Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 30 Situasi yang Aneh


__ADS_3

Tak terasa hari ini pun berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Perlahan para pekerja alias budak korporat sudah mulai meninggalkan rutinitas masing - masing. Mereka bersiap pulang.


Jam 6 adalah jam yang paling banyak dipilih oleh pekerja di kantor ini untuk pulang. Namun, tak sedikit juga yang masih setia di bangku mereka karena harus lembur. Biasanya mereka pulang paling lama pukul 8 malam, kecuali jika ada project besar. Pulangnya juga bisa larut malam.


Pak Arya pernah sekali dua kali lembur dan sampai di rumah pagi dini hari.


***Dari:** Dinda *


***To:** Abang Ojol (Nama alias untuk Arya di Ponsel Dinda)*


Pak Arya balik jam berapa? Saya tunggu di lobi bawah ya. Kabari kalau sudah mau jalan.


Begitu pesan Dinda kepada Arya. Biasanya pria itu sudah mengisyaratkan pulang pada pukul 6 sore. Dinda hanya perlu berjalan sampai ke area belakang kantor yang lumayan sepi dan naik mobil Arya dari situ. Namun, sudah hampir pukul 8 malam dan Arya juga belum mengiriminya pesan..


***Dari:** Abang Ojol (Nama alias untuk Arya di Ponsel Dinda)*


***To:** Dinda *


-Kamu duluan aja. Saya masih lanjut meeting di luar-


“Ihhh kenapa ga bilang dari tadi sih. Kan aku ga harus nunggu. Meeting mulu. Moga - moga sampai besok biar aku bisa bebas nonton di kamar.”, gerutu Dinda karena kesal dan marah. Dia sudah menunggu selama satu setengah jam. Waktu yang bisa digunakan untuk bersantai di kamar.


Akhirnya dengan berdecak dan langkah berat, Dinda meluncur tajam ke arah lift setelah sebelumnya menyelesaikan panggilan alamnya di toilet. Perutnya sakit karena minum kopi di Cafe. Dia memang orang yang tidak cocok minum kopi. Setiap kali mencoba, pasti selalu ada efek sampingnya.


Di depan lift dia berpapasan dengan beberapa bawahan Arya yang tadi juga dia lihat di Cafe. Dia tidak melihat Suci. Berhubung yang dia kenal hanya mba Suci saja, Dinda hanya diam dan menunggu lift bersama sambil melihat ke bawah.


“Eh Ci, lama banget. Pak Arya mana?”, tanya salah seorang dari mereka.


“Itu disana. Kita meeting di daerah X ya. Katanya ada bar yang private.”, kata Suci. Di belakangnya sudah ada pak Arya yang juga sedang berjalan ke arah lift.

__ADS_1


“Eh Din, belum balik? Biasanya jam 6 sudah balik. Ada kerjaan tambahan?”, Dinda merutuki Suci dalam hati karena membuka percakapan dengannya. Hal yang saat ini paling dia hindari.


“Hehe iya ada sedikit mba. Sama nunggu macet juga.”, Dinda terpaksa mengangkat wajahnya menghadap Suci.


Dia bisa melihat dengan jelas pak Arya sudah berdiri tegap di belakang mba Suci. Dinda melirik sebentar ke arahnya. Entah mengapa dia merasa aneh karena berada jauh dan seolah tidak mengenal satu sama lain dengan pak Arya.


“Hmm.. pulang naik apa?”, kata mba Suci.


Dia memang sangat ramah. Tapi kali ini bukan saat yang tepat untuk beramah tamah, begitu pikir Dinda. Dia merasa tidak nyaman berpura - pura membuang pandang dari Arya dan bersikap seolah tidak saling mengenal.


“Naik ojek online, mba.”, jawab Dinda singkat, berusaha untuk tidak memperpanjang komunikasi ini.


“Gak bahaya? Udah jam segini naik ojek online. Kamu ga serem? Rumah kamu dimana?”,


‘Kenapa dia bertanya banyak sekali’, kata Dinda kembali dalam hati.


Dinda sedikit salah tingkah dan hal itu disadari oleh rekan - rekan Suci yang lain. Tetapi mereka berpikir mungkin karena Dinda merasa terintimidasi dengan keberadaan mereka terutama pak Arya. Head yang satu ini memang terkenal bisa menjatuhkan rasa percaya diri orang lain hanya dengan keberadaannya. Ditambah Dinda hanya karyawan magang.


Dalam hati, Dinda hanya berharap lift ini bisa turun dengan cepat dan tidak berhenti di lantai yang lain. Tapi situasi berkata lain, lift dari lantai 25 ini berhenti di lantai 15.


Seseorang masuk dan sukses membuat lift penuh. Bawahan Arya termasuk Suci berjumlah 8 orang. Ditambah Dinda ada 9. Lalu, masuk 6 orang lagi dari lantai 15 dan membuat lift jadi sesak.


Tanpa sengaja tangan Arya menyentuh tangan Dinda dan membuat dia sedikit kaget. Dinda tahu benar itu tangan pak Arya begitu juga sebaliknya. Perasaan - perasaan aneh mulai muncul.


‘Aku memang sudah gila. Kenapa dekapan tangan pak Arya saja bisa membuat jantungku berdebar. Aduh, akhir - akhir ini ada yang aneh dengan reaksi tubuhku. Harus periksa ke dokter nih.’, batin Dinda dalam hati.


Mereka adalah pasangan yang sah di mata negara. Selama sebulanan ini mereka sudah berbagi kamar dan kasur bersama. Tetapi di kantor mereka hanyalah bos dan bawahan yang bahkan stratanya sangat jauh.


‘Hmph.’, disisi lain, Arya hanya tersenyum simpul tatkala dia sadar tangan yang bergesekan dengannya adalah milik Dinda.

__ADS_1


Meski pernikahan baru seumur jagung, tapi interaksi kecil seperti ini sudah bisa membuat Arya tahu tangan siapa ini.


Tidak ada yang mengetahui pernikahan mereka di kantor. Situasi ini membuat Dinda kembali salah tingkah. Sedangkan Arya, pria satu ini sangat ahli menyembunyikannya ekspresinya dengan baik.


Meski tangannya mendekap hangat, tapi ekspresinya poker face.


Lift akhirnya turun di lobi bawah. Tidak ada lagi yang masuk lift karena memang sudah penuh. Beberapa kali lift berbunyi di beberapa lantai yang membuat pergerakannya jadi semakin lama dan Dinda harus berada dalam situasi aneh ini lebih lama.


Sebelum lift terbuka dan semua orang turun, Dinda bisa merasakan kepalan tangan Arya yang menyentuh dan menggenggamnya sebentar. Seolah memberitahu ‘sampai bertemu nanti di rumah’. Setidaknya, begitu interpretasi Dinda terhadap kontak fisik yang dilakukan Arya padanya.


“Din.. hati - hati ya.. Jangan naik kalo plat nomornya beda sama yang di aplikasi.”, begitu pesan Suci dari kejauhan, karena mereka berjalan ke arah yang berbeda. Suci, Pak Arya dan yang lainnya menuju parkiran sedangkan Dinda duduk di lobi untuk memesan ojek online.


Lima menit berlalu, Dinda masih belum mendapatkan ojek online. Sepertinya macet juga belum usai. Dan lagi harganya juga sangat mahal karena jam - jam sibuk.


Tak lama ada pesan baru dari Arya.


***From:** Abang Ojol *


***To:** Dinda *


-Call pak cecep minta jemput.-


Singkat, padat, dan jelas. Begitu bunyi pesan dari Arya. Namun, pesan ini sukses membuat Dinda sedikit tersenyum.


‘Apa karena mba Suci bilang serem naik ojek sendirian? Berarti dia perhatian, dong. Eh tapi ga mungkin banget deh. Pasti mama Inggit yang suruh. Ah tau ah!’, Dinda bertarung melawan berbagai asumsinya dari pesan singkat Arya.


Ting!


TIba - tiba aplikasi ojek onlinenya berbunyi menandakan dia sudah mendapatkan driver. Dia langsung menuju pintu keluar dan halte untuk menunggu. Seketika dia lupa perintah Arya untuk minta jemput dengan pak Cecep saja.

__ADS_1


__ADS_2