
Tak terasa matahari sudah semakin tinggi dan para karyawan sudah siap untuk menjalani tim building di hari kedua. Kali ini, mereka akan melakukan wisata Pulau di sekitaran Lombok. Mungkin hanya satu pulau saja yang akan mereka datangi.
Pada acara kali ini, mereka tidak akan berjalan dalam tim. Hal ini tentu membuat beberapa orang kecewa. Tidak lagi misi kelompok, mereka akan mendapatkan misi pribadi di pulau atau perjalanan menjelang pulau.
Misi kali ini sangat menarik karena siapa saja yang menang dalam misi ini bisa mendapatkan voucher fine dining di restoran bintang lima. Mereka juga akan mendapatkan free hotel voucher untuk stay selama satu malam plus 1 tambahan cuti diluar jatah cuti yang mereka punya.
Hadiah seperti ini sudah cukup membuat para karyawan level Manager ke bawah berapi - api untuk bisa memenangkan misi.
Setiap karyawan sedang menunggu gilirannya untuk menaiki kapal. Tentu saja, karena tidak ada misi tim, karyawan mulai berkumpul pada circle mereka masing - masing. Dinda, Delina, Andra, dan Bryan sudah menempel dari tadi satu sama lain.
Mereka juga ikut mengantri karena kebanyakan tim Business and Partners jalan duluan.
“Hm.. saya paling belakang saja. Yang lain masuk duluan.”, kata Arya saat Siska memberikan kode padanya untuk masuk ke dalam kapal.
Arya menolak karena ia melihat Dinda masih di antrian paling belakang. Agar bisa berada satu kapal dengan gadis itu dan memastikan dia aman, Arya tentu saja harus berada dalam satu kapal dengannya. Apalagi, jarak keberangkatan satu kapal dan kapal yang lain berbeda sekitar 20 menit.
“Oh.. kenapa Pak? Saya kira Bapak mau sampai lebih dulu.”, tanya Siska sedikit heran.
Pada acara tim building yang lalu, Arya selalu meminta paling pertama masuk karena dia ingin paling pertama tiba dan menghabiskan waktunya melihat email, membaca dokumen, dan lain - lain.
Tapi sekarang dia malah meminta untuk masuk belakangan. Hal yang tak biasa dari bosnya. Begitu pikir Siska.
“Yang di belakang, Delina, Bry, Din, guys… kalian bisa masuk kapal yang ini ya, biar campur antara tim Business and Partners dan Digital and Development.”, kata Siska kemudian yang langsung mengagetkan Arya.
‘Bukannya orang yang masuk berdasarkan antrian, kenapa dia malah memasukkan orang yang antriannya di belakang lebih dulu.’, kata Arya bertanya - tanya dalam hati.
Dinda mengikuti yang lain maju ke depan. Delina memperbaiki letak topinya sebelum berjalan mengikuti Bryan dan Andra.
“Oiya, Suci mana? Kok dari tadi ga kelihatan. Apa dia masih belum sadar dari mabuknya.”, tanya Delina kaget dan bingung karena dari sarapan tadi mereka belum melihat keberadaan Suci sama sekali.
“Hush.. jangan keras - keras suaranya.”, ujar Andra.
Meskipun pria itu tukang gosip, tetapi dia selalu takut kalau - kalau ketahuan oleh Pak Arya. Padahal Arya sendiri tak mempermasalahkan hal seperti itu sama sekali. Jika karyawannya memang mau ada acara pribadi atau bebas selama tim building, dia tak ambil pusing. Lagipula, mereka juga sudah dewasa.
“Coba WhatsApp dia dan beritahu kalau kita ada di Kapal pertama.”, teriak Bryan yang sudah hampir mencapai kapal.
Satu per satu naik dengan perlahan - lahan karena terdapat jarak antara bagian pinggir pelabuhan kapal dan kapal itu sendiri.
“Sis, saya jadi naik yang ini aja.”, kata Arya kemudian menyikut Siska.
Dia merasa tidak enak karena beberapa saat yang lalu sudah meminta untuk tidak naik yang ini dan sekarang malah naik kapal yang ini. Meskipun Arya seorang bos, terkadang jika dia mengetahui tindakannya salah, dia juga merasa tidak enak.
‘Pak Arya aneh banget.’, pikir Siska dalam hati.
Saat Arya akan naik ke kapal, dia melihat ke belakang melihat Dinda juga akan naik ke atas kapal. Dengan refleks, Arya mengulurkan tangannya menawarkan bantuan pada Dinda yang merasa kesulitan karena ombak yang menggoyang kapal tersebut.
“Oh.. ga usah Pak Arya. Terima kasih.”, jawab Dinda sopan.
Di dalam hati, sudah lama dia tidak berinteraksi dengan Arya di depan orang lain sehingga dia merasa canggung untuk mengganti mode dan gaya bicaranya dengan mode formal. Arya terlihat menyunggingkan senyumnya karena melihat ekspresi Dinda yang lucu saat ini.
“Gapapa, pegang saja. Justru makin repot kalau kamu terjatuh.”, balas Arya sambil menyunggingkan senyum jahilnya.
Dia jelas - jelas sengaja menggoda Dinda dan Dinda mengetahui itu namun ia tidak bisa menunjukkan reaksinya karena ada orang lain disana.
Arya kembali memberikan kode dengan matanya dan uluran tangannya agar Dinda menggapainya. Tentu saja gadis itu tidak memiliki pilihan lain. Akan terlihat aneh jika dia terus menolak Arya.
Karyawan wanita di antrian belakang sudah berbisik - bisik greget dan berharap ada di posisi Dinda saat ini.
“Hm.. kalo aku, tidak perlu sampai menunggu Pak Arya untuk bertanya dua kali.”
“Itu karyawan Digital and Development, kan? Dia yang memberikan training smart report pada kita?”
“Iya.. anak intern tapi terlihat akrab sekali dengan Pak Arya. Beruntungnya… Bahkan anak intern sebelum - sebelumnya tidak ada yang se-akrab itu dengan Pak Arya.
Dinda sudah memegang telapak tangan Arya dan berjalan hati - hati untuk sampai ke kapal. Namun, gelombang mulai menerjang dan mempengaruhi gerak kapal. Menyadari hal itu, Arya segera menarik Dinda yang masih bengong karena goyangan kapal.
“Hukkk… “, Dinda terkejut sesaat setelah dirinya masuk ke dalam pelukan Arya karena efek dari tarikan pria tersebut.
Jika saat ini hanya ada mereka berdua, Dinda mungkin tidak akan merasa keberatan. Tetapi, teman - temannya sudah melirik - lirik dari sisi kapal dan karyawan lain dari sisi pelabuhan yang seperti berbisik - bisik.
__ADS_1
“Sa…Ehem… Kamu gapapa?”, tanya Arya hampir saja keceplosan karena dia juga kaget begitu gelombang tiba - tiba datang. Dia khawatir Dinda kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Aah… Iya Pak. Iya, saya tidak apa - apa. Terima kasih atas bantuannya.”, ujar Dinda sedikit mendongak melihat ke arah Arya.
“Okay..”, kata Arya seolah meminta Dinda untuk melepaskan pelukannya. Kemudian dia menyunggingkan senyum jahilnya dengan sengaja pada Dinda.
‘Kalau hanya kita berdua, aku tidak menolak jika kamu memelukku lama.’, kata Arya dalam hati.
“Oh Oh.. iya Pak.. maaf.”, jawab Dinda kemudian melipir mendekat ke teman - temannya.
“Sis, kamu yakin kita masih bisa berlayar di cuaca seperti ini. Dari tadi anginnya lumayan dan gelombangnya juga terasa jelas sampai sini. Bahkan, kita belum berangkat, loh.”, kata Arya kemudian pada Siska dengan setengah berteriak karena dia berada di luar kapal.
“Iya, Pak. Saya coba tanyakan ke petugasnya ya, Pak.”, balas Siska.
“Iya, coba kamu tanyakan dan pastikan. Satu lagi, pelampung jangan lupa, ya. Saya sudah pesan agar SOP keselamatan tetap dijalankan dan bukan hanya formalitas saja. Jadi, semua yang ada disini harus mengenakan pelampung.”, perintah Arya.
“Baik, Pak. Untuk pelampung sudah disiapkan di dalam. Nanti ada petugas yang memberikan instruksi lebih detail.”
“Oke..”, kata Arya.
Arya masuk ke dalam kapal. Setelahnya ada beberapa orang dari tim Business and Partners yang juga masuk. Kapasitas kapal ada sekitar 30 - 35 orang.
“Wah.. Din, bagus banget kapalnya. Fotoin aku dong.”, ujar Delina pada Dinda. Mereka tidak langsung masuk ke dalam bagian inti kapal tetapi berjalan - jalan di pinggirnya.
“Sini, mana ponselnya mba. Biar aku yang foto.”, ujar Dinda pada Delina.
Tidak hanya mereka yang sudah mulai mengeluarkan ponsel untuk foto - foto, tetapi yang lain juga sudah mulai mengeluarkan ponsel mereka satu persatu.
Arya hanya melihat aktivitas itu. Dia juga mengeluarkan ponsel tapi alih - alih mengambil foto, dia sedang memeriksa emailnya.
‘Baiklah. Hari ini tidak ada email dan pekerjaan urgent dari regional yang masuk. Kalaupun ada sepertinya aku masih bisa mengerjakannya malam ini. Berarti setidaknya satu hari ini bisa bersenang - senang.’, ujar Arya dalam hati setelah memeriksa ponselnya.
Arya menatap lurus ke arah gerombolan Dinda, Bryan, Andra, dan Delina yang masih sibuk berfoto ria.
‘Ah.. para cecunguk itu. Si Bryan sepertinya sudah beberapa kali aku bilang untuk tidak dekat - dekat. Kenapa dia malah berdekatan.’, kata Arya sedikit emosi saat melihat mereka berfoto bersama.
“Kenapa pindah Din, sudah disini saja.”, kata Andra yang mengambil posisi di sebelah kirinya, dan Bryan di sebelah kanan.
“Aneh aja. Lebih bagus kalau posisinya dua cewe dan dua cowo.”, kata Dinda menjelaskan.
“Permisi, Pak Arya. Bisa kita berfoto bersama.”, kata seseorang di divisi Business and Partners.
Dia mewakili beberapa orang disana untuk bertanya pada Arya apa mereka bisa mengambil foto khusus untuk divisi itu. Arya mengangguk dan segera mengambil posisi yang tepat. Tak lama berselang Erick masuk. Kemudian, di belakangnya ada Suci yang ternyata sudah sampai di pelabuhan.
Teman - teman yang melihatnya langsung antusias dan memanggil Suci.
“Morning, Pak Arya. Kenapa kamu meninggalkanku pagi ini.”, kata Erick yang merasa dikhianati.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Erick sudah mengatakan pada Arya untuk menunggunya di lobi karena dia ingin menyelesaikan businessnya di kamar mandi. Tetapi pria itu malah meninggalkannya.
Saat sudah selesai, dia melihat Suci yang masih kebingungan dan akhirnya pergi bersama kesini.
“Kamu lama sekali.”, balas Arya singkat.
Padahal, Arya meninggalkan Erick karena dia juga menjaga jaraknya agar tetap selalu berdekatan dengan Dinda. Namun, dia membuatnya berjalan dengan wajar tanpa ada siapapun yang curiga. Terkadang dia mengangkat diskusi dengan tim-nya atau tim Digital and Development sembari berada tetap di jarak yang pas dengan Dinda dan gengnya.
“Korban kamu yang kesekian.”, kata Erick melirik pada Suci yang wajahnya sudah sangat lesu.
“Maksud kamu?”, kata Arya tidak mengerti dengan maksud Erick.
“Sepertinya dia sudah tahu hubungan kamu dengan Dinda. Aku tidak pernah melihat ekspresinya se-down itu. Aku kira dia cuma menyukaimu seperti rasa suka biasa. Dia juga sudah punya pacar. Tak kusangka, dia langsung ‘demote’.”, jelas Erick.
“Ada banyak alasan untuk orang ‘demote’. Darimana kamu tahu kalau dia sudah tahu? Dia mengatakannya padamu?”, tanya Arya.
“Pagi ini dia tiba - tiba bertanya, bagaimana jika ada dua karyawan dalam satu divisi terlibat hubungan spesial? Apa seharusnya salah satu dari mereka harus keluar?”, ucap Erick mengulangi pertanyaan Suci pagi ini padanya.
“Saat dia mengatakan hal itu. Aku sudah tahu kalau yang dimaksud adalah kamu. Apa dia melihat kalian? Aku bingung, kamu berusaha menyembunyikannya tapi malah mengundang Dinda ke kamarmu.”, kata Erick.
“Aku yang mengatakannya sendiri pada Suci jadi kamu tidak perlu khawatir. Lebih baik mematahkannya sekarang daripada nanti. Aku tidak bisa menemukan cara lain karena perlu kamu tahu ini bukan pertama kalinya aku memperjelas diriku pada Suci. Jika semua yang sudah aku katakan tidak masuk ke dalam pikirannya. Memberitahu statusku menjadi satu - satunya jalan agar dia tidak terus meminta hubungan yang lebih padaku.”, kata Arya menjelaskan.
__ADS_1
Arya menghargai Suci karena gadis itu cerdas meskipun pergaulannya sedikit liar. Sehingga, dia tidak bisa mematahkannya dengan cara yang sama dengan wanita - wanita lain yang berusaha mendekatinya.
“Ah.. kenapa kamu menaiki kapal ini?”, kata Arya.
“Sudah sesuai pembagiannya. Aku berharap kamu tidak menggunakan kekuasaanmu untuk berada di kapal yang sama dengan istrimu.”, kata Erick.
“Aku sudah menggunakannya.”, jawab Arya tersenyum dan berjalan menuju bagian inti kapal untuk duduk. Ada hal yang ingin dia diskusikan dengan Erick terkait pertanyaan - pertanyaan yang harus dia tanyakan saat interview kepala divisi Digital and Development yang baru nanti.
Lagipula, Erick dan timnya yang lebih memahami kepala divisi seperti apa yang mereka inginkan.
Saat berjalan ke bagian inti kapal, mau tidak mau mereka harus melewati jalan dan berpapasan dengan tim Dinda dan yang lain yang sedang mengambil foto. Dinda sudah terbiasa menjaga ekspresinya di dekat Arya.
Namun, dia belum siap untuk berhadapan dengan Pak Erick. Dinda tidak tahu jika pria itu sudah mengetahui hubungannya dengan Pak Arya. Arya juga menyempatkan diri untuk memberikan tatapan tajam pada Bryan agar dia menjaga jaraknya dan mempertegas kalau Dinda sudah ada yang punya.
‘Heh.. pria itu… kalau dia sedang menatapku karena urusan kantor, mungkin aku sudah ketakutan setengah mati. Tapi tatapannya tentang Dinda. Jiwa laki - lakiku malah menjadi tertantang. Apa aku menjadikan situasi ini sebagai permainan yang baru untukku, ya.’, kata Bryan dalam hati.
Suci, dia tidak menoleh sedikitpun pada Arya karena dia masih merasa kesal. Dia kira dia tidak akan satu kapal dengan pria itu. Tapi, ternyata dia tidak bisa menghindarinya. Dia berniat menjadikan wisata ini sebagai healing untuk melupakan apa yang sudah dia dengar dari Arya.
“Ci, kamu baik - baik saja tadi malam? Maaf ya, aku mengantarmu kembali ke kamar kamu.”, kata Delina.
“Tidak masalah. Dia tidak ada di kamarnya tadi malam, jadi aku bisa lebih bebas.”, kata Suci.
“Ah.. kenapa dia?”, tanya Delina.
“Hm.. tidak tahu. Oiya, jam berapa kamu kembali tadi malam, Din? Aku kira kamu sudah berada di kamar, tetapi sewaktu aku masuk sepertinya kamu tidak ada.”, kata Delina.
“Hm.. tidak berapa lama. Aku menghabiskan waktu di Cafe bawah sebentar sebelum akhirnya ke atas.”, kata Dinda
Suci melirik ke arah Dinda. Dia menjadi satu - satunya orang yang bisa menebak dimana Dinda semalam dan itu masih membuatnya tidak suka.
“Yakin, kamu tidak bersama seorang pria?”, kata Suci kembali dengan kata - kata pedasnya.
“Hahahaha.. Iya pria di drakor. Paling dia nonton di lobi bawah karena Wifinya lebih kencang,”, kata Delina mencairkan suasana.
*******
Kapal yang mereka tumpangi sudah berlayar sejak 10 menit yang lalu. Sebelum sampai ke pulau, pihak kapal memberikan kesempatan untuk berhenti di spot - spot tertentu. Misalnya untuk melihat ikan, pemandangan, dan berfoto.
Mereka akan berhenti di dua spot dan ini adalah spot yang pertama. Saat pihak kapal menghentikan laju kapalnya dan memberitahu bahwa mereka bisa melihat pemandangan, semua karyawan yang menaiki kapal langsung keluar untuk menikmati udara segar. Terdapat satu area di atas kapal yang bisa di kerumuni oleh sekitar 15-18 orang sedangkan sisi lainnya sekitar 10 orang.
Mereka bergantian untuk mengambil foto - foto yang bagus. Tidak seperti biasanya, Arya juga ikut keluar melihat para karyawan nya berfoto. Sesekali dia juga membuka percakapan dengan karyawannya karena walau bagaimanapun ini adalah tim building dimana dia harus lebih dekat dengan karyawan.
Sesekali Arya mencuri - curi pandang ke arah Dinda yang masih sibuk mengambil foto laut bersama teman - temannya. Mereka juga membuat vlog - vlog kecil untuk diupload di sosial media.
Dinda tampak sangat cantik dengan hijabnya yang sesekali diterbangkan oleh angin. Dia juga mengenakan outfit long dress dengan outer yang membuat penampilannya makin outstanding hari ini.
Refleks, ia mengeluarkan ponselnya dan ingin mengambil potret Dinda yang sedang berdiri sendiri seperti menikmati semilir angin. Cekrek. Cekrek. Cekrek. Arya berhasil mengambil beberapa foto dan dia tersenyum.
“Kalau orang lain yang melihat, mereka pasti sudah salah paham.”, kata Erick tiba - tiba muncul dan membuat Arya terkejut.
“Ah.. kamu Rick. Mengagetkan saja.”, kata Arya.
“Kenapa harus disembunyikan, sih?”, tanya Erick.
“Ini adalah pekerjaan pertama Dinda. Dia sangat senang dan antusias dengan karir pertamanya. Aku tidak ingin pernikahan ini menghancurkan itu semua. Kamu tahu sendiri dia sangat mencintai pekerjaannya, kan. Tinggal beberapa bulan lagi.”, kata Arya.
“Awalnya, aku tidak menyangka. Dan siapapun mungkin sulit mengetahuinya karena kalian seperti dua orang yang tidak saling mengenal sama sekali padahal pulang ke satu rumah. Tapi belakangan Pak Arya, tindakan kamu malah membuatnya jadi semakin jelas.”, ujar Erick.
“Memangnya kenapa? Aku tetap bersikap biasa saja.”, jawab Arya.
“Biasa saja? Senyum - senyum random, melirik ke arah Dinda, mengambil fotonya diam - diam, dan selalu berada di sekitarnya all the time. Siapapun mungkin akan mengetahuinya cepat atau lambat.”, kata Erick menoleh ke Arya.
“Nah, sekarangpun Bapak masih tetap menatapnya.”, ujar Erick antara memang berkata serius dan sedang menggoda.
“Heh… “, kata Arya singkat kemudian berbalik badan menghampiri karyawan - karyawan yang berada di sisi kapal satunya.
“Oh.. Dinda..!”, teman - teman Dinda berteriak secara bersamaan. Suara yang paling keras keluar dari Delina.
Mendengar teriakan itu, Arya dan Erick yang tadi sudah berjalan menuju area kapal satunya lagi berbalik karena terkejut mendengar teriakan itu.
__ADS_1