
Tak seperti akhir pekan sebelum - sebelumnya, Dinda bangun lebih pagi hari ini. Setelah menunaikan kewajiban shubuhnya, Dinda mendadak bingung ingin melakukan apa. Dia hanya diam di hammock sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan hari ini. Akhirnya dia mengambil laptopnya dan mencari daftar drama korea yang belum ia tonton.
Dinda mencari judul yang tertera di paling atas wishlist dan memutarnya. Namun, belum masuk 30 menit pertama, Dinda sudah mengganti dengan judul berikutnya. Masih sama, belum masuk 30 menit pertama, dia sudah mengganti lagi dengan judul selanjutnya. Dan ini berlangsung beberapa kali. Sebenarnya, bukan masalah drama koreanya yang tidak bagus tetapi mood Dinda yang saat ini sulit untuk ia kendalikan. Apapun yang dia lakukan rasanya hampa dan kosong.
Saat Dinda menghabiskan waktunya selama kurang lebih 2 jam mencari aktivitas seru yang tak kunjung dia temukan, sebuah pesan memberikan senyum di wajahnya. Pesan dari siapa lagi kalau bukan Arya.
*Dari: Mas ‘A’**❤️ (Akhirnya Dinda sudah mengganti nama di ponselnya)
Sayang, aku sudah sampai Bangkok. Masih di Bandara. Kalau sudah sampai hotel, aku telepon, ya.*
Seolah tak ingin menunggu sampai Arya tiba di hotel, Dinda langsung menelepon Arya.
“Assalamu’alaikum. Halo, mas Arya?”, sapa Dinda dengan antusias, padahal belum 8 jam mereka berpisah.
“Hm.. kan sudah aku bilang, nanti sampai di hotel baru telepon. Kenapa? Sudah kangen?”, ujar Arya yang kebetulan sedang berada di toilet bandara. Dia menggunakan earphone sehingga dia bisa mencuci tangannya di wastafel dengan mudah.
“Hn. Berapa lama sampai di hotel?”, tanya Dinda sambil menatap lurus ke arah pohon - pohon di taman rumah.
“Hm… sekitar 2 jam. Mereka memilih hotel yang dekat dengan kantornya supaya lebih mudah untuk meeting.”, jawab Arya.
Pria itu mencuci mukanya sebentar dan mengelapnya dengan tisu. Setelah memastikan wajahnya sudah lebih fresh, dia menggiring kopernya keluar dari toilet menuju pintu keluar.
“Terus kapan meetingnya? Mulai hari minggu ini? Hari libur?”, tanya Dinda. Dia sudah menggulingkan badannya di atas ranjang. Berbicara dengan Arya malah membuatnya lebih merindukan pria itu.
Dinda memeluk bantal yang biasa Arya gunakan. Untungnya, aroma pria itu masih tertinggal disana.
“Hari ini mereka mengajakku untuk main tenis dan makan malam. Besok dan seterusnya baru fokus mengerjakan project.”, ujar Arya.
Suasana pagi ini sangat ramai di Bandara International Bangkok. Sesuatu yang sudah menjadi prediksi Arya, tetapi dia tidak mengira akan seramai ini. Arya kesulitan untuk berjalan karena kemana dia pergi, dia bisa menemukan orang ramai hilir mudik.
Arya berusaha mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari pintu keluar. Dia sudah beberapa kali kesini tetapi tetap saja tidak bisa mengingat dimana tepatnya pintu keluar. Seperti biasa, Arya jarang meletakkan koper di bagasi. Dia lebih memilih menggunakan koper yang lebih kecil dan meletakkannya di kabin. Sehingga, dia tidak perlu lagi mengantri bagasi.
Setidaknya untuk perjalanan - perjalanan bisnis, koper kecil sudah cukup memuat baju - bajunya. Jika bajunya habispun, dia bisa membeli satu atau dua potong kaos maupun kemeja di tempat tujuan.
Sembari Arya mengedarkan padangannya mencari pintu keluar, pria itu berhenti di satu titik karena melihat seseorang yang dia kenal. Arya menyipitkan matanya berusaha memastikan apakah orang itu adalah benar orang yang dia kenal.
“Mas Arya udah sarapan?”, tanya Dinda di seberang sana. Pertanyaan Dinda berlalu begitu saja karena fokus Arya sedang ke arah yang berbeda.
Arya belum menjawab karena dia sedikit terkejut melihat sosok itu berada secara kebetulan disini. Nampaknya orang itu juga mendapati Arya. Dia menyunggingkan senyumnya saat menyadari keberadaan Arya.
“Mas Arya? Halo..”, Dinda memeriksa ponselnya apakah ponselnya rusak karena tidak ada jawaban dari Arya.
‘Kayanya ponselnya ga kenapa - kenapa. Apa sinyalnya, ya?’, kata Dinda bertanya - tanya sambil membalik - balik ponselnya.
“Halo.. Mas Arya? Mas Arya masih disana?”, ujar Dinda mencoba berbicara lagi. Dia bisa mendengar pengumuman bandara yang keluar dari ponsel Arya. Jadi, bukan sinyal atau ponselnya yang rusak. Melainkan, Arya yang tidak menjawabnya.
“Ah.. iya.. Din.. sorry nanti aku telepon lagi ya, sayang. Bye.”, jawab Arya kemudian menutup ponselnya.
“Hm? Apa lagi ribet ya disana? Ya sudahlah. Yang penting hari ini sudah ditelpon.”, ujar Dinda sambil tersennyum.
Sementara itu di bandara Internasional Bangkok.
Orang itu berjalan mendekat ke arah Arya sambil melayangkan senyuman. Arya tidak membalas senyuman itu. Tapi, dia juga tidak beranjak dari posisinya. Hal yang mungkin terjadi, tapi ini merupakan kebetulan yang tidak dia harapkan. Bagaimana bisa? Setidaknya begitulah kata hati Arya.
“Hai Arya, tidak kusangka bertemu disini. Senang sekali rasanya.”, ucap orang itu.
“Sarah, apa yang kamu lakukan disini?”, tanya Arya to the point. Dia bahkan tidak membalas senyuman Sarah. Terakhir mereka bertemu bukanlah hal yang menyenangkan. Menurut Arya, tak ada gunanya bersikap ramah.
“Aku ada meeting dengan Group XYZ.”, jawab Sarah dengan nada percaya diri. Ia melepas kacamata hitam yang ia kenakan.
Sarah mengenakan kemeja putih formal dengan blazer warna nude dan sepatu hak tinggi. Ia mengenakan anting dengan detail yang menjuntai hampir ke bahu. Ia juga mengenakan kalung dengan permata kecil dibagian tengah dan lingkaran emas putih di bagian luar.
“Jangan bilang kalau…”, Arya berharap dugaannya salah.
“Hm.. meski tidak secara langsung berhubungan dengan project yang sedang kamu lakukan, tapi mereka juga menghire perusahaan kami untuk project yang lain, tentunya dengan core yang sesuai dengan perusahaan kami.”, jawab Sarah.
__ADS_1
Sarah bisa merasakan tatapan Arya yang tidak menyenangkan ke arahnya.
“Jangan menatapku begitu. Aku tidak merencanakan ini. Siapa aku bisa merencanakan hal seperti ini. Percayalah, ini hanya kebetulan. Mungkin kita akan sering bertemu selama di Bangkok. Kamu stay di hotel apa?”, tanya Sarah pada Arya.
Arya tak langsung merespon kata - kata Sarah. Dia melihat jam tangannya sebentar memastikan waktu.
“Allright. Let’s do it professionally, then. Bye.”, balas Arya singkat dan mendorong kopernya meninggalkan Sarah. Dia tidak menjawab maupun merespon perkataan Sarah sama sekali.
Sarah bisa merasakan aura dingin dari Arya dan dia sangat membenci hal itu. Aura yang sama di tahun terakhir pernikahan mereka tetapi ini jauh lebih dingin dari saat itu.
“Heh.. let’s do it professionally? Lihat saja, apakah dia masih bisa bersikap seperti ini selama di Bangkok. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku. You’ll be in the same hotel with me. Kalaupun tidak. Aku akan berusaha membuatnya seperti itu.”, ujar Sarah sambil menatap punggung Arya yang semakin menjauhinya.
******
“Mas Arya pasti akan sangat sibuk beberapa hari kedepan. Sebaiknya aku tidak terlalu mengganggunya dengan terus menghubunginya lebih dulu. Mungkin aku menunggunya menelepon saja. Itu berarti dia sedang senggang. Baiklah, walaupun kangen, haku harus menahannya.”, ujar Dinda bangun dari tempat tidur.
Dia baru saja ingin mencari aktivitas lain yang bisa membuatnya lupa dengan rasa kangennya, sebelum akhirnya ponsel Dinda berbunyi.
Grup chat Sahabat Kuliah Dinda
*Bianca:**Guys, ada waktu ketemuan ga hari ini? Aku mau kasih seragam bridesmaid, nih! *
*Rara:**Wah… mauuu.. Aku habis shift malam, ketemuan siang bagaimana? Aku tidur dulu sebentar. *
*Dian:**Aku gak bisa guys. Aku harus masuk ruang operasi hari ini memperhatikan dokter bedah. Bi, boleh aku ambil seragam bridesmaid terpisah? Ambil dirumahmu juga gapapa. *
*Dinda:**Aku sedang senggang, aku bisa kapan saja.*
*Sekar:**Okai.. aku jam 10 atau siang ini oke. *
*Bianca:**Gas jam 1 ya guys. Rara bisa kan?*
*Rara:**👍🏻*
*Dinda:**Sipppp *
*Rara:**Baiknyaaa ❤️. Wait.. kita ketemuan sampai malam? *
*Dian:**Mau traktirannya… *
*Rara:**Minta sama professor yang mo bedah hari ini ajaa hahaha*
*Dian:**Killler professornya… *
*Sekar:**👌🏻*
Akhirnya chat berlanjut membahas hal - hal random. Beberapa juga membahas tentang persiapan pernikahan Bianca, kemudian sebagian lagi bercanda. Sekar sepertinya sangat sibuk mempersiapkan pesanan kuenya sampai - sampai dia hanya membalas seperlunya saja.
Dinda segera bersiap - siap dengan penuh semangat Akhirnya dia mendapatkan hal yang bisa membuat waktu berjalan sangat cepat hari ini. Meski masih bertemu jam 1 nanti, Dinda ingin berjalan - jalan sebentar di Mall untuk membunuh waktu. Dia segera masuk ke kamar mandi. Dinda bahkan memutar musik favoritnya di kamar mandi karena moodnya mendadak kembali baik.
Kring Kring Kring
Bianca is calling….
“Halo, Bi?”, jawab Dinda yang masih di kamar mandi.
Dia harus mencuci mulutnya karena sedang menyikat gigi saat panggilan dari Bianca datang.
“Kamu mau mengatakan ke yang lain saat bertemu nanti?”, tanya Bianca.
“Mengatakan apa?’
“Kamu sudah menikah.”, jawab Bianca gregetan.
“Ahhh.. iya.. Aku lupa.. Hm.. jangan nanti deh, Bi. Aku belum sempat merangkai kata - katanya.”, jawab Dinda. Bisa - bisanya dia melupakan masalah penting seperti ini.
__ADS_1
“Apanya yang mau dirangkai? Mau seperti apapun kalimat yang kamu berikan, intinya kamu mau kasih tahu kalau kamu sudah menikah kan? Ya sudah nanti saja.”
“Tidak - tidak Bi. Plis.. nanti aku cari waktunya. Yang jelas jangan nanti, aku benar - benar belum siap.”, kata Dinda panik.
“Huu… ya sudah kalau begitu. Sampai bertemu nanti, ya.”, akhirnya Bianca menyerah.
“Ah.. benar juga.. Aku harus memberitahukannya pada yang lain. Kalau tidak mereka pasti akan kaget melihatku dan mas Arya di pernikahan Bianca nanti. Tapi, bagaimana cara mengatakannya, aku benar - benar belum siap. Ya sudahlah, nanti dipikirkan lagi.”, kata Dinda melanjutkan rutinitas paginya.
“Hem.. pakai baju apa ya?”, ujar Dinda sambil mengedarkan pandangannya ke lemari pakaian.
Gadis itu sudah selesai mandi setelah menghabiskan waktu sampai 1 jam lamanya di kamar mandi. Sepertinya dia benar - benar bertekad untuk membunuh waktu.
Berhubung Inggit dan Kuswan juga sedang pergi ke kondangan rekannya hari ini, rumah jadi sangat kosong. Hanya ada Ibas yang lebih senang berdiam diri di kamarnya dan mba Andien.
Seharusnya minggu ini jadi waktu Dinda dan mba Andien untuk keluar bareng tetapi berhubung Arya ke Bangkok, pria itu tidak mengizinkan Dinda dan Andien pergi kemarin. Semua waktu Dinda kemarin harus menjadi miliknya. Alhasil Andien sekarang sedang pergi bersama sepupu dari line tante Indah yang juga sudah memiliki anak.
“Hm.. ini sepertinya cocok. Huaaakk…Huwakkk…”, Dinda segera berlari ke kamar mandi.
Dari pagi perutnya sudah tidak enak. Dia sudah beberapa kali muntah.
“Hm.. Hah.. perutku mual lagi. Mungkin karena tadi malam telat makan.”, ujar Dinda santai tanpa berpikir ke arah yang lain. Setelah membersihkan mulutnya. Dia justru lanjut ke lemari pakaian untuk memilih baju.
Dia sudah mengambil beberapa rok dan cardigan hingga kemeja oversize dan memadu madankan semuanya. Entah kenapa hari ini dia ingin bergerak sangat lambat sehingga dia memperhatikan pemilihan baju yang akan dia kenakan. Dia sudah memadu madankan beberapa baju lalu pindah ke baju yang lain.
Setidaknya dia menghabiskan waktu lebih dari 30 menit hanya untuk memilih baju yang akhirnya jatuh pada kombinasi awal.
“Oke.. aku pilih yang ini saja.”, ujar Dinda.
Dinda mengirimkan pesan pada Arya terlebih dahulu untuk memberitahu dan meminta izinnya. Begitu Arya memberikan approval, barulah dia segera turun ke bawah untuk sarapan.
“Mau kemana neng Dinda, rapi banget.”, ujar Bi Rumi yang meletakkan sepiring nasi goreng di meja Dinda.
“Mau ketemu Bianca dan teman - teman yang lain. Itu loh Bi, teman Dinda yang nanti akan jadi istri mas Reza.”, terang Dinda.
“Oh.. yang beberapa hari lalu kesini ya. Hm.. naik apa? Pak Cecep kan sedang mengantar Ibuk dan Bapak?”, kata Bi Rumi sambil kembali meletakkan segelas jus mangga permintaan Dinda.
“Naik Ojek Online aja, Bi. Sudah bilang mas Arya kok, katanya gapapa.”, jawab Dinda sambil menyeruput jus mangga nya.
“Hmm.. seger.”
“Non Dinda kok minum jus mangga pagi - pagi. Nanti sakit perut, loh.”, tanya Bi Rumi heran.
“Haha lagi pengen aja Bi. Makasih ya Bi. Ohiya, Ibas mana Bi? Dia ga sarapan?”, tanya Dinda lagi.
“Dari semalam belum turun - turun lagi non. Tadi sudah telepon Bibi katanya minta diantar sarapan satu jam lagi.”
“Oh… mager banget dia. Minta sarapan aja kaya pesan makanan online.”
Bi Rumi ikut tertawa mendengar perkataan Dinda.
“Bi Rumi udah sarapan? Barengan aja yuk Bi disini.”, ajak Dinda.
“Gapapa non. Bibi udah tadi pagi sekali. Bibi lanjut kerja yang lain dulu ya Non. Mau nyuci dulu.”
“Oh iya, oke Bi.”
Sudah sekitar 3 bulan lebih Dinda tinggal di rumah ini. Perlahan - lahan dia sudah mulai terbiasa dengan semua penghuni disini termasuk Bi Rumi dan Pak Cecep. Mereka juga sangat ramah, sehingga Dinda yang notabene lebih introvert bisa segera akrab.
Ditambah Ibas juga orangnya sangat ramah.Dia yang sering membantu Dinda untuk lebih akrab dengan siapapun di rumah ini. Berhubung mas Arya sangat sibuk, jadi Ibas menjadi penolong Dinda di saat - saat genting.
Tapi, sejak Ibas putus dari pacarnya, dia malah lebih sering bertapa di kamarnya.
“Nanti, kalau non Dinda sudah mau keluar, panggil Bibi aja. Biar bibi tahu.”, ujar Bi Rumi.
“Baik Bi”, jawab Dinda singkat sambil memberikan ekspresi seperti emoticon.
__ADS_1