Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 204 Check-up Rutin Kehamilan Bagian 2


__ADS_3

Akhirnya, Dinda dan Arya sudah sampai di Rumah Sakit Ibu dan Anak. Dinda punya perasaan berbeda kali ini karen dia berhasil ditemani oleh suaminya. Tidak apa - apa musti sendiri. Atau menghabiskan waktu melihat ke pintu masuk menunggu dan menunggu. Kali aja Arya datang.


“Selamat sore Dok, saya sudah reservasi menggunakan apliksi online untuk kontrol rutin kandungan dengan dr. Rima.”, ucap Dinda di meja administrasi ditemani oleh Arya yang berada di sampingnya.


Ini kali pertama Arya menemani benar - benar dari proses awal. Mulai dari mengantar, masuk ke rumah sakit, dan memastikan kembali reservasi di meja administrasi.


Arya masih sangat baru dengan rutinitas ini. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan dirinya bisa melewati proses ini. Bulan lalu dia kesini dengan penuh drama. Saking hektiknya, dia bahkan tidak ingat bagaimana keadaan sekeliling.


Hal yang ada di pikirannya hanya bagaimana dia bisa datang mendampingi Dinda tepat waktu. Jadi begitu tiba, Arya langsung bertanya pada satpam dan wush.


Kali ini dia menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling. Melihat bagaimana proses - proses yang harus dilewati.


“Boleh dibantu QR code nya, Bu?”, ucap pegawai rumah sakit di meja administrasi tersebut.


Dinda langsung memberikan QR code yang sudah dia siapkan tadi. Dinda sudah 3x kesini, dia hapal betul bagaimana proses - prosesnya. Sinyal di rumah sakit ini begitu lemah untuk provider internet yang dimilikinya. Jadi, Dinda sudah harus siap sedia menyimpan screenshot QR Code saat dibutuhkan.


Sembari Dinda memeriksa reservasi, Arya yang berdiri di sampingnya kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia melihat banyak pasangan suami istri yang sedang check-up rutin sama sepertinya.


Di sudut ruangan, dia melihat seorang wanita hamil yang perutnya sudah besar. Kemungkinan sudah 7-8 bulan. Dia tidak ditemani siapa - siapa. Wanita itu sedang meneguk minuman hangat. Arya bisa melihat dengan jelas wanita itu mencoba meniup minumannya.


‘Hah.. seperti itukah Dinda beberapa waktu lalu? Sendiri dikelilingi oleh pasangan - pasangan lain. Aku merasa sangat bersalah.’, ucap Arya dalam hati.


Dia melihat tidak banyak ibu hamil yang datang sendirian. Menjadi minoritas diantara mayoritas tentu saja membuat perasaan merasa kesepian. Apalagi untuk seorang ibu hamil yang lebih sensitif perasaannya.


Arya mengalihkan pandangannya kembali ke arah Dinda yang tersenyum padanya. Untaian senyum itu membuat bayangan - bayangan pertemuan pertama mereka kembali muncul di ingatan Arya.


Bagaimana dia mencoba untuk menolak perjodohan dan meminta Dinda untuk melakukannya. Bagaimana sikap dinginnya di awal - awal pernikahan. Bagaimana dia membentak gadis itu. Bagaimana dia melakukan apa yang tidak diinginkan gadis itu.


Padahal, Dinda datang untuk membantunya. Dinda hadir untuk mengembalikan jati dirinya yang sudah lama terkubur.


‘Apa yang sudah aku lakukan 3 tahun yang lalu? Jika mama tidak seberani itu menjodohkanku. Jika papa tidak bersikeras memaksaku. Mungkin aku bisa kehilangan momen berharga seperti ini. Kehilangan wanita seperti Dinda.’, ucap Arya dalam hati.


“Mas Arya? Mas? Mas Arya?”, Dinda memanggil suaminya yang terlihat melamun. Dan terang saja, pria itu sama sekali tidak bergeming saat ia panggil.


Dinda melambaikan tangannya di hadapan Arya, pria itu tetap tidak bergeming. Akhirnya Dinda meletakkan tangannya di bahu Arya.


“Mas Arya? Sedang melamunkan apa? Masih ada pekerjaan yang belum selesai di kantor?”, tanya Dinda begitu pandangan Arya akhirnya meresponnya.


“Ah.. enggak. Semuanya sudah selesai kok. Aku cuma merasa baru saja dengan rutinitas ini. Sudah? Lalu kita harus kemana? Aku kira langsung saja menemui dokter, ternyata ada prosesnya juga ya”, tanya Arya tersenyum bingung.


Dia belum mengerti urutannya.


“Hehe... Kita tinggal taruh kertas ini di meja depan ruangan dr. Rima dan menunggu dipanggil.", jawab Dinda memegang lengan suaminya dan berbalik berjalan ke arah area ruangan dokter Rima.


“Urutan berapa? Masih lama?”, tanya Arya.


“Kenapa? Mas Arya ada meeting, ya?”, tanya Dinda berusaha senatural mungkin meski dalam hati ketakutan jika Arya benar - benar menjawab ‘Ya’.


Dinda sudah janji untuk tidak menuntut Arya menemaninya. Dia tidak mau keinginannya malah membuat Arya terlibat kecelakaan lagi. Datang atau tidak pun Arya untuk menemaninya kontrol, Dinda sudah merasa dicintai dengan segala perhatian yang diberikan pria itu.


Hampir setiap malam, Arya yang membuatkan susu untuknya. Arya menyempatkan diri untuk membaca dan belajar tentang fase - fase kehamilan. Apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipersiapkan, apa yang perlu diperhatikan. Dia mempelajari semuanya di sela - sela rutinitasnya yang super sibuk.


“Engga kok. Aku cuma mau membelikanmu minuman hangat disana. Sekalian aku juga mau pesan kopi. Kalau kita masih punya banyak waktu.”, kata Arya mengelus - elus bahu Dinda.


“Hm.. masih ada 5 orang lagi di atas kita. Jadi seharusnya masih punya cukup waktu untuk membeli minuman.”, balas Dinda.


“Ya sudah, kamu tunggu disini, ya. Biar aku yang beli.”, lanjut Arya.

__ADS_1


“Mau ikut.”, kata Dinda.


“Tidak usah. Nanti kamu capek. Sudah duduk yang manis disini. Biar aku belikan minumannya. Mau susu? Disana juga ada toko roti. Mau?”, tanya Arya.


“Susu saja mas. Nanti saat pulang baru beli roti.”, jawab Dinda mantap.


Ada sebuah toko roti yang diincarnya di sekitar sini.


“Baiklah.”, ujar Arya berjalan menuju mesin minuman otomatis yang terletak beberapa puluh meter dari sana.


Pria itu mengeluarkan dompetnya dan mencari uang cash. Berdoa semoga dia memilikinya. Semua serba cashless, jadi dia hanya menyimpan uang cash seperlunya saja. Seperti situasi saat ini.


"Oh.. bisa menggunakan aplikasi mobile phone.", ujar Arya saat melihat petunjuk yang ada di mesin penjual minuman itu.


Sementara itu, Dinda duduk di samping seorang wanita. Tidak terlihat ada baby bump di perutnya. Mungkin masih usia - usia awal. Begitu dugaan Dinda.


“Sudah usia berapa?”, tanya wanita itu pada Dinda.


Dinda jarang sekali memulai pembicaraan dengan orang lain yang tidak dia kenal. Tapi, setiap ditanya, dia pasti akan menjawabnya dengan ramah.


“Masuk 4 bulan, Bu.”, jawab Dinda sambil tersenyum.


Sepertinya wanita itu sudah sedikit berumur dibandingkan Dinda bahkan mungkin sudah di atas Arya. Tidak sopan rasanya jika Dinda memanggil ‘Mba’. Jadi dia memutuskan untuk memanggil ‘Bu’.


“Beruntung sekali.”, ujar Ibu tersebut pada Dinda.


Dinda hanya tersenyum membalas ucapannya. Dia bingung mau menjawab apa dan tidak ingin menarik kesimpulan karena takut salah.


“Saya sudah 5 tahun menikah, tapi masih belum di kasih. Saya mau konsultasi untuk program bayi tabung. Saya sudah keliling ke rumah sakit - rumah sakit untuk mencari referensi. Semoga jodoh saya ada di rumah sakit ini.”, ujar Ibu itu pada Dinda.


Wajah Dinda terkejut mendengarnya. Kalau dipikir - pikir, tidak semua orang juga bisa merasakan apa yang dirasakan Dinda saat ini. Tidak semua bisa langsung hamil di tahun pertama pernikahan mereka. Bisa di tahun kedua, tahun ketiga, dan tahun - tahun berikutnya.


Dinda sekali lagi merasa bersyukur karena bisa merasakannya di tahun pertama pernikahan mereka.


Kebetulan, ruang tunggu dokter Rima memang bercampur dengan ruang tunggu dua orang dokter lainnya. Meski dipasang sedikit pembatas, namun tidak terlalu jelas. Sehingga kadang pasien juga mengambil sembarang tempat duduk asal bisa lebih lega.


Apalagi, terkadang mereka juga membawa anak kecil dan orang tua. Perawat dan petugas juga tidak melarang. Sebelumnya Dinda selalu bertemu dengan ibu hamil sama sepertinya. Baru kali ini dia mengobrol dengan pasien yang belum hamil.


"Semoga berhasil ya, Bu. Saya doakan yang terbaik untuk Ibu dan keluarga.", ucap Dinda pada ibu tadi.


“Sayang, ini susunya.”, tiba - tiba Arya yang sudah selesai membeli minuman kembali dan duduk di samping Dinda.


Tak lama, nomor antrian ibu tadi dipanggil dan dia permisi pada Dinda.


Refleks, Dinda memberikan semangat pada Ibu tersebut dan memberikan senyuman mendukung.


“Kamu kenal?”, tanya Arya heran melihat interaksi istrinya dengan orang lain.


“Ohiya, aku lupa tanya namanya.”, kata Dinda menyayangkan dirinya yang lupa bertanya nama.


Siapa tahu kunjungan kontrol berikutnya mereka bisa bertemu kembali.


Dia cukup kaget dengan pengakuan ibu tersebut. Selain merasa simpati, dia tidak berpikir untuk berkenalan sama sekali.


Dinda menoleh ke arah Arya yang masih mengeluarkan ekspresi menunggu jawaban.


“Enggak. Hanya saja, tadi ibunya sempat bercerita kalau dia sudah menikah 5 tahun tetapi belum dikaruniai anak. Dia sedang mencoba program bayi tabung disini.”, jelas Dinda pada Arya yang sudah duduk santai disampingnya. .

__ADS_1


Arya mengangguk - angguk pertanda paham.


'Hn.', respon Arya.


Arya seketika melihat ke arah perut Dinda. Sejak datang ke rumah sakit ini, sudah tidak terhitung jumlah rasa syukur yang dia rasakan. Mendengar cerita tadi, lagi - lagi dia merasa berterima kasih pada sang pencipta yang mengizinkan dia untuk bisa menjadi ayah.


********


“Kenapa Ibu tidak rutin memeriksakan diri kembali ke dokter? Bukankah saya sudah mengatakan kalau saya pindah praktek ke rumah sakit ini dan meminta Ibu untuk rutin memeriksakannya.”, kata  seorang dokter pada Sarah.


“Saya hanya merasa tidak ada yang perlu saya periksakan. Saya tidak sedang hamil dan saya tidak merasa ada masalah dengan tubuh saya.”, kata Sarah penuh percaya diri.


Sarah membuat Dokter hanya bisa geleng - geleng kepala. Bagaimana wanita itu tidak memperhatikan kesehatannya dan hanya melewatkan nasehat darinya begitu saja.


“Lagipula, dokter sudah cukup membantu saya. Saya mengucapkan terima kasih untuk itu. Dan saya mohon dokter berhenti menghubungi saya hanya untuk meminta saya berkonsultasi. Ohiya, sebenarnya saya kesini untuk urusan yang lain.”, balas Sarah bermaksud hendak berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Namun, dokter masih berbicara dengannya.


“Bu Sarah, kalau saja saat itu saya tidak memaksakan diri untuk menghadiri seminar, saya akan menemani ibu menuju rumah sakit dan memastikan Bu Sarah mendapatkan penanganan yang lengkap. Bu Sarah tahu betapa kagetnya saya menerima telepon kalau Bu Sarah pergi begitu saja beberapa hari setelah dirawat disana. Bahkan, perawatannya pun belum selesai. Bu Sarah, saya hanya bisa menyarankan agar Bu Sarah mempertimbangkannya kembali.”, jawab Dokter tadi.


“Saya hanya terjatuh. Dokter langsung memanggil ambulans. Begitu sampai di rumah sakit saya tidak sadarkan diri. Selanjutnya, begitu saya siuman, apa yang saya temukan? Mereka sudah mengambil anak saya. Lalu, untuk apa lagi saya tetap disana? Berharap mereka memasukkan janin saya lagi? Jadi, sudah keputusan yang tepat bagi saya untuk kembali pulang dan tidak menghabiskan waktu disana.”, kata Sarah dengan penekanan.


Dia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini dan pergi. Namun sokter masih terus menahannya. Sejak kembali ke Indonesia, Sarah sudah berulang kali menghindar dan tidak mengindahkan pesan - pesan yang dia terima dari dokter itu.


Sarah berpikir kalau sang dokter mungkin hanya merasa bersalah dengan keputusanya beberapa tahun yang lalu dan ingin menebusnya. Namun, Sarah sudah mengatakan kalau hal tersebut tidak perlu dilakukan. Dokter itu sudah melakukan apapun yang dia bisa saat itu. Tidak ada yang perlu disesali.


Namun, Sarah tidak tahu kalau sang dokter memang mengkhawatirkan kesehatannya. Baik mental maupun fisik. Bukan karena penyesalan atau semacamnya. Dia tahu benar bahwa saat itu sudah menjadi keputusan tepat untuk memanggil ambulans dan menyerahkan pada ahli yang tepat.


“Apa Ibu sudah berbicara dengan suami Ibu?”, tanya dokter tersebut memberanikan diri untuk bertanya. Dia tahu


Sarah sejak pertama kali bertemu sudah bersikap defensif dan tidak ingin ditanya banyak hal. Namun untuk hal yang satu ini, dia perlu menanyakannya agar bisa memberikan saran pada sang suami mungkin. Mereka bisa mendiskusikannya.


“Untuk apa? Lagipula dia bukan suami saya.”, jawab Sarah mengarahkan pandangannya pada jam dinding yang ada di ruangan tadi.


"Mohon maaf, saya mungkin salah. Tapi, waktu itu saya ingat kalau dia mengatakan bahwa dia adalah ayah dari anak yang Bu Sarah kandung.", tanya dokter itu ragu - ragu.


Dia perlu memastikan tapi dia juga tidak ingin Sarah berpikir seolah dia telah melewati batas.


"Haruskah saya menjelaskannya? Saya rasa dokter bisa menyimpulkannya sendiri.", ujar Sarah.


“Oh ya dok, dokter kenal dengan dr. Rima, kan? Kira - kira hari ini dia praktek sampai jam berapa?”, tanya Sarah lagi pada dokter tersebut.


Kali ini dia sudah tidak ingin meneruskan pembicaraan ini.


“Untuk apa? Spesialisasi dr Rima bukan penanganan yang Bu Sarah perlukan saat ini.”, kata dokter itu heran.


“Hanya ada urusan pribadi. Boleh saya tahu? Oke, bulan depan saya akan kesini lagi jika dokter mau?”, kata Sarah membuat seolah - olah dokter itu menyuruhnya kesini, bukan karena dia juga merasa khawatir dengan kondisinya.


“Jadi, sampai jam berapa dr. Rima praktek hari ini?”, lanjut Sarah kembali bertanya.


“Hm.. sekitar 1 jam-an lagi. Mungkin.”, jawab dokter itu saat melihat jam tangannya.


“Baiklah. Saya akan menunggunya di depan ruangan prakteknya.”, kata Sarah bangkit dari duduknya.


“Saya sudah meresepkan beberapa vitamin. Ini adalah psikolog kenalan saya. Dia biasa menangani pasien seperti Bu Sarah. Silahkan kalau Bu Sarah ada waktu.”, kata dokter itu.


“Kenapa saya harus kesana?”, tanya Sarah.

__ADS_1


“Saya hanya menyarankan karena sepertinya saya merasa Bu Sarah juga menderita trauma pasca keguguran. Saya berharap Bu Saran mengikuti saran saya.”, ujar dokter itu menuliskan beberapa hal di buku laporan atas pasien bernama Sarah dan memindahkannya ke sebelah kanan setelah selesai.


“Huh.. tidak penting sekali. Kenapa aku harus trauma untuk kehamilan yang tidak aku inginkan sama sekali? Gara - gara kehamilan itu aku bercerai dari Arya.”, gumam Sarah sambil keluar dari ruangan dokter itu.


__ADS_2