Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 270 Farewell Dinda di Kantor Bagian 3


__ADS_3

“Azis, kamu lihat Pak Dika?”, tanya Rini sebelum menuju ke ruang meeting dimana Farewell untuk Dinda tengah diadakan.


Terlepas dari beberapa yang sudah menuju ruang meeting karena terhimbau dengan aroma bakso yang menggugah selera, beberapa ternyata masih ada yang di area kerja. Mereka masih ada beberapa telepon atau pekerjaan urgent yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.


“Wah.. Belum Bu. Tadi katanya beliau ada meeting pukul 2 siang. Seharusnya kembali pukul 3. Mungkin extend kali ya, Bu.”, jawab Azis yang juga sedang bersiap - siap untuk menuju ke ruang meeting.


Azis adalah salah satu yang sedari tadi tak bisa menahan aroma bakso yang tipis - tipis masuk ke indera penciumannya. Kalau mereka cepat berkumpul, otomatis cepat juga kata - kata pengantar dari bos. Alhasil, cepat juga mereka menikmati hidangan bakso yang sudah disiapkan oleh Dinda.


“Ya sudah. Anak intern aja, gak perlu panggil Pak Dika segala lah, ya. Tapi kalau nggak di panggil, nanti dia baper lagi.”, ujar Rini masih belum ‘sreg’ jika belum mendengar kabar dari Dika, Kepala Divisi Digital and Development yang sekarang.


“Yakin? Sepertinya agak aneh kalau misalnya Pak Dika ada di Farewell, sementara disana juga ada Pak Arya.”, ucap salah seorang karyawan wanita lainnya.


“Hah? Memang ada Pak Arya?”, tanya Rini kaget.


Dia tidak tahu kalau misalnya Arya diundang juga datang ke meeting itu.


“Saya gak sengaja dengar omongannya Pak Erick. Katanya Pak Arya juga hadir nanti. Eh, nah itu Pak Dika, Bu.”, ujar karyawan itu mengecilkan volume suaranya di bagian terakhir kalimatnya.


“Hah.. bikin kaget saja. Siang.. Eh Sore, Pak.”, sapa Rini jadi sedikit gugup.


“Sore. Sorry, saya baru selesai meeting. Erick mana?”, tanya Dika segera setelah dia sampai di depan ruangannya.


Kebetulan, Rini, Azis, dan satu orang karyawan wanita lainnya sedang berbicara di depan ruangan Dika.


“Sore ini akan ada farewell-nya Dinda, Pak. Jadi Pak Erick barusan sudah kesana. Sekitar 15-30 menit saja sih, Pak. Kalau Bapak ada yang mau didiskusikan dan urgent, saya bisa panggilkan Pak Erick untuk kesini.”, kata Rini menjelaskan.


‘Aneh, Pak Dika kok gak tahu. Memangnya Dinda tidak kirim undangan padanya juga? Berani sekali dia. Tapi no wonder sih kalo Pak Arya yang menyuruhnya. Eh.. memangnya Pak Arya se-bucin itu?”, Rini tenggelam dalam pikiran - pikiran dan berbagai spekulasi dalam dirinya.


“Oh.. benarkah? Maaf saya lupa. Tidak apa - apa. Hanya 15-30 menit saja, harusnya oke. Ayo kita kesana.”, ujar Dika memberikan respon di luar prediksi Rini.


Sebenarnya, Dika telah menerima undangan tersebut. Tentu saja Dika menerimanya. Toh undangan dikirimkan dalam group email yang sudah tertera nama - nama orang satu divisi. Mustahil dia tidak membacanya.


Dika hanya berpura - pura tidak tahu agar ketertarikannya meskipun sedikit tidak terlalu terlihat.


Mendengar instruksi Dika, Rini langsung berjalan menuju ruang meeting yang dimaksud. Letaknya tidak jauh dari pantry. Dinda sengaja memilihnya, agar setelah sepatah dua patah kata selesai, dia bisa langsung menjamu semuanya untuk menikmati hidangan bakso dan beberapa kudapan ringan yang sudah dia persiapkan.

__ADS_1


Di dalam ruang meeting, Arya sedang menggamitkan tangannya di pinggang istrinya. Arya memang dikenal sebagai orang yang profesional. Hari ini adalah hari terakhir Dinda di kantor. Per jam 5 tadi, dia seharusnya sudah resmi bukan intern perusahaan ini lagi. Jadi, Arya bisa bebas melakukan apa saja sekarang tanpa terkendala protokol kantor.


Sebaliknya, Dinda menoleh ke arah suaminya yang notabene adalah bos divisi paling elit di kantor ini.


‘Mas Arya ngapain sih? Kenapa dia malah dengan santainya memegang pinggangku di depan semua orang? Di lingkungan keluarga saja, aku baru - baru ini terbiasa dengannya yang tiba - tiba bersikap mesra. Kalau di kantor, aku jujur belum siap.’, ujar Dinda dalam hati.


“He-he..”, Dinda hanya bisa tersenyum kikuk sementara Arya sangat santai berbicara dengan Erick.


“Bu Rini.”, ujar Delina yang masih berdiri di pintu depan.


“Eh.. ada Pak Dika juga tuh dibelakangnya.”, seorang karyawan wanita yang berada di samping Delina baru saja melihat siluet Pak Dika yang berjalan bersama Azis dan juga beberapa karyawan lainnya.


“Okee… baik.. Semuanya sudah berkumpul?”, tanya Rini yang baru saja masuk ke ruang meeting. Mereka butuh sekitar 10 menit untuk bisa mengumpulkan semua orang. Padahal ini adalah acara yang singkat.


“Sepertinya sudah.”, jawab Erick.


“Oh?”, Rini yang baru menyadari keberadaan Arya langsung mengekspresikan keterkejutannya.


“Pak Arya, kalau begitu kita duduk dahulu.”, kata Erick kemudian mempersilahkan Arya untuk duduk di kursi paling depan.


Arya sempat memberikan tatapan tajam pada Dika yang baru masuk bersama dengan Rini.


“Oh, ada Pak Arya. Maaf, saya baru menyadarinya.”, ujar Dika langsung mengawali sapaannya dengan berjabat tangan dengan Arya.


Sebenarnya, Arya malas harus berjabat tangan dengan pria satu ini. Namun, harus bagaimana lagi. Dia tak bisa menunjukkan ketidaksukaannya pada semua orang hanya karena masalah pribadi di kantor. Dia bisa dengan mudah menunjukkan ketidaksukaannya jika hal itu berhubungan dengan performa pekerjaan.


“Baik. kalau begitu, tanpa membuang - buang waktu lagi, langsung saja kita mulai sepatah dua patah kata singkatnya untuk Farewell Dinda hari ini.”, ucap Rini yang menjadi pembuka.


Meskipun pada prakteknya Erick lebih banyak memberikan perintah langsung pada Dinda, tetapi Rini lah supervisor Dinda di atas kertas. Dinda tetap harus melapor pada Rini dulu untuk setiap pekerjaan yang diberikan divisi padanya.


“Seperti yang teman - teman sudah ketahui, hari ini adalah hari terakhir Dinda di perusahaan. Dinda join di perusahaan, lebih tepatnya di divisi Digital and Development sekitar 9 hingga 10 bulan yang lalu, ya Din? 9, ya?”, Dinda memastikan terlebih dahulu pada Dinda.


“8 bulan lebih, Bu.”, jawab Dinda dengan suaranya yang pelan.


Jujur, Dinda sedikit terintimidasi dengan semua orang di divisinya yang berkumpul hari ini. Terintimidasi dalam arti positif. Tadinya, Dinda tidak merasa gugup sedikitpun karena hanya satu per satu orang saja yang terlihat. Namun, semakin kesini, Dinda jadi semakin gugup saat melihat banyak orang yang berkumpul dalam satu ruangan. Terlebih, ada Arya disana.

__ADS_1


“Ohiya benar. Waktu Dinda join, kebetulan Kepala Divisi kita sudah resign jalan beberapa bulan. Jadi, Pak Erick yang menggantikan sementara. Hanya sekitar semingguan, kemudian Pak Arya segera ditunjuk menjadi Kepala Divisi sementara yang baru.”, Rini mengurutkan historical pertama kali Dinda join di perusahaan.


“Okay, mungkin langsung saja kita persilahkan Dinda untuk memberikan sepatah dua patah katanya? Sebelum nanti mungkin beberapa dari kita juga menyampaikan kesan dan pesannya.”, ujar Rini melanjutkan.


‘Hah? Langsung aku? Aduh.. seharusnya aku bikin script untuk hari ini. Tapi Mas Arya malah mengalihkan untuk melakukan yang lain semalam. Aku harus bicara apa ya?’, ujar Dinda.


“Ehem-ehem..”, Dinda memulai dengn membersihkan tenggorokannya yang sebenarnya segar - segar saja.


“Assalamu’alaikum. Selamat sore Bapak/Ibu semua, rekan - rekan, mas dan mbak semuanya. Terima kasih sudah menyempatkan hadir disini. Saya tidak menyangka hampir semuanya hadir. Hanya minus beberapa orang yang sedang meeting dan semuanya juga menginfokan ke saya. Saya merasa sangat berterima kasih karena meskipun saya hanya seorang intern, tetapi orang - orang di divisi ini memberikan saya ruang dan menerima saya dengan baik.”, ucap Dinda. Tutur katanya mengalir begitu saja padahal beberapa menit yang lalu dia masih terdengar gugup.


Namun, volume suaranya masih terdengar pelan karena dia kesulitan untuk berada di tengah - tengah orang - orang yang dia kagumi pencapaiannya di dunia bisnis. Apalagi sekarang semua memperhatikannya.


“Terima kasih Bu Rini, sudah menyambut saya dengan baik. Ingat sekali waktu pertama kali masuk, saya langsung ikut meeting town hall gabungan dua divisi. Waktu itu saya masih belum terlalu paham. Ada yang mengingatkan pada saya agar tidak terlalu kaget dan takut kalau ada yang gebrak meja atau berselisih paham di ruang meeting. Dan jangan takut kalau Kepala Divisnya ternyata orang tergalak se-kantor ini. Oops.”, Dinda lupa. Dia benar - benar lupa kalau orang yang dia maksud dalam kalimatnya sedang ada disana.


Tidak hanya itu, dia juga bisa melupakan kalau orang itu, pria berjas biru dan kemeja putih itu adalah suaminya. Aura Pak Arya di kantor memang menunjukkan bahwa dia adalah Kepala Divisi Business and Partners, dan itulah yang dilihat Dinda.


Semua terkekeh geli mendengar kata ‘Oops’ yang keluar dari mulut Dinda dilanjutkan dengan sorot matanya yang tahu benar kemana arahnya.


“Ehem-ehem.”, Arya mencoba menjernihkan tenggorokannya.


“Ha-ha… Pak Arya sepertinya harus menurunkan standar galaknya. Anak intern loh masuk ruang meeting. Untuk Dinda. Eh tapi waktu itu belum…”, Erick seolah lupa dia sedang berada dimana.


Di kepalanya hanya berpikir ingin menggoda teman kantornya.


“Maaf Pak.”, kata Dinda kikuk.


Arya mengangguk dan mempersilahkan Dinda untuk melanjutkan.


“Tenang saja. Penjelasan untuk yang tadi bisa lanjut di rumah, kan?”, ucap Arya tak berapa saat setelahnya.


Alhasil semua orang yang ada disana langsung bersorak ricuh. Mereka tak lagi bisa menahan diri untuk tidak menggoda bosnya. Terserah pria itu nanti akan memarahi mereka. Toh, beliau yang mulai duluan.


“Uuuuuwuuuuuwuuwuuwuuuu.”, teriak mereka secara bersamaan.


Dinda yang awalnya tidak ingin terlalu heboh malah tanpa sadar mengundang kehebohan itu sendiri. Terima kasih juga untuk keusilan Pak Arya yang sama sekali tidak dia sangka.

__ADS_1


__ADS_2