
“Hai Din…”, Bianca sudah berteriak memanggil Dinda dari kejauhan.
Meski baru saja berlibur bersama, Bianca sudah merindukan sahabatnya ini. Alhasil, walau ada janji dengan tunangannya nanti malam, Bianca tetap menyempatkan diri untuk bertemu dengan Dinda.
“Senang sekali kamu kelihatannya.”, ujar Dinda saat keduanya sudah bertemu.
“Iya dong… kan mau ketemu kamu. Tumben loh, kamu mengajak bertemu duluan. Biasanya pasti aku, atau Dian dan Sekar.”
“Hihi.. maaf ya.”, Dinda hanya tertawa cengengesan. Dinda memang jarang sekali mengajak temannya keluar karena dia lebih suka di rumah. Dibandingkan keempat temannya, Dinda lebih introvert dan senang di rumah.
Hanya sejak menikah dengan Arya, Dinda selalu mencari alasan untuk keluar rumah di akhir pekan. Tapi, mama Inggit selalu saja ada acara di akhir pekan yang membuatnya di rumah.
“Jadi, kamu mau cerita apa nih? Kamu udah punya pacar memangnya?”, tanya Bianca setelah mereka berhasil melipir ke sebuah cafe.
Dinda mengajak Bianca untuk bertemu dulu di sebuah cafe dekat dengan restoran yang akan mereka tuju. Lebih baik, Dinda konsultasi dulu dengan Bianca di Cafe. Karena, kalau sudah di restoran favorit Bianca, dia pasti sudah lupa diri dan tidak memperhatikan apapun yang Dinda ceritakan.
“Hemm…nggak kok Bi, bukan pacar, tapi teman.”, ujar Dinda.
“Teman? Memangnya teman kamu kenapa?”
“Jadi, aku punya teman di kantor. Dia curhat, terus aku kan belum pernah pacaran, jadi gak punya pengalaman.”
“Hm? Kenapa kamu tiba - tiba panggil aku hanya mau cerita masalah cinta teman kamu?”, Bianca menatap Dinda dengan wajah memata - matai. Dia bahkan menyipitkan matanya agar lebih meyakinkan.
“Aku… Aku kasihan aja karena tidak bisa memberikan solusi.”
“Yakin?”
“Udah dengarkan cerita aku dulu.”
“Hmm.. Oke deh.”, Bianca mengangguk. Dinda tersenyum melihat temannya ini. Dari dulu, Dinda dan teman - teman yang lain bisa dengan mudah mengalihkan perhatiannya.
“Hm.. Nih.. misalnya kamu tiba - tiba melihat pacar kamu di hotel ketemu wanita lain. Terus dia masuk ke kamarnya.”
“Oke?”, Bianca mencoba menanggapi perlahan setiap kalimat yang Dinda ucapkan untuk menandakan dia memperhatikan Dinda.
“Menurut kamu mereka ngapain?”, tnya Dinda.
“Hm.. tergantung hubungan mereka. Mereka pacaran dan selingkuh di belakang teman kamu atau bisa jadi di dalam kamar itu bukan cuma cowo itu dan perempuan lain. Bisa aja ada orang lain lagi dan mereka janjian disana.”, kata Bianca berusaha menjabarkan segala kemungkinan.
“Tapi Bi, kalau mau ketemuan pasti bisa di cafe hotel, lobi, masih banyak tempat lain.”, bantah Dinda.
“Ya.. betul. Siapapun yang melihat pasti akan berpikir kalau pacar teman kamu ada main dengan wanita lain di dalam kamar. Tapi, semua kan belum pasti. Kamu harus pastikan.”
“Gimana? Masa kamu tanya dia. Maling mana ada yang mau ngaku, Bi.”
__ADS_1
“Ya.. mau gimana lagi. Pilihan kamu cuma dua. Tanya atau menyimpulkan sendiri.”
“Nah, gimana kalau cowo itu bilang dia disana sama orang lain juga dan mereka ga ngapa - ngapain. Kamu percaya?”
“Ya.. pilihan kamu juga cuma dua, Din. Percaya atau tidak.”
“Ihh Bi, kok gitu?”, Dinda protes.
“Yaa mau gimana lagi. Memang cuma itu pilihannya. Aku juga gitu waktu memergoki Riko selingkuh.”, tutur Bianca.
“Berarti kamu pilih gak percaya, dong.”
“Aku memang udah curiga, Riko itu punya wanita lain. Tingkah dia aja aneh.”
“Trus jadi aku harus kasih saran apa buat teman aku ini?”, tanya Dinda sudah mulai tidak sabar. Dia seperti tidak mendapatkan solusi dari Bianca. Padahal dia pikir Bianca pakarnya karena sudah sering berpacaran.
“Ini bukan tentang kamu kan, Din? Jangan - jangan kamu udah punya pacar tapi gak cerita - cerita ke kita.”
“Kan… Aku bilang tadi teman aku.”
“Hm..gimana kalau kamu menyarankan teman kamu untuk melakukan penyelidikan. Misalnya, lihat ponselnya, trus ikutin dia kemana aja. Perhatikan gerak - geriknya yang aneh.”
‘Gimana aku bisa melakukan penyelidikan ke mas Arya. Heh.. Bianca sama sekali gak kasih solusi.’, batin Dinda frustasi.
“Ya sudah… kalau begitu. Aku coba kasih saran itu.”, Dinda sudah menyerah mendengarkan saran Bianca yang sama sekali tidak membantunya.
Gerakan Dinda yang tiba - tiba berdiri dari bangkunya mengagetkan pegawai itu. Alhasil beberapa gelas yang dibawanya jatuh dan tumpah mengenai seorang pria di sebelahnya.
Tidak hanya Dinda dan pegawai Cafe, pria yang terkena tumpahan sisa kopi juga terkejut karena tumpahan kopi itu mengenai kemejanya.
“Ouch! Waduh.. Basah lagi. Gimana nih, bentar lagi mau meeting.”, ujar pria itu sambil berusaha membersihkan tumpahan kopi di kemejanya yang sebenarnya percuma. Kemeja putih dengan blazer biru itu kini sudah berubah warna.
“Dinda…..”, Teriakan Bianca sama sekali tidak membantu Dinda.
“Maaf…maaf… saya tidak sengaja. Maaf ya mas..”, ujar Dinda pada pegawai Cafe.
“Aduh jadi cokelat semua… maaf ya mas.. Saya tidak sengaja…tadi buru - buru.. Saya tidak melihat ada pegawai cafe di belakang.”, ujar Dinda panik.
Sepertinya orang yang terkena tumpahan sedang sibuk. Dia beberapa kali melihat jamnya dan berusaha memeriksa bajunya lagi. Dinda jadi merasa tidak enak. Meskipun pegawai Cafe juga ikut meminta maaf, tapi Dinda sadar bahwa ini adalah sepenuhnya salahnya.
“Maaf ya mas, di dekat sini ada toko kemeja, saya belikan kemeja yang baru, ya. Sepertinya mas lagi buru - buru.”, ujar Dinda menawarkan.
“Gapapa, tokonya dimana ya? Biar saya aja yang kesana untuk beli. Kebetulan satu jam lagi saya ada meeting dan harus kesana.”, ujar pria itu.
“Gapapa mas, biar saya aja. Masnya tunggu disini aja.”, Dinda kembali menawarkan.
__ADS_1
Padahal dari kejauhan Bianca seolah memberi kode untuk tidak usah memperpanjangnya. Biarkan saja pria itu membeli kemejanya sendiri.
“Ya sudah, biar cepat. Mba bisa antarkan saya ke tokonya? Kebetulan saya juga baru - baru ini pindah kesini jadi belum tahu jalan.”, ujar pria itu.
“Ooh.. iya baik - baik. Sebentar saya bayar tagihan saya dulu.”, ujar Dinda sambil berlalu ke meja kasir. Dinda juga membayar tagihan pria itu karena merasa tidak enak. Meski pria itu menolak, Dinda tetap bersikeras.
“Din, sorry banget, mas Reza telepon gue. Katanya jalannya siang ini aja, karena nanti malam dia ada urusan. Gimana dong?”, tutur Bianca saat mereka keluar Cafe. Dia merasa tidak enak meninggalkan Dinda yang sedang terkena masalah.
‘Gimana? Kok aku sendiri yang mengantarkan?’, Dinda memberikan kode kepada Bianca. Dia ingin Bianca menemaninnya. Tetapi tanpa babibu, Bianca sepertinya lebih bucin pada tunangannya daripada Dinda. Sehingga, dia langsung melesat menuju mobilnya.
“Kalau misalkan mba-nya ga nyaman sendirian, gapapa mba bisa tunjukkan saja tokonya ada dimana.”, pria itu menawarkan karena melihat wajah Dinda yang merasa tidak nyaman.
“Ha…ha.. Gapapa kok mas, cuma jalan sekitar 400 meter juga ketemu. Saya antar aja, soalnya kemeja dan blazernya jadi begitu gara - gara saya.”, Dinda bersikeras.
Setelah beberapa kali berargumen, mereka akhirnya pergi bersama ke toko yang Dinda maksud. Toko kemeja itu memang tidak terlalu jauh. Hanya butuh sekitar 10 menit berjalan, mereka sudah dengan mudah menemukannya.
Awalnya, pria itu menawarkan untuk menaiki mobilnya saja. Tetapi Dinda terus bersikeras kalau letaknya tidak jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sehingga disinilah mereka.
Pria itu dengan cepat memilih sebuah kemeja dan sebuah blazer yang menyerupai warna kemejanya yang terkena tumpahan sisa kopi. Dinda hanya mengamati dan membiarkan pria itu memilih. Saat sudah selesai, pria itu segera bergerak ke meja kasir.
“Pakai ini saja.”, Dinda menawarkan kartu kreditnya pada kasir.
“Ga usah, mba. Gapapa.. Yang penting sudah ditunjukkan tempatnya.”
“Jangan gitu mas, saya jadi gak enak. Ini pakai kartu kredit saya aja.”
“Engga, mba… gesek pakai ini saja, ya.”, ujar pria itu pada kasir dan menepis tangan Dinda yang saat ini sedang memegang kartu kredit. Pria itu tersenyum padanya.
Tapi Dinda tetap bersikeras. Akhirnya, kartu kreditnya juga yang digunakan.
“Terima kasih ya…”, ucap pria itu begitu sampai di luar toko. Dia harus buru - buru kembali ke cafe untuk mengambil mobilnya dan berangkat ke tempat meeting.
“Oiya.. walaupun gak tahu akan ketemu kapan lagi. Saya boleh tanya namanya?”, kata pria itu pada Dinda.
“Aah..”, Dinda masih ragu untuk menyebutkan namanya.
“Dinda…?”, sebut pria itu ragu seolah menantikan kalimat selanjutnya. Terima kasih pada Bianca yang sudah meneriakkan namanya dengan keras.
“Kenalkan, saya Dimas Prasetya.”, pria itu menyodorkan tangannya pada Dinda.
“Dinda Lestari.”, Dinda ragu - ragu membalas jabat tangan pria itu.
“Nama yang cantik. Secantik orangnya. Thank you, ya. Semoga bisa bertemu lagi.”, kata pria itu sambil mengangkat tas belanjanya dan berlalu ke arah cafe.
Dinda hanya tersenyum canggung dari arahnya berdiri.
__ADS_1
‘Orang yang aneh di saat yang aneh.’, ucap Dinda dalam hati.