Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 124 Tim Building Bagian 1


__ADS_3

Ada yang berbeda dengan Tim Building kali ini dengan yang sebelum - sebelumnya untuk Arya. Sekarang dia memiliki seseorang yang membuat perhatiannya tertuju padanya. Di agenda tim building kantor sebelumnya, Arya biasanya lebih private dan jarang sekali berkumpul dengan para karyawan. Meskipun judulnya adalah tim building.


Saat ini, Arya mau tidak mau harus berkumpul dan membaur karena dia sudah memegang dua divisi meski satunya hanya bersifat sementara. Dan yang paling penting adalah, dia harus mengedarkan pandangannya pada orang - orang di sekitar Dinda. Terutama dua pria yang sudah dia tandai.


Arya bersusah payah agar bisa menjadwalkan penerbangan yang sama dengan Dinda. Sebenarnya, pihak panitia sudah menjadwalkan pesawat yang berbeda untuk Arya agar dia bisa lebih nyaman. Tetapi dia bersikeras untuk berada di pesawat lain. Panitia tentu saja bingung. Mereka tidak tahu jika alasan Arya adalah Dinda.


From: Arya 


To: Dinda 


Kamu sepertinya senang sekali. Dari tadi lepaass terus ketawanya. 


Mereka sedang berada di bandara menunggu keberangkatan. Mereka terbagi dalam tiga pesawat. Dua maskapai pesawat yang berbeda dengan waktu keberangkatan yang tidak berbeda jauh. Lalu, satu lagi dengan maskapai yang sama namun waktu keberangkatan berbeda hingga tiga jam.


Seharusnya Arya menaiki yang berbeda tiga jam tadi karena para manager lain termasuk Erick juga menaiki pesawat itu. Akhirnya setelah sedikit drama dengan Siska, sekretarisnya, Arya bisa mendapatkan satu penerbangan dengan Dinda meski tak bisa berada di bangku yang berdekatan.


“Wah… mimpi apa kemarin? Kenapa Pak Arya bisa satu pesawat sama kita, sih. Awkward banget ga sih?”, kata Andra protes.


Dia sekarang sedang bersama tim kantornya yang laki - laki termasuk Azis dan Bryan. Melihat pemandangan saat ini, tim Digital and Development dan tim Business and Partners masih terkotak - kotak.


Mereka berkumpul hanya berdasarkan geng - geng mereka saja dan belum membaur. Arya berdiri dengan ditemani oleh beberapa anak Manajemen Assosiate yang memang sering berdiskusi dengannya.


“Tumben Siska belum datang. Biasanya dia kanakan nempel terus ke pak Arya.”, tanya Delina.


Saat ini Delina berkumpul bersama Dinda, mba Rini, dan beberapa tim wanita lainnya. Mereka dari tadi mengobrol sambil menunggu kedatangan Suci yang belum nampak batang hidungnya.


“Ah… ternyata dia di pesawat yang nanti. Jadi kita landing duluan dia belakangan.”, ujar Delina setelah membaca pesan WhatsApp balasan dari Suci.


“Wah.. ngamuk ga ya dia kalau tahu Pak Arya bareng sama kita. Kayanya kemaren dia usaha banget buat naik di pesawat itu karena tahu para manager akan naik itu.”, lanjut Rini.


“Hhaha… jangan dikasih tahu mba. Nanti dia heboh.”, kata Delina.


Dinda memeriksa pesan WhatsApp dari Arya dan melihat ke arahnya. Secara bersamaan, Delina dan Rini juga melihat ke arah Arya karena mereka sedang membicarakan tentang Suci.


“What??? Pak Arya senyum ke siapa sih? Aku aja yang salah lihat atau gimana?”, tanya Delina mendadak.


“Secara banyak orang disini, kayanya dia cuma menggerakkan bibir aja. Ga mungkin dia senyum sama kita.”, kata Rini menambhakan.


Mendengar ini, Dinda langsung memasang wajah poker face, karena dia tahu benar kemana Arya tersenyum. Hanya saja, timingnya kenapa bisa bentrok saat Rini dan Delina melihat ke arah Arya.


Di sisi lain, ada Bryan yang terus memperhatikan interaksi mereka.


‘Heh? Sampai situ hubungan mereka? Dia yang seharusnya naik pesawat nanti malah ganti ke penerbangan yang sekarang? Pak Arya itu, apa yang ada dipikirannya?’, bathin Bryan dalam hati.


“Pak Arya, ponselnya banyak sekali.”, kata Kevin, salah seorang anak buah Susanto yang dulunya pernah menjadi MA. Selain Suci, dia termasuk MA yang dulunya aktif dengan Arya jadi mereka tidak terlalu canggung satu sama lain.


“Ponsel saya hilang dan satunya rusak saat ada proyek di Bangkok. Gantinya baru sampai hari ini, jadi nanti rencananya mau saya install ulang dan pindahkan data - datanya. Yang ini ponsel ganti sementara yang diberikan oleh tim di Bangkok. Masih SIM Card sana.”, jelas Arya.


“Oh.. pantesan saya pernah coba call pak Arya tapi tidak diangkat. Malah hanya bisa WhatsApp call saja.”, balas Kevin lagi.


“Hm.. ya..begitulah.”, jawab Arya singkat.


Perhatiannya sedikit terganggu karena barusan dia melihat Bryan dan Andra bergabung dengan beberapa orang di circle Dinda barusan.


‘Mau apa lagi itu mereka?’, jawab Arya dalam hati.


Tak lama, Arya melihat Dinda keluar dari circle dan sepertinya berjalan menuju toilet. Arya ingin mengikutinya. Siapa tahu bisa punya waktu berdua meski hanya sebentar. Namun, seseorang mendekatinya.


Pak Bondan, beliau ternyata juga ikut satu pesawat dengannya. Dia mengajak Arya untuk membicarakan beberapa bisnis ke depan. Meski kadang kurang strategis, namun Pak Bondan adalah pimipinan tim satu di Business and Partners yang bisa diandalkan, sehingga, Arya terpaksa meladeninya.


Dinda masuk ke toilet karena beberapa kali dia tak bisa menahan mualnya. Dia lupa kalau belum minum obat hari ini. Dokter sudah menyarankannya untuk jangan meninggalkan jam makan sesuai arahan dokter, tapi pagi ini dia tidak nafsu makan. Tapi, Dinda membawa beberapa potongan sandwich untuk jaga - jaga.

__ADS_1


“Uwakkk… Uwakk…”, Dinda berusaha melegakan perutnya, namun tak ada yang keluar.


Gadis itu mengambil obat di tasnya dan meminumnya. Dia berharap semoga ini bisa mengurangi rasa mualnya.


“dr. Rima, saya mau bertanya apa boleh saya naik pesawat meski kehamilan saya masih sekitar dua bulan.”, tanya Dinda beberapa waktu lalu di rumah sakit sekalian konsultasi.


“Sebenarnya tidak boleh. Tapi kami pantau kandungan kamu tidak bermasalah. Saya sih menyarankan jangan, tapi kalau harus banget naik pesawat, kamu harus jaga baik - baik asupan makanannya, jumlah tidurnya, hindari pekerjaan berat, dan hati - hati terhadap guncangan…….”, dr. Rima memberikan banyak sekali arahan.


Dinda ingin sekali ikut tim Building ini karena ini adalah pengalaman perdana untuknya. Dia baru pertama kali bekerja, dan pengalaman seperti ini tentu menjadi impian semua intern seperti dia. Tak banyak intern yang diperhitungkan jika ada kegiatan seperti ini di kantor. Kebanyakan dari mereka diskip karena mereka hanya bersifat sementara. Namun, berkat keuangan kantor yang dalam kondisi baik belakangan ini, intern masuk hitungan di tim building tahun ini.


“Eh? Pak Arya? Ngapain disini?”, tanya Dinda saat keluar dari kamar mandi, pria itu sudah berdiri di depan kamar mandi wanita.


“Kamu ngapain?”, tanya Arya. Pertanyaan bodoh yang keluar dari seorang Arya Pradana.


“Ngapain apanya Pak? Saya di toilet wanita ya melakukan apalagi kalau bukan panggilan alam.”, jawab Dinda.


“Kamu panggil saya ‘Pak’ loh, gak takut konsekuensinya?”


“Kita kan sedang bersama yang lain Pak Arya. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?”


“Biar saja. Aku sudah tidak bisa tahan dengan dua pria yang ada di divisi kamu itu.”


“Siapa yang Pak Arya maksud?”


“Ah.. aku tidak tahu namanya. Yang jelas dia membuatku harus segera memberitahu kalau kamu adalah istriku.”, kata Arya di depan toilet.


“Mereka hanya sebatas rekan kantor kok. Tidak lebih.”, jawab Dinda sambil tersenyum.


“Din… dicariin dari tadi. Ternyata kamu… di-si-ni.”, Delina baru menyadari keberadaan Arya dan refleks memelankan suaranya.


“Sudah harus masuk pesawat, ya?’, tanya Arya bersikap biasa saja.


“I-iya pak Arya.”, jawab Delina gugup.


“Oke.. mari.”, kata Arya lagi dan berjalan melalui mereka menuju gate untuk masuk ke pesawat.


“Eh.. kamu ngapain bicara sama pak Arya di depan toilet?”, tanya Delina segera setelah Arya hilang dari pandangannya.


“Hm.. enggak, tadi hanya kebetulan bertemu di depan toilet dan dia bertanya basa - basi saja.”, jawab Dinda.


“Oh.. mungkin dia mau mencoba dekat dengan karyawan lainnya, ya. Kalau dipikir - pikir, kamu tidak deg - deg-an Din di samping pak Arya? Kayanya kamu santai - santai saja.”, kata Delina heran.


‘Masa - masa deg - degan nya sudah lewat, Del. Meski sekarang dia masih suka bikin aku nerveous tapi untuk hal yang lain.’, Dinda menjawabnya dalam hati.


“Haha mungkin perasaan kamu saja. Yuk, naik. Nanti kita ditinggal.”, ajak Dinda.


“Yeayyy…. Lombok… I’m coming!”, kata Delina girang.


Dia sudah pernah ke Bali, tapi belum sempat ke Lombok. Karena itu dia sangat senang. Dinda, jangan ditanya. Ekspresi tidak cukup untuk menggambarkan betapa senangnya dia sekarang bisa tim building kantor ke Bali. Hanya saja, dia memang harus sedikit sabar dan kuat karena sedang hamil dan harus menjaga bayinya baik - baik sesuai saran dokter.


******


Hari pertama sampai di Lombok dihiasi dengan rasa excited dari orang - orang. Terlebih hari pertama adalah hari bebas. Karena semua tim mendarat lebih kurang di siang atau sore hari. Semuanya diperkenankan untuk menjalani aktivitas bebas terlebih dahulu.


Besok, acara tim building baru akan dimulai. Semua orang bebas untuk menjalankan aktivitas apapun hngga malam nanti. Termasuk jika mereka memilih untuk tetap di kamar.


“Wahh senangnya aku satu kamar dengan kamu. Untung saja tidak sekamar dengan Suci. Dia rempong kalau urusan begini.”, tutur Delina yang sedang merapikan pakaiannya begitu sampai di hotel.


“Mba Suci sudah tiba juga mba?”, tanya Dinda.


“Kayanya udah deh. Soalnya tadi kan kita lama menunggu pembagian kamar.”

__ADS_1


Kring kring kring


Ponsel Dinda berbunyi. Setelah melihat nama orang yang meneleponnya, Dinda merilik ke arah Delina sebentar dan berjalan ke arah balkon.


“Halo, iya kenapa mas?”, jawab Dinda.


“Kamu bisa kesini sekarang?”, tanya Arya. Nada bicaranya sedikit aneh.


“Kenapa? Aku lagi beres - beres, mas.”, jawab Dinda.


“Aku gak mau tahu, kamu kesini sekarang atau aku yang ke kamar kamu buat jemput.”, nada bicara Arya semakin tidak mengenakkan.


Padahal beberapa jam yang lalu sebelum keberangkatan, dia masih biasa. Dan saat tiba pun, beberapa kali Arya tersenyum padanya. Kenapa sekarang dia terdengar marah. Begitulah kira - kira yang ada di pikiran Dinda


Satu jam yang lalu setibanya orang - orang di kamarnya masing - masing termasuk Arya.


“Sebaiknya aku segera mengganti SIM CARD dan mengatur kembali ponselku.”, ujar Arya begitu dia tiba di kamarnnya.


Hal yang pertama kali dia lakukan adalah mengganti SIM CARD ponsel kantornya dengan SIM CARD lokal Indonesia yang dulu dia gunakan. Dia perlu melakukan registrasi ulang untuk email dan lain - lain, namun semua itu bisa dia lakukan dengan cepat karena toh sebagian sudah dia lakukan saat pertama kali menerima ponsel itu dari tim di Bangkok.


Proses selanjutnya adalah mengambil SIM CARD yang ada di ponsel pribadinya yang sudah remuk ke ponsel yang baru saja dia beli. Dia juga harus mendaftarkan email dari awal lagi. Untuk aplikasi dan lainnya, dia sudah mencicilnya tadi selama menunggu keberangkatan.


Arya juga sudah mengamankan foto - foto terutama fotonya bersama Dinda saat honeymoon dan pernikahan ke cloud agar bisa dia tarik dengan mudah melalui ponsel barunya. Begitu SIM CARD lama dia masukkan ke dalam ponselnya yang baru, Arya menerima banyak sekali notifikasi. Mulai dari email masuk, WhatsApp, telepon, bahkan pesan - pesan dari keluarga.


Kebanyakan berasal dari tante - tantenya yang mungkin saat itu menanyakan keberadaan Arya yang belum hadir di pernikahan Reza dan Bianca. Sisanya adalah tagihan - tagihan kartu kreditnya selama di Bangkok. Dan, satu hal yang menarik perhatian Arya adalah tagihan kartu kredit tambahan yang dia berikan pada Dinda.


Sejak pertama kali dia memberikan kartu itu, Arya hampir tidak pernah menerima notifikasi tagihan kartu kredit selain yang dia sudah pernah ketahui sebelumnya. Nominalnya juga sangat - sangat minim sampai - sampai Arya harus bertanya pada Dinda apakah dia tidak punya kebutuhan apapun sampai kartu kredit tidak pernah dia gunakan.


“Rumah Sakit Ibu dan Anak? Kenapa tagihannya bisa random sekali?”, Arya sangat heran karena ada tagihan rumah sakit disana.


Jika itu rumah sakit biasa atau klinik mungkin Arya tidak seheran ini, tapi Rumah Sakit Ibu dan Anak?


“Heh… tidak mungkin. Kalau Dinda …. Ah tidak - tidak. Dia pasti sudah memberitahuku. Dan apakah mungkin? Ahh.. aku coba telpon rumah sakitnya saja.”


Arya langsung mencari nomor telepon rumah sakit yang dimaksud tanpa menyadari jika rumah sakit itu adalah rumah sakit yang berada dekat dengan apartemennya.


“Halo…”


“Halo.. selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”, tanya petugas di seberang telepon.


“Saya ingin memastikan kembali tagihan kartu kredit untuk transaksi di rumah sakit ini yang dilakukan oleh istri saya. Mohon maaf, apa saja kemarin detail tagihannya? Kebetulan saya sedang memeriksa billing statement saya yang sepertinya ada diskrepansi.Tapi saya tidak tahu dari tagihan yang mana. Mungkin bisa di bantu.”


“Baik, Pak. Sebelumnya saya berbicara dengan siapa? Karena kami tidak bisa memberikan detail informasi pasien kepada selain keluarganya.”


“Saya suaminya, Arya Pradana. Istri saya Dinda Lestari. Saya bisa memberikan detail informasi yang lain jika dibutuhkan untuk memastikan.”


Arya akhirnya memberikan beberapa jawaban atas pertanyaan - pertanyaan lain yang diajukan oleh petugas. Lumayan panjang penjelasannya, namun Arya berhasil melewatinya.


“Baik. Tagihan termasuk biaya konsultasi dokter kandungan, pengecekan USG, biaya vitamin untuk masa kehamilan awal, dan …….”, Arya bisa mendengar dengan jelas informasi yang diberikan petugas rumah sakit namun semua tiba - tiba blur di kepalanya.


“Untuk kehamilan yang menginjak usia dua bulan, pasien juga sudah berkonsultasi kembali beberapa hari yang lalu. Dan saat itu juga pembayarannya tercatat menggunakan kartu kredit…… bla - bla bla.”, Kira - kira begitu penjelasan yang terdengar oleh Arya.


“Ada lagi yang bisa kami bantu, Pak?”, tanya petugas tersebut.


“Apakah tagihannya sudah sesuai? Untuk diskusi mengenai biaya yang mungkin menurut Bapak tidak sesuai, Bapak bisa langsung datang ke rumah sakit dan menerima penjelasan. Ada lagi yang bisa kami bantu?”


Setidaknya petugas sudah mengatakannya sebanyak 3 kali namun Arya tak juga memberikan respon.


“Halo?”, petugas mencoba untuk memanggil kembali untuk memastikan sambungan tidak terputus.


“Baik. Terima kasih informasinya.”, jawab Arya setelahnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Arya langsung menghubungi ponsel Dinda dan menyuruhnya untuk ke kamarnya.


__ADS_2