya.


“Beda dong.. Bryan itu vibenya sepantaran, kalau Pak Arya vibe om - om. Lebih menantang. Ha-ha-ha-ha.”, tawa Fas pecah padahal dia hanya sedang bercanda.


‘Hehehehe… hah kadang di saat - saat seperti ini, ingin rasanya langsung mengatakan kalau Pak Arya sudah memiliki istri dan istrinya adalah aku. Fuh… tapi aku belum mengumpulkan kepercayaan diri untuk melakukan itu.’, seketika Dinda membayangkan bagaimana respon - respon yang lain saat dirinya nanti ketahuan berstatus seperti istri Arya.


“Ah.. tidak..  Ohiya, namaku bukan Dinda Larasati, tapi Dinda Lestari.“, kata Dinda tiba - tiba.


“Heh? Kenapa kamu Din? Aku salah ngomong ya”, tanya Fas bingung melihat reaksi Dinda.


“Oh? Ah tidak.. Aku hanya memikirkan hal yang lain.”, balas Dinda.


Mereka terlihat tidak memperhatikan omongan Dinda yang memperbaiki namanya. Mereka hanya fokus pada pembicaraan yang berhubungan dengan Pak Arya.


“Ohiya, aku baru ingat. Bukannya waktu itu kamu di depan lift bersama Pak Arya. Ohiya.. Aku belum sempat cerita pada yang lain. Kalian tahu tidak. Jadi, waktu itu aku mau turun makan bersama dengan anak Finance yang lain. Saat kami turun lift, pintu tiba - tiba terbuka di lantai HR. Lalu, aku melihat Dinda berpelukan dengan pak Arya disana.”, celoteh Fas menjelaskan dengan semangat sesuai dengan apa yang dia lihat.


Dia bahkan sengaja mengurutkan kejadiannya secara rinci agar yang lain bisa membayangkan. Plus, Fas juga menambahkan sedikit bumbu disana agar cerita lebih menarik.


“Kamu harus jelas dong bicaranya.. Bukan - bukan.. Bukan seperti itu maksudnya. Jangan mendengarkan kata - kata Fas. Aku bisa jelaskan kok.”, Dinda langsung panik saat semua mata tertuju padanya tatkala Fas selesai bercerita.


“Maksudnya bagaimana Din? Saat aku mencoba berbicara di mobil denganmu saja, kamu langsung memberikan batas. Tapi dengan Pak Arya? Kamu membiarkan dia memelukmu? Kamu benar - benar menyukainya ya?”., kali ini Andra ikut protes dengan modal cerita dia ditolak oleh Dinda berbulan - bulan yang lalu.


"Hah? Andra pernah berbicara di mobil dengan Dinda? Berdua saja. Membicarakan apa?", tanya Fas kepo.


"Ituloh yang waktu Andra traktir kita di ulang tahunnya yang kemudian Dinda marah dan pulang.", Delina mengingatkan kembali pada kejadian canggung Andra saat. Bedanya dia menceritakannya dengan kecepatan kilat karena dia masih ingin melanjutkan obrolan tentang Dinda dan Pak Arya.


"Udah, jangan bahas itu dulu. Jadi gimana saudari Dinda, penjelasan dari Anda?", lanjut Delina seolah sedang mewawancarai seseorang.


“Beda… waktu itu aku hampir saja terpeleset. Dan Pak Arya kebetulan ada disana menangkapku agar tidak terjatuh. Pas sekali saat itu lift yang dinaiki oleh Fas bersama teman - temannya sedang terbuka.”, jelas Dinda dengan runut.


Tapi, pandangan yang lain tetap tidak percaya.


'Jadi itu sifatnya 'unintentional'. Tiba - tiba. Dadakan. Refleks.", Dinda berusaha meyakinkan teman - temannya.


“Jangan dong. Bukan begitu juga.”, protes Dinda merasa tidak terima Arya memeluk orang lain atau menjadi incaran pelukan orang.


Lagi - lagi yang lain memberikan pandangan penuh tanya. 'Ada apa dengan reaksi Dinda kali ini.', begitulah kira - kira yang sedang mereka pikirkan.


“Hem.. ternyata kamu tidak seperti penampilan kamu yang polos. Ternyata kamu mengincar Pak Arya juga ya Dinda?”, kata Delina dengan maksud menjahilinya.


Gadis satu ini tetap saja menarik kesimpulan sesukanya setelah Dinda menjelaskan dengan sangat detail.


‘Kenapa aku harus mengincar suamiku sendiri.’, kata Dinda dalam hati.


“Kalian sudah tahu tentang foto Pak Arya mencium seorang wanita yang tersebar beberapa waktu lalu? Beliau sudah punya kekasih. Jangan bermimpi, kalian semua wahai wanita - wanita jomblo.”, ucap Andra dengan bersemangat.


Ya, Andra akui dia memang kalah timing saat mengungkapkan gosip yang satu ini karena omongan dari Rini yang memperingatkannya. Akhirnya meski bukan dari mulutnya, gosip itu tetap saja tersebar dan sekarang sudah mereda karena tidak ada respon berarti dari Arya.


“Itu editan. Aku dengar kabar yang mengatakan kalau itu foto editan.”, kata Delina.


“Kenapa kamu berpikir begitu?”, tanya Andra. Dia merasa tidak terima kalau foto itu hanya editan.


“Pak Arya tidak bergeming saat foto itu tersebar, berarti foto itu tidak benar.”, jawab Delina.


“Sulit menghadapi orang - orang yang denial.”, ujar Andra setelah mendengar alasan Delina yang kurang signifikan. Malah terdengar tidak terima.


“Mungkin akan lebih baik jika kita tidak menilainya kalau kita tidak mengetahui kebenarannya.”, Dinda berbicara ragu namun tetap berusaha mencoba untuk meluruskan agar dugaan - dugaan yang tidak benar berkurang.


**********


“Din, kamu pulang cepat hari ini?”, tanya Dika yang baru saja keluar dari ruangannya.


“Sepertinya memang sudah jam 5 sore, Pak. Kebetulan semua pekerjaan sudah saya selesaikan.”, jawab Dinda yang sudah siap dengan tasnya.


Ponselnya bergetar dan pandangan Dika mengarah pada area lift yang hanya dibatasi oleh pintu masuk dengan kaca transparan. Di depan lift, dia melihat dengan jelas Arya sedang menelepon seseorang.


Dan disaat yang bersamaan ponsel Dinda juga berbunyi. Dika cukup cerdas untuk mengartikan kondisi tersebut.

__ADS_1


“Ada acara dengan suami kamu?”, tanya Dika blak - blakan.


Dinda melirik ke kanan dan kekiri sebentar untuk memastikan tidak ada orang sebelum akhirnya mengangguk. Bahkan untuk memperjelas, Arya sekarang sudah memanggil Dinda menggunakan tangannya. Beruntung memang tidak ada orang di sekitar sana.


“Permisi, Pak.”, kata Dinda pamit dan berlari kecil ke arah lift sebelum banyak orang yang melihat.


“Pak Arya, bukannya kita sudah sepakat untuk jalan sendiri - sendiri, kenapa Pak Arya malah memanggil saya? Kalau orang lain tahu, bagaimana?”, tanya Dinda.


“....”, Arya tidak menjawab.


Dinda melirik sebentar dan akhirnya memutuskan diam. Bukan karena tidak ingin melanjutkan pembicaraan, tapi dia memilih untuk membahasnya di dalam mobil saja.


Di mobil.


“Mas Arya, mas Arya kenapa bersikap seperti itu tadi?”, tanya Dinda saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Dia meletakkan tasnya di kursi belakang dan bersiap membuat dirinya senyaman mungkin.


“Dika, pria itu akrab sekali dengan kamu. Din, apa tidak sebaiknya kita beritahu saja sekarang? Aku benar - benar sudah tidak bisa mentoleransi kalau ada pria mendekati kamu karena mereka tidak tahu kalau kamu sudah menikah.”, jelas Arya.


“Mas Arya, bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya? Aku hanya takut karyawan yang lain berpikir..”


“Kalau kamu masuk ke perusahaan ini dengan backingan? Kamu juga akan tetap lanjut di perusahaan kan? Lalu apa bedanya bercerita nanti dan sekarang?”, tanya Arya.


“Setidaknya nanti aku tidak terlalu banyak ke kantor. Tanpa aku sadari, semua gosip kalau ada akan menghilang dengan sendirinya?”, jelas Dinda.


Dinda memberikan penjelasan dan pengertian dengan nada yang sangat pelan pada suaminya agar pria itu mengerti maksudnya.


“Dan, untuk kasus Pak Dika. Dia kan sudah tahu kalau aku menikah. Dia tahu kalau aku istrinya mas Arya. Aku juga berkali - kali mengatakannya. Aku bisa jaga diri kok, mas. Mas Arya tidak perlu khawatir, ya? Eung?”, tanya Dinda memegang tangan suaminya.


“Hah, justru orang - orang seperti dia yang berbahaya. Orang - orang yang mengerti bahwa seseorang sudah menjadi milik orang lain dan tetap menginginkan orang tersebut.”, lanjut Arya.


“Kalau ada apa - apa, aku akan langsung cerita dan meminta bantuan mas Arya. Bagaimana? Mas Arya sudah bisa tenang sekarang?”, tanya Dinda memastikan.


“Pokoknya, kalau dia mencoba mendekati kamu, langsung hindari sebisa kamu. Kalau dia ajak pergi berdua di luar kantor, selalu ajak orang lain. Kamu adalah intern, tidak mungkin akan ada situasi di mana kamu harus meeting berdua, jalan berdua, dan sebagainya dengan Dika. Jika dia mengajak, kamu harus bisa menolaknya dengan baik.”, Arya seperti sedang memberikan kuliah sore untuk istrinya.


Dinda mengangguk paham.


“Oh, Pak Dika pernah mengajakku makan keluar, katanya dia mau traktir. Saat itu, aku bingung menolaknya, jadi aku ikut saja. Beruntung di depan lobi ada istrinya. Dia mengajak pak Dika untuk makan siang, jadi aku bisa kembali ke pantry. Kalau aku menghadapi situasi itu lagi bagaimana?”, tanya Dinda meminta tips dari suaminya.


Akhirnya Dinda mengatakan yang sebenarnya pada Arya atas saran dari Delina. Beberapa hari ini dia mau menceritakannya tetapi dia bingung harus mulai dari mana dan takut jika Arya tiba - tiba langsung marah.


“Mudah. Pertama, usahakan makan 10 -15 menit lebih awal. Orang di posisi dia tidak mungkin makan tepat waktu saat makan siang. Kalaupun dia mau mengajak kamu, dia pasti memilih waktu yang sepi, saat semua orang sudah pergi makan.”, kata Arya.


Dinda mengangguk paham.


“Kedua, jika kamu tidak bisa melakukan langkah di tips pertama, mungkin karena kamu memang masih ada pekerjaan dan lainnya, kamu tinggal bilang kalau kamu sudah janji makan dengan teman, atau bilang saja denganku. Dia tidak akan bisa memaksa lagi.”, jelas Arya.


“Bagaimana kalau kebetulan mas Arya sedang ada perjalanan ke luar negeri?”, tanya Dinda.


“Kamu tinggal bilang, kalau kamu ada janji makan siang dengan mama. Atau siapapun yang dia tidak kenal.”, jawab Arya.


“Hm-mm… baiklah. Aku akan mencoba mempraktekkan itu. Tapi, apa aku tidak terlalu memalukan mengatakan hal ini. Aku merasa aku terlalu percaya diri untuk berpikir dia menyukaiku. Mungkin saja dia memang hanya…”


“Din, kalau dia tidak menyukai kamu, itu bagus. Tapi, bagaimana kalau iya?”, tanya Arya.


“Sebaiknya melakukan tindakan preventif.”, kata Arya.


“Mas Arya juga.”, balas Dinda.


“Memangnya siapa yang menyukaiku di kantor?”


“Banyaakkkkk… sepertinya kapan tahu mas Arya terlihat bangga mengatakannya. Kenapa sekarang tiba - tiba mengatakan tidak ada?”, tanya Dinda.


Arya tersenyum.


“Hn.. aku juga akan melakukan hal yang sama. Berdua nanti ketiganya setan, kan? Jadi harus ramai - ramai?”, kata Arya menoleh ke arah Dinda.


“Betul.”, Dinda tersenyum sumringah.


Dia merasa lega sudah menceritakannya pada Arya.

__ADS_1


‘Ternyata suami istri itu memang harus saling terbuka, ya.’, bathin Dinda dalam hati saat melihat ke arah suaminya.


__ADS_2