
“Arya tidak menceritakannya padamu?”
“Ternyata Arya benar - benar tidak menceritakannya padamu. Arya mengenal Dika.”
“Dika memiliki hubungan spesial dengan Sarah dan Arya tahu itu. Arya pernah memergoki Sarah dan Dika sedang berdua di sebuah hotel di luar kota. Padahal besoknya mereka berencana untuk bertemu.”
‘Kenapa mas Arya tidak mengatakannya padaku? Kalau Pak Dika adalah pria yang dia temui bersama Sarah di hotel waktu itu?’, Dinda terus memikirkan kata - kata Dimas.
Meski dia sudah berusaha untuk tidak memikirkannya, tetapi dalam beberapa kesempatan, dia tak bisa menghilangkan pikiran itu dari kepalanya.
Terlebih jika ada pembahasan yang mengarah kesana meskipun tidak secara langsung. Sejak Dinda berbicara dengan Dimas tentang itu. Dinda juga lebih sering terlihat melamun dibandingkan dengan sebelumnya.
'Apakah kepercayaanku pada Mas Arya hanya sebatas ini saja. Masa hanya dengan kalimat itu, aku bisa goyah begini? Mana bisa menjadi istri yang baik kalau begini.', keluh Dinda dalam hati
“Din, ini ada laporan dari Divisi Risk. Tolong kamu proses, ya. Sepertinya mereka memerlukan informasi tentang beberapa project yang ada di DD. Tadi aku tanya Pak Erick, beliau minta kamu untuk memproses laporannya dan menyerahkannya kembali pada Divisi Risk.”, kata Bryan menghampiri Dinda di bangkunya.
Bryan kelihatan bingung saat tidak menerima reaksi dari Dinda. Dia bahkan melambai - lambaikan tangannya di hadapan wajah Dinda namun tak berhasil.
Akhirnya, Bryan harus sedikit menaikkan volumenya sampai Dinda terperanjat. Kemudian, Bryan meminta maaf karena merasa bersalah.
“Kamu sedang memikirkan apa? Kamu terlihat bengong dari tadi.”, tanya Bryan.
Dia jadi khawatir. Awalnya dia tidak mau bertanya, tapi melihat wajah blank Dinda kembali, dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut campur.
“Eh? Memangnya kelihatan dari tempat duduk kamu?”, tanya Dinda heran.
"Memangnya tempat duduk kita itu sejauh apa? Kamu tidak sadar kalau selama ini apa yang kamu lakukan di kursi kamu, aku bisa melihatnya? Termasuk saat kamu bercermin dan mengoleskan lipstik?", canda Bryan.
Dia tidak bermaksud apa - apa. Dia hanya ingin mencairkan suasana agar lebih cair.
"Kamu tidak sedang sakit, kan?", Tanya Bryan kembali.
Entah bagaimana, dia sudah hapal dengan kebiasaan Dinda. Kalau dia bengong, kemungkinannya hanya ada dua. Dia sedang sakit atau dia sedang ada masalah.
Dinda menggeleng.
"Kamu kenapa memperhatikan aku begitu? Memangnya aku bengong. Tidak, mungkin hanya perasaan kamu saja. Dari tadi aku melihat layar kok.
“Hehe.. kamu tidak sadar kalau aku dari tadi pindah ke kursi tengah karena ada yang harus didiskusikan dengan Suci. Tunggu, jadi dari tadi kamu tidak menyadari keberadaanku sama sekali?, Bryan terheran - heran melihatnya.
"Aku lihat kok. Aku tahu kamu disitu.", jawab Dinda asal - asalan.
"Kamu lihat desktop? Melihat apa? Wallpaper? Terus, kalau kamu benar - benar memperhatikan apa yang aku katakan barusan. Coba hayo, apa yang tadi aku sampaikan?", tanya Bryan mencoba menantang Dinda.
“Ah.. hehehe ....Oh maaf - maaf. Laporan ini, kapan terakhir harus aku submit ke Risk?”, tanya Dinda kembali fokus saat sudah melihat setumpuk dokumen di atas mejanya.
Ketahuan oleh Bryan berkelit, Dinda hanya bisa menggunakan senjata pamungkasnya. Tersenyum. Senjata ini sangat ampuh untuk orang - orang terdekatnya. Kecuali mas Arya. Kalau mas Arya sudah mengatakan 'A', Dinda harus memberikan bukti - bukti dan fakta - fakta pendukung, agar dia bisa mengubahnya menjadi 'B'. Tersenyum? Arya mungkin hanya akan memasang wajah datar unuk menanggapinya.
“Minggu depan masih oke, kok.”, jawab Bryan sambil mengambil satu buah kopi yang dia pesan ke meja Dinda.
"Kenapa kamu memberi aku ini?", tanya Dinda bingung melihat satu cup Coffee yang diletakkan oleh Bryan diatas meja.
"Buat kamu. Tadi aku pesan dan kelebihan. Aku kira aku bisa menghabiskan keduanya, tapi ternyata tidak.", jelas Bryan kembali menyodorkan kopi itu.
"Maaf Bryan, tapi aku sedang tidak bisa minum kopi.", kata Dinda meminta maaf dan kembali meletakkan kopi itu di atas meja Bryan.
"Hm? Kenapa? Biasanya kamu langsung - oke - oke aja saat yang lain minum kopi.", Bryan terlihat heran.
"Ehm... untuk saat ini aku puasa minum kopi. Lain kali kalau kamu mau mentraktirku, traktir jus saja. Aku suka Jus melon, jus semangka, jus mangga, jus alpukat....", Dinda terus menyebutkan macam - macam jus yang dia sukai.
"Sekalian saja kamu sebutkan seluruh isi supermarket. Kamu ingin membuat aku bangkrut.", canda Bryan.
Dinda juga ikut tersenyum mendengar candaannya. Dinda merasa tidak enak sudah menolak pemberian Bryan. Karena itu, setidaknya dia harus melemparkan beberapa candaan agar pria itu tidak kecewa.
“Baik kalau begitu. Emailnya sudah dikirimkan ke aku kan?”
“Iya, aku sudah forward email dan beberapa file pendukung lainnya. Kalau ada yang bingung, kamu tanyakan saja padaku. Tidak usah ragu.”
__ADS_1
“Baiklah. Thanks, ya Bryan.”
“Jadi, apa yang membuat kamu melamun?”, tanya Bryan hangat. Delina yang mendengar ucapan Bryan sampai bergidik ngeri disampingnya.
“Tidak ada apa - apa. Kamu lanjut saja.”, kata Dinda.
Bryan bukan tipe yang terlalu kepo. Jika Dinda tidak mau menceritakannya, dia juga tidak bisa memaksa.
“Bryan, belakangan ini perhatian sekali padamu, Din.”, setelah Bryan pergi, Delina langsung berbisik di telinganya.
“Hahaha. Perasaan mba Delina saja, Bryan kan memang perhatian ke semua orang.”, balas Dinda.
“Ngomong - ngomong, Pak Dika ada di dalam?”, Suci yang dari tadi meeting tiba - tiba menghampiri mereka.
“Hm. Tidak tahu. Sejak makan siang, dia sudah tidak ada di ruangannya. Aku tidak melihatnya kembali. Mungkin dia sedang ada meeting di luar. Pak Erick dan Mba Rini juga tidak ada kan.”, jawab Delina.
“Pak Erick dan Mba Rini sedang meeting dengan Finance.”
“Kenapa belakangan ini mereka sering meeting dengan Finance? Kenapa Pak Dika tidak ikut.”
“Entahlah, urusan atas aku tidak tahu.”, jawab Suci malas.
“Kamu taruh di meja Pak Dika saja. Nanti kalau dia sampai dia juga pasti menandatanganinya. Pak Dika kan tidak seperti Pak Arya, yang tiap tanda tangan harus disidang dulu.”, ujar Delina.
“Itu kan karena divisi kita dengan Business and Partners berbeda, mba.”, kata Dinda menimpali.
Dinda jarang sekali menimpali jika seniornya sedang berbicara, tapi entah mengapa untuk yang satu ini dia tidak bisa menahan diri.
Suci memberikan tatapan penuh arti padanya.
*********
“Kamu melihat Sarah?”
“Tidak. Tadi aku sempat melihatnya menjelang jam makan sian. Setelah itu, aku tidak melihatnya lagi.”
“Kamu sedang mencarinya juga?”
“Hm.”
“Belakangan ini dia tidak seperti dirinya. Sering menghilang setelah jam makan siang. Katanya dia akan kembali lagi menjelang sore lalu pulang larut malam.”
“Kalian membicarakan tentang Sarah, ya?”
“Iya. Kenapa?”
“Aku juga merasa begitu. Sepertinya sejak Pak Dika resign, dia seperti memiliki kesibukan sendiri.”
“Pak Dika siapa?”
“Kepala Divisi IT. Ada yang bilang mereka berpacaran.”
“Wah aku tidak terlalu mengenalnya.”
“Bukankah dia sudah menikah?”
“Siapa? Sarah?”
“Iya. Aku dengar dia sudah pernah menikah.”
“Dia memang sudah menikah, tapi sudah bercerai. Itu gosip yang aku dengar.”
“Ah sudahlah, aku tidak tertarik dengan kehidupan pribadinya. Yang aku inginkan sekarang adalah dia ada disini dan menyelesaikan dua laporan ini.”
Sementara orang di kantor sibuk mencarinya, Sarah malah sedang berada di depan kantor Arya. Bukan untuk menemui pria itu, tapi untuk menemui Dimas. Tapi, saat dia akan turun, Sarah melihat pria yang dia kenal keluar dari lift basement.
‘Dika? Dia sendiri. Kemungkinan besar bukan untuk meeting. Apa aku ikuti saja ya. Siapa tahu dia menemui seseorang yang aku tidak tahu.’, pikir Sarah dalam hati.
__ADS_1
Wanita itu lantas mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
Kring kring kring kring
Teleponnya berbunyi. Panggilan dari Dimas.
“Halo, kamu dimana? Jadi kesini atau tidak?”, tanya Dimas.
“Tidak jadi.”
“Kamu benar - benar ya. Sudah membuat orang menunggu dan sekarang tidak jadi. Kamu dimana?”, tanya Dimas.
“Kamu tidak perlu tahu. Ya sudah, aku tutup teleponnya.”
Sarah segera mengikuti mobil Dika begitu dia melihat mobil itu lewat di depannya.
“Semoga saja dia tidak mengenali mobilku.”, kata Sarah.
Sarah dengan penuh konsentrasi mengikuti laju mobil Dika. Dia penasaran, sebenarnya apa yang dia lakukan beberapa waktu belakangan ini sampai - sampai pria itu bisa bersikap seperti itu padanya.
‘Apa dia sedang menemui wanita selain aku? Haha dasar Dika brengsek. Sekali brengsek tetap saja brengsek. Dia tidak punya niat sama sekali untuk akur dengan Rianti. Sepertinya hubungan mereka fix hanya sebatas kertas saja.’, ujarnya dalam hati.
Setelah lebih kurang 30 menit mengikuti Dika, Sarah memperhatikn tempat yang dituju oleh pria itu.
“Rumah sakit? Kenapa dia ke rumah sakit ini lagi? Tunggu, inikan rumah sakit ibu dan anak. Kenapa dia kesini?”
Kring kring kring kring
“Ahh siapa lagi sih?”, Sarah emosi karena dia penasaran dengan Dika namun ada saja yang mengganggunya.
“Halo, Sarah. Kamu dimana?”, tanya seorang wanita yang merupakan rekan satu tim Sarah.
Meskipun sarah adalah salah satu pemimpin divisi di kantornya, tetapi dia memiliki rekan dengan posisi yang sama dengan role yang berbeda.
“Sedang makan siang di luar, kenapa?”
“Sudah jam berapa ini. Ada dua dokumen yang harus kamu kerjakan. Besok CEO kita sudah terbang ke Dubai. Kalau dokumen ini tidak ditanda – tangani sekarang atau besok, maka tamatlah riwayat kita.”, ujarnya to the point karena dia juga sudah tidak memiliki pilihan lain.
‘Aaaah… wanita licik satu ini. Kalau dia buru - buru, kenapa tidak dia kerjakan saja sendiri. Kenapa harus aku. Kalau bukan karena aku pernah berteman dengannya, aku tidak akan kembali sekarang. Arghh.’, gerutu Sarah dalam hati.
“Iya, aku kembali sekarang. Tunggu sekitar 40 menit lagi. Aku akan menyerahkan dokumen itu sore ini. Taruh saja di mejaku jika kamu tidak bisa menunggu.”, kata Sarah sambil membalik arah laju mobilnya.
“Ah.. padahal sudah sampai disini. Sebenarnya apa yang dilakukan Dika di tempat ini? Tunggu, inikan Rumah Sakit Ibu dan Anak. Apa Rianti hamil? Tidak, atau dia menghamili wanita lain? Siapa? Heh, kalau dia benar menghamili wanita lain, akan menjadi kartu baik buatku.”, ujar Sarah yang terpaksa harus kembali ke kantor padahal sudah setengah jalan.
*********
“Permisi, mau bertanya, apa dr. Rima ada?”, tanya Dika.
“Maaf dengan siapa? Apakah sudah membuat janji sebelumnya?”
“Saya temannya. Saya sudah janji ingin bertemu disini hari ini. Tapi baterai ponsel saya habis dan tidak bisa menghubunginya.”, kata Dika mengarang alasan.
“Sebentar ya Pak.”, ujar petugas tersebut melakukan panggilan telepon.
“Mohon ditunggu sebentar ya Pak.”, petugas menyarankan Dika untuk duduk menunggu.
“Nek, memangnya kita gak bisa ketemu mama sekarang?”, tanya seorang anak kecil yang duduk di belakang Dika.
“Tunggu, mama lagi praktek. Nanti kalau sudah selesai baru kita menemuinya. Kan katanya kejutan. Kalau kita kesana sekarang, mama lagi sibuk.”, jelas seorang ibu - ibu paruh baya disampingnya.
Dika menoleh sebentar ke belakang karena penasaran. Anak laki - laki seusia dengan puteranya masih berseragam sekolah. Mungkin sedang menunggu orang tuanya. Begitu pikir Dika. Dia tersenyum sebentar karena mata mereka saling berpandangan sebelum akhirnya kembali melihat ke depan.
Dika berdiri mendekati petugas setelah dia memberikan kode padanya.
“Mohon ditunggu sekitar 20 menit lagi. dr. Rima sedang praktek. Beliau meminta bapak untuk menunggu.”
“Baik. Terima kasih.”
__ADS_1
Ekspresi Dika berubah senang karena akhirnya Rima mau menemuinya. Dia sudah bolak balik hampir seminggu lebih tetapi selalu saja tidak bisa bertemu. Entah karena jadwal prakteknya sedang tidak ada atau berbagai alasan lainnya.