Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 60 Rahasia Besar Terungkap


__ADS_3

Suasana sore hari ini terlihat mendung. Dimas sedang mengendarai mobilnya melintasi macetnya jalanan karena perbaikan jalan di sisi sebelah kanan. Sambil memutar musik dari band favoritnya, Dimas mencoba untuk memahami apa yang ia lihat tadi di basement parkiran Mall X.


Dimas ke Mall X karena sedang ingin mencari beberapa kebutuhan bulanan yang beberapa hari ini terus saja dia tunda. Dia juga berencana bertemu seseorang disana tetapi tidak jadi karena waktu yang tidak memungkinkan.


Seseorang di sebuah toko pakaian menarik perhatiannya. Gadis dengan outfit dominasi hijau palette dengan hijab dan waist bag yang ia kenakan membuat Dimas tak ragu untuk memanggilnya. Dinda, gadis yang ia temui beberapa minggu lalu.


“Apa Arya punya adik perempuan? Seingatku dia pernah bercerita punya kakak perempuan dan adik. Tapi, mereka tidak seperti adik dan kakak.”, pikir Dimas dalam hati sambil menyetir kendaraannya yang sepertinya masih akan tersendat sampai 15 menit kedepan.


“Tapi, mereka bukan pacaran, kan? Tidak, Arya sepertinya bukan tipe pria yang berpacaran dengan gadis seperti Dinda. Setidaknya, kalau dia masih Arya yang lima tahun lalu. Hm.. sebenarnya apa hubungan mereka?”, Dimas masih tenggelam dalam pikirannya sebelum ponselnya berbunyi.


“Halo..”, jawab Dimas.


“Hai, Dimas. Kamu apa kabar? Sudah di Indonesia?”


“Tahu darimana kamu aku di Indonesia?”, jawab Dimas pada orang yang menghubunginya.


“Dari Anton.”, jawab wanita itu.


“Anton memang bermulut besar.”


“Hahaha..”, gelak tawa wanita yang ternyata adalah Sarah menggema keluar dari speaker ponsel Dimas.


“Dimana kamu buka outlet? Aku akan singgah.”


“Tidak perlu.”, jawab Dimas.


“Kenapa? Kamu takut akan tergoda denganku lagi?”, jawab Sarah setengah bercanda.


“I met Arya today.”, kata Dimas jujur.


“What? Already?”, Sarah sangat kaget. Meskipun dia akan menduga hal ini terjadi, tetapi dia tak menyangka pertemuan mereka bisa secepat itu.


“Hm. He’s with someone.”, jawab Dimas lagi. Nadanya lemah seperti tidak suka.


“Hm.”


“Apa maksudnya dengan ‘Hm’?”, kata Dimas.


“Dimana kamu membuka outlet?”, tanya Sarah lagi.


“Perkantoran X. The elite office.”, jawab Dimas dengan nada antusias.


“That’s where Arya works.”


“What?”, kali ini Dimas yang dibuat kaget.


“Aku tidak bermaksud…”, kata Dimas terpotong.


“Sudahlah. He knows.”


“What?”, tanya Dimas.


“Aku beberapa kali menghubunginya tetapi jawabannya selalu dingin. Dia tahu aku berhubungan denganmu saat masih bersamanya.”, jawab Sarah.

__ADS_1


“So, he knows that…”, lanjut Dimas namun lagi - lagi terpotong.


“Belum.”


“Okay. Jika dia tahu, dia akan membunuhku.”, kata Dimas lagi.


“Nampaknya, aku akan sering bertemu dengan Arya. I don’t know how to behave.”, Dimas mengeluh.


“Salah dia tidak memberikan waktunya untukku saat kami menikah. Tapi, aku yakin dia masih mencintaiku.”


“Aku sedang di jalan. Call aku lagi nanti.”, Dimas menutup ponselnya.


*****


“Halooo Din…kerja mulu… sini turun. Kita coba outlet Momi di bawah, yuk.”, ajak Andra melalui sambungan telepon. Dia sangat antusias begitu outlet Momi dibuka hari ini. Ada 100 kopi gratis untuk pengunjung pertama dan dengan santainya Andra sudah nge-take 5 tempat untuk Suci, Dinda, Bryan, Delina, dan dirinya.


“Aku masih buat Q&A pelatihan. Ditunggu oleh mbak Siska.”, kata Dinda menolak.


“Siska… berarti ujungnya pak Arya. Okay.. Goodluck, Din. Tapi kita masih disini sampai 20 menit lagi. Kalo mo turun, hayuk.”, kata Andra lagi.


Disisi lain, Dinda masih sangat sibuk dengan laporan dan dokumen Q&A yang harus dia buat untuk diserahkan ke Siska. Selanjutnya, Siska akan memberikannya pada Arya untuk direview sebelum dikirimkan pada semua bawahannya.


Dinda menyalakan speaker ponselnya karena ingin- tetap bisa bekerja sambil menerima telpon dari Andra.


“Thanks, Andra. Tapi kayaknya aku masih lama.”, Dinda menutup teleponnya.


Tak lama, dia melihat Arya berjalan ke arah divisinya bersama dua orang kepala divisi yang tidak Dinda kenal.


“Erick kemana?”, Arya tiba - tiba mengetuk meja di sebelah Dinda dan menanyakan Erick.


Dinda tidak bergeming sebentar dan ia tersadar saat melihat dua orang kepala divisi yang seperti menantikan jawaban meski bukan mereka yang bertanya.


“Pak Erick sedang meeting dengan Finance, Pak.”, jawab Dinda pada Arya.


“Tolong katakan ke Erick, saya tunggu dia di bawah jam 2 siang, ya.”, perintah Arya.


“Di bawah dimananya, Pak?”, kata Dinda berusaha untuk membuatnya lebih spesifik.


“Lobi.”, jawab Arya singkat dan dibalas dengan anggukan.


“Kamu ga makan siang?”, tanya Arya santai namun membuat Dinda tidak nyaman karena ada dua kepala divisi lain disana.


“Setelah menyelesaikan ini, saya makan siang, Pak. Sudah ditunggu mba Siska.”


“Makan dulu. Kamu bisa kerjakan nanti.”, perintah Arya terdengar biasa saja di telinga kepala divisi yang sedang bersamanya. Tetapi, entah kenapa Dinda menjadi salah tingkah sendiri dan heran dengan sikap Arya yang tidak biasa di kantor.


‘Yang sedang berbicara, pak Arya kepala Divisi Partners, atau Arya suamiku?’


“Baik, Pak.”, Dinda mengangguk singkat.


Arya segera berlalu sambil melanjutkan diskusinya yang terputus dengan dua orang kepala divisi tadi. Mereka berpisah jalan di lift karena Arya menuju kebawah untuk makan siang dengan Erick.


Lama Arya menunggu Erick di lobi. Perhatiannya tertuju pada sebuah Cafe yang baru buka hari ini. Beberapa karangan bunga nampak terpajang di depan area Cafe.

__ADS_1


‘Sepertinya cafe ini terkenal juga.’, bathin Arya di dalam hati. Dia masih belum mengetahui siapa pemilik cafe ini. Saat dia masuk ke kantor pagi ini, perhatiannya langsung tertuju pada lift karena banyak sekali meeting dan urusan penting yang harus dikerjakannya pagi ini sebelum mengambil cuti 2 hari.


Saat sedang memperhatikan cafe, ponsel Arya berbunyi.


“Ya.. halo Rick? Dimana lo? Udah lama nih nunggunya.”, kata Arya langsung melampiaskan kekesalannya.


“Sorry, gue masih 10 menit lagi. Tunggu di parkiran aja, Arya. Nanti gue langsung turun ke basement.”, ujar Erick tanpa rasa bersalah.


“Yang bos itu, gue atau lo.”, kata Arya menantang. Dia merasa kesal karena Erick memberikan janji palsu. Lima belas menit yang lalu, Erick memberitahukan bahwa dia akan selesai 10 menit lagi. Tapi setelah lima belas menit berlalu, dia malah meminta 10 menit lagi.


‘Tahu begitu, aku makan sendiri saja.’, ucap Arya dalam hati. Dia sudah terpikirkan seseorang yang ingin dia ajak makan bareng.


“Lo makan sendiri aja, Rick. Gue ajak cewek lain.”, kata Arya menutup ponselnya.


Tak lama Arya menekan kembali tombol dial bermaksud untuk melakukan panggilan.


“Din, kamu ke parkiran basement sekarang ya. Kamu tahu dimana mobil saya diparkir, kan? Kamu kesana sekarang.”, perintah Arya begitu ponselnya tersambung dengan milik Dinda.


“Eh? Mau ngapain, Pak”, kata Dinda.


“Kamu belum makan, kan? Kita makan di luar.”, jawab Arya.


“Eh, tapi Pak, nanti kelihatan sama karyawan yang lain.”


“Gapapa, lagian 5 menit lagi, jam makan siang berakhir. Udah, kamu turun sekarang.”, kata Arya sebelum menutup sambungan teleponnya.


Dia kini sudah berada di parkiran dan menuju tempat mobilnya parkir. Ketika melewati area tangga darurat yang pintunya terbuka, Arya mendengar suara yang ia kenal sedang menerima telepon.


“Kamu mau kembali lagi? Gak cukup kamu menyakiti dia, Sar?”, suara pria itu terdengar jelas karena suasana di basement 3 memang sangat hening. 


“Kalau Arya sampai tahu alasan kamu bercerai dari dia sebenarnya karena kamu hamil anakku, dia pasti akan menghajarku habis - habisan.”, kata pria itu


“Tetap saja. Aku sudah mengkhianati kepercayaannya saat berselingkuh dengan kamu. Kalau Arya sampai tahu saat itu kamu hamil anakku, aku tidak tahu lagi bagaimana harus berhadapan dengannya.”, lanjut pria itu lagi. Arya hanya bisa mendengar suara pria itu dan tidak mendengar orang yang sedang tersambung dengannya. 


Arya menjatuhkan tumblr kopi yang terbuat dari besi ke lantai basement tanpa sengaja. Tangannya tiba - tiba lemah dan tidak fokus memegang tumblr berisi kopi favoritnya. Ia tahu sosok yang sedang tersambung telepon di tangga darurat itu.


Dimas. Pria di dekat pintu tangga darurat yang sedang menerima telpon itu adalah Dimas, pria yang kemarin tanpa sengaja ia lihat memanggil istrinya di parkiran Mall X. Dimas, sahabatnya lebih dari lima tahun yang lalu. Sahabat yang membuatnya rela berbagi flat saat menempuh studi di Amerika karena pria itu tidak memiliki cukup uang. Pria yang dengan segenap kepercayaan menjadi sahabatnya dan juga Sarah.


Arya dan Sarah sudah menjalin asmara sejak tahun kedua mereka berkuliah. Arya, Sarah, Dimas, dan Anton sudah berteman sejak tahun pertama mereka berkuliah. Saat di tahun terakhir, Arya memergoki Dimas berselingkuh dengan Sarah, Arya masih memaafkannya dan berpikir bahwa mereka mungkin hanya terlalu sering bersama dan salah mengartikan perasaannya.


Arya menikah dengan Sarah setelah dia gagal menempuh S2 nya di MIT dan setelah Dimas memutus hubungan dan kontak sama sekali dengan mereka. Meski beberapa kali Arya curiga bahwa sebenarnya Sarah masih menjalin komunikasi dengan Dimas, tapi Arya terus menepisnya.


Kalimat barusan yang ia dengar dari mulut Dimas menjadi sambaran petir di siang bolong yang meluluhlantakkan semua pertahanannya. Dimas keluar dari pintu darurat menuju ke tempat Arya berdiri untuk mencoba menjelaskan apa yang barusan ia katakan.


Namun, tangan Arya lebih cepat dari penjelasan itu. Dia memukul Dimas hingga pria itu terpental karena tak menduga serangan yang datang. Baru saja Arya ingin menghajar lagi, Dinda sudah berteriak dari arah belokan lift basement, tempat yang sama dimana Arya lewat tadi.


“Pak Arya!”, Dinda segera berlari ke arah Arya untuk menghentikan pukulan pria itu. Dinda bingung apa yang terjadi. Arya bukan tipe orang yang akan memukul seseorang di basement parkiran kantor. Sepanjang dia bekerja disini, dia sudah mendengar banyak rumor mulai dari Arya ke club, mabuk, dan sebagainya. Tapi, tidak pernah ada rumor bahwa dia memukul orang.


Ditambah, sepengetahuan Dinda, mereka tidak saling kenal. Lalu kenapa?


“Pak Arya! Sudah.”, Dinda berusaha menarik tangan Arya yang akan kembali menghajar Dimas. Dua kali Arya mencoba ingin memukulnya lagi namun Dinda dengan cepat menahan tangannya. Akhirnya Arya menepis tangan Dinda dan berjalan menuju mobilnya. Amarahnya jelas sekali terpancar, bahkan saat dia masuk ke mobil dan membanting pintu.


Tak berapa lama, mobil Arya terlihat membanting setir dan pergi dengan kasar dari parkiran, meninggalkan Dinda yang masih shock dan terkejut dengan apa yang ia lihat, serta Dimas yang masih tertunduk dengan bibir yang berdarah.

__ADS_1


__ADS_2