
Akhir pekan akhirnya datang. Dinda sudah menghitung satu per satu hari untuk menantikan hari ini. Akhir pekan kali ini akan menjadi akhir pekan yang berbeda untuk Dinda karena pertama kali sejak menikah dia menginap di rumahnya.
Dinda tidak bisa mengungkapkan betapa rindunya dia dengan kamarnya yang dulu. Dua hari sebelum acara pernikahan, Dinda sudah tinggal di rumah Inggit. Bahkan, pakaian dan beberapa barang - barang Dinda sudah diangkut seminggu sebelumnya.
Dinda sangat merindukan kamarnya, bundanya, dan juga Arga, adiknya. Hari ini masih hari Jum’at tetapi segera setelah pulang kantor nanti, mereka akan langsung ke rumah Dinda. Dinda sudah mengepak beberapa baju miliknya dan Arya untuk menginap selama dua hari hingga hari minggu nanti.
Kali ini Dinda yang mengepak pakaiannya sendiri. Dia tidak lagi percaya dengan Bi Rumi karena pasti selalu saja ada pesan - pesan sponsor dari Inggit. Entah itu memasukkan lingerie atau sejenisnya.
“Kamu terlihat sangat senang sekali hari ini?”, ujar Dimas yang sudah sejak kapan berada di sampingnya.
Dinda dan teman - teman satu divisinya sedang menikmati waktu makan siang mereka di sebuah restoran di dalam Mall dekat dengan kantor mereka. Delina, Fas, dan yang lainnya sedang mencari barang sementara Dinda diminta untuk menunggu pesanan mereka.
Jum’at menjadi waktu hunting yang paling berharga untuk para pekerja kantoran. Mereka akan berbondong - bondong memenuhi restoran di Mall terdekat. Jadi, sudah jadi trik penting untuk datang dan memesan terlebih dahulu.
Karena mereka tidak bisa menghabiskan waktu terlalu banyak, jadilah sekarang Dinda menjadi satpam pesanan mereka di restoran. Kebetulan Dimas juga sedang menikmati makan siangnya.
“Oh Dimas, kamu sedang apa? Saya sampai kaget.”, kata Dinda pada Dimas.
Pria itu menyapa Dinda tapi sambil terus celingak - celinguk seperti menunggu kehadiran seseorang.
“Aku kira kamu bukan tipe yang sering hangout makan bareng ke luar seperti ini.”
“Oh enggak, aku sering kok jalan keluar bareng teman - teman kantor.”, balas Dinda.
“Tumben, tidak bareng Suci dan Andra.”, tanya Dimas.
“Ah.. mereka ada janji dengan teman yang lain di Mall Z.”, jawab Dinda.
“Oh, aku kira hubungan mu dengan mereka sedang tidak baik.”, ujar Dimas blak - blakan.
“Haha.. mereka memang seperti itu. Tapi, karena kita bekerja di tim yang sama. Harus tahan - tahan. Haha.”, jawab Dinda menyelipkan sedikit curhatannya disana.
Ya. Meskipun beberapa kali Suci, Andra, atau siapa pun bercanda atau sedikit keterlaluan, mereka harus tetap akur karena mereka berada di tim yang sama. Seseorang harus mengalah. Jika tidak, mungkin dia sudah menyerah hanya di bulan pertama masa internnya.
“Mba, pesanan yang ini ditaruh dimana?”, tanya seorang pramusaji yang membawa dua buah pesanan. Dinda dengan cekatan memberitahunya dimana harus menaruh pesanan itu.
Dimas sedikit menepi karena dia seperti menghalangi pramusaji itu. Saat Dinda sibuk menata pesanan yang datang, seorang wanita datang melambai ke arah Dimas. Wajah Dimas sedikit berubah. Dia kira wanita itu tidak datang secepat ini.
“Dimas, aku kira kamu tidak mau menerima ajakanku kesini.”, ujar wanita itu.
Dinda menoleh sedikit karena mendengar nama Dimas dipanggil oleh seseorang. Namun, Dimas sedikit menghalangi jarak pandang Dinda seolah tak ingin gadis itu melihat siapa yang ada di depannya.
“Yuk.. memang kita mau makan disini?”, tanyanya pada Dimas.
“Aah engga - engga. Aku hanya ingin menyapa seseorang.”, balas Dimas.
“Oh siapa?”
“Bukan siapa - siapa. Ayo..”
__ADS_1
“Bukan siapa - siapa kenapa kamu menyapa.”, ujar wanita itu. Namun dia tak terlihat tertarik untuk mengetahui siapa yang disapa Dimas.
Dimas segera beranjak dari tempatnya berdiri dan mengajak wanita itu untuk keluar dari restoran. Meski Dimas sudah berusaha menghalangi jarak pandang Dinda, tetapi Dinda tetap bisa melihat wanita itu sekilas.
Dinda sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Wanita itu tersenyum padanya.
“Siapa itu? Pacar barumu? Kenapa kamu tidak mengenalkannya?”, wanita itu berbalik ingin menyapa Dinda karena merasa penasaran.
Sebaliknya, Dinda hanya bisa mematung melihat wanita itu ada di depannya. Dinda merasa terintimidasi meski tak pernah melihatnya sebelumnya secara langsung.
“Ahh tidak - tidak. Aku sudah sangat lapar. Lebih baik kita pergi sekarang.”, Dimas akhirnya menyeret wanita itu menjauh.
‘Sarah? Dia Sarah, kan? Mantan istri mas Arya?’, gumam Dinda dalam hati.
*****
From: Abang Ojol
Din, saya masih meeting, tunggu sebentar ya. 30 menit lagi harusnya selesai.
Sudah hampir sejam yang lalu waktu pulang kantor. Mereka sudah berencana untuk menginap di rumah Dinda hingga hari Minggu. Sayangnya, Arya kembali terjebak dengan beberapa meeting. Ini sudah pesan kedua yang Dinda terima setelah satu jam yang lalu Arya mengatakan ada meeting.
“Din, kamu belum pulang? Tumben, memangnya kamu masih ada kerjaan?”, tanya Suci yang sudah mengemas barang - barangnya. Hanya tinggal mereka berdua di area divisi Digital and Development. Andra dan Bryan baru saja turun sementara Delina sudah dari sejam yang lalu karena dia ada janji bersama teman - temannya.
“Sebentar lagi mba. Aku nunggu macetnya selesai biar pulangnya lancar.”, bodohnya Dinda tidak mempersiapkan jawaban yang pas.
“Menunggu macetnya selesai? Memangnya sebelumnya kamu pernah nunggu macet? Kayanya kalau mau pulang main pulang aja. Ya sudah kalau begitu, aku duluan ya.”, ujar Suci segera berlalu.
“Din, hayuk.”, ujar Arya mengagetkan konsentrasinya.
“Pak Arya?”, Dinda langsung celingak celinguk ke kiri dan ke kanan, takut kalau - kalau ada yang melihat. Dia memberikan tatapan tak percaya pada Arya yang memanggilnya.
‘Apa - apaan sih mas Arya.’, gerutu Dinda dalam hati. Dia takut sekali ada yang melihat mereka.
“Sudah tidak ada orang disana. Sudah kosong. Hayuk.”
“Kalau tiba - tiba ada yang lihat gimana? Kali aja ada yang balik lagi tapi Pak Arya gak tahu.”, protes Dinda sambil berbisik.
“Kamu sudah dua kali manggil ‘Pak’ ya. Mau saya hukum di rumah bunda?”
“Ih apaan sih. Lagian ini masih di kantor.”, Dinda masih berbicara dengan volume yang sangat pelan.
“Kalau ada yang lihat, tidak akan ada yang bertanya. Paling mereka mengira kita berpapasan. Hari Jum’at dan sekarang sudah jam 8. Tidak ada orang di kantor.”, Jelas Arya.
Dinda hanya bisa diam. Dia segera mengambil tasnya dan berjalan mengikuti Arya menuju lift.
“Hm.. macet ga ya. Kamu mau makan dulu, ga?”, Tanya Arya. Mereka sudah sampai di mobil.
Seperti kata Arya, kantor memang sudah sepi. Jikalaupun ada orang, pasti orang dari kantor yang berbeda.
__ADS_1
“Bunda sudah siapkan makanan. Kita makan di rumah saja, mas.”
“Sekarang sudah jam 8, kasihan bunda kalau harus menyiapkan makanan.”
“Gapapa kok, mas.”
“Tapi kita bisa sampai jam 12 malam, loh Din. Mending kamu suruh Bunda tidur duluan. Macet soalnya.”
Dinda mengangguk. Dia mengerti kekhawatiran Arya yang merasa tidak enak jika bundanya harus menunggu mereka. Dinda akhirnya mengirimkan pesan pada Arga untuk meminta mereka tidur terlebih dahulu jika mengantuk.
Bunda mengatakan melalui pesannya pada Arga kalau makanan sudah disiapkan, mereka bisa menikmatinya begitu sampai. Dinda tersenyum membaca pesan itu. Tak terasa bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Dinda mengingat masa - masa dirinya sebelum menikah. Biasanya Dinda akan menonton di kamarnya dan bundanya masuk untuk mengingatkan makan malam. Dinda tak lagi bisa mendapatkan perhatian itu setiap hari.
“Kamu kenapa nangis?”, tanya Arya yang menyadari gadis itu menangis.
“Kangen aja sama rumah.”, jawab Dinda jujur.
“Maaf ya, saya gak bawa kamu ke rumah lebih awal.”
“Gapapa mas. Saya sudah berterima kasih mas Arya mau menginap di rumah saya yang lebih kecil.”
Arya tidak membalasnya.
Mengarungi kemacetan membuat pikiran Dinda melanglang buana kemana - mana. Matanya belum mengantuk dan menonton di ponsel membuatnya pusing. Dinda berpikir tentang PR proyeksi karirnya dari Arya, mengingat beberapa pekerjaan kantornya, tim building, makan - makan, dan lainnya.
Ingatan itu masuk satu per satu saat Dinda memandangi suasana malam dari balik kaca mobil. Tatkala Dinda kembali mengingat pertemuannya dengan Sarah tadi. Dinda sudah pernah melihat foto Sarah sebelumnya di apartemen Arya. Dia tahu benar bagaimana rupa wanita itu.
Melihatnya tadi membuat Dinda seketika membeku. Berbagai perasaan muncul di dadanya. Kagum, cemburu, penasaran, dan masih banyak lagi. Cemburu meski dialah istri Arya sekarang.
‘Kenapa perasaanku aneh saat bertemu Sarah? Kenapa rasanya sangat tidak nyaman?’
Meski Arya sudah menunjukkan memberikan komitmennya untuk menjalankan pernikahan ini dengan serius, meski Arya sudah mulai perhatian, meski Arya sudah bersikap manis lewat skinship yang sering ia berikan, tapi Dinda belum pernah mendengar Arya mengatakan dia menyukai gadis itu, atau kata - kata sejenis.
Dinda sadar dia tak bisa mengharapkan Arya untuk jatuh cinta padanya. Karena dia pun belum yakin pada perasaannya. Sehingga, Dinda merasa sangat tidak nyaman saat melihat Sarah, wanita yang jelas - jelas pernah jadi bagian dari hidup Arya. Wanita yang pernah dia cintai atau bahkan mungkin hingga kini masih pria itu cintai.
Saat memikirkan itu, Dinda mengarahkan pandangannya pada Arya.
‘Apa benar yang dikatakan Bianca kalau aku mulai menginginkan pria ini?’
“Kenapa melihat saya sebegitunya? Terlalu ganteng?”, Canda Arya.
“Mas Arya, kalau nanti suatu waktu saya berpapasan atau tanpa sengaja bertemu dengan Mba Sarah, bagaimana?”, Dinda seperti melemparkan bola panas.
Kata ‘Sarah’ menjadi kata paling sensitif diantara mereka. Ekspresi Arya langsung berubah mendengar nama wanita itu disebutkan. Alhasil, Arya tidak menjawab pertanyaan Dinda dan lanjut fokus menyetir mobilnya.
Dinda merasakan perubahan ekspresi dan sikap dari Arya. Dia menggigit bibir tipisnya dan menyesal sudah menyebut nama itu lagi.
‘Bodoh. Kenapa aku harus menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.’, ujar Dinda.
__ADS_1
“Saya harap kamu tidak pernah bertemu dengannya. Dan jangan menyebut namanya lagi di depan saya.”, ujar Arya dengan nada tegas dan suara bariton yang berat.
Ingin sekali Dinda bertanya apakah pria itu masih mencintainya. Tapi Dinda mengurungkan niatnya karena hal itu hanya akan menimbulkan pertengkaran.