Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 260 Business Trip Lagi???


__ADS_3

“Capek Sis?”, tanya salah seorang karyawan di divisi Business and Partners. Dia sedang berdiri di mesin fotocopy yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan meja kerja Siska.


“Hah… jangan ditanya. Bukan capek lagi. Mau rontok rasanya.”, ujar Siska yang seharian sudah sangat lelah bolak balik mempersiapkan keperluan Arya untuk meeting, arrangement call dengan para team leader, pembagian jadwal, mengatur keberangkatan Arya yang sepertinya akan ke luar negeri lagi, dan lain sebagainya.


Dia sudah mau gila karena rutinitas sesibuk ini akan datang lagi. Padahal Pak Arya sudah mewanti - wanti agar tidak ada pekerjaan last minute tetapi selalu saja ada yang di luar dugaan.


“Kamu aja capek, bagaimana Pak Arya, ya. Doi manusia atau robot, sih? Bahkan di atas jam 8 malam aja otaknya masih encer aja. Aku kalau meeting sama beliau di jam - jam lembur sudah tidak bisa nyambung lagi. Zonk.”, ujar pria itu.


“Makanya. Aku tidak tahu dia manusia atau bukan. Belakangan doi juga keren banget pembagian waktunya. Aku tidak bisa membayangkan dia harus memenuhi semua ekspektasi baik karir maupun keluarga disaat bersamaan.”, celetuk Siska.


“Wah.. maksud kamu gimana sis?”, tanya pria itu sudah mendekat ke meja Siska yang sedang menyegarkan dirinya dengan sebotol ice americano.


“Rahasia, ya. Aku follow instagram adiknya Pak Arya. Terus, kemarin doi posting Pak Arya lagi bikin puding di rumah. Gila, aku sampai ngucek - ngucek mata tahu, gak? Untuk memastikan itu benar Pak Arya atau bukan. Gila, vibe Bucin Eksmud memang beda.”, ujar Siska menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Share dong, kamu gak screencap statusnya?”, tanya pria itu bersemangat.


“Kamu mau aku di ospek sama Pak Arya?”, balas Siska.


Tentu saja dia tidak berani membagikan screenshot status tersebut. Kalau sang raja tahu, bisa habis dia.


Tak lama kemudian, orang yang menjadi objek per-gibah-an langsung muncul tanpa undangan. Kedatangannya pun tak bersuara. Tiba - tiba sudah ada di jarak dua meter. Bahkan pria tadi yang hampir tidak menyadarinya langsung ambil langkah seribu daripada mendapat ratusan pertanyaan dari bosnya.


“Sis, flight saya bisa diganti jadi malam gak? Saya ada urusan sorenya.”, ucap Arya.


“Maaf, flight yang mana, Pak?”, tanya Siska langsung kembali ke sikap sempurna begitu Arya datang.


“Memangnya saya ada flight yang mana lagi?”, tanya Arya bingung.


“Pak Arya ada dua rencana perjalanan dalam waktu dekat ini. Dua minggu lagi, Bapak harus ke Jepang, dengan Flight di jam 6.20 pagi karena Bapak mau direct flight. Kemudian seminggu setelahnya Bapak harus ke Thailand lagi untuk survey project yang sebelumnya. Itu flight jam 9.45 pagi Pak.”, jelas Siska sambil membuka tabletnya.


“Oh **. Saya lupa kalau saya harus ke Jepang juga. Okay, yang itu tetap penerbangan pagi. Sementara yang ke Thailand, saya minta diganti jadi penerbangan malam, ya.”, ucap Arya menyisir rambutnya dengan tangan, pertanda dia stress dengan begitu banyak business trip yang harus dia lakukan.


Padahal Arya sudah berusaha sebisa mungkin berada di dekat Dinda di masa - masa kehamilannya. Apalagi dua bulan kedepan mungkin mereka sudah memulai kelas senam hamilnya. Dia tidak mau gadis itu pergi sendirian lagi seperti saat awal - awal dia memeriksakan kehamilannya.

__ADS_1


Jika yang lain tidak ditemani suaminya, Arya mungkin tidak terlalu berat hati seperti sekarang. Tetapi, bayangan kalau Dinda merasa sedih saat melihat wanita lain ditemani suaminya tak bisa dikeluarkan dari kepalanya.


Pengalaman waktu mengantar Dinda cek kehamilan waktu itu berhasil membuka pikirannya. Bahwa meski terlihat remeh, tetapi hal tersebut mempengaruhi mereka. Arya melihatnya sendiri. Bagaimana jika seorang wanita pergi sendirian sementara yang lain ditemani suaminya.


“Ah… jadwal check-up kehamilan, ya Pak?”, tebakan Siska tepat sasaran.


“Oke.. ada lagi yang mau kamu tanyakan? Saya mau pulang. Lebih tepatnya, saya masih harus ada pertemuan lagi setelah ini di luar kantor.”, ujar Arya.


“Oh iya Pak, dua bulan lagi kan Pak Arya juga ada business trip. Yang tadi di meeting. Bapak prefer flight jam berapa?”, tanya Siska.


“I won’t come.”, ucap Arya.


Singkat, padat, tapi problematik di telinga Siska.


“Hah? Tapi Pak, ini ke Manchester loh, Pak.”, kata Siska memastikan kembali.


Business Trip yang paling dinanti - nantikan adalah ke Manchester atau negara Eropa lainnya. Jika Siska jadi Arya, dia tidak akan berpikir dua kali.


“Too far, too long. Saya tidak mungkin meninggalkan istri saya selama itu.”, ucap Arya jelas terdengar di telinga Siska.


“Two or three days is okay. One month?”, Arya menggeleng - geleng.


“Terus? Memang bisa di reject, pak?”, kata Siska yang terbayang bagaimana sulitnya nanti melakukan itu.


Training itu adalah training wajib untuk semua Head of Business and Partners di berbagai branch office.


“Let’s see.”, ujar Arya dengan santainya.


Ya, terlihat dari luarnya begitu. Tapi di dalam kepalanya, siapa yang tahu.


“Baik Pak. Malam ini Bapak sampai jam berapa?”, tanya Siska memastikan.


“Hm.. mungkin saya 1 jam saja, lalu saya pamit. Saya yakin bagian terpentingnya hanya di satu jam pertama. You know, sisanya pasti untuk ‘have fun’. I don’t drink anymore. Please settle it for me, ya.”, ujar Arya pada Siska.

__ADS_1


“Baik, Pak Arya.”, jawab Siska mantap.


Hal yang harus dia lakukan adalah memberikan pemberitahuan sebelumnya kalau Arya hanya bisa menghadiri acara satu jam agar dia tak terlihat tidak sopan.


********


“Sayang, aku telpon Pak Cecep, ya? Kamu pulang duluan.”, ujar Arya di tangga darurat kantor.


Ya, tempat itu menjadi tempat favorit mereka untuk bisa bercakap - cakap sebentar. Jarang ada karyawan yang lewat disana. Kalaupun ada, mereka sudah tahu hubungan Arya dan Dinda. Arya sudah terbiasa, hanya Dinda yang kadang masih mengaktifkan pemancarnya. Seperti melihat atas dan bawah untuk memastikan tidak ada orang.


“Kalau aku ikut boleh? Tapi gak ikut ke klubnya. Hanya di mallnya saja, berkeliling. Nanti kalau mas Arya sudah selesai, kita pulang bersama.”, ujar Dinda dengan suara lembutnya yang khas.


Arya baru sadar kalau tone atau intonasi nada bicara Dinda sudah berbeda antara saat berbicara dengannya dan saat berbicara dengan yang lainnya. Saat bicara dengan Arya, intonasi Dinda lebih lembut, sedikit demanding jika dia sedang meminta izin atau semacamnya, dan ada sedikit aura menggoda disana.


Ekspresi dan bahasa tubuhnya juga berbeda. Dinda lebih nyaman dibandingkan biasanya. Dia sudah sering memegang lebih dulu, saat meminta izin pun, senyumnya tak lepas. Senyum merayu.


“Saya yang gak tenang kalau kamu muter - muter mall sendirian.”, ujar Arya.


Pria itu mengungkapkan rasa khawatir yang seharusnya kalimat itu adalah kalimat romantis. Tapi dengan nada dingin dan suara baritone nya, hanya Dinda mungkin yang bisa mengartikan kalau kalimat itu adalah kalimat paling ter so-sweet dari Arya.


“Aku bukan bocah 5 tahun, mas. Biasanya juga aku muter - muter mall sendirian. Dulu juga mas Arya biarin aku pulang sendirian.”, ucap Dinda tiba - tiba mengungkap hal yang terjadi dulu.


“Kapan?”, tanya Arya kaget.


Sepengetahuannya, hal itu tidak pernah terjadi.


“Long time ago. Waktu di hotel.”, ujar Dinda.


Arya langsung teringat timeline yang baru saja disebutkan oleh Dinda.


“Oh.. don’t say that anymore. I feel so bad.”, ungkap Arya.


Sampai hari inipun, Arya menyesali tindakannya pada Dinda yang sudah sangat kurang ajar saat itu. Meski Dinda adalah istrinya, tak sepantasnya Arya memaksanya melakukan hal yang tidak dia inginkan.

__ADS_1


“Iya.. iya.. Maaf.. aku tidak akan mengatakannya lagi. Aku salah.”, kata Dinda langsung panik.


Dia bermaksud untuk bercanda, karena dia sudah memaafkan Arya tentang itu. Tapi Dinda tidak menyangka kalau Arya masih menyesali itu.


__ADS_2