
Hujan lebat turun begitu Arya dan Dinda sampai di apartemennya. Dinda sedang berada di kamar mandi sementara Arya sedang sibuk mengambil beberapa peralatan makan di dapur. Dia belum makan apa - apa setelah landing.
Di perjalanan menuju apartemen, dia membeli burger dan cola yang menjadi makanan kesukaan sekaligus yang dia hindari untuk menjaga postur tubuhnya. Tapi, hari ini adalah pengecualian.
Ada juga satu porsi kecil untuk Dinda sesuai dengan permintaannya. Dia sudah makan besar tadi tapi Dinda tahu pasti dia akan lapar lagi begitu sampai di apartemen.
“Kita makan dulu, baru berdiskusi tentang masalah kita.”, ujar Arya.
Dia tak ingin menyebutnya perdebatan, perselisihan, apalagi pertengkaran. Berdiskusi adalah kata yang cocok untuk menyelesaikan masalah suami istri. Makanan adalah awal yang tepat agar mereka bisa memikirkan masalah dengan kepala dingin.
Dinda yang tadinya hanya berdiri di depan pintu kamar akhirnya berjalan dan mendekat ke arah Arya. Pria itu menata makanan yang mereka beli di meja ruang tamu depan TV di bagian tengah.
Dinda yang sudah mengenakan gaun malamnya dengan rambut terurai rapi duduk di hadapan Arya.
“Makan dulu.”, ujar Arya menuangkan air putih ke sebuah gelas untuk Dinda karena selama hamil gadis itu tidak akan boleh minum kola.
Arya memulai gigitan pertama untuk burger yang sudah ada di hadapannya. Dia makan begitu lahap karena memang sudah kelaparan. Dinda yang melihatnya jadi kasihan. Dia tahu Arya pasti sangat sibuk dan lelah dengan pekerjaannya.
Dinda juga ikut menggigit burgernya setelah beberapa menit melihat Arya. Tak butuh waktu lama, semua makanan yang ada di meja berhasil mereka sikat berdua.
“Kamu masih marah?”, Arya memulai kalimat pertamanya dengan pertanyaan setelah lama mereka hening tanpa kata.
“Hm. Mas Arya sangat sibuk sampai - sampai aku bisa hitung berapa jam dalam sehari aku bisa lihat mas Arya. Bahkan untuk periksa rutinpun mas Arya gak bisa menepati janji. Aku tahu mas Arya sibuk. Tapi, apa aku tidak masuk dalam daftar prioritas mas Arya?”, ujar Dinda dengan nada sendu.
“.....”, tak ada jawaban dari Arya.
Dia tahu tak ada alasan yang bisa memuaskan Dinda saat ini.
“Mas Arya sudah janji untuk menemani aku periksa kehamilan. Tapi mas Arya tidak memenuhi janji itu. Sampai mas Arya bisa memenuhi janji, lebih baik aku tidak tidur satu ranjang dulu dengan mas Arya.”, ucap Dinda dengan penuh percaya diri.
“Eh? Apa hubungannya periksa kehamilan dengan tidur satu ranjang Din? Terus kamu tidur dimana?”
“Terserah mas Arya. Aku bisa tidur dimana saja. Di apartemen, kita bisa bebas tanpa ketahuan mama papa, jadi aku bisa tidur di kamar satu lagi. Sedangkan di rumah, kalau mas Arya tidur di kasur, aku akan tidur di sofa.”, jawab Dinda.
“Tapi kenapa harus tidur terpisah, kita aja bertemu jarang terus sekarang malah tidak tidur satu ranjang. Gimana ceritanya, Din?”
“Daripada aku terus menunggu mas Arya pulang. Lebih baik aku membiasakan diri tanpa ada mas Arya disampingku karena toh mas Arya juga menikahi pekerjaan mas Arya.”
“Hah…”, Arya menghela nafas.
“Kamu yang benar saja, Din. Lalu, sampai kapan akan begitu terus? Satu hari?”, tanya Arya.
“Enggak, sampai mas Arya bisa menemani aku periksa kehamilan. Anggap saja itu wishlist aku. Sampai mas Arya bisa memenuhinya, kita tidur terpisah. Mungkin dengan begitu mas Arya bisa berpikir ulang mana yang sebenarnya istri mas Arya, pekerjaan atau aku.”, kata Dinda mantap.
“Ya sudah, besok kita periksa. Eh enggak - enggak. Sekarang juga kita periksa, kita ke apartemen dr. Rima sekarang. Yuk.”, ujar Arya panik.
Dia sudah tidak sabar pulang bahkan rela menjemput Dinda segera setelah dia sampai. Sekarang malah harus tidur terpisah? Hukuman macam apa ini, pikirnya.
“Bulan ini kan sudah periksa beberapa hari yang lalu.”, kata Dinda.
“Terus kapan periksa lagi?”
“Bulan depan?”
“Hah? Kamu suruh aku tunggu sampai minggu, ah tidak bulan depan? Hah.. sekarang, memangnya kamu bisa tidur sendiri tanpa aku?”, Arya bertanya balik dengan percaya diri.
“Bisa.”, jawab Dinda mantap.
“Eh? Yakin kamu?”, tanya Arya sedikit terkejut dengan jawaban Dinda.
“Bisa. Lebih baik begitu. Aku selalu tidur lebih dulu tanpa mas Arya karena mas Arya belum pulang. Saat bangun, aku juga tidur sendiri karena mas Arya sudah bangun dan bersiap ke kantor. Apa bedanya dengan tidur sendiri.”, kata Dinda.
“Din, jangan gitu dong. Kamu.. kamu tega banget.”, ucap Arya dengan wajah panik.
“Mas Arya juga tega. Aku dua kali periksa kehamilan sendiri sementara yang lain membawa suaminya. Mas Arya pasti gak tahu gimana rasanya, kan?”, kata Dinda.
“Tapi, oke. Bulan depan aku janji. Meeting atau apapun itu aku akan batalkan. Tapi sekarang kita tetap tidur bareng, ya.”
__ADS_1
“Gak. Kita lihat dulu bulan depan. Ya sudah. Makasih makanannya. Aku tidur duluan.”, ucap Dinda pamit untuk tidur dengan sangat sopan sebagai bentuk protes dengan Arya.
Kali ini, Dinda tidak masuk ke kamar utama, tetapi ke kamar yang satu lagi.
“Din, Din, Dinda… huft.. Kamu tidur di kamar utama. Aku tidur di sofa.”, kata Arya dengan berat hati.
Begitu mendengar kata - kata Arya, Dinda berbelok ke kamar utama tanpa melirik Arya sekalipun.
“Sayang.”, panggil Arya lagi.
Dinda yang sudah hampir mencapai pintu kamar berhenti dan menoleh.
“Kamu serius?”, tanya Arya.
“Hm.”
“Gimana kalau tunggu bulan depan. Kalau bulan depan aku masih tidak menepati janji. Baru hukuman aneh ini kamu berlakukan.”, kata Arya.
“Mas Arya sudah berencana untuk tidak menepati janji lagi bulan depan?”
“Bukan begitu. Ini terlalu tiba - tiba. Mana bisa..”
“Kalau begitu, mas Arya tunggu dan tepati janji mas Arya bulan depan.”, ujar Dinda sebelum akhirnya menutup pintu kamar.
“Hah.. “, Arya mengacak - acak rambutnya.
“Ini jelas hukuman namanya.”, ujar Arya frustasi.
Sehari yang lalu.
“Kamu kenapa, Din? Ada masalah? Kemarin waktu kamu ajak jalan aku sedang bersama mas Reza. Jadi tidak fokus. Ada masalah apa?”, tanya Bianca melalui telepon.
“Engga. Tidak ada apa - apa”, jawab Dinda singkat.
“Apanya yang tidak apa - apa. Suara kamu terdengar lesu begitu. Jangan - jangan mas Arya, ya?”, tebakan Bianca langsung tepat mengenai sasaran.
“Belakangan ini mas Arya sangat sibuk. Sewaktu aku tanya, dia malah tidak mengindahkannya. Sekarang dia sedang perjalanan bisnis keluar kota. Memangnya aku salah, ya kalau misalnya minta waktu sedikit saja sama mas Arya. Dia bahkan tidak bisa menemaniku untuk periksa kehamilan di rumah sakit. Apa jangan - jangan mas Arya sudah tidak mau lagi denganku karena aku sedang hamil?”, tanya Dinda lesu.
Saat Bianca menelepon, dia baru saja selesai periksa kehamilan di rumah sakit. Kondisi mentalnya sangat sensitif karena dia melihat semua orang didampingi suami sementara dirinya tidak.
“Hah? Yang benar kamu. Heh, Mas Arya. Din, aku punya ide. Gimana kalau kamu kasih hukuman saja mas Arya.”
“Hukuman? Hukuman apa? Memangnya aku siapa bisa kasih hukuman ke mas Arya.”
“Kamu kan istrinya. Pria dingin kek kulkas tiga pintu seperti mas Arya itu harus diberi pelajaran. Gini aja, kamu menolak untuk tidur satu ranjang dengan mas Arya. Kita lihat bagaimana reaksinya.”, usul Bianca.
“Hah? Pisah ranjang maksud kamu? Ah enggak - enggak. Tidak pisah ranjang saja aku jarang ketemu dia, gimana kalau pisah ranjang. Nanti kalau dia ternyata malah belok ke selingkuh bagaimana?”, balas Dinda khawatir.
“Katanya mas Arya bukan tipe pria yang selingkuh. Kita lihat saja. Aku yakin, sehari aja dia gamau.”, ujar Bianca sambil cekikikan.
“Aku tidak sepercaya diri itu, Bi.”
“Shuttt… percaya deh sama aku. Setidaknya sampai dia mau menemani kamu periksa kehamilan. Kamu juga bisa cek kesetiaan mas Arya dengan cara ini.”
Dan dari situlah ide ini muncul
*******
“Sis, tim mana aja yang punya project besar? Kamu tolong kasih saya list project yang sedang dihandle oleh masing - masing tim, maksimal sebelum makan siang.”, ujar Arya begitu sampai di kantor.
“Hm?”, Siska tampak bingung.
“Sudah, gak usah pakai bingung segala. Kamu tinggal tanya masing - masing manager, terserah via telpon atau tanya langsung. Yang jelas saya mau daftarnya tersedia di meja saya sebelum makan siang.
“Ba-baik Pak Arya.”, jawab Siska lantang.
‘Haduh.. Kenapa lagi sih Pak Arya.’, pikir Siska dalam hati.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Siska langsung mengerjakan tugas dari Arya, daripada dia harus ribet dan pusing, lebih baik dia berikan saja apa yang diinginkan bosnya itu.
Tidak salah Arya memilih sekretaris karena hanya dalam waktu 2 jam, Siska berhasil mengumpulkan daftar yang Arya inginkan, lengkap dengan proyeksi dan timeline.
“Oke, kamu agendakan meeting dengan tim 2 dan 3 di hari Selasa, minta mereka siapkan dokumen A, B, dan C. Kamu agendakan meeting dengan tim 9 dan 10 di hari Kamis, saya minta 3 jam meeting, mereka juga siapkan semua dokumen yang diperlukan. Untuk tim 8 yang memiliki klien di luar negeri, saya mau mereka meeting dengan saya besok sore. Sisanya, kirim email untuk mengirimkan laporan progress project mereka ke saya paling lambat lusa.”, segera setelah Arya membaca daftar yang diberikan Siska, dia langsung mengatur jadwal dengan cepat.
‘Hah… aku tidak bisa terus tidur terpisah. Bisa - bisa aku gila. Aku yakin, dua atau tiga hari, Dinda juga akan berubah pikiran. Aku juga harus bisa mengoptimalkan pekerjaan agar selesai on-time.’, ujar Arya dalam hati.
Sementara itu di ruangan lain divisi DD, Dika sedang duduk sambil melihat ke arah jendela luar. Dia sedang memikirkan apa yang dia lihat kemarin.
Di parkiran kantor setelah acara makan - makan selesai.
“Kenapa Pak Dika, ada yang dicari?”, tanya Erick saat melihat Dika sibuk mencari sesuatu.
“Oh.. pouch yang biasa saya bawa - bawa tidak ada. Didalamnya terdapat beberapa kartu dan kunci penting. Apa tertinggal di restoran, ya? Sepertinya tadi saya membawanya, tapi saya juga tidak yakin.”, kata Dika.
“Mau saya temani untuk memeriksa ke restoran, Pak?”, kata Erick menawarkan.
“Tidak usah, kamu lanjut saja. Saya bisa kembali ke sana sendiri. Nanti dari situ langsung pulang. Ya sudah, thanks buat hari ini, ya.”
“Oh, oke baik Pak. Semoga saja memang benar ada di restoran, ya Pak.”, ucap Erick.
Dika kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar parkiran. Tujuannya adalah restoran tadi. Beruntung lampu merah dan kemacetan berpihak padanya sehingga tidak butuh waktu lama, dia bisa sampai ke restoran.
Parkiran resto berada sedikit ke dalam. Dika sedang buru - buru sehingga dia memilih untuk memarkirkan mobilnya di seberang restoran. Selanjutnya, dia berjalan kaki. Saat sudah berada di gerbang, dia melihat sosok pria yang dikenalnya.
‘Arya? Ngapain dia disini? Bukankah dia sedang di luar kota. Apa dia sudah pulang?’, tanya Dika.
Baru saja Dika hendak melangkah maju untuk sekedar menyapa Arya, dia melihat Dinda turun dari tangga restoran dan berjalan ke arah Arya. Kemudian, Arya dengan naturalnya menggamit pinggang Dinda dan memberikan ciuman di lehernya.
Dinda tidak menolak. Interaksi mereka terlihat sangat natural seperti orang yang sudah menjalin hubungan lama.
‘Oh? Apa aku tidak salah lihat?’, Dika kembali mengedipkan matanya untuk memeriksa apa yang dilihatnya di depan.
Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Tak jarang Dika melihat Arya meletakkan tangannya di bahu, pipi, dan pinggang gadis itu. Dinda juga tak canggung menerima perlakukan itu. Bahkan dia juga terlihat tidak ragu untuk meletakkan tangannya di dada Arya.
Dia melihat Dinda memukul Arya pelan, interaksi keduanya sangat dekat. Kemudian setelahnya, Arya merangkul pinggang Dinda menuju parkiran mobil. Saat mobil keduanya keluar dari parkiran, Dika menyembunyikan dirinya di dekat pos satpam.
“Oh? Bukankah tadi Dinda bilang dia sedang menunggu ojek online? Kenapa dia bisa pulang bersama Arya? Di malam yang larut ini? Sebentar, bukankah kata Sarah Arya sudah menikah lagi? Ah.. apa waktu itu Sarah bilang namanya Dinda? Karena mabuk aku tidak terlalu mengingatnya.”, Dika terus bertanya - tanya sambil menatap kosong ke arah jalanan.
Dika mencari nomor seseorang di ponselnya dan segera menghubunginya.
“Halo, Sarah?”, kata Dika begitu orang yang dia telepon mengangkatnya.
“Halo. Kenapa? Kamu sudah kangen denganku setelah meninggalkanku begitu saja di restoran?”, tanya Sarah segera. Dia masih marah karena Dika meninggalkannya begitu saja.
“Arya, kamu pernah menyebut nama istri barunya. Siapa namanya?”, tanya Dika.
“Hm? Kenapa kamu tiba - tiba bertanya tentang Arya?”, tanya Sarah heran.
“Tidak. Hanya penasaran. Siapa namanya?”, tanya Dika lagi.
“Dinda. Kamu kenapa sih tiba - tiba bertanya hal random seperti ini.”, jawab Sarah.
“Hm.. tidak apa - apa. Ya sudah, kapan - kapan aku traktir kamu pointblank.”, kata Dika.
Tak hanya di hotel, kadang mereka juga sering melakukan aktivitas seperti olahraga dan indoor game bersama untuk menghilangkan stress.
“Heh.. tenis saja. Sudah lama aku tidak main tenis.”, jawab Sarah.
“Baiklah kalau begitu.”, kata Dika sebelum menutup teleponnya.
“Heh.. ternyata istrinya ada di perusahaan yang sama dan seorang intern? Beruntung sekali Arya. Lepas dari Sarah, dia mendapatkan gadis muda dan polos seperti Dinda. Apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai bisa mendapatkan gadis lugu dan baik seperti itu. Pantas Sarah uring - uringan.”, ucap Dika di ruangannya.
“Menarik sekali mantan suami kamu, Sarah. Tidak hanya karir dan personalitinya, kehidupan pernikahannya pun berjalan sangat mengesankan. Dasar, pria beruntung.”, lanjut Dika tatkala membandingkan kehidupannya dengan Arya.
“Sarah tidak menginginkan Arya kembali. Dia hanya tidak bisa menerima bahwa Arya menjalani kehidupan yang baik - baik saja bahkan lebih baik tanpanya. Dasar wanita! Dia tidak benar - benar menginginkan sebuah tas. Tapi begitu ada wanita lain yang ingin membeli tas itu, dia langsung seperti orang gila ingin memilikinya.”
__ADS_1
“It tastes better when It’s taken.”, lanjut Dika.