Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 220 Kesempatan


__ADS_3

“Kamu nge - gym disini?”, tanya Arya saat dia baru saja selesai berganti pakaian dan ingin berjalan menuju mesin treadmill.


“Oh.. saya tidak menyangka bisa melihat Pak Arya disini. Saya kira tadi langsung pulang.”, ujar Susan.


Ya, dia adalah wanita yang ditemui Arya di Rumah Sakit sekitar satu jam yang lalu. Arya baru akan masuk ke dalam tempat Gym saat Susan menyapanya. Wanita itu baru masuk dan sedang menuju ke ruang ganti untuk wanita.


“Cepat sekali sudah sampai kesini. Rasanya saat saya keluar, kamu baru saja datang menjenguk.”, Arya melontarkan pertanyaan ini dengan santai.


Dia heran kenapa Susan sudah tiba disini padahal saat bertemu, dia baru saja datang di rumah sakit. Bahkan belum mencapai lantai kamar tempat Pak Teddy dirawat.


Tapi, Arya tidak begitu serius menanyakan nya. Dia tidak begitu tertarik. Pertanyaan ini murni hanya basa basi nya saja. Di sisi lain, tidak untuk Susan yang sedikit gugup. Dia takut Arya curiga kalau sebenarnya Susan tidak jadi menjenguk dan mengikutinya kesini. Entah untuk apa.


Begitu sadar, Susan sudah di dalam mobil mengikuti arah mobil Arya melaju.


Flashback saat masih di rumah sakit


“Oh? Yah.. kenapa bisa lupa sih. Daripada menunggu Senin, lebih baik aku tanyakan sekarang agar semua bisa bergerak dengan cepat. Hm.. belum jenguk Pak Teddy. Bagaimana ya? Ah.. aku susul Pak Arya sebentar saja. Nanti kembali lagi. Dia juga pasti belum jauh.”, ujar Susan. 


Akhirnya, alih - alih meneruskan perjalanannya menuju kamar tempat Pak Teddy dirawat, Susan malah kembali turun ke bawah untuk menyusul Arya. Tak lama, setelah mengedarkan pandangan ke segala arah, Susan berhasil untuk menemukan keberadaan bosnya itu. 


Susan berlari kecil karena di lobby utama terlalu banyak orang. Dia tidak bisa langsung berlari saja, khawatir menabrak orang lain. Apalagi ada juga pasien yang dengan kursi roda dan berjalan dengan selang infus di tangan mereka. 


Susan ingin memanggil, tetapi dia mengurungkan niatnya karena takut menarik perhatian orang yang ada disana. Plus, takut dimarahi juga. Masa berteriak di tempat seperti ini. Akhirnya dia hanya bisa mempercepat langkahnya sebisa mungkin.


Di lorong depan, ternyata Arya mengambil berbelok ke sebelah kiri ke lobby khusus pengambilan obat untuk penyakit tertentu. Susan masih mengikuti. 


Sampai saat Susan ikut berbelok ke sebelah kiri dan berhenti. Dia terkejut melihat Arya dengan seorang wanita. Arya melingkarkan tangannya sebentar sambil mencium lehernya singkat. 


‘Hayuk.’, Susan bisa mendengar suara Arya mengatakan kata itu dengan nada yang berbeda dari biasanya. 


‘Mas Arya sudah selesai?’, tanya wanita itu pada Arya. 


Tadinya, Susan tak melihat wajah wanita itu sampai saat dia menoleh sedikit karena berusaha menggeser lengan Arya yang sepertinya memberatkannya. Namun Arya kembali melingkarkan nya dan wanita itu hanya bisa menyerah. Susan juga bisa mendengar tawa renyah dan senyum lebar Arya dari samping. 


Sesuatu yang hampir tidak pernah dia lihat kalau di kantor. 


‘Apakah itu istrinya?’, bathin Susan dalam hati. 

__ADS_1


Tanpa sadar dia terus mengikuti mereka. Dan dia baru sadar kalau sudah setengah jalan dan bingung apa yang sudah dia lakukan. 


‘Untuk apa aku mengikuti Arya? Oh tidak, Susan. What the hell are you doin’?’, ujar Susan dalam hati. 


Meski dia terus mempertanyakan dirinya yang terus mengikuti Arya, Susan tetap saja tidak berniat untuk berhenti sampai boom. Saat dia melihat keduanya berpisah di sebuah restoran Mall, Arya naik ke atas. 


Kali ini, Susan bisa melihat dengan jelas wanita yang tadi mesra dengan Arya. 


‘Wanita itu? Bukannya dia anak Digital and Development, ya? Ya ya.. Aku ingat sekarang. Sepertinya aku pernah melihatnya sekilas saat Team Building beberapa bulan yang lalu. Anak team sebelah juga nampak bersemangat membicarakannya.’, kata Susan dalam hati.  


‘Dinda? Iya, betul namanya Dinda. Aku ingat sekarang. Dan di telpon itu Arya juga bilang Dinda. Ternyata benar Dinda yang ini. Bukan sebuah kebetulan, bagaimana mungkin?’, saat Susan sibuk berpikir, Arya sudah terlihat naik elevator. 


Susan mengalihkan perhatiannya dari Dinda, mengambil jalan memutar dan mengikuti Arya dari belakang. Dia kemudian melihat Arya masuk ke tempat gym. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Susan menunggu sekitar 15-20 menit, sebelum masuk ke dalam tempat gym. 


Flashback selesai


Susan, wanita itu awalnya tidak menyukai Arya. Mereka berteman dan apa yang dilihatnya dari Arya adalah hanya sebatas teman. Namun, Susan perlahan merasakan hal yang berbeda lewat interaksi mereka. Terlebih saat dulu Arya masih bersama dengan Sarah.


Entah kenapa setiap kali dia sedang berdiskusi dengan Arya, atau sedang mengatakan pertemuan di luar, dia mulai merasa cemburu saat Sarah mulai masuk. Inner nya berkata seolah Sarah masuk diantara mereka berdua.


Dan puncaknya adalah saat Arya menginformasikan tanpa sengaja di sebuah kesempatan bahwa dia dan istrinya sudah bercerai beberapa waktu yang lalu.


Susan seolah merasa mendapatkan kesempatan baru dan mungkin bisa masuk kembali dalam kehidupan Arya. Saat itulah saingannya seperti Suci dan beberapa karyawan lainnya mulai menjamur.


Susan tentu akan tetap menjadi sahabat Arya dalam pengertiannya sendiri. Namun, dia seperti berperang dan tidak ingin kalah dengan dirinya yang terus mengatakan kenapa dia harus terus menjadi yang tak pernah melewati batas status itu. Kenapa dia yang selalu harus melepaskan perasaan itu.


Mungkin sekarang adalah saatnya dia mencoba.


“Haha iya, aku biasa nge-gym disini.”, ujar Susan.


“Oh, sungguh? Bukankah tempat ini lumayan jauh dari apartemen kamu? Pindah apartemen kah?”, tanya Arya sambil melakukan pemanasan sebelum memulai aktivitas rutinnya setiap 3-4 kali sepekan. Satu kali di tempat gym dan 3x di rumah.


“Umm…”, Susan bingung mau menjawab apa.


“Anyway, saya mulai dulu ya.”, kata Arya begitu pemanasannya selesai. Dia tampak tidak tertarik dengan jawaban Susan.


“Ah.. oke.”, ujar Susan.

__ADS_1


********


Beberapa hari kemudian.


“Kenapa mengajak saya bertemu? Saya rasa saya tidak punya urusan dengan mba Sarah.”, ucap Dinda menjaga jarak dari Sarah.


Kemarin dia menghubungi Dinda dan mengajaknya untuk bertemu. Dinda sudah menolak, namun entah bagaimana, wanita itu berhasil merayunya untuk bisa bertemu.


“Shu Shu Shu… tunggu dulu. Kenapa buru - buru? Aku sudah bilang kan, hari ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir. Aku hanya ingin memperbaiki kesan pertemuan kita. Mau masuk dulu? Kamu sedang hamil, kan? Tidak baik wanita hamil berdiri terlalu lama. Aku pernah merasakannya.”, ujar Sarah.


Dinda kaget bagaimana Sarah bisa mengetahui kalau dirinya hamil. Setahunya, yang mengetahui itu hanya keluarga dan mas Arya. Dimas? Dinda tidak ingat kalau Dimas tahu dia sedang hamil. Jadi, dari mana wanita itu bisa tahu kalau dirinya sedang hamil.


‘Mas Arya? Tidak mungkin. Aku yakin mas Arya sudah tidak pernah bertemu dengan wanita ini lagi. Ah.. kenapa setiap kali aku memikirkan kata - kata wanita ini, otakku seperti tercuci. Sebaiknya aku tidak terlalu mempedulikannya.’


Sarah menggerakkan alisnya kembali memberikan kode pada Dinda untuk masuk ke dalam Cafe agar mereka bisa berbicara disana. Dinda menghela nafasnya sebelum akhirnya mengikuti wanita ini masuk.


“Saya pesan Chamomile. Kamu mau pesan apa?”, tanya Sarah tersenyum pada Dinda.


“Tidak terima kasih.”, jawab Dinda menggeleng.


Dia tidak berencana untuk berlama - lama disini. Dia mengambil waktu makan siangnya untuk bertemu wanita ini. Sarah juga menjanjikan hanya bertemu sebentar dan untuk terakhir kalinya.


Dia juga mengatakan akan menemui langsung di kantornya jika Dinda tidak bersedia. Tentu saja akan jadi pemandangan yang aneh jika tiba - tiba Sarah menemuinya di kantor. Apalagi dia memilih waktu yang tepat, saat Arya sedang meeting di luar seharian.


Mungkin itu yang membuat Dinda akhirnya mengiyakan ajakan wanita ini..


“Mba, maaf. Tapi aku tidak bisa berlama - lama. Jadi, apa yang ingin mba Sarah sampaikan sebenarnya?”, tanya Dinda.


“Tenang dulu. Kita masih punya banyak waktu. Kamu harus kembali jam 1 siang, kan? Tenang saja. Intern juga boleh kok kembali pukul 1.30. Tidak masalah.”, ucap Sarah yang terdengar seperti meremehkan Dinda yang hanya seorang intern.


Dinda tidak berkomentar.


“Jadi, bagaimana hidup sebagai istri Arya Pradana? Ah salah - salah. Mungkin pertanyaannya aku ganti menjadi, bagaimana hidup bersama seorang Arya dan kesibukannya?”, tanya Sarah tersenyum penuh arti.


“Seru? Menyenangkan?”, lanjut Sarah dengan pertanyaannya.


“Maaf, sepertinya saya salah memutuskan untuk bertemu dengan mba Sarah disini.”, ujar Dinda berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


__ADS_2