
“Suami kamu dimana Din?”, tanya Sekar.
Dinda kira, semua sudah datang di tempat yang mereka janjikan. Sebuah restoran baru di dalam Mall. Mereka berencana untuk makan All You Can Eat disini sebelum lanjut untuk nongkrong cantik di salah satu Cafenya yang berada di lantai 4.
Ternyata Dian dan Rara belum menunjukkan batang hidungnya. Mereka menaiki mobil yang sama. Mobil milik Rara yang dia pinjam dari papanya. Dia baru saja mendapatkan SIM A. Mungkin dia butuh waktu lebih lama untuk mengendarai mobilnya meski sudah 6 bulan sejak dia mendapatkan SIM itu.
Bianca sudah tiba lebih dulu, disusul oleh Dinda. Dan kini Sekar juga sudah sampai. Mereka berdiri dahulu menunggu keduanya sebelum masuk ke dalam restoran All You Can Eat karena tentunya durasi mereka untuk makan akan dihitung.
“Din, suami kamu mana? Katanya diantar suami?”, tanya Sekar mencoel Dinda lagi yang tadi kurang fokus karena ramainya orang yang berlalu lalang.
“Dia nge-gym di atas.”, balas Dinda.
“Hm..pantas tubuhnya atletis, ternyata nge-gym.”, ucap Sekar.
Dinda hanya tersenyum tipis. Dinda kira tadinya Arya memang benar - benar mengantarnya. Dia sudah tersentuh tadi karena pria itu bersikukuh akan mengantar. Mungkin Arya takut melepas Dinda sendiri, khawatir, dan protective. Ternyata ada udang dibalik bakwan. Dia mau nge-gym. Dinda merasakan plot twist.
“Din, kamu gapapa berdiri? Ga capek?”, tanya Bianca pada Dinda.
“Engga, masih bisa kok. Kalau terlalu lama baru sakit.”, ujar Dinda.
Mereka melihat ke sekitar sambil mencari keberadaan Rara dan Dian yang katanya sudah sampai dan sedang berjalan ke titik bertemu.
“Aku ke toilet dulu ya.”, ujar Dinda.
“Oh iya iya, kamu mau aku temani?”, tanya Bianca.
“Engga perlu, gapapa Bi. Kamu tunggu aja bareng Sekar, nanti Rara dan Dian bingung lagi mencari.
“Ya sudah, hati - hati ya. Kalau sampai ada apa - apa sama kamu, mas Arya pasti bakal ngamuk.”, ujar Bianca menggoda.
Dinda segera berjalan menuju toilet yang tidak jauh dari sana. Ada tandanya, sehingga mudah baginya untuk menemukannya. Antrian lumayan panjang, tetapi karena kali ini Dinda mengenakan baju yang membuat baby bump-nya kelihatan, seorang ibu - ibu mempersilahkannya untuk masuk terlebih dahulu.
Dia menanyakan pada Dinda terlebih dahulu sebelum mempersilahkan. Was - was juga kalau ternyata salah mengira orang yang tidak hamil.
__ADS_1
“Terima kasih, Bu.”, ucap Dinda tersenyum.
Tak butuh waktu lama untuk Dinda menyelesaikan bisnisnya di dalam kamar mandi. Dia segera keluar, membasuh tangannya di wastafel, memeriksa riasan tipis dan hijabnya, kemudian berjalan keluar menuju ke restoran tadi.
“Dinda bukan sih?”, ucap seseorang menyapa dan memegang bahunya dari belakang.
Dinda kira itu perempuan, dia masih biasa dan menoleh ke belakang. Namun ternyata orang yang menyapanya adalah seorang laki - laki. Dinda sedikit mundur untuk menjaga jarak karena sebelumnya jarak mereka lumayan dekat.
“Kamu Dinda bukan sih? Kelas 3 IPA 5? Benar kan?”, tanya laki - laki itu.
Dinda mengernyitkan dahinya berpikir siapa gerangan laki - laki yang kelihatannya memang sebaya dengannya.
“Aku Bagas, teman sekelas yang sering ikut kejuaraan basket. Kamu tidak ingat?”, tanya laki - laki itu.
Dinda tidak memiliki banyak kenangan yang bisa disimpan semasa SMA. Isinya penuh dengan bullying. Saat kelas satu dan dua dia bully oleh kakak kelas hanya karena ada senior laki - laki yang menaruh ketertarikan padanya. Bahkan Dinda tidak tahu dan tidak kenal dengan senior itu sama sekali.
Kelas 3 dia hanya fokus dengan belajarnya. Berusaha menghindar dari semua orang. Hanya datang, belajar, dan pulang. Dia tidak benar - benar ingat siapa teman sekelasnya. Tak bisa ingat karena menurutnya mereka adalah mimpi buruk baginya. Saat senior melabraknya, tak ada yang mau membantu sama sekali.
Saat ada yang ingin berteman dengannya, orang lain akan mengambilnya. Dinda juga berusaha tidak terlalu mencolok di kelas.
Meski sudah berpikirpun, dia tidak bisa ingat dengan laki - laki di depannya. Di sisi lain, dia juga merasa tidak enak kalau bilang tidak mengingatnya. Padahal anak laki - laki itu sudah menyapanya lebih dulu.
“Haha.. kamu pasti belum mengingatku. Ya sudah tidak apa - apa. By the way, senang bertemu denganmu disini. Rumah kamu di sekitar sini? Aku sering main kesini tapi tidak pernah bertemu denganmu.”, lanjutnya.
“Ah.. aku jarang sekali kesini, hanya sedang bertemu dengan teman.”, jawab Dinda.
“Bagas, aku sudah…”, seorang perempuan baru saja keluar dari toilet.
Awalnya Dinda tidak kenal hanya dengan mendengar suaranya. Namun saat melihat wajahnya, Dinda jadi ingat. Perempuan itu adalah salah satu senior yang beberapa kali melabraknya dulu di SMA.
Saat Dinda menjadi siswa baru dan sedang ospek, dia yang mempersulit masa - masa ospek Dinda.
Dinda tak ingat dengan Bagas, tapi dia ingat dengan perempuan itu. Dari ekspresi wajahnya, perempuan itu juga sepertinya ingat dengan Dinda, tapi entah kenapa dia kemudian berpura - pura untuk tidak mengingatnya.
__ADS_1
“Siapa?”, ujar perempuan itu pada Bagas.
“Oh.. kenalin ini Dinda. Teman sekelas aku waktu SMA. Mungkin kamu tidak kenal. Maklum Din, dia senior di sekolah kita dulu. Laras namanya.”, ujar Bagas memperkenalkan perempuan itu pada Dinda.
“Oh.. salam kenal. Kalau begitu aku permisi dulu. Teman - temanku menunggu.”, ujar Dinda segera pamit. Dia tidak nyaman berlama - lama di dekat perempuan itu.
“Baiklah. Senang bertemu denganmu. Kapan - kapan kita adakan reunian. Boleh aku minta nomor ponselmu?”, tanya Bagas.
Dinda bisa merasakan tatapan tidak enak dari Laras, kakak kelasnya itu.
“Maaf, aku baru ganti nomor dan kebetulan tidak bawa ponsel. Mungkin lain kali, ya.”, jawab Dinda menolak dengan halus dan sopan.
“Ah.. sayang sekali. Entah kapan bisa bertemu lagi. Baiklah kalau begitu, apa boleh buat. Kamu tidak punya sosial media? Masa tidak ingat id nya? Mungkin aku bisa add kamu.”, ucapnya.
‘Hah.. kenapa dia terus bertanya.’, bathin Dinda dalam hati.
“Maaf ya, aku sudah lama tidak main sosial media. Aku bahkan sudah lupa ID nya.”, Dinda kembali menjawab dengan sopan.
“Hm.. bagaimana ya.”, laki - laki itu masih berpikir keras bagaimana caranya dia bisa tetap terhubung.
“Ohiya, Ras, kamu kan punya pulpen dan kertas. Boleh pinjam?”, tanya Bagas.
“Tidak.”, jawabnya cepat.
“Tadikan kamu minta tanda tangan artis yang manggung di atas. Masa hilang.”, ucap Bagas.
Laras nampak enggan memberikan kertas dan pulpen itu namun akhirnya dia tidak bisa mengelak dari ucapan Bagas yang antara innocent atau tidak bisa peka kalau Laras sudah bete.
“Ini, nanti sampai di rumah saat kamu sudah dengan ponselmu, simpan nomor ini. Aku akan memasukkanmu ke grup kelas dan sekolah. Kebetulan kita mau mengadakan reuni dalam waktu dekat.”, Bagas memberikan secarik kertas itu pada Dinda.
“Hm.. terima kasih. Kalau begitu aku pamit. Teman - temanku sudah menunggu.”, ujar Dinda.
Dinda segera pergi dari sana. Kertas yang diberikan oleh laki - laki tadi? Begitu jauh dari pandangan mereka, Dinda langsung membuangnya ke dalam tempat sampah.
__ADS_1
Dia sudah berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan teman - teman SMA-nya. Dia sudah punya sahabat yang dekat dengannya sejak kuliah. Tulus berteman dengannya. Bianca, Sekar, Rara, dan Dian adalah teman terbaik untuknya.
Dia juga sudah punya keluarga besar yang juga menjadi tempat sekaligus teman untuknya.